
“Mbak Resa tungguin!” Ezra yang masih memakan sarapannya berteriak. Memanggil Teresa yang sudah memutar bola matanya jengah.
Teresa berbalik menghadap Ezra sambil menaikkan sebelah alisnya. “Tumben mau bareng Mbak? Biasanya juga berangkat sendiri-sendiri.”
“Ada yang mau aku omongin sama, Mbak! Penting! Tapi nanti diomongin di jalan aja.” Sergahnya setengah berbisik.
Teresa mengangguk. Kembali duduk di kursinya. Baru saja duduk, Ezra sudah berdiri. “Ayo!” Ajak cowok itu sambil menarik paksa Teresa yang tengah mengelus dada, sabar.
Punya Adik kurang ajar harus sabar, katanya dalam hati.
Mereka melambaikan tangan pada Evani yang sedang menyirami bunga. “Resa sama Ezra berangkat, Buk!” Katanya berusaha menepis tangan Ezra yang masih saja berusaha menyeretnya.
“Hati-hati. Ezra, jangan kasar sama Kakaknya!” Evani mengomel. Menggelengkan kepala melihat tingkah putra-putrinya.
“Bukan kasar, Buk! Ini wujud rasa sayang Ezra sama Kakak tercinta.” Kalimat indah itu dilontarkan Ezra sambil mengapitkan kepala Teresa di keteknya. Teresa meronta sambil mengumpati Adik kurang ajarnya itu.
“Mbak Resa kecil amat, sih! Kapan gedenya.” Lanjutnya tertawa sambil melepaskan Teresa. Cewek itu mendelik sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Eh, rambutnya yang berantakan? Keadaan hening seketika. Ezra menatap tidak percaya pada kakaknya. “Mbak Resa kok tumben nggak marah aku pegang rambutnya?”
Teresa ikut berpikir, “Dari dulu ‘kan Mbak memang nggak takut kalau Ibuk yang pegang,”
“Aku Mbak tadi yang pegang, bukan Ibuk!” Ezra terlihat frustasi.
Iya, ya?!
“Kan kamu tadi bukan pegang rambutku, Zra.” Katanya. Terbesit sedikit rasa kecewa di benak Teresa.
“Aku pegang, Mbak! Aku toyor tadi.”
“Nggak sopan kamu toyor-toyor kepala orang yang lebih tua.” Belanya pada diri sendiri.
“Mbak Resa lebih tua?” Ezra meneliti badan Teresa dari atas hingga bawah. “Kok kayak Adik aku.”
Teresa melotot.
“Udah-udah, bagus dong kalau Resa nggak takut lagi.” Evani menengahi keduanya. “Sana berangkat, keburu telat.”
Keduanya mengangguk, lalu menyalami Ibu mereka.
“Dek Resa, ayo berangkat.” Ajak Ezra menggeret Teresa. Menjauhi Ibunya yang tertawa sambil melambaikan tangan.
“EZRAAAAA!!”
***
“Mbak Resa kalau takut sesuatu jangan plin-plan dong, ‘kan aku jadi nggak bisa jahilin rambut mbak Resa lagi.” Ezra terlihat kecewa. Kampret memang!
Teresa mencibir dalam hati. Walau begitu Teresa tahu, Ezra tidak benar-benar kecewa karena phobianya hilang. Adiknya itu salah satu orang yang paling sedih saat Teresa divonis terkena Chaetophobia beberapa tahun lalu. “Yaudah lah, ya.” Kata Teresa cuek, walau ia berpikir keras sekarang. Berarti ia sudah tidak takut lagi pada masa lalunya, dan ia sudah tidak takut Ayahnya lagi. Tapi rasa-rasanya ia masih takut.
Menepis pikiran itu, Teresa memilih memandangi jalan raya yang kini tengah padat merayap. Teresa terkekeh saat seorang pengendara mengumpati pengendara mobil yang mengerem mendadak. Kalau di halte memang hanya seperti itu hiburan yang dapat mereka lihat.
“Mbak aku mau ngomong serius,” kata cowok itu kemudian.
“Ngomong apa?”
“SPP aku,”
Teresa yang tersadar langsung mendongak, menoleh menatap Ezra dengan pandangan penuh tanya.
“Udah ditagih?”
Ezra mengangguk, merasa bersalah.
__ADS_1
“Nggak bisa minta toleransi bulan depan lagi?”
“Nggak bisa Mbak, sebentar lagi udah ujian semester jadi semuanya harus lunas, atau... Aku nggak boleh ikut ujian.” Ezra menunduk, mengambil kertas di saku celana kemudian menyerahkannya pada Teresa. Teresa menerimannya dengan tangan bergetar.
Bagaimana ini? Mulai bulan depan Teresa juga harus membayar SPP sekolahnya karena beasiswanya sudah dicabut. Hanya untuk membayar SPP-nya sendiri saja gajinya belum tentu cukup. Ah, ia jadi menyesal. Kenapa juga dulu ia harus bersekolah di Harison yang memiliki harga SPP selangit. Kalau tahu akan seperti ini lebih baik ia sekolah bersama Tika saja.
Tapi jika bersama Tika, ia tidak akan bertemu Aska.
Teresa mengerjap, apa yang ia pikirkan?! Otaknya pasti sedang kongslet.
Dibacanya surat itu dengan serius. Tidak ingin tertinggal barang satu katapun. Teresa mengembuskan napas dalam. Lalu kembali menatap Ezra. Ia tersenyum. “Nanti Mbak usahain. Ujiannya masih minggu depan ‘kan? Lusa mbak gajian jadi bisa bayar,” walaupun nanti kita harus benar-benar ngirit. Lanjutnya tentu saja hanya dalam hati.
Benar! Mereka harus meminimalisir keuangan karena belum tentu olimpiade yang Teresa ikuti kemarin bisa menetapkan Harison sebagai juaranya. Bukannya Teresa pesimis, ia hanya berjaga-jaga agar tidak hanya mengandalkan satu jalan. Harus ada jalan lain yang ditempuh agar mereka tidak tumbang.
Ezra masih menatap Teresa sendu. “Maafin Aku mbak. Sebagai anak laki-laki di keluarga kita, aku malah nggak bisa diandalin.”
“Kamu ngomong apa, sih?! Kamu itu masih kecil, jadi tugas kamu cuma satu. Sekolah yang serius biar bisa banggain Ibuk sama Mbak!”
Ezra mengangguk. Bus mereka akhirnya datang. Teresa naik terlebih dahulu sebelum Ezra. Cewek itu menatap sekeliling, semua kursi penuh dengan penumpang, banyak juga penumpang yang tidak mendapatkan kursi. Jadi mereka berdiri, dengan Teresa yang berpegangan kuat pada pinggang Ezra. Cowok itu juga sama, merangkul bahu Kakaknya menggunakan tangan kiri. Ia tidak ingin Kakaknya jatuh terjerembab ketika bus berhenti mendadak.
Selang belasan menit, Teresa sampai di halte dekat sekolahnya. Ia menepuk bahu Ezra pamit keluar terlebih dahulu karena sekolah Ezra memang lebih jauh dibanding sekolahnya, lalu turun setelah membayar untuk dirinya sendiri juga Adiknya.
Masih ada lima belas menit sebelum bel berbunyi, ia harus berlari agar tidak telat seperti dulu. Ia malas bertemu Pak Ucup, si satpam yang selalu meledek Teresa hitam. Padahal semua mengakui jika kulit Teresa tidak terlihat hitam seperti yang diucapkan Pak Ucup. Satpam sekolahnya itu memang buta warna!
“Neng Tesa,” Sapa Pak Ucup begitu Teresa melewati gerbang. Teresa menoleh, lalu tersenyum. Senyumnya sengaja terlihat dipaksakan.
“Pak Ucup,” Jawabnya sambil tetap berjalan santai.
“Tambah hitam aja, Neng?! Rahasianya apa?”
Teresa mengertakkan gigi. Fiks, pak Ucup mengibarkan bendera perang padanya. Ia balik badan, berjalan menghampiri Pak Ucup sambil memperlihatkan wajah marahnya. Pak Ucup justru menatap polos Teresa yang berjalan mendekat, membuat kemarahan cewek itu semakin berkobar.
“Bapak mau perang-,” Baru ingin berteriak seseorang memanggilnya dari belakang. Teresa mendengus sambil menoleh.
“Gue panggil dari tadi juga malah asik ngobrol sama Pak Ucup."” kata cewek itu terlihat kesal.
“Ayo masuk, bentar lagi bel.” Ajak Dini menggaet lengan Teresa. Sesuatu jatuh dari kantung baju seragamnya.
Dini mengernyit, menatap kertas itu lalu mengambilnya. “Tagihan SPP?” Dini menaikkan sebelah alisnya.
Teresa berusaha merebut kertas itu tapi Dini terlebih dahulu mencegahnya.
“Jelasin ke gue istirahat nanti.”
***
“Ya ampun, Sa! Kenapa lo nggak bilang sama gue. Lain kali kalau ada masalah, jangan sungkan buat ngomong sama orang lain. Gue ini ‘kan teman lo juga.” Dini berkata setelah memaksa Teresa untuk bercerita. Sebenarnya Teresa tidak ingin masalahnya di ketahui orang lain. Salah satu alasannya karena ini, orang pasti akan langsung mengasihaninya. Teresa tidak suka dikasihani, cukup Andre saja yang selalu ia repotkan. Jangan yang lain lagi.
Ngomong-ngomong beberapa hari ini sikap Andre berubah kepada Teresa. Menjadi dingin, dan cuek. Mungkin Andre sedang pusing menyusun skripsinya. Andre memutuskan untuk menyusun skripsi setelah berdiskusi dengan Teresa sekitar dua minggu lalu. Teresa menggerdikkan bahunya acuh sambil kembali memakan cilok pesanannya.
“Teresa! Lo dengarin omongan gue nggak, sih?!” Dini mulai naik pitam melihat Teresa justru memakan makanannya dengan santai, seperti tanpa beban hidup.
“Aku dengar Dini, kamu tenang aja. Aku ada uang, kok!” Jawabnya berusaha santai.
“Bukannya gue jelek-jelekin lo ya, tapi gue tahu keuangan keluarga lo pas-pasan. Kalau buat SPP Adik lo, terus keluarga lo makan apa nantinya. Belum lagi beasiswa lo yang dicabut. SPP lo sendiri untuk bulan depan gimana? Lo itu harus mikir sampai situ, Sa! Pokoknya gue akan bantu, gue nggak mau tahu!”
“Darimana kamu tahu beasiswa aku dicabut?” Teresa memelankan kunyahannya.
“Dewa yang kasih tahu. Tuh orang emang kelewatan.” Jawabnya santai sambil ikut memakan pesanannya yang belum sempat tersentuh.
Teresa menyendu. “Aku sekarang ngerasa dengan aku hidup malah ngerepotin banyak orang. Aku kayak jadi manusia yang nggak berguna.”
“Manusia ‘kan memang saling membutuhkan! Nggak bisa kalau disuruh individualis.”
__ADS_1
Benar juga! “Tapi aku masih ngerasa nggak berguna aja.”
“Lah, kita sebentar lagi lulus. Kejar cita-cita lo, pasti berguna.” Dini menyaut santai.
Cita-cita ya? Terakhir Teresa memikirkan nasib cita-citanya sampai demam tinggi. Mungkin juga karena cita-citanya yang setinggi langit. Untuk meraih cita-citanya pun ia harus terlebih dahulu kuliah dan mendalami bidang kimia sampai akar-akarnya. Tanpa sadar, Teresa mengembuskan napas dalam.
“Udah nggak usah dipikirin. Nanti urusan Adik lo gue yang tanggung.” Ucap Dini finish.
“Tapi-,”
“Jangan tapi-tapian lagi gue nggak suka. Kalau lo anggap gue teman, lo harus mau! Lo mau bikin teman lo ini sedih.” Dini berkata dramatis membuat Teresa justru terkekeh.
Ia tersenyum. Ah, selalu saja seperti itu. Tersenyum saat hati benar-benar terluka. “Aku punya uang. Lusa juga aku udah gajian jadi santai aja.”
“Gajian? Lo kerja?” tanya cewek itu menaikkan sebelah alisnya penasaran.
Teresa mengangguk bangga. “Jadi pelayan di cafe-nya teman, eh Kakak maksudnya. Tapi bukan Kakak kandung.”
“Lo benar-benar tangguh, Sa! Tapi uang bulanan Harison ‘kan juga gede banget jumlahnya, nggak bisa kalau hanya ngandalin gaji 'pelayan'.” Tidak bisa dipungkiri, Teresa merasa tertohok mendengar ucapan Dini. Membuatnya semakin introspeksi bahwa dirinya memang tidak berguna.
“Oke, aku anggap bantuan kamu sebagai pinjaman. Nanti kalau udah ada uang aku pasti langsung ganti.” Katanya pada akhirnya. Ia sudah menurunkan harga dirinya secara drastis. Mau bagaimana lagi. Benar kata Dini, ia hanya 'pelayan' part time. Nasibnya di Harison juga penting.
Ibunya jangan sampai tahu jika beasiswanya dicabut, karena itu akan membuat penyakit Evani semakin parah. Amnesia Disosiatif yang diderita Ibunya sudah cukup parah, dan hanya psikoterapi dari seorang psikolog andal yang bisa menanganinya karena menyangkut gangguan mental dan emosional. Teresa sedih setiap mengatakan Ibunya sendiri memiliki gangguan emosional. Ia belum bisa menerimanya sedikitpun.
“Nah gitu dong!” Dini terlihat sumringah, sambil memperlihatkan kedua jempolnya kepada Teresa. Teresa balas dengan senyuman, walau pasti terlihat dipaksakan. “Terserah lo mau anggap apa, yang penting lo udah biarin gue bantu teman terbaik gue.”
“Makasih, ya!” Teresa berkata tulus.
Dini mengangguk semangat. Ia perhatikan, sekarang Dini terlihat lebih ekspresif. Tidak judes seperti dulu saat pertama kali Teresa melihatnya.
“By the way, Sa! Nanti gue pingin mampir ke cafe tempat lo kerja, dong!”
“Bo-leh! Cafenya juga dekat kok sama rumah Aska, kamu pasti tahu tempatnya.” Ucapnya senang hati. Ah iya, tumben Aska tidak terlihat. Reflek, Teresa langsung menatap seluruh penjuru kantin. Tidak ada, mungkin Aska tidak ingin makan hari ini.
Dini tersentak halus. Dekat rumah Aska?
“Ooo iya, Din. Aska kemana?”
Dini langsung tersadar dari lamunannya.
***
Dua hari setelahnya Dini benar-benar membawakannya uang ke sekolah. Teresa harus banyak berterima kasih kepadanya. Teresa juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengembalikan uangnya dengan cepat.
‘Maafin Resa, Buk! Karena nggak bisa berhenti kerja seperti yang Ibuk mau.’ Batinnya sedih.
Melihat gaji pertama sudah berada di tangannya membuat Teresa merasa bangga. Ia tersenyum puas pada amplop coklat yang dia pegang.
“Senyum itu jangan sama amplop, di depannya nih ada cowok ganteng nganggur.” Andre terus menyindir.
Teresa mengalihkan pandangannya pada Andre yang duduk tepat di depannya. “Mas Andre, narsis.”
“Memang kenyataannya Mas Andre ganteng, ‘kan? Mirip artis luar negeri siapa itu, Mas lupa.”
“Mas Andre makin halu. Mana ada artis luar negeri mirip Mas Andre.” Sergahnya tertawa kencang.
“Ada! Bentar Mas Browsing dulu.” Andre benar-benar mengeluarkan ponselnya. Teresa tertawa semakin renyah.
“Gimana ngetiknya kalau browsing. Artis luar negeri yang mirip Andre Million Samudra, gitu?” Teresa sampai tidak bisa berhenti tertawa karena ucapannya sendiri.
Andre mendengus kembali memasukkan ponselnya. “Ketawa terus, Sa! Mas nggak apa-apa!”
“Habisnya,” Jawabnya di sela tawa yang belum juga berhenti.
__ADS_1
Andre memperhatikannya. Tawa itu, belum pernah ia lihat sebelumnya. Apa kini Teresa sudah bahagia? Semoga Andre selalu dapat melihatnya tertawa tulus seperti itu mulai sekarang.
Dan hanya Andre yang dapat memunculkannya.