
Istirahat pertama akhirnya berbunyi. Dengan kecepatan kilat Teresa menemui Bu Devi untuk mengkonfirmasi semuanya. Ia siap jika harus lomba sendirian tanpa seorang partner. Ia akan bekerja lebih keras.
Niat awalnya untuk tidak jadi mengikuti lomba telah pupus. Semua ini demi Adiknya. Ia tidak akan membiarkan Ezra putus sekolah hanya karena keuangan keluarganya yang pas-pasan.
“Bu Devi, Assalamu'alaikum.” Panggilnya tepat di depan meja bu Devi. Beberapa guru yang ada terlihat acuh dengan keberadaannya. Mungkin sedang fokus mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Bu Devi mendongak, lalu tersenyum. “Wa'alaikumsalam.”
Tanpa pikir panjang Teresa segera mendudukkan dirinya tepat di depan Bu Devi. Lupakan sejenak norma kesopanan. Teresa sedang dalam mode terburu-buru.
“Maafkan saya, Bu.” Perlahan, Teresa menunduk dalam. “Saya gagal mengajak Aska untuk menjadi partner saya. Tapi saya janji, saya akan bekerja keras. Terserah mau partnernya yang tidak pintar sekalipun tidak apa-apa, yang penting saya ada gandengan. Maafkan saya bu, karena hanya membujuk-,”
“Stop!” Bu Devi membentak. Teresa terkejut. Beberapa guru sampai menoleh memandangi mereka. Bu Devi tersenyum canggung kemudian menangkupkan kedua tangannya, seperti meminta maaf. Beberapa guru mengangguk maklum, lalu kembali kepada kesibukan masing-masing.
Bu Devi kembali menghadap Teresa. “Kamu itu kenapa, sih?! Ngomong nggak ada titik koma bikin saya pusing.”
“Maaf, Bu.”
Bu Devi menggeleng-gelengkan kepala. “Ngomong pelan-pelan.”
Teresa mengangguk, menghadap bu Devi sempurna. “Saya pasrah kalau misal dapat partner bodoh, yang penting mau. Nanti biar saya yang mikir jawabannya sendiri. Biar saya yang berusaha.”
Bu Devi mengernyit. “Oh, kamu merasa bisa melakukan semuanya sendiri? Merasa paling pintar?”
Teresa merapatkan bibir. Sepertinya ia salah bicara. “Bukan gitu,”
“Lalu?”
“Partner pilihan Ibu nggak mau!” Teresa ingin menangis saja saat mengatakannya. Tugas semudah ini saja ia gagal, apalagi yang berat.
“Aska?” Siapa lagi!
Teresa mengangguk pasrah.
“Tapi tadi pagi dia tanya sama saya kapan bisa mulai bimbingannya?! Yang benar yang mana?!”
“Eh?” Teresa mengernyit, mendongak bingung. “Aska kemarin bilang nggak mau!”
“Tapi tadi bilang bersedia!”
“Ibu salah orang kali, jelas-jelas Aska kemarin nolak saya mentah-mentah!”
“Kamu tanya saja sama orangnya sendiri.”
“Saya dari kemarin udah ngejar dia seharian, tapi nggak mau?!” Teresa masih tidak terima.
“Berarti kamu harus berterimakasih kepada Aska karena sudah membantu kamu berjuang memenangkan lomba nanti. Saya yakin, kalau kamu dan Aska bergabung pasti akan membuat gempar sekolah!” Bu Devi mulai berlebihan.
“Masa sih Aska mau? Saya masih nggak percaya.”
“Sudah-sudah, saya banyak kerjaan. Mending kamu istirahat, sana! Jangan lupa lusa kita mulai latihan!” Sergah Bu Devi kembali menghadap laporannya.
Teresa di usir. Ia merengut, kemudian keluar setelah mengucap permisi.
Teresa jadi bingung, masa iya Aska mendadak mau menjadi partnernya, padahal kemarin sudah ditolak saat di cafe. Apa Aska terbentur sesuatu saat pulang?
Bukan di tolak sih, tapi bagi Teresa kalimat itu sudah salah satu wujud penolakan secara halus. Tapi jika memang Aska telah bersedia apa boleh buat. Walau begitu, ia tidak terlalu suka jika cowok itu bersedia karena merasa kasihan padanya. Teresa tidak suka dikasihani.
Daripada pusing, lebih baik ia ke kafetaria. Karena terlalu banyak berpikir, ia jadi lapar. Hari ini Teresa tidak sempat menyiapkan bekal karena terlambat bangun, sehingga ia harus mengeluarkan sedikit uang untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
Kafetaria ramai sekali. Ingin masuk saja Teresa ragu. Ada beberapa teman sekelasnya terlihat nongkrong, pasti bergosip tidak jelas. Memandang sinis saat tanpa sengaja melihat Teresa di ambang pintu.
Bodoamat! Teresa lapar. Ia masuk dengan langkah hati-hati. Ia memilih mengambil dua roti dan air mineral, kemudian mengantri untuk membayar. Berusaha tidak menatap meja tempat teman-temannya makan.
Cowok di depannya ini tinggi sekali. Teresa sampai tidak bisa melihat objek di depannya karena terhalang punggungnya yang lebar. Cowok itu mundur tanpa permisi, membuat Teresa menjatuhkan air mineralnya karena terkejut.
Baru ingin membungkuk, cowok itu sudah terlebih dahulu mengambilkan minumannya. “Makasih.” Kata Teresa sopan lalu mendongak.
Teresa berkedip beberapa kali, ia membelalakkan mata. Saking terkejutnya, Air yang ia bawa tadi kembali terjatuh sampai sedikit penyok di bagian ujung. Kasihan sekali minumannya.
__ADS_1
Aska memberi tatapan aneh. “Ganti minum yang baru aja,” Tawarnya.
Teresa menggeleng cepat. “Ng-nggak perlu. Air mineral walaupun jatuh seribu kali juga nggak akan berubah jadi sianida.” Katanya menunduk-nunduk, kemudian menerobos anak-anak lain untuk membayar. Beberapa anak terdengar protes saat tersenggol, tapi Teresa tidak peduli.
Selesai membayar, ia berlari terbirit-birit keluar kafetaria. Entahlah, ia sendiri juga bingung kenapa sampai bersikap seperti ini.
Yang Teresa tahu, ia hanya malu memandang wajah cowok bernama Aska Fernando Pratama.
Malu karena apa? Tentu saja karena sikap Teresa yang terlalu memaksakan kehendak untuk menjadikan Aska partner tapi setelahnya justru ditolak.
Harga diri Teresa seakan hancur karena itu.
Apalagi seumur hidup, Teresa lebih banyak mengalah kepada semua orang. Walau Teresa tidak mau, ia akan tetap menyetujui orang yang mengajaknya. Tapi kini justru Teresa yang mengajak dan cenderung memaksa.
Sekali lagi, ITU BUKAN TERESA SEKALI!!
Dan sekarang cowok itu mau menjadi partnernya. Yang benar saja?! Entah itu akan menjadi kabar gembira atau justru malapetaka.
***
Teresa merasakan angin sepoi-sepoi menjalar ke sekujur tubuhnya. Hening. Teresa suka keheningan. Dan tempat Teresa menapakkan kaki sekarang ini adalah tempat favoritnya. Tempatnya cukup terpencil.
Di belakang Perpustakaan.
Teresa memakan roti keduanya dengan lahap sambil membaca novel. Novel di sini hanya sebagai formalitas, karena kenyataan yang ada, sejak sepuluh menit ia duduk, satu paragraf saja belum selesai dibacanya.
Setelah ini jam kosong. Guru mata pelajaran di jam itu sakit dan tidak memberi tugas, jadi Teresa akan duduk manis di sini sampai jam istirahat kedua berbunyi.
Roti terakhir sudah ia lahap. Ia meraih air mineral yang ternistakan tadi dan menegaknya sampai habis. Plastik dan botol kosong itu ia letakkan di sampingnya. Nanti akan Teresa buang sambil kembali ke kelas.
Setelah kenyang. Ia kembali membuka novel dan membacanya dengan santai.
Baru lima menit terfokus, Teresa mendengar bisik-bisik orang berbicara.
Teresa mamalingkan wajah dari bacaannya. Mendengarkan dengan saksama, benar-benar ada orang tidak jauh dari sini.
Ia menandai buku kemudian menutupnya. Memilih beranjak berjalan mendekati sumber suara itu. Ia penasaran, tapi sebenarnya takut juga kalau ternyata orang jahat.
Teresa mengintip dari ujung tembok. Bukan berbisik, ternyata mereka berbicara sambil mengeluarkan urat satu sama lain. Ada dua cowok, tapi ia tidak mengenal keduanya. Dari pangkat kelas yang tertempel, mereka seangkatan dengan Teresa. Tapi kenapa ia tidak pernah melihatnya? Orangnya pasti tidak terkenal.
Tanda-tanda ingin bertengkar. Jantung Teresa seakan berhenti berdetak. Ia benci orang marah, ia benci melihat pertengkaran.
Bughh...
Salah satu cowok tampak mulai memukul dengan emosi. Yang satunya masih kalem tanpa rasa bersalah. Justru tersenyum sambil mengusap darah yang mengalir di ujung bibirnya dengan santai.
Muka Teresa pasti sudah pucat sekarang karena melihat adegan perkelahian yang biasanya hanya bisa ia lihat dari layar televisi. Ingin berbalik pergi, tapi dirinya masih penasaran dengan apa yang mereka ributkan. Ah, Teresa jadi bimbang.
Percakapannya tidak begitu jelas, tapi sepertinya masalah keluarga.
Teresa mendengar kata 'Mama' terucap berulang kali dari mulut si pemarah. Sepertinya mereka bersaudara.
Tapi Teresa lihat-lihat tidak mirip.
Tunggu? Kenapa ia jadi mengurusi masalah orang lain. Teresa harus pergi sekarang sebelum ketahuan.
Teresa berbalik, kemudian melangkah pergi meninggalkan pertengkaran dua cowok itu. Jangan pikir Teresa akan melerai seperti novel yang Teresa baca kebanyakan.
Tidak! Itu bukan urusannya. Ia tidak suka mencampuri urusan orang lain.
Krekk...
Teresa hampir terjengkang saking kagetnya. Ia menginjak botol kosong!
Teresa merutuki dirinya sendiri. Kenapa botol minumnya bisa sampai di sini. Pasti tertiup angin!
“Siapa di sana?”
Gawat! Teresa mati kutu. Ingin berlari, tapi kakinya mendadak sulit digerakkan. Teresa memang seperti ini. Jika panik, ia sulit bergerak saking takutnya. Tubuhnya selalu menggigil setiap mendengar teriakan.
__ADS_1
Teresa memilih memejamkan mata sambil bergumam ayat kursi. Siapa tahu cowok itu tidak jadi mendekatinya.
“LO NGUPING?” Teriak orang itu. Teresa terkejut. Cowok itu sudah ada di hadapannya. Teresa masih memejamkan mata, pura-pura tidak mendengar.
“Lihat gue?! Jangan macam-macam lo sama gue atau lo bakal menyesal!” Cowok itu mencengkram bahu Teresa kasar, tapi Teresa masih saja memejamkan mata. Tangannya menggigil, jantungnya juga berdetak sangat hebat.
Ia sangat ketakutan.
“Awas aja kalau sampai gue dengar rahasia menyebar, berarti lo biangnya. Siap-siap habis aja sama gue!”
Teresa langsung membuka mata, hampir melotot. Apa-apaan cowok itu menyalahkannya?!
Kalau rahasianya menyebar berarti Teresa yang akan dijadikan kambing hitam, padahal ia tidak tahu apa-apa. Walau Teresa pendiam, tapi ia tidak akan pernah takut membela keadilan. Bukankah bukan salah Teresa sepenuhnya bila seandainya ia mendengar percakapan mereka. Tapi untungnya ia tidak mendengar hingga beban hidupnya tidak bertambah banyak.
Teresa menatap tajam cowok di depannya. Ternyata si pemarah tadi yang mengejar. Yang kalem kemana? Pasti sudah pergi. “Aku aja nggak dengar omongan kalian!” Katanya sewot.
“BOHONG?!”
“Aku nggak suka bohong,”
“Kelas apa lo? Songong amat gue perhatiin.” Cowok itu menatap Teresa meremehkan.
“XII IPA 1.”
Sekarang justru menatap Teresa tidak percaya. “Siapa nama lo?”
“Nggak punya nama,”
“Lo berani sama gue?” Cowok itu tampak tersulut emosi. Teresa masih berusaha datar walau tubuhnya sudah mulai menggigil lagi.
“Memangnya kamu orang penting?!”
“LO NGGAK TAHU SIAPA GUE?”
Teresa mengernyit. Menatap wajah cowok itu lekat, kemudian menggeleng dengan tegas. Seperti tanpa dosa.
Cowok itu melotot tak terima. “GUE GANTARA DEWA HARISON.”
Teresa membulatkan mata takjub. Benarkah? “Nama kamu bagus!” Katanya senang.
Gantara mengumpat. Menyumpah serapahi Teresa kasar. Teresa merapatkan bibir. Cowok ini benar-benar pemarah! Rutuk Teresa dalam hati.
“Lo masih nggak tahu gue?”
Teresa menggeleng santai. Memangnya dia orang penting sampai Teresa harus heboh hanya mendengar namanya. Teresa bukan tipe orang yang mudah terkagum-kagum dengan seseorang.
“Gue anak pemilik sekolah ini. Karena lo benar-benar tolol, harusnya lo nggak pantas sekolah di Sekolah gue!”
Teresa menatap Gantara lekat-lekat. Tidak begitu percaya jika cowok itu anak pemilik sekolah. Teresa tidak pernah mendengar kalau anak pemilik sekolah ada yang bersekolah di sini, seangkatan dengan Teresa pula?!
Apa Teresa yang kurang update...
“Aku nggak tolol?!” Teresa marah. “Buktinya aku bisa masuk XII IPA 1 dengan pararel satu setiap tahunnya! Berbagai lomba juga selalu aku ikutin dan banyak yang menang.”
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya. Seperti mengingat-ingat. “Lo...Teresa Evania?”
Teresa mengangguk bangga. Sedikit tidak menyangka ternyata cowok itu tahu namanya.
“Anak beasiswa! Miskin!” Gantara menyeringai meremehkan.
Teresa justru tersenyum. Sudah biasa dihina seperti itu. Memang seperti itu kenyataannya. Untuk apa Teresa marah? Kemarahan hanya akan membuatnya terlihat semakin rendahan.
“Lebih bermartabat mana? Miskin ilmu? Atau miskin harta?”
Gantara melotot. “Apa lo bilang?”
“Kita buktiin aja beberapa tahun ke depan, semoga kamu masih bisa menyombongkan harta kamu itu.” Teresa berhenti berbicara. Berbalik pergi, tanpa memperhatikan Gantara lagi.
Tangannya masih menggigil hingga kini. Tidak habis pikir juga dengan dirinya bisa sampai berkata seperti tadi. Dengan anak pemilik sekolah pula. Semoga Gantara tidak membuatnya terkena masalah selama sisa masa sekolahnya di sini.
__ADS_1
Di lain sisi, Gantara terus memandangi punggung Teresa yang semakin menjauh dari pandangannya. Bibirnya mengulas senyuman licik.
“Gue catat wajah lo...pendek!”