Chameleon Boy

Chameleon Boy
Rela?


__ADS_3

Olimpiade tingkat kota dimenangkan sekolahnya. Dengan binar kesenangan, Teresa menatap Bu Devi yang kini pun tengah tersenyum kepada dua objek di depannya.


“Kalian memang selalu bisa dibanggakan. Terutama kamu Teresa, kapan sih kalahnya?!” Bu Devi berkata dengan nada guyon, memunculkan tawa dari ketiganya. “Aska, jurinya juga suka dengan cara kerja kamu. Bersih, cepat, dan benar.”


Aska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Terimakasih, Bu. Semua berkat bimbingan dari Bu Devi.”


“Oh iya, hadiahnya juga sudah cair, langsung masukkan ke rekening kalian saja atau cash?” Bu Devi bertanya, masih dengan raut bangga.


“Terserah Bu Devi aja.” Teresa yang menjawabnya. “Sebelumnya terimakasih karena sudah memberi saya kesempatan ini, karena Bu Devi udah ngasih saya ruang lomba, Bu Devi baik banget kayak keluarga saya sendiri.” Ucap cewek itu dengan nada pilu. Air mata keluar dari pelupuk matanya. Teresa menyeka air matanya sambil terus terisak. Sial, kenapa ia cengeng sekali.


Aska yang melihatnya pun ingin merengkuh tubuh kecil di depannya, tapi apa daya kalau dirinya malu jika dilihat Bu Devi. Bukan malu, tapi tidak bisa karena hampir semua guru menatapnya sebagai seorang anak yang pendiam.


“Saya ‘kan sudah pernah bilang kalau kamu itu sudah seperti adik saya sendiri.” Bu Devi berusaha menenangkan. Mengelusi punggung Teresa dengan lembut sebelum menaikkan tangan menyentuh sedikit rambut anak muridnya. Ia terheran-heran, anak ini diam saja saat tangan mendarat tepat di rambutnya.


Karena terlalu penasaran, Bu Devi mengelusi puncak rambut Teresa yang masih didiamkan oleh si empu. Walau hanya dalam hati Bu Devi bersyukur. Phobia Teresa sudah hilang, dan tanpa perawatan. Itu artinya, orang selama ini ia anggap Adikpun sudah bisa bahagia.


“Bu devi,” rengek Teresa sambil menunduk.


“Sudahlah, anggap saja ini kebaikan terakhir dari sekolah ini. Bapak kamu ‘kan juga sudah tiada, jadi secara nggak langsung kamu sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak Ibu kamu sakit.”


Teresa mengangguk membenarkan.


Aska mengernyit. Memorinya berputar seiring dengan ucapan Bu Devi barusan. Ayah Teresa sudah meninggal?! Lalu, siapa yang selama ini di cari Ibunya. Apa Teresa memiliki Ayah tiri, tapi kenapa dia tidak bercerita. Sejauh yang Aska tahu, Ayah Teresa seorang pembunuh bayaran seperti yang diceritakan waktu itu. Jangan kira Aska tidak terpukul, ia sangat terkejut saat orang sebaik Teresa memiliki Ayah seperti monster.


Tapi semua itu tidak masalah untuknya. Toh, yang disukainya Teresa, bukan Ayahnya.


“Oh iya, Sa. Bagaimana keadaan Tante Evani?”


***


“Harus ya, aku cerita semua secara detail? Aku aja belum tahu bagaimana keluarga kamu? Tapi kamu udah hampir tahu semua tentang keluargaku.” Teresa memainkan jemari lentiknya. Kakinya bergoyang seirama dengan angin yang menghembus dingin.


Saat ini, dirinya dan Aska sedang berada di belakang perpustakaan. Seperti biasa, tempat yang kini menjadi ruang kosong favorit mereka. itu selalu menjadi tempat curhat yang efektif.


“Kalau kamu pingin tahu tentang keluargaku, besok aku akan ajak kamu ke rumah. Supaya kamu tahu gimana keluargaku.”


“Nah, gitu. Biar impas.” Teresa tak mau kalah.


“Sekalian biar enak menjalani hidup bersama, ‘kan udah tahu satu sama lain.” Aska mengerlingkan mata membuat jantung Teresa berdetak hebat. Ingin rasanya Teresa bersama itu menjalani hidupnya, tapi ada sebuah ganjalan kecil di hatinya yang sangat ingin ia tanyakan. Mungkin ini waktu yang tepat.


“Aska.” Terdengar gumaman dari cowok itu. “Kamu kok sama aku terus, kalau ada yang marah gimana?!”


Sedih sekali mengatakan itu, tapi Teresa ingin tahu. Selama ini Aska tidak pernah mengklarifikasikan hubungan mereka. Bohong jika Teresa hanya mengharap jalinan pertemanan biasa, sedangkan cowok itu selalu saja membuatnya baper berkepanjangan.


“Siapa emang yang marah?” Alis Aska bertaut, matanya memancar jelas jika dirinya tidak suka dengan pertanyaan itu. Karena berarti selama ini, Teresa masih belum peka dengan perhatian yang Aska berikan.


“Pacar atau cem-ceman mungkin?” Teresa berpikir. Namun, melihat raut bingung Aska membuatnya tertunduk malu. Tidak seharusnya ia menanyakan itu semua. Ini sama saja dengan ia menuntut kepastian.


“Ada, kok.”


“Ada apanya?” Suasana mendadak terasa panas.


“Pacar.” Jawab Aska santai.

__ADS_1


Kalimat santai yang Aska lontarkan tak urung membuat wajah Teresa berubah sendu. Jadi selama ini Aska tidak menyukainya dan hanya dirinya yang berharap.


“K-kok nggak pernah kenalin ke aku? Kan kita teman.” Katanya merubah raut wajah seolah dirinya biasa saja mendengarnya. Cinta bertepuk sebelah tangan ternyata menyakitkan sekali. Baru pertama kali menyukai seseorang, dirinya harus mundur sebelum kesampaian. Miris.


“Emang harus banget ya?”


“Enggak kok.” Teresa tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Aku, balik ke kelas dulu ya. Lupa kalau harus ngurus sesuatu.” Sambungnya sambil beranjak.


Karena tidak mendapat sepatah katapun keluar dari mulut Aska, Teresa mulai berjalan meninggalkannya dengan napas terengah-engah. Dadanya menyesak seiring dengan matanya yang memanas.


“Sa!” Teriak Aska keras, namun Teresa tetap melanjutkan langkah seolah panggilan yang cowok itu lontarkan hanyalah angin lalu.


“Sa!” Teriak cowok itu lagi.


Teresa berhenti melangkah. Sebelum membalikkan badan, Teresa menarik napas pelan kemudian mengembuskannya.


Teresa berbalik sambil tersenyum. “Masih ada perlu?”


“Sebenarnya...kamu belum cerita soal yang aku minta tadi,”


“Oh, besok aja, sekarang ke kelas dulu. Sebentar lagi bel bunyi.” Baru ingin berbalik, Aska sudah terlebih dahulu memasang badan di depannya, meminta Teresa untuk tetap di sini.


“Sebenarnya aku panggil kamu bukan buat tanya itu. Ada hal lain yang pingin aku omongin.” Aska menatap Teresa serius.


“Maa-,”


“Kalau kamu yang jadi pacarku gimana?” Aska menyerobot ucapan Teresa, mengembuskan napas lega setelah berhasil mengucapkan kalimat yang sejak tadi berhasil memenuhi pikiran.


“Pacarnya itu kamu, Teresa Evania. Maaf aku bukan cowok romantis, stock gombalku cuma sedikit. Intinya kamu terima aku ‘kan?”


“Pacar kamu-,”


“Lah iya kamu. Siapa lagi.”


“Jangan suka potong pembicaraan kalau ada orang ngomong.” Teresa menggertakkan gigi. “Pacar yang kamu ceritain tadi harus kamu perjuangkan dulu. Bukannya berniat selingkuh! Aska pikir aku cewek apaan?!”


Ternyata Teresa percaya ucapannya. Aska terkekeh karenanya.


“Jangan ketawa! Nggak ada yang lucu!”


“Galak amat sih kamu. Dia nggak akan marah, ‘kan orangnya kamu.”


“Maksudnya?!” Pekikan Teresa kembali terdengar.


“Maksud aku tadi waktu bilang punya pacar itu ya kamu. Aku serius, udah suka sama kamu dari lamaaaa banget. Bukan cinta main-main jadi kamu nggak perlu khawatir.” Aska menatap penuh harap.


Mulut Teresa menganga lebar. Jadi ceritanya Teresa sedang ditembak cowok. Belum pernah seumur hidupnya ada cowok yang menyatakan cinta. Benar kata orang, yang pertama pasti yang paling spesial karena pasti selalu membekas di hati.


“Pokoknya harus mau! Bilang mau, Sa!”


Teresa tersipu, menundukkan kepala. Mengapa Aska tidak romantis seperti di film-film. Cara menyatakan cinta cowok itu membuatnya ingin menyetak dan mengatakan, 'Maksa amat sih!'


“Sa! Jangan bilang kamu nolak aku?! Jangan bilang, Sa! Jangan bilang?!” Aska memegangi dada, memperlihatkan ekspresi terlukanya.

__ADS_1


Teresa mendorongnya pelan sambil terkekeh.


“Apa sih, lebay.” Sergahnya sambil tertawa.


Aska berdiri tegap, memasang ekspresinya seperti semula. “Nah, gitu dong senyum. Jangan marah-marah terus.” Aska tersenyum pada Teresa. “Nggak perlu dijawab soal yang tadi juga nggak apa-apa.” Nadanya terdengar lembut ditelinga Teresa, tidak lebay seperti tadi.


Teresa berkedip pelan. “Kenapa?”


“Karena aku tahu jawabannya.”


“Apa coba?” Teresa menantang, menjulurkan lidahnya membuat Aska merasa gemas melihatnya pun mengapit pipi cewek itu dengan tangannya.


Masih dengan tangan yang berada di pipi Teresa, Aska menjawab. “Pasti jawabannya 'Iya'. Kamu tahu kenapa? Karena kamu cemburu waktu aku bilang punya pacar, itu artinya kamu sayang sama aku.”


Mata Teresa membulat sempurna. “Ehan kelihatan bhanet ya?” (Emang kelihatan banget, ya?)


Aska tertawa, melepas tangannya pada pipi Teresa. Cewek itu mengernyit, kenapa pacar. barunya tertawa seperti itu. Ah, menyebut pacar baru membuat Teresa tersipu.


“Banget.”


***


Seperti janji yang Teresa ucapkan saat itu, Teresa menceritakan semuanya, tentang orang tuanya.


“Setelah Bapak meninggal lima tahun lalu, Ibuk jadi depresi. Nggak tahu penyebabnya apa karena setelah Bapak meninggal, Ibuk terlihat biasa aja. Tapi pagi itu, tepat satu minggu Bapak ninggalin kita, Ibuk mulai ngigau. Sering cari-cari Bapak tapi setiap aku jawab kalau Bapak udah meninggal, Ibuk ngamuk. Nangis sambil nyebut nama Bapak yang bikin aku sama Ezra yang waktu itu masih kecil jadi stress. Adiknya Ibuk yang ada di Solo bilang kalau Ibuk harus di periksa ke dokter. Om Vino sampai bela-belain datang ke Jakarta, ninggalin pekerjaannya sampai Ibuk pulih.”


Teresa terisak. Apa Aska salah jika meminta Teresa untuk menceritakan semuanya dan membuat kekasihnya menangis terisak.


“Kata dokter, Ibuk menderita amnesia disosiatif karena belum menerima kepergian Bapak. Itu sebabnya juga aku belum cerita tentang pekerjaan Bapak sampai saat ini ke Ibuk karena aku takut Ibuk tambah depresi. Satu-satunya cara biar Ibuk sembuh adalah dengan cara psikoterapi yang harganya sangat mahal. Makanya Om Vino menjual rumah kami yang sebelumnya dan carikan rumah baru yang lebih kecil, rumah yang aku tempati sekarang.”


Sepelik itukah hidup Teresa. Aska malu dengan dirinya sendiri. Kehidupannya jauh lebih baik dibanding Teresa tapi dirinya masih mengeluh. Tidak menerima saat kedua orang tuanya menentukan jalan hidup Aska, padahal semua itu demi dirinya. Agar Aska tidak hidup kesusahan. Mendadak Aska merindukan kedua orang tuanya. Sepertinya ini saat yang tepat untuk Aska berbakti.


“Tapi hasilnya nihil, sampai saat ini Ibuk belum juga sembuh. Kata Om Vino Ibuk terlalu sayang Bapak, jadi satu-satunya cara biar Ibuk nggak ngamuk lagi adalah dengan cara turuti aja kalau nyari Bapak. Bilang Bapak kerja atau apa biar nggak bikin aku sama Ezra ikut kepikiran.”


“Kamu pernah coba ajak Ibu kamu ke kuburan Ayah kamu?”


Teresa menggeleng. “Belum pernah, dan nggak akan pernah. Aku nggak mau Ibuk kenapa-napa karena Ibuk tanggungjawab aku sepenuhnya.”


“Kalau psikoterapi aja nggak bisa, kenapa nggak coba buat Ibu kamu menerima semuanya. Dengan cara, Ibu kamu tahu atau ingat tempat Ayah kamu dikuburkan.”


“Aku nggak mau nanggung risiko sekecil apapun. Hidup aku udah terlalu rumit, dan aku nggak mau nambah lagi.”


“Aku nggak tahu kamu udah pernah melewati kejadian sebesar itu. Tapi yang aku tahu, kamu cewek kuat.” Aska merengkuh tubuh kecil Teresa. Memintanya untuk tetap kuat menjalani semuanya karena Aska selalu ada untuknya. “Kamu, cewek terkuat yang pernah aku punya.”


Teresa menangis dalam diam. Tidak ada lagi isakan ataupun erangan. Teresa diam, bersandar pada dada bidang Aska. Membasahi baju cowok itu dengan air matanya. Aska tidak menegur, Biarkan Teresa lebih tenang dulu.


“Aku capek, Ka. Aku pingin hidup normal kayak yang lain. Pingin Ibuk sembuh seperti semula, pingin punya Bapak yang sayang anak-anaknya. Pingin punya keluarga... Yang lengkap.” Akhirnya, sisi terlemah Teresa keluar tanpa diminta.


Aska semakin mengeratkan pelukannya. “Suatu saat, kamu pasti bisa hidup bahagia. Aku yang akan menjaminnya.”


Akhirnya isakan Teresa kembali terdengar, dibarengi gerutuan yang membuat Aska mematung seketika.


“Sebenarnya... Aku nggak pernah benci Bapak.”

__ADS_1


__ADS_2