Chameleon Boy

Chameleon Boy
Tak Lagi Sendiri


__ADS_3

Teresa masih menghindarinya.


Bahkan satu minggu pasca ulangan tengah semester berlangsung pun Teresa masih enggan bertemu dengannya. Bukan tidak tahu jika kini Dini telah menyerah. Bahkan cewek itu juga menghindari kontak mata dengan Teresa setiap tanpa sengaja berpapasan di koridor ataupun tanpa sengaja bersentuhan lengan ketika menghadapi sesaknya kafetaria. Saat Teresa akan membayar hutangnya kepada Dini, cewek itu justru acuh. Tidak menolak, tidak juga menerima. Teresa jadi bingung bagaimana cara membayarnya.


Gantara sudah menceritakan semuanya. Jika Dini menyerah, dan semua itu diakibatkan karena Aska yang melabraknya. Setelah itu pun cowok itu tidak pernah sekalipun berusaha berbicara dengannya ataupun sekedar membujuk.


Jadi Teresa juga memilih diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa saat mereka bertemu. Ia tidak memiliki topik yang menarik satupun. Mungkin jika mereka saling berpapasan justru akan menjadi batu satu sama lain.


Teresa baru menyadarinya. Keduanya memang sedang sengaja saling menghindar. Menyadari itu membuat Teresa rindu dengan cowok itu. Entah kekebalan tubuh Teresa yang kini sedikit menurun atau memang jika ia sedang berdekatan dengan Aska jantungnya selalu berdetak cepat. Teresa jadi khawatir dirinya menderita penyakit serius.


Ingin menanyakan pada Evani tapi Teresa tidak tega jika Ibunya khawatir.


Sekarang pukul setengah sebelas siang. Ia merasa kesepian karena semua orang-orang di kelasnya sibuk mengerjakan remedial matematika. Kebetulan hanya dirinya dan sang ketua kelas yang tidak melakukan remedial, tapi bercakap dengan orang itu saja Teresa merasa malas.


Ia memilih beranjak keluar kelas. Sepertinya lapangan basket sedang ramai orang. Karena penasaran Teresa melangkahkan kakinya ke sana.


Lapangan basket di Harison memang sangatlah besar. Bahkan terdapat tribun yang mengelilingi lapangan itu membuat Teresa memilih duduk di antara barisan penonton yang mayoritas berjenis kelamin perempuan.


Teresa membuka roti, lalu memakannya. Sebelum menuju ke tempat ini Teresa terlebih dahulu mencari pengganjal perut. Padahal sama saja, dia ingin mencari tempat keramaian karena merasa bosan tapi begitu sampai justru sibuk dengan dirinya sendiri.


Bahkan sejak dirinya duduk di barisan tribun paling depan pun dirinya belum menatap sang pemain yang berada tepat di depannya. Bukannya Teresa enggan, tapi roti jauh lebih menarik perhatian.


Teresa masih memakan rotinya dengan santai saat sebuah bola terlempar mengenai kepalanya. Teresa mengaduh, rotinya terjatuh. Kepalanya serasa berkunang-kunang. Semua yang ia lihat mendadak menjadi dua bagian. Teresa memegangi jidatnya yang seakan ingin terlepas jatuh. Lupakan rotinya karena roti malang itu telah terinjak-injak oleh penonton yang mengerubungi Teresa.


Teresa belum pingsan. Ia masih sadar saat seorang cowok menepuk-nepuk pipinya. Dapat ia lihat dari matanya yang mulai merabun bahwa cowok itu menatapnya khawatir. Telinganya yang mulai melemah pun dapat mendengar cowok itu berteriak khawatir di tengah banyaknya orang yang mengerubunginya.


Teresa tersenyum. Menatap cowok itu sambil berkata. “Aska...”


Setelahnya kesadaran telah dirampas sepenuhnya.


***


Perlahan, matanya terbuka. Cewek yang pingsan sejak setengah jam lalu itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah dirasa retinanya dapat kembali menatap jelas, ia mengalihkan pandangannya dari kipas yang sedari tadi berputar pelan tepat di langit-langit tempatnya berbaring. Ia menoleh, menatap sekeliling. Ini di mana? Terlihat asing baginya. Terdapat gorden di sebelah kanan dan kirinya seperti rumah sakit.


Mengapa ia di sini?


Teresa mengingatnya. Ia terkena bola basket saat memakan roti di lapangan. Tanpa sadar ia memegangi jidatnya yang masih berdenyut.


“Auuuu,” ringisnya menahan perih. Sepertinya jidatnya sudah membiru.


Teresa juga baru menyadari ternyata tangan kanannya yang kosong digenggam seseorang. Tangan kekar hangat yang membuatnya nyaman. Teresa mengalihkan pandangan, menatap orang itu yang ternyata juga tengah menatapnya intens. Jadi sejak tadi Teresa diperhatikan.


Teresa berdeham kecil sebelum mengubah posisinya menjadi duduk. Entah cowok itu mendadak bisu atau bagaimana, tapi Teresa belum mendengarnya berbicara barang sepatah katapun. Sepertinya harus Teresa yang memulai. “Ini, di mana?” Memang benar kata orang, suara yang dikeluarkan dengan penuh keraguan akan terdengar seperti gerutuan orang yang baru saja bangun tidur.


“Lo baik-baik aja ‘kan?” Katanya balik bertanya. Dari sorot mata yang Teresa lihat, orang itu terlihat begitu khawatir. Pipinya jadi menghangat memikirkannya.


Apa, Aska khawatir padanya?


Teresa **** senyum. “Aku baik-baik aja.” Ucapnya salah tingkah.


Adegan novel, sekarang ia tahu kenapa setiap pemeran utama selalu terkena bola basket akibat ulah sang pangeran. Karena memang kisah selanjutnya akan sulit terlupakan. Saat sang pria menunggui permaisurinya hingga tersadar. Ah, betapa romantisnya kisah seperti itu.

__ADS_1


“Syukurlah. Lo tahu gue khawatir banget waktu lo pingsan. Maaf juga, gue nggak hati-hati waktu lempar bola.”


Jadi Aska yang melempar bolanya.


“Nggak apa-apa.” Dengan itu Teresa tahu, dirinya dan Aska memang ditakdirkan untuk hidup saling berdampingan. Ternyata dibalik pingsannya Teresa ada bola pembawa keberuntungan dibaliknya. “Lain kali kalau main basket hati-hati.”


“Gimana gue bisa hati-hati kalau orang yang gue sayang ada di barisan paling depan.” Gerutunya pada diri sendiri. Tidak mengetahui jika Teresa sudah mendengarnya sambil mengernyitkan dahinya bingung.


“Siapa maksudnya?”


Aska tersadar. Sepertinya ini saat yang tepat untuk Aska mengutarakan perasaannya selama ini. Kapan lagi ia bisa mengutarakan perasaannya di bilik UKS. Cowok itu menarik napas dalam sebelum berkata hal yang menurutnya sangat penting. “Elo, Teresa.” Cowok itu menyorot dalam pada mata Teresa. Wajahnya sengaja ia manis-maniskan. Mau bagaimana lagi, bersama Teresa ia harus berlebih-lebihan agar cewek itu cepat peka.


Teresa masih tidak mengerti. Buktinya, kernyitan di dahinya semakin bertambah menampakkan dahi memarnya yang sedikit menonjol.


Aska menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Gue sayang sama lo, bahkan sayang banget. Beberapa kali gue berpikir kalau rasa sayang gue ini hanya sebatas teman seperti yang selama ini lo bilang. Tapi enggak, bukan sesederhana itu. Lebih dari sayang sekedar teman, ini lebih rumit dari itu. Ini ci-nta.” Aska merasa aneh mengucapkan kalimat terakhirnya.


Apa? Mulut Teresa menganga lebar. Matanya membulat sempurna. Sulit dipercaya jika akhirnya ada seorang cowok yang jatuh cinta padanya. Hati Teresa kembali berdetak, tapi kali ini ia sadar betul jika detakan ini bukan karena sakit kronis yang mungkin dideritanya seperti persepsinya tadi. Rasa ini hanya ada ketika dirinya bersama Aska. Itu artinya,


“Aku cinta sama kamu Teresa. Entah sejak kapan aku nggak tahu, tapi rasa ini memang ada. Hati aku selalu berdetak hebat cuma ketika sama kamu. Aku juga berharap kamu memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan saat ini.” Aska meraih kedua tangan Teresa, menggenggamnya kuat. Teresa masih terpaku pada kalimat Aska yang terdengar lebih romantis dari yang ia perkirakan. Dengan ucapan aku-kamu membuat Teresa hampir pingsan.


Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


“Aku sedih waktu kamu mendadak jauhin aku tanpa sebab. Tapi aku tahu itu karena Dini yang udah manfaatin kelemahan kamu.”


“Kalau kamu tahu, kenapa cuekin aku seminggu ini?” Akhirnya Teresa dapat mengeluarkan suara setelah bibirnya yang berdarah dari dalam.


“Karena aku pikir kamu butuh waktu sendiri. Apalagi ada ulangan yang bikin kita harus belajar ekstra dulu. Lagipula kamu yang cuekin aku duluan.” Aska tidak peduli lagi, walau sejak tadi sang petugas UKS sibuk memperhatikan mereka sambil bertopang dagu.


“Aska!” Cewek itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merengek pelan sambil beberapa kali menyebut nama Aska. Cowok itu hanya tertawa melihat Teresa yang terlihat seperti cacing kepanasan. “Kenapa nggak bilang kalau ada orang lain.” Masih berupa gerutuan dengan suara sangat rendah. Bahkan ia tidak mau menatap sang petugas lagi walau hanya sesaat.


Ini adalah kali pertama dan terakhir ia datang ke ruangan ini. Dijamin!


Aska semakin tertawa geli. Lalu menarik tangan Teresa agar tidak menutupi wajahnya lagi. Tidak kehilangan akal, Teresa malah memejamkan matanya membuat Aska harus lebih bersabar. Si petugas yang tidak tahu namanya siapa itu memandangi mereka sambil menahan tawa. Dasar tidak peka!


Atau mereka yang salah tempat?


“Hei, buka mata kamu. Kamu nggak suka lihat wajahku? Padahal ganteng.” Ucap Aska lembut, ditambah percaya diri tingkat tinggi. Masih berusaha membujuk. Aska mencondongkan tubuhnya mendekat, meniup-niup mata Teresa agar mau terbuka.


Masih menutup mata, Teresa menjawab. “Bukan itu. Aku suka lihat wajah Aska, emang ganteng banget.” Polos sekali jawabannya.


Aska terkekeh. Jika dilihat dari jarak sedekat ini, wajah Teresa terlihat jauh lebih menggemaskan. Aska baru menyadarinya, di wajah cewek itu terdapat tahi lalat sangat kecil pada mata sebelah kiri. “Kalau gitu buka dong!”


Perlahan, mata Teresa terbuka. Bersamaan dengan bibir Aska yang tertarik keatas tanpa sedikitpun menarik wajahnya menjauh. Mata mereka saling bertaut, dapat cewek itu dengar jika detak jantung Aska berpacu sangat cepat. Hanya terdengar sesaat sebelum suara lancang memenuhi gendang telinga mereka.


“Kalian sudah menikah ya?” Tanya petugas UKS itu tepat di samping mereka.


Aska tersentak, menjauhkan wajahnya sambil mengumpat dalam hati. Sedang Teresa kembali menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.


“NIKAH GUNDULMU!”


***

__ADS_1


“Terimakasih, Tante. Malah jadi ngerepotin.” Aska tersenyum pada Evani yang kini tengah membawakannya minuman cokelat beserta kue kering. Katanya buatan Teresa, tapi Aska tidak percaya.


“Sama sekali nggak ngerepotin. Masa temannya Teresa datang nggak dikasih apa-apa.” Evani membalas senyumannya.


“Aska nggak dikasih apa-apa juga nggak apa-apa, Buk.” Teresa justru tertawa saat mendapati pelototan dari sang Ibu.


“Silakan dimakan, nak Aska.” Evani mempersilakan. Aska melepaskan pandangannya dari Teresa kemudian tersenyum sebelum mengambil sepotong roti kering. Ia mulai menggigitnya, mengunyah makanan itu pelan seperti tengah melakukan penjurian.


“Wah, enak Tante. Bikin ketagihan.” Katanya kemudian. Evani menarik bibir semakin lebar karenanya.


“Kalau gitu nanti sekalian bawa buat dimakan di rumah.” Katanya sambil beranjak.


“Makasih tante. Jadi ngerepotin lagi.”


“Nggak ngerepotin.” Evani berjalan kembali menuju dapur. Cowok itu kembali memakan kuenya. Aska tidak berbohong. Kuenya memang sangat enak. Tidak terlalu manis, dan lembut ketika masuk ke dalam mulut.


Di lain sisi, Teresa menatap Aska aneh. Sejak kapan cowok itu bersikap sok akrab kepada orang lain. Selama ini Aska selalu bersikap judes dan menyebalkan. Di lain waktupun Aska justru terlihat menakutkan. Hanya tadi siang saja Aska terlihat begitu manis dan menggemaskan.


Mengingat itu membuat pipi Teresa memerah. Ia sangat bahagia.


“Kamu harus belajar bikin kue dari Ibu kamu biar aku betah kalau di rumah nanti.” Ucapnya setelah menyelesaikan makannya. Nadanya terdengar sangat pelan, mungkin tidak ingin orang lain mendengarnya.


Teresa tersipu. “Kayak mau nikah aja ngomongnya.” Katanya. “Lagian itu memang aku yang buat, walaupun bareng sama Ibuk. Tapi ‘kan masih ada campur tangan aku.”


“Loh, kamu nggak berharap berjodoh sama aku suatu saat nanti?”


Teresa menggeleng. “Jodoh di tangan Tuhan, Aska. Manusia nggak pernah ada yang tahu. Mau mendahului Tuhan?”


Aska menekuk bibirnya. Ia lupa jika dirinya tadi gagal saat akan mengutarakan perasaannya pada Teresa. Tapi semoga cewek itu sudah terlebih dahulu peka. Ia jadi penasaran, sebenarnya Teresa menyukainya atau tidak? Jika tidak, habislah hati Aska patah.


“Tapi berharap boleh ‘kan?”


Teresa mengangguk membenarkan. “Asal berharapnya nggak ketinggian aja. Nanti minta jodoh yang kayak Angelina Danilova! Mana bisa!” Teresa tertawa.


Aska mencubit pipi mochi cewek itu karena tidak kunjung menghentikan tawa.


“Auu, Sakit. Sakit!” Teresa meringis memegangi pipi.


“Eh, sorry. Sakit ya?” Aska ikut mengelusi pipi Teresa yang mulai memerah. Entah memerah karena cubitan Aska atau karena hal lain.


“Sakit lah!” Teresa mengerucutkan bibirnya sebal. Memang tidak sinkron dengan perutnya yang membuncah seperti dihinggapi banyak kupu-kupu. Aska semakin mengelusi pipi Teresa penuh sayang.


Tidak ada yang tahukah jika saat ini tubuh Teresa seperti melayang. Otaknya tidak bisa berpikir jernih hanya karena usapan lembut dipipi sebelah kanannya.


“Resa! Bapak nggak pulang lagi ya hari ini?” Suara Evani membuat keduanya Tersentak. Aska yang langsung berpura-pura meminum cokelat panasnya sambil berdeham salah tingkah, sedang Teresa yang mengepalkan tangan penuh amarah.


Tapi Teresa harus bersabar, agar Evani tidak kembali syok seperti biasanya. Ia tidak ingin Aska tahu tentang kekurangan keluarga kecilnya. Tidak untuk saat ini.


“Bapak tadi telepon Resa, katanya nggak bisa pulang. Ibuk tidur aja duluan.” Evani mengangguk setelahnya.


Teresa dapat bernapas lega. Lagipula sejak kapan orang yang telah menghadap Tuhan bisa menelepon orang yang masih berada di dunia?!

__ADS_1


__ADS_2