Chameleon Boy

Chameleon Boy
Chaetophobia


__ADS_3

Sudah pagi dan Teresa belum cukup tidur. Sedangkan sekarang sudah menunjukkan pukul enam. PUKUL ENAM PAGI!


Ia bergegas bangkit dari tidurnya, kenapa Evani tidak membangunkan. Dengan gerakan gesit melakukan mandi bebek dan bersiap-siap dengan cepat sebelum tertinggal bus. Dia menatap dirinya di cermin, menyisir rambut dengan hati-hati. Rambutnya sudah memanjang melebihi bahu. Ia harus segera memotong rambut agar tidak ada orang yang macam-macam dengannya.


Sudah siap. Ia sudah memakai bedak tipis juga pelembab bibir agar tidak kering.


Ia berlari keluar rumah setelah sedikit berdebat dengan Evani karena Teresa tidak mau membawa bekal. Ibunya itu tidak tahu jika hari ini Teresa akan mengikuti lomba lagi. Bukan Teresa tidak mau memberi tahu, tapi jika ia mengatakannya maka Evani akan tahu jika Ezra membutuhkan biaya sekolah. Teresa tidak mau itu terjadi. Ibunya masih sakit, dan Teresa tidak mau semakin menumpukkan beban.


Belum lagi sekolahnya diambang kehancuran. Ia harus mencari uang kemana untuk biaya satu semester terakhir. Biaya sekolahnya sangat mahal karena Harison termasuk sekolah swasta terbaik. Jika pindah, sekolah mana yang mau menerimanya dipertengahan semester seperti ini.


Teresa semakin termenung, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih dan belum ada satupun bus atau angkot yang lewat.


“Resa! Ayo, gue antar.” Teresa mendongak, mendapati Tika berada di depannya, menggunakan motor kesayangannya itu. Ia tersenyum sumringah.


“Nanti kamu telat gimana?” Tanyanya sambil naik ke jok belakang. Sebenarnya Teresa hanya basa-basi karena Tika pasti tidak akan telat. Tika ini termasuk siswa yang pintar, tapi karena pemalas nilainya selalu menurun setiap tahun. Suatu pencapaian hebat Tika bisa masuk ke SMA N 108 dengan hasil jerih payahnya sendiri. Tempat Teresa akan melakukan lombanya bersama Aska nanti. Ya, sekolah Tika menjadi tuan rumahnya.


“Lo bercanda tanya itu ke gue?” Tika menjalankan motornya, menuju SMA Harison.


Teresa tertawa. “Iya. Bercanda,”


Teresa tahu Tika berdecak. Teresa semakin tertawa menatap Tika dari kaca spion. Ia menghela napas, Tika yang juga memiliki masalah saja tidak pernah mengeluh atau hanya sekedar bersedih. Sedangkan Teresa, baru diberikan ujian kecil sudah meratapi nasib. Teresa harus banyak-banyak mencontoh keceriaan yang Tika perlihatkan agar ia bisa lebih banyak bersyukur.


Teresa mendekap Tika dari belakang, membuat Tika menegang. Sepertinya cewek itu terkaget karena Teresa menjadi manja.


“Resa, kayak biasa aja. Everything will be alright,” katanya. Tika menyadarinya. Teresa mengangguk di punggungnya.


Ya, semua akan baik-baik saja.


Kurang lebih dua puluh menit mereka sudah sampai di SMA Harison. Tika membawa masuk motornya ke parkiran, membuat Teresa mengernyit bingung.


“Tik, kamu kenapa masuk?” Teresa bertanya. Kernyitannya semakin bertambah kala Tika melepas helmnya dan turun dari motor, merangkul Teresa.


“Nggak boleh?” Tika menaik turunkan alisnya.


Teresa berpikir keras. “Boleh sih, tapi ‘kan-,”


“Gue mau bareng lo aja ke sekolah guenya. Habis ini lo pasti langsung ke SMA 108 ‘kan? Nah, gue bareng.”


Teresa membulatkan mata membuat Tika semakin berdecak. “Ah, lo katanya pintar tapi gitu aja mikirnya lama.”


“Jangan bawa-bawa pintar untuk masalah kayak gini, jelas beda!” Teresa tak terima. “Kamu nggak malu? Seragam kamu putih abu-abu sedangkan seragam sini dominan kotak-kotak merah maron, apalagi kita pakai rompi. Kamu bakalan mencolok! Belum lagi, memangnya kamu nggak takut dihukum?!”


“Sekolah gue free karena jadi tuan rumah, jadi nggak akan ada yang ngehukum. Lagipula, gue bukan cewek pemalu.” Tika berkata acuh, lalu berjalan mendahului Teresa memasuki area SMA Harison. Teresa meraup wajahnya frustasi, berjalan gontai di belakang Tika yang mulai tebar pesona karena ditatap seluruh penjuru sekolah di sepanjang koridor.


Teresa yakin mereka menatap Tika karena merasa aneh ada anak 108 yang tersasar ke Harison pagi-pagi buta. Tapi tidak, mereka juga menatapnya sambil berbisik-bisik sinis. Teresa mulai menunduk, pasti karena Gantara kemarin ia harus menjadi pusat perhatian.


Tika yang merasa ada yang aneh mulai menatap Teresa. Sahabatnya dalam masalah. Tapi masalah apa? Semua jelas berbisik-bisik membahas Teresa.


Teresa masih menunduk saat seseorang menghentikannya. “Teresa Evania?” Teresa mendongak, berjalan mendekati guru yang ia tahu bernama Pak Tama. Sang guru kedisiplinan yang menjelma menjadi guru olahraga di kelas Teresa.


“Ada apa ya, Pak?”


Pak Tama menyodorkan sebuah amplop putih panjang. Ada logo SMA Harison di pojok kanan atas. Teresa menerimanya. Tanpa dibuka pun Teresa sudah tahu itu berisi surat percabutan beasiswa atasnya.

__ADS_1


Teresa mengangguk, Pak Tomo menepuk bahu Teresa, mengucap rasa prihatin sedalam-dalamnya sebelum pergi. Teresa mengangguk tanda tidak masalah.


“Ini apa?” Tika merebut amplopnya, Teresa membulatkan mata. Amplop itu akan berbahaya jika Tika yang mengetahuinya. Semua akan tamat, Cewek itu ember jadi Teresa tidak ingin Tika mengetahui masalahnya.


Teresa berusaha merebutnya tapi Tika sudah terlebih dahulu membuka isinya. Teresa menyendu, bahunya melemas saat Tika menatapnya penuh amarah. “Beasiswa lo dicabut?!” Itu terdengar seperti pernyataan. Jelas saja tidak memerlukan jawaban. Tapi Teresa mengangguk agar Tika merasa masih direspon. Untung koridor depan ruang guru sepi, jadi Teresa tidak perlu khawatir akan menjadi objek tontonan. Lagi.


“Jangan bilang Ibuk.” Teresa berkata lirih.


Tika berdecak. “Kenapa bisa?”


Teresa harus menjawab apa, tidak mungkin ia menceritakan hal sesungguhnya. Ia pasti akan langsung dibodoh-bodohkan oleh Tika, belum lagi Tika akan melabrak Gantara dan itu akan membuat masalah baru yang lebih rumit.


Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya, Bu Devi dan Aska berjalan menghampirinya. Teresa tersenyum penuh kemenangan. Ia bisa menunda pembahasan ini dengan Tika. Paling tidak untuk hari ini.


“Kita berangkat sekarang.” Kata Bu Devi.


“Baik, Bu.” Katanya berbarengan dengan Aska. Mereka saling melirik sebentar sebelum Aska mengerling jahil dan berjalan mendahuluinya.


“Lo hutang cerita sama gue.” Tika berbisik di sampingnya tapi Teresa justru sibuk dengan pipinya yang memerah. Aska selalu saja membuatnya bullshing. “By the way, cowok itu siapa? Ganteng banget kayak Francisco Lachowski idola gue. Kenalin dong, Res! Siapa tahu dia kepincut sama gue, lumayan dapat cowok ganteng. Capek juga ternyata jomlo terus, lama-lama bisa kurang belaian gue nanti.”


Teresa menyorotnya tajam. Tika yang tadinya mulai berkhayal ngawur pun langsung diam. “Santai Mbak, mukanya nggak usah nyolot gitu.” Tika berdecak. Teresa semakin metotot. “Iya-iya, gue diam!” Tika berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.


“Kita naik mobil Aska saja, ya?” Teresa mengangguk merespon Bu Devi.


Selama perjalanan, keempatnya -Ada guru kimia satu lagi- sibuk membahas strategi, juga sistem penilaian yang akan di pakai. Tika mengikuti di belakang mereka menggunakan motor.


Intinya Teresa dan Aska nanti tidak akan satu ruangan karena Teresa olimpiade teori kimia dan Aska olimpiade prakteknya. Aska terlihat santai menyetir padahal Teresa terus komat-kamit menghafal materi.


Akhirnya sampai juga di SMA N 108. Teresa turun, menatap sekeliling. Lumayan juga, Sekolah Tika ternyata lebih bagus dari yang ia bayangkan. Bagaimana tidak bagus, 108 saja termasuk Sekolah Negeri terbaik. Memang berbeda dengan Harison, karena Harison masuk kategori SMA Internasional.


“Nggak usah belajar lagi, nanti otak lo meledak tahu rasa!” Aska berkomentar. Menarik-narik buku yang Teresa pegang. Cewek itu mengembuskan napas sebelum menoleh menatap Aska dengan pandangan kesal. Aska tertawa penuh kemenangan.


“Aska jangan iseng dulu, ihh!”


“Gue cuma pingin mencairkan suasana hati lo.”


“Suasana hati apa? Aska malah ganggu, bukan bikin tenang. Biar sama-sama enak, mending Aska belajar aja.” Teresa memberikan solusi terbaik.


“Gue udah belajar semalam. Lo yang udah sering lomba aja tegang. Nah gue, baru pertama kali tapi udah optimis menang. Karena partner gue cewek super genius makanya gue nggak perlu belajar.” Katanya menyentil kening Teresa. Ia mengaduh saat Teresa membalasnya dengan timpukan dengan buku tebal.


“Kita beda ruangan, beda nilai jadi Aska harus serius!”


“Bercanda ya ampun, galak amat lo bikin gue gemas.” Aska mencubit pipi Teresa. Senang sekali Aska ini mencubit pipnya.


Pipi Teresa itu gembul seperti mochi tapi Teresanya saja yang tidak sadar.


Teresa mengerjap, dalam hati ia menyumpah serapahi Aska karena dengan lancang mencubit pipinya. Ia sangat malu, bersikap sok romantis di tengah keramaian. Semua pasti mengira yang tidak-tidak.


“Teresaaaa?!” Tika berlari mendekatinya dengan mata membulat. “Lo-,” Aska reflek menjaga jarak dengan Teresa, kembali bersikap dingin. Suara teman Teresa ini benar-benar cempreng dan memekakkan telinga. Baru dua kali bertemu saja Aska sudah merasa geram. Bagaimana nasib Teresa yang setiap hari selalu diikuti?!


“Tika? Kamu kenapa lari-lari?” Ia bertanya gugup. Habislah, ia malu ketahuan tengah berduaan dengan seorang cowok. Selama ini Teresa selalu menjaga image jomlonya dengan baik tapi sekarang rusak hanya karena tangan Aska yang mendarat di pipinya.


Ah, hidup Teresa memang dipenuhi rasa malu dan gengsi.

__ADS_1


“Lo sih bikin heboh teman-teman gue yang di sana,” Tika menunjuk segerombol teman-temannya yang sedang bertingkah lebay. “Mereka baper lihat lo sama dia mesra banget!” Tika ikut girang, Teresa menepuk jidatnya. Kan!


“Kalian...” cewek centil itu menunjuk Aska dan Teresa bergantian. “Pacaran?”


Keduanya saling pandang, Aska menunggu jawaban Teresa. Merasa penasaran juga apakah Teresa selama ini menyukainya atau tidak. Aska tidak ingin berharap sendirian, ia juga ingin dibalas dengan perasaan yang sama juga.


Teresa tertawa. “Enggaklah! Dia partner lomba sekaligus teman aku di sekolah. Kamu tahu ‘kan aku susah bergaul sama orang, cuma dia yang betah sama aku,” Teresa masih tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Aska.


Aska meringis sendu. Miris sekali hidupnya, baru pertama kali menyukai cewek tapi sudah ditolak dengan kalimat pedas. Dengan enteng pula mengatakannya. Sepertinya nasib percintaan Aska tidak pernah berjalan mulus. Aska menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


“Loh, muka teman lo kenapa tuh, kok pucat?” Tika menatap aneh. Teresa menoleh, melihat wajah Aska yang berusaha di tutupi cowok itu. Benar saja, wajahnya pucat pasi seperti kekurangan pasokan oksigen.


“Aska sakit?” Tanyanya khawatir.


“Enggak.” Aska menggeleng cepat kemudian bangkit. “Gue ke ruangan dulu, sebentar lagi mulai.” Katanya kemudian melangkah pergi.


Teresa menatap punggung Aska yang semakin menjauh dengan pandangan aneh. Ada apa dengan Aska?


***


Dua setengah jam kemudian, perlombaan selesai. Teresa keluar sambil mengembuskan napas lega. Dari seratus soal yang ke semuanya tentang kimia organik, kimia anorganik, kimia fisika, biokimia, maupun kimia analitik dapat ia kerjakan dengan lancar. Sekarang tugas Teresa hanya tinggal banyak-banyak berdoa semoga pengumuman setengah bulan lagi mengeluarkan Harison menjadi juaranya, yang sekaligus hampir selalu menjadi juara bertahan.


Ia berjalan, menghampiri keberadaan kedua guru kimia yang sedang menunggu di Hall SMA N 108. Teresa semakin merasa yakin jika mereka menang saat mendapati Aska keluar dari kelas yang Teresa lewati dengan senyum mengembang. Ia menghampiri cowok itu.


“Gimana?” Tanyanya basa-basi.


Aska semakin mengangkat dagunya. “Pengawasnya memuji transformasi senyawa yang gue buat,” katanya dengan bangga.


“Wah, bagus dong. Aska hebat ternyata, aku jadi makin kagum sama Aska.”


“Siapa dulu dong, Aska!”


Teresa tertawa mendengar jawaban Aska. Cowok itu semakin hari semakin narsis saja membuat Teresa merasa terhibur. Tidak dapat dipungkiri jika lubuk hatinya yang terdalam mengatakan jika ia mulai merasa nyaman dan aman berada di dekat cowok itu. Nyamannya sampai membuat Teresa selalu memikirkannya. Mungkin efek karena Teresa terlalu senang bisa memiliki 'teman' selain Tika dan Dini.


Ia jadi mengingat pertemuan pertama mereka, saat Teresa dengan cara malu-malu langsung meminta Aska menjadi partnernya. Aska langsung menolaknya mentah-mentah membuat Teresa justru tertawa jika mengingatnya. Cowok itu selalu emosi jika berada didekatnya.


“Aska?”


“Hmm.” Cowok itu bergumam sambil tetap melanjutkan langkahnya.


“Aku mau berterimakasih sama Aska karena selama ini udah sabar selama jadi partner aku. Aku juga minta maaf, karena dulu selalu bikin Aska repot dan jengkel. Makasih untuk semuanya.” Teresa berkata tulus, dari lubuk hatinya yang terdalam.


“Ngomong apa sih, lo! Emang kapan lo ngerepotin gue? Kalaupun iya, gue malah senang. Kata lo kita ini 'teman'. Dalam pertemanan nggak pernah ada kata maaf.”


“Aska baik banget.”


“Udah berapa kali sih lo bilang gue baik!” Aska tertawa, reflek mengacak puncak rambut Teresa. Cewek itu langsung mematung, menegang.


Tubuhnya bergetar. Aska mendadak khawatir. Ia lupa cewek itu memiliki ketakutan hebat jika orang lain menyentuh rambutnya. Aska langsung memegangi kedua bahu Teresa, memintanya tenang. Aska sangat menyesal sudah melakukannya.


“Maaf, gue lup-,”


“Nggak apa-apa! Aska ng-nggak salah.” Potong cewek itu cepat. Bibirnya berusaha mengeluarkan senyum walaupun gagal.

__ADS_1


Teresa menegang bukan karena trauma yang diingatnya. Tapi karena sentuhan Aska membuatnya lupa jika ia tengah mengidap Chaetophobia. Phobia memiliki rambut panjang, juga ketakutan hebat setiap orang lain menyentuh rambutnya.


Phobia yang datang, semenjak penderitaan menggerogoti dunianya.


__ADS_2