Chameleon Boy

Chameleon Boy
Terungkap


__ADS_3

Hidup memang tidak pernah mudah. Kadangkala, ketika kita menginginkan ataupun percaya kepada seseorang, kekecewaan akan mengikuti di belakangnya. Membawa kita ke dalam jerat abu, membuat lorong kosong di sebagian rongga nadi.


Bukannya Teresa tidak mempercayai ucapan Aska tentang janji yang ia ucap kemarin. Ia percaya, tapi tidak sepenuhnya. Karena masa lalu kelam membuat rasa percayanya kepada seseorang terkikis habis secara perlahan.


Hanya janji sederhana, tapi membuat Teresa tidak dapat tidur semalaman. Perhatian Aska yang berlebihan semakin membuatnya melambung tinggi dan tidak siap untuk dijatuhkan. Merasa bahwa cowok itu menganggapnya lebih dari seorang teman tentu saja membuatnya bahagia.


Ada angan yang selalu berusaha Teresa tepis, bahwa dirinya sudah tertarik kepada seorang Aska Fernando Pratama entah sejak kapan. Cowok yang membuatnya terkagum, sekaligus merasa lebih berarti. Cowok yang bisa membuka sisi kerapuhan yang selama ini ia pendam, agar tidak seorangpun dapat memandangnya lemah telah dilebur paksa hingga menyisakan Teresa yang tak berdaya. Ia yakin, Aska bukan kasihan, cowok itu jelas perhatian dan peduli kepadanya.


Teresa percaya, Aska akan menepati setiap kata dan janji yang sudah ia ucapkan. Agar Teresa tidak kembali kecewa. Agar kekecewaan akan masa lalunya tidak kembali terulang.


Derap langkah kaki seseorang membuat Teresa membuyarkan lamunan. Ia menoleh ke sisi kanan kirinya. Tidak ada siapapun. Ia mengernyit, sepertinya tadi ada suara langkah seseorang.


Tepukan di pundak kanannya berhasil membuat Teresa mencelat kaget. “Dini! Aku pikir siapa!” Katanya berdiri dengan kesal. Buku yang ia letakkan di pahanya sampai terjatuh.


“Habisnya suka banget sendirian, di belakang perpustakaan.” Dini nyengir. Teresa memungut bukunya yang terjatuh kemudian kembali duduk.


“Aku emang selalu di sini, nyaman.”


“Gue dengar-dengar di sini itu banyak hantunya. Kalau ada anak kesurupan pasti jalannya ke sini, Hiiii.” Dini bergidik menatap suasana sekeliling. Kotor sekali. “Emang lo nggak takut?” Bisiknya mendekatkan mulutnya pada telinga Teresa.


Teresa melebarkan mata, lalu tertawa. Dia saja pernah melihat pembunuhan sadis di depan matanya sendiri, masa hanya tempat sepi Teresa harus takut. “Ngapain! Nggak ada apa-apa, itu cuma mitos.” Ucapnya santai menundukkan kepala, kembali membuka bukunya.


“Mitos gundulmu!”


Teresa terkekeh, ia menatap Dini. “Kalau takut ngapain ke sini?”


“Lah, gue cari lo ke kelas nggak ada, ya gue tanya sama anak-anak kelas lo, katanya lo suka bergaul sama hantu di sini. Udah berapa lama lo berteman sama mereka?” Dini bertanya menyelidik.


Ternyata mereka tahu kebiasaan Teresa yang suka datang kemari. Ia tidak percaya ini, pipinya menghangat karena teman sekelasnya tahu padahal ia tidak pernah bilang.


“Lama banget! Sampai mereka semua hafal sama aku.”


“Seriusan lo?” Dini terlihat percaya. Semakin mendekatkan tubuhnya pada Teresa membuatnya semakin tertawa kencang.


“Iya. Tapi bohong! Kamu pikir aku apa sampai bisa berteman sama setan?!”


“Rese lo! Gue udah percaya juga.” Dini mendorong Teresa kesal. Baru ingin mencakar habis Teresa, tapi ponselnya bergetar. Dini langsung berdiri.


“Hallo,” Katanya. Teresa memperhatikan. “Iya, iya. Bawel lo!” Jawabnya lagi setelah orang itu berbicara. Ia terlihat kesal sambil menutup panggilannya.

__ADS_1


“Sa, lo lapar nggak? Ke kafetaria, yuk!”


“Kamu aja, tadi aku udah makan.” Teresa menolak secara halus.


Dini mengangguk. “Pergi dulu, ya. Awas hantunya naksir!” Katanya melambaikan tangan, pergi dari hadapan Teresa.


Cewek itu tersenyum, menggelengkan kepalanya. Mana ada hantu suka dengannya, selama ini Teresa merasa dirinya tidak cantik.


“Dini!” Teresa memanggilnya. Ingin mengucapkan terima kasih karena Dini sudah sering membantunya ketika kesulitan. Jika tidak ada Dini, Teresa tidak tahu bagaimana mengatasi semuanya. Dini berhenti melangkah. “Makasih ya untuk bantuan kamu waktu itu. Kamu benar-benar membuat masalah aku jadi berkurang.”


Dari balik punggung Dini, Teresa dapat melihat bahwa cewek itu menghela napas panjang sebelum berbalik dan tersenyum. “Kita ‘kan teman. Gue pergi dulu, bye!” Katanya lagi dibalas anggukan oleh Teresa.


Ia meraih botol minum di sampingnya, kemudian meneguknya sampai kandas. Membuang botol itu langsung ke tempat sampah tidak jauh di depannya. Ia tidak ingin kejadian dengan Gantara dulu terulang lagi.


Karena kebanyakan minum Teresa jadi ingin ke kamar mandi. Ia mengambil bukunya, lalu melangkah meninggalkan tempat favoritnya di belakang perpustakaan.


***


“Ah, lega.” Katanya menepuk perut setelah keluar dari bilik kamar mandi. Ia mencuci bersih tangannya kemudian mengambil buku yang ia letakkan di samping wastafel, berjalan santai, akan keluar. Bel sudah berbunyi beberapa menit lalu.


“Lo bilang mau bantu gue setelah gue bantuin lo buat fitnah si anak cupu itu. Siapa namanya? Ah, kak Teresa. Si pararel satu yang udah bikin kakak kelas gue kelabakan.”


“Jaga mulut lo! Iya, gue akan bantu lo buat ngomong sama Dewa supaya mau balikan sama lo!”


Ia dapat mendengar jelas. Dewa? Itu berarti Gantara. Dan hanya satu orang yang memanggil Gantara dengan sebutan Dewa. Teresa semakin menajamkan pendengarannya.


“Kapan? Jangan bikin gue kebanyakan dosa ya, bitch. Dulu gue udah labrak tuh orang karena mulut sampah teman nggak berguna gue. Dan sekarang gue fitnah dia juga? Gue nggak mau tahu Gantara harus balikan sama gue secepatnya. Kalau nggak, gue akan bilang sama Gantara langsung kalau sebenarnya lo yang sebarin rahasia keluarga Gantara ke seluruh sekolah, bukan kak Teresa.”


“Lo yang sebarin, Nda! Lo lupa? Kenapa malah salahin gue.”


“Atas perintah kak Queen Andini kalau lo pikun!”


Teresa membekap mulutnya sendiri menggunakan satu tangan saat ia reflek akan menjerit. Matanya memerah, ia mulai menangis. Jadi selama ini orang yang sudah memfitnahnya adalah temannya sendiri. Teman yang ia anggap begitu baik adalah orang terlicik di dunia. Ia masih diam di tempat, belum mau memunculkan batang hidungnya. Biarkan mereka selesaikan perdebatan dulu, setelahnya Teresa yang akan meluruskan semuanya hanya dengan Dini.


Ya, Dini. Temannya. Apa orang itu pantas disebut teman? Sangat pantas. Bukankah selama ini gunanya seorang teman memang untuk saling menyakiti dan menjatuhkan?!


“Nanti gue akan langsung bilang sama Dewa, lo tenang aja. Dewa selalu nurut sama gue. Nggak cuma Dewa, bahkan semua cowok akan bertekuk lutut demi dapatin gue. Tapi Aska benar-benar kurang ajar! Dia nggak pernah bisa lihat cinta gue cuma demi cewek jelek itu. Kayaknya otak Aska harus gue sterilin biar bisa mikir.”


Jadi semuanya karena Aska? Harusnya ia sudah menduga sebelumnya. Dini menyukai Aska sejak lama. Dari caranya membahas Aska, bagaimana raut wajah yang berusaha dia sembunyikan ketika Aska lebih memilih menatap dirinya dibanding Dini. Harusnya Teresa tahu itu!

__ADS_1


Teresa memilih keluar dari persembunyiannya untuk melihat Dini juga Adik kelas yang Teresa ingat pernah menganiayanya dulu. Amanda, mantan pacar Gantara langsung pergi begitu melihat Teresa muncul dari balik punggung lawan bicaranya.


Dini menoleh, tersentak hebat melihat keberadaan Teresa di belakangnya. Air muka yang semula dingin berubah hangat.


“Bisa kamu jelasin semuanya?” Katanya datar. Air mata yang menggenang hebat tadi sudah ia usap bersih, agar tak terlihat sedikitpun kerapuhan dalam dirinya.


“Jelasin apa? Gue nggak ngerti maksud lo!”


“Kalau nggak ngerti nggak apa-apa.” Katanya kemudian setelah mendengar jawaban Dini yang cukup membuatnya tersulut emosi. Mengapa orang senang sekali berpura-pura bodoh?!


“Maksud lo?”


Teresa tersenyum skeptis. “Kalau kamu nggak ngerti berarti emang aku yang salah. Salah karena nggak pernah berusaha ngertiin tentang siapa yang kamu suka. Maaf udah mengotori tangan kamu dengan kelakuan aku.” Tidak ada reaksi apapun dari Dini selain mematung di tempatnya. Teresa melangkah akan pergi, tapi Dini mencekal tangannya.


“Lo benar-benar dengar?”


Teresa mengangguk sekali tapi sudah cukup membuat Dini menegang, memutar otak. Dalam beberapa detik air muka Dini berubah garang. “Apa mau lo?”


“Aku cuma mau kamu bilang yang sebenarnya sama Gantara,”


“Dan membuat gue semakin jauh sama Aska karena Aska juga akan tahu semuanya? Lo mau bikin gue sedih? Katanya lo teman gue, tapi kenapa lo nggak pernah buat gue bahagia?!”


Teresa merasa tertohok. “Mungkin dari awal kita memang nggak berteman.”


“Nggak berteman? Terus apa belas kasihan gue ke elo selama ini kurang disebut teman? Ini saatnya gue yang minta balas budi, bukannya lo yang malah mau semakin menjerumuskan gue! Lo waras ‘kan, Sa?!”


Teresa menunduk perlahan. Ia menggoyang-goyangkan tangan bimbang. Yang Dini ucapkan memang benar. Dini sudah banyak membantunya sedangkan ia belum memberikan satu balasan pun. Tapi haruskah dengan balasan sepicik ini? Teresa masih bisa memberikan balasan lain, tapi jangan beasiswanya. Apalagi Aska.


“Kenapa diam? Sekali-kali tolong lo pikirin gue, Sa. Tolong!!” Ucapan Dini terdengar lirih sekarang. Terdengar isakan kecil dari mulutnya. Dini menangis. “Gue tahu yang gue lakuin selama ini emang salah. Gue tahu! Gue selalu anggap lo teman melebihi apapun karena emang lo beda. Lo nggak kayak teman-teman gue yang lain, lo sederhana. Juga baik. Makanya cowok yang gue suka sampai kepincut sama lo.”


Teresa masih diam. Aska menyukainya? Begitukah? Kenapa Teresa tidak tahu!. Mungkin hanya persepsi yang ada di pikiran Dini karena terlalu cemburu.


Teresa mendongak, tangannya bergerak-gerak memelintir rok yang ia pakai. Tubuhnya bergetar, sepertinya air matanya sudah akan jatuh kembali ketika mendengar isakan Dini semakin keras.


“Lo sayang ‘kan sama gue, Sa? Gue teman lo ‘kan?”


Cewek itu masih saja diam. Dini merasa muak melihat wajah sok polosnya. “JAWAB!! Kalau lo sayang dan punya rasa balas budi barang secuil, tolong lo turutin gue.”


Apa memang benar ucapan Dini bahwa ia tidak tahu balas budi? Ia jadi mengingat, apa yang sudah ia berikan kepada orang-orang yang sudah menyayangi dan membantunya mati-matian? Tidak ada. Ya, ia baru menyadari sekarang bahwa dirinya memang terlalu egois. Ini saatnya ia menurunkan rasa egoisnya, agar tidak ada lagi orang yang tersakiti.

__ADS_1


“Jauhi Aska dan buat gue bahagia kalau lo masih tahu gimana caranya berbalas budi!”


__ADS_2