Chameleon Boy

Chameleon Boy
Berubah


__ADS_3

Teresa mendudukkan dirinya dengan hati-hati di kursi yang baru saja Aska tarikkan untuknya, sedangkan Aska sendiri duduk tepat di depannya. Dari cara Aska menarikkan kursi untuknya saja sudah membuatnya tidak nyaman.


Aska mengangkat tangan, memanggil seorang waiters. Seorang waiters tampak berjalan menghampiri meja yang ia tempati.


“Cofelatte dua.” Katanya, kemudian menghadap Teresa. “Lo suka cofelatte ‘kan?”


Teresa mengangguk ragu. “Aku bisa minum apa aja.” Teresa menjawab. Setelahnya, Aska meminta waiters itu pergi.


“Jadi, apa yang lo mau tahu tentang gue?”


Teresa mendadak menahan napas. Ketika tanpa sengaja Teresa membentaknya tadi, Aska tidak langsung menjawab. Ia justru menggaet paksa lengan Teresa dan mengajaknya ke Cafe yang tidak jauh dari tempat itu. Dan di sinilah mereka sekarang, didera kecanggungan.


“Aku penasaran-,”


“Lo penasaran sama gue?” Aska tersenyum skeptis.


“Maksud aku, aku cuma pingin tahu kenapa sifat Aska bisa beda-beda gitu.” Teresa dengan cepat meralat.


“Itu tandanya emang lo penasaran sama gue.” Aska tertawa, kemudian memperlihatkan senyum jailnya.


Demi Tuhan, Teresa ingin mengubur dirinya dalam tanah jika melihat Aska bersikap seperti cowok pemikat. Aska benar-benar membuatnya salah tingkah.


“Kalau Aska nggak mau jelasin, aku pulang aja.” Teresa hendak berdiri, namun Aska menggaet lengannya. Memintanya kembali duduk kembali.


“Jangan ngambek dong, kayak lo pacar gue aja pakai ngambek-ngambek segala. Lo berharap jadi pacar gue?”


“Aska aku serius!” Teresa menggertakkan gigi. “Aku cuma pingin tahu, ini udah mau malam. Aku harus pulang.”


“Oke, oke. Silakan pertanyaan pertama.”


Teresa mendengus. “Kenapa Aska pura-pura pendiam di sekolah?” Teresa mulai bertanya.


Aska berpikir sejenak. “Lo pernah berpikir ‘kan kalau menjadi orang kaya itu sesuatu yang menyenangkan?”


Teresa mengangguk tak mengerti. Memang benar, beberapa kali Teresa mengeluhkan ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Ia selalu berpikir, bagaimana rasanya bisa hidup tanpa kekurangan. Pasti menyenangkan, karena ia tidak perlu lagi bekerja banting tulang.


Tapi Teresa menyadari, jika ia sampai bisa berpikiran seperti itu artinya ia mengeluhkan kelahirannya di dunia. Ia mengeluhkan orang tuanya. Teresa tidak mau dicap anak durhaka di mata Tuhan, dan Teresa tidak akan mau bila itu terjadi.


“Tapi itu nggak berlaku buat gue. Gue merasa dengan orang tua gue semakin kaya, itu justru bikin gue semakin tertekan. Papa selalu minta gue selalu jadi yang terbaik, selalu jadi yang nomor satu karena gue penerus keluarga. Gue anak satu-satunya. Dari kecil, gue dituntut untuk bisa bahagiain mereka. Tanpa mereka tahu, kalau gue mulai capek hidup dengan berpura-pura. Gue capek hidup tanpa cita-cita. Hidup gue udah diatur sempurna, bahkan sebelum gue hadir di dunia.”


“Mungkin mereka pingin yang terbaik buat Aska.” Teresa mulai bicara saat Aska terlihat memberi jeda.


“Iya, gue tahu. Tapi dengan kayak gitu mereka nggak sadar kalau anaknya menderita. Dari kecil, gue selalu turutin apa kata mereka. Satu hal yang bikin gue menyerah sama keadaan dan memilih untuk jalani hidup gue penuh kepalsuan.”


“Apa?”


“Saat gue sadar, gue nggak bisa lagi selalu jadi yang nomor satu. Sejak dua tahun lalu, akhirnya untuk pertama kalinya gue tersingkir di nomor dua.” Aska menyeringai.


“Mungkin itu salah satu pertanda kalau gue harus berhenti berjuang. Akhirnya gue memilih jalan hidup gue sendiri, hidup suka-suka tanpa sepengetahuan mereka karena gue sadar nggak akan bisa jadi nomor satu lagi.”


Teresa tercekat, air mukanya mendadak pias. Sudah jelas yang dimaksud Aska adalah dirinya. Dirinya yang menyebabkan Aska menyerah pada keadaan.


Aska masih melanjutkan kalimatnya. “Katanya lo pintar, kenapa baru tahu sekarang? Seharusnya sejak pertama kali Darren manggil gue dengan sebutan 'bos' lo udah tahu apa artinya.”


Teresa memutar bola matanya. “Aku pintar teori, bukan strategi kayak kalian.”


Aska tersenyum segaris, mendadak mengingat sesuatu. “Karena lo udah gue ijinin buat ngorek-ngorek rahasia gue, sekarang giliran gue yang tanya sama lo.”


“Apa?” Teresa terdengar antusias. Sedikit memecah konsentrasi saat pesanan mereka akhirnya datang.


“Kenapa lo nggak pernah suka kalau orang lain pegang rambut lo?”


Teresa langsung tersedak air liurnya.


***


Aska mengambil kunci cadangan di sakunya, mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya sendiri. Semua lampu sudah dimatikan. Wajar, saat ini sudah pukul sebelas malam. Semoga orang tuanya tidak menyadari bila dirinya tidak ada di rumah. Motornya sudah ia amankan seperti biasa, juga baju yang sudah berganti menjadi kaos rapi layaknya Aska sebelumnya.

__ADS_1


Aska dapat bernapas lega saat tidak ada seorangpun di ruang tamu. Cowok itu segera menuju lantai dua, memasuki kamarnya.


Berjalan menuju kasurnya dengan senyum mengembang. Teresa Evania. Cewek itu begitu menggemaskan saat tanpa henti memarahi Aska. Walau awalnya kehadiran Teresa di arena balap hampir membuat Aska serangan jantung di tempat, tapi Aska lega karena itu Teresa.


Teresa tidak pernah menyebarkan pribadi orang secara sembarangan. Aska tahu itu.


Setelah beberapa kali mengantar Teresa pulang, tadi adalah kali pertama Aska benar-benar tahu rumahnya. Rumah putih sederhana berlantai satu dengan banyak bunga anggrek bergelantung di depan teras. Rumahnya memang sangat kecil, tapi banyak pepohonan di sekelilingnya. Orang tua Teresa pasti penyuka tanaman.


Cewek itu memang pemikat. Aska terkekeh mengingat setiap pertemuan tanpa sengaja mereka.


Aska melepas jam di tangan kirinya, kemudian ia letakkan di atas nakas. Uang yang ia dapatkan dari hasil lomba tadi sore lumayan banyak. Ia langsung membaginya dengan Darren begitu sampai di rumah cowok itu. Walau harus melalui ocehan tidak jelasnya karena Darren terus saja berseru heboh, memaksa Aska menculik Teresa dan membuangnya ke tengah Samudra.


Darren memang selalu berlebihan.


Semenjak dua tahun lalu Aska memilih jalan hidupnya sendiri, Darren yang senantiasa mendukungnya. Sejak saat itu pula Darren langsung menyebutnya 'bos' saat Aska pertama kali memenangkan balapan di tempat yang sama. Ia dan Darren harus bermain kucing-kucingan diantara Keno dan Senka, sahabatnya. Ia tidak mau mereka berdua yang masih berpikiran polos ikut terjebak dalam dunianya. Jadi biarkan saja persahabatan mereka diselimuti beberapa ketidakbenaran.


Aska baru akan berbaring saat seseorang mengetuk pintu. Aska menyuruhnya masuk. Larina, Mamanya yang muncul dari balik pintu.


Aska tersenyum. “Mama belum tidur?”


Larina berjalan santai. Mendekap putranya singkat saat kemudian duduk tepat di sampingnya. “Aska dari mana?” Tanya mamanya lembut.


Aska berpikir sebentar. “Aska ‘kan bimbingan belajar, Ma, tadi sore. Terus mampir ke rumah Darren sampai lupa kalau udah malam.” Aska nyengir, menampilkan wajah penuh rasa bersalah.


Larina mendengus. Mengelusi puncak kepala putra semata wayangnya. “Mama dapat keluhan dari pembimbing bimbel kamu, katanya Aska udah nggak pernah belajar di sana lagi.”


Aska berkedip, mencari alasan. Tidak disangka Larina cepat menyadarinya. “Maaf, Ma. Aska bohong. Aska bosan di sana terus jadi Aska belajar sama Teresa aja. Mama ingat Teresa ‘kan? Yang pernah nginep di sini. Dia anak pararel satu itu loh, Ma." Katanya menggebu-gebu.


“Yang bikin anak Mama salah fokus itu ‘kan?” Larina terkekeh, sedangkan Aska merona menahan malu. “Kamu harus tetap bimbel biar bisa masuk-,”


“Universitas di London? Atau Melbourne? Aska udah pernah bilang ‘kan kalau Aska nggak mau jauh-jauh dari Mama!”


“Kamu itu, ya! Udah besar tapi masih aja manja. Mama nggak bisa bayangin kalau ternyata Aska suka kebut-kebutan di jalan kayak yang tadi sore Mama lihat.”


Wajah Aska mendadak menegang. “Aska nggak mungkin kayak gitu.” Aska berusaha mengelak. Apa ini? Apa Larina melihatnya.


Aska mengangguk cepat. “Mama nggak perlu khawatir. Aku pasti akan jadi anak membanggakan seperti yang kalian mau.”


Larina tersenyum. “Mama tahu itu,” Katanya kemudian.


“Anak yang Mama lihat tadi sore,” Larina menggantung ucapannya. “Pakai motor Aska, plat motornya sama.”


Sepertinya Aska benar-benar akan pingsan. Larina memang melihatnya. Apa ujung kebohongannya hanya akan sampai di sini? Apa Aska akan semakin dikekang kuat?! Sepertinya ia harus segera mempersiapkan mental.


“Kamu nggak di begal ‘kan, sayang?”


***


Di begal? Itu alasan paling aneh yang pernah Aska lakukan. Jangankan di begal, sebelum begal itu mendekat Aska pasti sudah terlebih dahulu menghajarnya habis-habisan. Tapi demi ketenangan Larina, Aska mengatakannya. Mengatakan jika motornya dicuri orang saat Aska hendak pergi ke minimarket. Biarlah Aska terlihat seperti lelaki lemah, yang penting mamanya tidak terkena serangan jantung dadakan akibat kejujurannya.


Biarlah juga motor kesayangannya memiliki tempat singgah baru. Garasi Darren. Hah, cowok itu senang sekali saat Aska mengatakan bahwa motornya kini menjadi milik bersama dan meminta Darren yang merawatnya. Darren tidak banyak bertanya, hanya mengangguk dan tertawa renyah karena ia sudah tahu semuanya tanpa Aska ceritakan.


Bahkan dipagi buta ia sudah mengambil motor yang semalam Aska letakkan di pojokan rumah.


“Bagaimana Aska?” Aska mengerjap sesaat, lalu mengangguk.


“Paham, Bu.” Pura-pura kembali membaca buku kimia yang dipegangnya.


“Kalau sudah paham, kita cukupkan bimbingan hari ini, belajar yang giat. Perlombaan besar kalian tinggal menghitung hari.” Kedua muridnya mengangguk, Bu Devi berjalan keluar setelah membereskan buku-bukunya.


“Seperti biasa, lo pulang sama gue.” Aska yang sedang membereskan buku-bukunya langsung berkata.


Teresa mengangguk. “Makasih.”


Aska mengernyit. “Lo kenapa sih? Lesu banget. Ceria dong, dekat sama cowok ganteng itu harus ceria biar nggak kelihatan jelek.”


Teresa berdecak sambil berjalan keluar perpustakaan. Aska ikut menyamakan langkahnya. “Kamu jadi cerewet setelah aku tahu semuanya.”

__ADS_1


“Emang lo tahu apa tentang gue? Yang kemarin itu nggak ada apa-apanya.”


“Serius?”


Aska mengangguk. “Karena lo spesial, gue bolehin tahu semua tentang gue.” Katanya membungkuk, mendekatkan mulutnya ke telinga Teresa. Sedikit berbisik.


Spesial? Pipi Teresa langsung bersemu merah mendengarnya. Ada yang mengatakan Teresa cewek spesial, ia belum pernah menerima itu sebelumnya. “Aku nggak suka kepo urusan orang lain.”


Aska terkekeh. “Gue bukan orang lain, jadi lo harus kepo.” Ia memperhatikan wajah Teresa. “Lihat lo malu-malu gitu bikin gue pingin ngacak-acak rambut lo.” Teresa melotot. Aska tertawa. “Santai, karena katanya rambut lo nggak boleh dipegang siapapun walau gue belum tahu alasannya apa. Jadi, gue pegang tangan lo aja.”


Teresa semakin melotot saat Aska benar-benar menggandengnya di sepanjang koridor. Beberapa orang yang masih berlalu lalang hanya memandangi mereka sekilas. Teresa menutup wajah, merasa malu ditatap orang seperti itu. Beberapa kali ingin menarik tangannya tapi Aska semakin kuat menggenggam. Apa cowok ini lupa bahwa ia masih memiliki image dingin yang melekat?


“Aska!” Teresa berbisik. “Kamu nggak lupa ‘kan kalau harus jadi pendiam di Sekolah.”


Aska terkekeh. “Terus kenapa? Mereka yang lihat kita bisa dihitung pakai jari. Dan mereka yang lihat kita nggak mungkin sekepo itu sampai nyebarin ke anak-anak lain.” Katanya santai.


Teresa masih merasa takut.


“Memang kita siapa di mata mereka sampai nyebarin berita nggak penting.” Lanjutnya membuat Teresa bergeming beberapa saat. Iya ya, siapa dia?!


Sepanjang perjalanan, Teresa lebih banyak diam dibanding Aska yang terus saja mengeluarkan jokes anehnya. Entah siapa yang mengajari. Aska benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dalam waktu kurang lebih duapuluh lima menit mereka sudah sampai di cafe milik Andre. Teresa turun, kemudian mengucap terimakasih.


Teresa sudah akan berbalik memasuki cafe saat justru Aska berteriak. “Tunggu! Gue parkir mobil dulu, jangan masuk duluan!”


Teresa menaikkan alisnya, namun tak urung juga menunggu.


Aska berjalan menghampiri. “Aska mau beli kopi?” Tanya Teresa basa-basi. Mereka berjalan bersisian, membuat Andre yang sedang di meja kasir jadi mengernyit.


“Hmm.” Katanya. “Tapi gue yang bikin kopinya sendiri.”


“Oh, Aska mau belajar jadi barista?” Aska mengangguk. “Nanti biar diajarin sama-,”


“Gue maunya lo yang ngajarin.” Aska memotong cepat. “Nanti sekalian ajarin latte art.”


“Eh?” Teresa mengerjap. “Aku nggak bisa bikin kopi. Aku pelayan, bukan barista.” Katanya.


“Kalau gitu, kita belajar sama-sama.”


“Mas Andre pasti marah kalau kita bikin kacau cafenya.”


“Biar gue yang handle." Katanya kemudian mendahului Teresa, berjalan mendekati kasir.


“Mas Andre?” Tanya Aska.


“Iya.” Andre hanya menatap datar. Sejak tadi Aska sadar, Andre sudah mengamatinya sejak ia baru melangkahkan kaki di ambang pintu.


“Boleh gue pinjam cafenya sebentar?”


“Maaf?” Andre mengernyit tak mengerti. Masih bernada sopan karena cowok di depannya ini salah satu pelanggan yang cukup sering mendatangi cafenya.


“Maksudnya gue booking selama dua jam beserta pelayannya yang paling pendek ini, bisa?” Katanya sambil meletakkan tangan di bahu Teresa. Teresa segera menepisnya.


“Untuk keperluan apa ya?” Andre menambah tingkat kerutan di dahinya.


“Gue mau belajar bikin kopi.”


Andre langsung berdiri. Berjalan mengelilingi meja untuk dapat berdiri tepat di hadapan Aska.


Andre mendengus. “Ini bukan tempat kursus sampai lo bisa belajar seenaknya. Kalau lo emang berminat buat jadi barista, kita ada lowongan pekerjaan, kebetulan barista cafe kami baru mengambil cuti dua hari lalu.”


Teresa membelalakkan mata. “Mas! Dia preman, jangan ditawarin kayak gitu. Nanti cafenya dibakar kalau dia nggak bisa-bisa.” Teresa mendekati Andre yang sedang terseyum menantang.


“Justru itu, kita buktikan mana yang serius, mana yang cuma main-main.” Andre menyeringai lebar. Teresa sebenarnya bingung maksud dari kalimat Andre, tapi ia tidak terlalu memikirkan.


Aska berjalan mendekati mesin kopi di dekatnya. Melihatnya cukup lama sambil memikirkan bagaimana cara mesin itu bekerja.


“Mendadak, selera minum kopi gue hilang!”

__ADS_1


__ADS_2