
‘Namanya Aska Fernando Pratama...’
Kalimat itu terus terngiang dibenaknya. Bagaimana ia harus memulai? Teresa bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain.
Ingin mencari partner lain, tapi Teresa tidak memiliki banyak kenalan. Ralat. Bahkan tidak memiliki kenalan satupun!
Jadi, ia memilih menerima nasib, mendatangi cowok bernama Aska Fernando Pratama sesuai rekomendasi yang ia terima.
Sejarah baru segera dimulai, seorang Teresa mendatangi cowok! Mimpinya saja belum pernah sekalipun melakukannya.
Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah melakukan perkenalan. Baiklah, Ayo Teresa keluarkan kepercayaan dirimu.
‘Hai. Aska ya? Aku Teresa. Kamu mau nggak jadi partner lomba aku’ Tidak cocok! Nanti dikira sok kenal.
‘Aska ya, aku diutus sama bu Devi buat jadiin kamu partner lomba aku’ Yah, diutus! Memangnya Teresa jin.
‘Aska, mau ya jadi partner lomba aku?’ Pemaksaan namanya.
“Cari siapa?”
Teresa mengerjap, mengamati seorang cewek berparas cantik yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Teresa sampai lupa, sudah berapa lama ia berdiri di depan kelas XII IPA 3 sejak istirahat pertama berbunyi.
Cewek di depannya ini menatap bingung ke arah Teresa. Seragam cewek ini terlihat sangat ketat seperti kekurangan bahan hingga membuat Teresa hampir mengumpat. Paling benci dengan gaya pakaian seperti itu.
“Ah iya, aku mau cari A-aska.” Katanya terbata memegangi dada. Suara cewek itu terdengar sangat kencang hingga membuat Teresa masih tercengang walau sudah beberapa detik berlalu.
“Ada hubungan apa lo sama Aska?”
“Maaf?” Teresa cengo. Hubungan apa maksudnya?
Memangnya cewek yang sedang mencari cowok harus ada hubungan dulu.
“Setahu gue Aska nggak pernah ada dekat sama cewek manapun, apalagi yang kayak lo!” Cewek itu mendelik. Menatap Teresa sambil sesekali bergidik. Jelas terlihat jika cewek itu tidak suka dengan keberadaan dirinya.
“Kayak aku?”
“Iya, pendek, hit_”
“Maaf, bisa tolong langsung dipanggilin aja?!” Teresa menggertakkan gigi, masih berusaha sopan walau hatinya sudah ingin meledak. Satu orang lagi memanggilnya hitam? Memangnya dia sehitam itu.
Cewek itu berdecak, berbalik memasuki kelasnya. “ASKA, ADA YANG NYARIIN.”
Teresa kembali menghela napas panjang mendengar teriakan cewek bar-bar itu.
“Nyariin gue?”
Teresa mendongak, menatap cowok bertubuh jangkung sudah berdiri di hadapannya. Tinggi mereka terlihat berbeda sangat jauh, Teresa yang hanya setinggi 157 sedangkan cowok itu kisaran hampir 180.
Penampilannya juga khas seorang cowok kutu buku. Membawa buku bacaan di tangan kanannya, seragam dimasukkan, sampai rambut pun tersisir rapi. Jika ia memakai kaca mata, semua pasti langsung memandang cowok itu sebelah mata.
Sebenarnya cowok di depannya ini lebih cocok jika didandani seperti seorang badboy karena wajahnya yang terlihat memiliki percampuran dengan darah barat. Entah kenapa persepsi remaja masa kini lebih menyukai cowok berwajah urakan dibanding mereka yang terlihat rapi dan kalem.
Untung saja Aska tidak seperti itu. Jika iya, dia pasti sudah menjadi buronan seluruh cewek di sekolah ini.
“Iya,” Jawab Teresa sekenanya, masih seperti orang linglung. Mikir apa dia, sepertinya otak Teresa sedang kongslet.
“Ada perlu apa?”
“Emmm itu, apa! Emm aku itu, m-mau, ishhhh!” Teresa berdecak, merutuki dirinya sendiri, kenapa ia sulit sekali berbicara padahal tadi sudah latihan.
“Kalo nggak penting gue pergi.” Baru ingin berbalik, Teresa terlebih dahulu mencegahnya.
“Tunggu!”
“Apa lagi?”
“Itu, Ehem.” Teresa berusaha menetralkan kegugupannya. Degupan jantungnya pasti terdengar sampai keluar. Ini jelas bukan degupan cinta. Jelas bukan.
Maklum, ini adalah kali pertama ia mengajak seseorang ikut dengannya selain Tika. Sahabat kecilnya. “Aku mau bicara sama kamu, penting!” Teresa sengaja menekankan kata ‘penting’ diakhir kalimat.
“Apa? Cepat, gue sibuk.”
“Tapi nggak di sini,” katanya ragu-ragu. “Di perpustakaan aja gimana?”
Astaga Teresa, kenapa malah mengajaknya ke perpustakaan. Cowok itu pasti mengira dirinya kebelet ingin kenalan. Huh!
Aska menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa nggak di sini aja?”
“Karena ini penting!” Fiks, Teresa salah strategi.
“Sepenting apa sampai gue harus ikut lo?”
“Pokoknya penting!”
“Ada jaminan apa kalau lo nggak akan apa-apain gue?”
“Nggak ada, cuma bisa yakinin kamu kalau aku bukan cewek penjual organ tubuh!” Padahal hanya ingin memintanya menjadi partner, kenapa berakhir keributan. Teresa bodoh, rutuknya pada diri sendiri.
__ADS_1
Aska berdecak. Sepertinya mulai kehilangan kesabaran. Oh tidak, Teresa paling benci jika ada orang marah karenanya. “Dengar, ya. Pertama, gue nggak kenal lo siapa?!”
“Aku Teresa.”
“Kedua, Gue nggak mau ikut lo,”
“Kenapa?”
“Karena gue nggak kenal lo!” Aska mengacak rambutnya frustasi. Rambut yang semula tertata rapi kini tidak berbentuk lagi, membuat ketampanannya justru bertambah dua kali lipat. Teresa yang semula merasa dongkol pun sampai terpesona beberapa saat.
“A-aku tadi udah bilang, namaku Teresa.”
Aska tampak menghela napas. “Dan ketiga,” Lanjutnya mengabaikan ucapan Teresa barusan. “Lo nggak dengar udah bel, mending lo pulang ke asal lo!” Aska berbalik memasuki kelasnya tanpa terdengar sepatah katapun lagi keluar dari mulutnya.
“Ini penting, loh!” Teriak Teresa mencoba sekali lagi.
Nihil!
Coba lagi Teresa, masih ada kesempatan lain, Teresa menyemangati dirinya sendiri dalam hati sebelum akhirnya berjalan kembali ke kelas.
***
“Siapa, bos?” Temannya bertanya saat Aska terlihat berjalan kesal memasuki kelas.
“ORANG GILA!” Aska berteriak, sedang temannya mangut-mangut tanda mengerti.
Mimpi apa Aska semalam, bisa bertemu cewek seaneh itu. Semoga tidak bertemu lagi seumur hidup!
“Bos, kafetaria, yuk!” Teman Aska yang satu ini memang menyebalkan dan seenak jidat. Darren namanya. Suka sekali membuat orang semakin kesal. Bel tanda pelajaran sudah dimulai dan Darren lebih mementingkan perutnya. Aska tidak habis pikir.
Sekarang Darren justru menarik lengannya tanpa izin.
“Ren, lepas! Ini bukan jam istirahat.” Aska diam di tempatnya berdiri. Darren semakin gencar menariknya namun masih tetap kalah tenaga dibandingkan Aska.
“Gue ajarin nakal.” Darren masih berusaha.
“Nggak!”
“Gue traktir! Suka ‘kan lo sama traktiran! Ayo makanya.”
“Gue masih lebih kaya dari lo!” Aska berkata penuh percaya diri.
Darren merapatkan bibir, berkedip dua kali. “Ah iya, bos Aska yang paling kaya. Nanti gue kasih tebengan gratis aja, deh. Yuk makan!”
“Setahu gue lo yang selalu nebeng gue.”
“Setiap lo bawa mobil pasti keluyuran dan ninggalin gue di sekolah sendirian!”
Darren mengernyit, seperti mengingat-ingat. “Lo dendam masalah waktu itu?”
Tentu saja! Siapa yang tidak dendam dijanjikan buaian manis pulang diantar tapi ujung-ujungnya ditinggal. Aska harus repot-repot memesan taksi online karenanya. Sejak itu dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah percaya pada ucapan manis seorang Darren Pritaatmadja yang kebetulan menjadi temannya sejak SMP itu.
“Nggak!”
Darren menyunggingkan senyumnya. “Silakan masuk, bos!”
Aska mengernyit. Masuk kemana?
Seakan dapat membaca raut wajahnya Darren berkata. “Kafetaria, lah, bos.”
Eh...
“Gue bilang enggak!” Aska menepis tangan Darren kasar.
“Lo bahkan udah di dalam! Tinggal duduk aja repot amat!” Darren menyunggingkan senyum semakin lebar. Merasa puas karena berhasil mengerjai orang yang selama ini ia panggil ‘bos’.
Aska membelalakkan mata, meneliti sekeliling. Loh, kapan ia berjalan ke arah sini? Perasaannya mengatakan bahwa dirinya masih di kelas beberapa menit lalu.
Ah, Darren menariknya tanpa sadar karena terlalu banyak diajak berbicara. Aska memilih mendudukkan dirinya pasrah. Semoga saja guru belum memasuki kelasnya. Ia tidak ingin dicap sebagai pembolos walau hanya sekali.
Kafetaria terlalu sepi, membuatnya semakin was-was. Jika nanti ada guru lewat bagaimana?
“Pesan apa bos, gue yang bayar.”
Aska menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Beneran?”
“Iyalah.” Jawabnya cepat seraya menepuk dadanya bangga.
“Tumben!”
“Tapi sekali ini aja, besok lo lagi.” Sudah Aska duga. Darren tersenyum lagi, mengangkat tangan seperti damai. Darren memang orang yang murah senyum, berbanding terbalik dengan Aska yang selalu dingin dan datar di setiap keadaan.
Darren mengangkat tangannya, memanggil Mbak Siti - Penjual di Kafetaria - lalu mengucapkan pesanannya tanpa bertanya kepada Aska.
Aska hanya diam. Biarlah, terserah Darren ingin memesan apa.
“Duit bokap lo mau diapain kalo tiap hari minta traktir gue?” Aska kembali membuka obrolan. Nadanya terdengar sinis dan tidak mengenakkan.
__ADS_1
Tapi Darren sama sekali tidak terpengaruh. “Buat nyenengin Vivi lah! Kayak nggak tahu aja.”
Vivi! Vivi! Vivi!
Kenapa selalu Vivi. Darren selalu saja menempatkan Vivi di atas segalanya. Cewek itu sudah terlalu menjadi permaisuri di mata seorang Darren Pritaatmadja, anak dari seorang pemilik pabrik tekstil terbesar di Jawa Tengah.
Sudah berapa kali Aska bilang kalau Vivi hanya memanfaatkannya, tapi Darren tidak pernah percaya. Biarlah. Bukan urusannya juga. Bangkrut juga yang rugi Darren, bukan Aska. Nanti jika Darren meminta sumbangan ya tinggal Aska beri.
“Belum bosan sama Vivi?! Putus aja, gue ganti motor.” Aska menawari dengan santai. Santainya itu justru membuat Darren ingin menonjokinya agar puas.
“Gue nggak semurahan itu!”
“Oh, ya?”
“Cemburu lo? Vivi itu udah jadi belahan jiwa gue, jadi nggak mungkin gue putusin. Kadang gue sampai merasa kalau Vivi itu akan menjadi jodoh gue kelak.” Darren mulai berkhayal lagi.
Keberadaan Vivi memang berpengaruh sangat besar untuk hidup Darren. Selama yang Aska tahu, Vivilah cinta pertama temannya itu. Sayangnya cinta pertama yang dilabuhkan Darren salah sasaran hingga mendapatkan Vivi yang jelas lebih tua tiga tahun dibanding mereka.
“Traktiran setahun?”
“Deal!” Darren meminta Aska menjabat tangannya.
LAH!
***
“Aska! Aska! Aska! Aska tunggu?!”
Teresa berlari, mengejar Aska yang tengah berjalan santai di koridor. Jangan pikir Teresa menyerah. Tidak. Setelah gagal mengajak Aska istirahat tadi Teresa langsung menyusun strategi. Ia bahkan sampai mengabaikan pelajaran terakhir ini dan keluar tepat saat bel berbunyi.
Tidak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan. Dan sekarang ia akan mengikuti cowok itu di belakangnya.
Panggilan Teresa tidak digubris, cowok itu tetap berjalan santai bersama ketiga temannya menuju parkiran. Masih Teresa pantau dari belakang.
Salah satu temannya terlihat menoleh, lalu mengernyit.
“Aska, dipanggil beneran, noh! Kata lo setan?!” Katanya membuat semua teman Aska ikut menoleh. Teresa syok. Setan katanya?! Dasar.
“Heh lo?! Kalau teriak jangan kayak nahan boker.” Kata yang satunya. Teresa semakin syok. Menahan buang air? Separah itukah suara Teresa.
Eh, tunggu?! Kenapa semua teman Aska jadi mengerubunginya. Teresa mendadak salah tingkah. Memilih tersenyum lebar, kemudian meladeni pembicaraan mereka. “Bo-boleh pinjam Aska sebentar?”
Semua sontak menoleh kepada Aska. Yang ditatap justru memutar bola matanya acuh.
Kenapa tidak ada yang menjawab. Teresa berkedip-kedip menunggu jawaban.
“BOLEH!!” Teriak ketiga teman Aska kompak kemudian tertawa renyah. Entah menertawakan apa Teresa tidak tahu.
“Nggak guna lo semua.” Itu teriakan Aska. Semua tertawa semakin puas.
“Sana, bos. Mojok dulu sana?! Gue restuin kok sama yang ini.”
“Ck.” Aska menatap Teresa tidak suka. Teresa balik menatapnya bingung.
Mengabaikan pelototan Aska, Teresa kembali berbicara. Ingin kembali mempresentasikan tujuannya. “Aku cuma mau bilang kalau akan ada olimpiade kimia sebentar lagi-,”
“Apa urusannya sama gue?”
“Ishhh, jangan dipotong-potong makanya?!” Teresa cemberut. “Aku pingin kamu jadi partner aku.”
“Kenapa harus gue?”
“Kata Bu Devi kamu pintar. Jadi nggak mungkin bikin sekolah kita kalah karena aku juga pintar!” Teresa mulai merasa percaya diri.
“Lo ngintilin gue seharian cuma berdasarkan katanya?” Aska tidak habis pikir. Tapi ia merasa cukup kagum dengan cewek ini. Sikap pantang menyerahnya membuat Aska merasa geli.
“Iya! Tapi setelah aku lihat langsung kayaknya Aska memang pintar.”
“Sekarang berdasarkan kayaknya?”
Teresa kalah telak. Salah besar. Aska memang pintar. Buktinya semua kalimat yang Teresa ucapkan selalu disanggah dengan cepat.
“Aslinya memang pintar.” Teresa tersenyum tidak enak.
“Lo salah orang.” Aska berbalik, berjalan cepat menuju parkiran. Ketiga temannya mengikuti dari belakang. Termasuk Teresa. Tapi langkah cowok itu terlalu cepat. Jangan sampai kehilangan Aska lagi. Tapi terlambat. Aska sudah melesat jauh di depannya.
“Temannya Aska?!”
Ketiga temannya yang masih berjalan santai sontak berhenti. Menoleh satu sama lain. Siapa yang dipanggil? Ketiganya merasa temannya, tapi Teresa seperti memanggil salah satu.
“Yang paling ganteng!” Teresa memperjelas kebimbangan mereka.
“Berarti gue!” Darren langsung mendekat, yang lainnya berdecak. “Ada apa?”
“Tolong bujuk Aska biar mau lomba ya?” Teresa memohon. Menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Hanya cowok ini satu-satunya harapan yang Teresa miliki.
“Gampang?!”
__ADS_1