Chameleon Boy

Chameleon Boy
Pesta


__ADS_3

“Tik, udah rapi belum?” Teresa kembali bertanya untuk kesekian kalinya, membuat Tika sahabat dekatnya harus kembali memutar bola mata jengah.


Teresa terus saja mondar-mandir tidak jelas sejak siang padahal hanya akan pergi ke acara ulang tahun. Ia hanya memakai dress putih tulang selutut dengan bawahan sneakers dengan warna senada. Rambut pendek sebahunya juga hanya sedikit di curly pada bagian ujung. Teresa tidak suka terlihat ribet, membuat make up yang Tika pakaikan untuknya juga terlihat natural.


“Udah, Sa! Astaga, bahkan lo kelihatan lebih cantik dari yang gue bayangin.”


“Serius?”


“Iya. Apalagi gue yang dandani, jadi kelihatan dua kali lebih cantik.” Tika berkata sambil mengibaskan rambut panjangnya. Teresa tertawa. Dasar! Tika ini memang over dosis percaya diri membuat Teresa kadang harus menegurnya saat bersikap centil di depan umum.


Teresa memeluknya “Makasih, ya. Kamu memang sahabat terbaik aku.” Katanya sambil melepas pelukan. Tika tersenyum senang. “Aku pergi dulu,” Teresa meraih tas serempangnya kemudian berjalan keluar kamar, diikuti Tika.


“Kadonya jangan lupa!” Tika mengingatkan.


Teresa langsung membuka tasnya, memastikan kado yang sudah ia persiapkan untuk Dini tidak tertinggal.


“Resa mau kemana?” Suara seorang wanita paruh baya membuat Teresa menghentikan langkah. Ia menoleh, menatap Evani yang baru saja keluar dari kamar.


Teresa mendekat. “Resa mau ke acara teman sebentar, Buk.”


Evani tersenyum. “Jangan pulang malam-malam.”


Ia mengangguk.


“Bapak kayaknya nggak pulang malam ini.” Kata Evani memandang pintu. Sorot matanya terlihat kosong setiap membahas sosok yang ia agung-agungkan itu.


Teresa langsung merapatkan bibir. Ingin sekali ia berteriak dan mengatakan bahwa pria yang mereka panggil sebagai ‘Ayah’ telah tiada sejak beberapa tahun silam. Bahkan setelah lima tahun lamanya, Evani belum bisa sedikitpun menerima kepergian suaminya.


“Ezra ‘kan ada,” Kata Teresa berusaha menenangkan. “Resa berangkat dulu, Buk!” Pamitnya sambil mengecup punggung tangan Evani, diikuti Tika yang sejak tadi lebih banyak diam menyaksikan drama keluarganya yang entah sudah berapa kali ia lihat.


“Tika nggak di sini saja temani tante?”


Tika nyengir lebar. “Nemenin dong!” Katanya semangat. “Tapi nanti, sekarang Tika mau ngantar Resa ke pangkalan ojek dulu.”


Evani mengangguk sambil tertawa. Sahabat dari putrinya ini memang selalu terlihat energik dan ceria.


Tika memang hanya mengantarkannya sampai pangkalan ojek, setelahnya Teresa akan naik ojek sampai rumah Dini. Sebenarnya Tika sudah menawarkannya untuk mengantar Teresa sampai tujuan, tapi Teresa menolaknya. Ia tidak mau Tika pergi terlalu jauh menggunakan motor, apalagi sendirian. Tika sebenarnya adalah tipe cewek yang rawan, ia gampang sekali tergoda dan selalu berpikiran positif. Bahkan walau ada penculik di depannya pun Tika pasti tidak akan merasa curiga.


“Langsung pulang, nggak perlu mampir-mampir!” Teresa mulai memperingati Tika setelah ia sampai.


“Bawel lo!”


Teresa terkekeh melihat Tika yang melajukan motornya dengan wajah cemberut. Terlihat sangat lucu.


Teresa langsung berbalik, menghampiri salah satu tukang ojek yang sedang bermain catur tidak jauh di depannya. Salah satunya terlihat menoleh, Teresa langsung meminta diantar dengan alamat yang sudah ia jelaskan.


“Kok naik ojek, Neng?” Tanya tukang ojek itu setelah beberapa menit melajukan motornya. Teresa lihat, tukang ojek itu belum tua-tua amat, masih sekitar tiga puluhan.


“Memang kenapa, Pak?”


Tukang ojek itu tertawa. “Saya belum tua-tua amat loh, Neng. Panggil Bang aja!”


“Maaf, Bang.” Katanya canggung.


“Kenapa nggak naik taksi aja? Kelihatan mau ada acara besar gitu. Nanti rusak loh dandanannya kalau naik motor.”


“Sekalian cari angin, Bang!” Ia tersenyum. Sebenarnya enak juga naik taksi, tapi ia tidak akan bisa pulang jika baru berangkat saja sudah merogoh kantung terdalamnya.


“Kalau gitu saya pelan aja biar Eneng bisa nikmatin anginnya! Tapi kalau masuk angin jangan salahin saya tapi.”


Teresa tertawa. Bingung mau membalas apa. Sudah Teresa bilang ‘kan kalau ia sulit berinteraksi dengan orang baru. Mengabaikan tukang ojek yang mulai mengoceh kesana-kemari, Teresa memilih menikmati semilir angin yang menerpa seluruh tubuhnya. Ia harus menghirup oksigen banyak-banyak sebelum kehabisan napas ketika sampai di rumah Dini nanti.


Motor yang ia tumpangi mendadak berhenti. Teresa mengernyit. “Mogok lagi nih, Neng, kayaknya!”


Teresa tercekat. “Mo-gok?!”


Tukang ojek itu mengangguk menyesal. Teresa menghela napas, berusaha sabar. Untung ia sudah mempersiapkan diri berangkat lebih awal, jadi ia tidak akan terlalu telat nantinya.


Teresa langsung merogoh tasnya. Ingin membayar. “Nggak usah bayar, Neng! Ini kesalahan saya,”


“Beneran, Bang?”


“Iya.” Teresa mengangguk, mengucap terima kasih. “Mau saya pesankan ojek online? Soalnya perjalanannya masih jauh banget.”

__ADS_1


Teresa kembali memasukkan uangnya setelah mengatakan tidak perlu repot-repot karena mau memesankan ojek online untuknya.


Ia mulai berjalan, meninggalkan tukang ojek baik hati tersebut yang mulai mengotak-atik motornya.


Kenapa tidak ada angkot lewat?!


Sepuluh menit sudah ia berjalan. Teresa mulai putus asa. Seharusnya ia menolak ketika Dini memberikan undangan padanya. Banyak sekali alasan yang bisa Teresa pakai, tapi kenapa ia memilih datang. Ia terus mengetuk-ngetuk kepalanya sambil bergumam bodoh beberapa kali.


Tin...tin...


Teresa tersentak, kemudian menoleh ke samping kanannya. Sebuah mobil berhenti tepat di sebelahnya. Mobil itu, Teresa seperti mengenalinya. Tentu saja!


“Masuk!” Aska menginterupsi Teresa, memintanya masuk ke mobil. Teresa mematung saat Aska sampai membukakan pintu bagian depan untuknya. “Malah bengong!”


“Eh?” Teresa tersadar. “Aska mau kemana?”


“Pesta lah! Emang Cuma lo doang yang diundang!”


Ia mangut-mangut. “Aska mau ngasih aku tumpangan?” Teresa berkata memastikan.


“Lo pikir?”


Teresa terdiam.


“Masuk!”


Teresa mengangguk kemudian membuka pintu belakang. Ingin masuk. “Kenapa di situ? Emangnya gue sopir!”


“Aku di depan?” Teresa mengernyit.


“Lo pikir gue buka pintu depan buat apa?” Aska mengacak rambutnya sebal. Berurusan dengan Teresa memang selalu menguji kesabaran.


“Cari udara segar? Siapa tahu Aska gerah.” Teresa masih menyangkal.


“Lo kira mobil gue sekelas angkot?! Bahkan mobil gue bisa jauh lebih dingin daripada kutub utara!”


“Aska sombong! Emang pernah ke sana?”


Teresa pasrah saja saat Aska mendorongnya tidak sabaran.


Daripada jalan kaki.


***


Aska memarkirkan mobilnya asal begitu sampai di rumah berlantai dua yang Teresa yakini adalah rumah Dini.


Rumahnya sudah cukup ramai dengan teman-teman yang pasti merupakan tamu undangan.


Teresa sudah turun terlebih dahulu sebelum Aska. Aska terlihat mengikutinya dari belakang. Ia berjalan sambil memperhatikan sekeliling. Dekorasinya mewah sekali.


Semua tamu juga berpenampilan casual, tidak formal seperti acara-acara resmi. Semua terlihat sangat cantik, Dini juga terlihat begitu elegan di depan sana. Teresa mulai bergumam. “Aku pasti kelihatan paling jelek.” Tidak sadar jika sejak tadi Aska sudah membaca gerak-geriknya.


“Lo cantik. Lo jauh lebih cantik daripada mereka dengan cara lo sendiri.” Jawab Aska tanpa sadar.


Teresa menoleh. “Apa tadi?” ia menahan napas. Bukannya tidak mendengar, ucapan Aska terdengar begitu jelas di telinganya. Hanya saja ia ingin memastikan. Jantungnya sedikit berdesir, baru kali ini ada cowok yang mengatakan ia cantik selain Ezra. Ezra saja hanya mengatakan itu satu kali karena ia paksa. Jelas saja ketika Aska mengucapkannya langsung berefek hebat pada dirinya.


“Bukan apa-apa.” Sanggahnya memalingkan wajah.


Teresa merasa kecewa. Sepertinya memang Aska hanya asal bicara. Teresa tidak munafik, siapa yang tidak mau dipuji cantik oleh orang lain. Apalagi sekarang Teresa sudah berumur 17 tahun. Ia sudah cukup dewasa, sudah mulai ingin terlihat cantik di depan lawan jenisnya.


“Teresa, akhirnya lo datang juga!” Dini mulai berteriak heboh begitu melihat Teresa berdiri tidak jauh di ambang pintu. Cewek itu langsung menghampirinya.


Teresa tersenyum. “Happy birthday, Dini. Ini kado sederhana dari aku. Maaf kalau nggak seperti yang kamu harapin.” Teresa menyerahkan kado ulang tahun yang telah ia persiapkan.


Dini langsung menerimanya dengan senang hati. “Makasih, ya.” Katanya.


“Padahal dengan lo mau datang aja gue udah senang banget!”


Teresa tertawa sumbang. Mana bisa ia datang dengan tangan kosong. Meskipun kekurangan, tapi ia masih memiliki harga diri yang tinggi.


Dini masih tersenyum ketika menoleh ke sisi Teresa. Ternyata Teresa tidak datang sendiri. Senyum itu langsung berubah menjadi kernyitan bingung. “Lo...datang sama Aska?”


Aska sudah menjawab terlebih dahulu. “Iya. By the way, happy birthday, Din.” Katanya juga sambil menyerahkan kado yang terlihat jauh lebih besar dibanding milik Teresa tadi.

__ADS_1


Kenapa Teresa tidak menyadari jika Aska menenteng kado sebesar itu sejak tadi?


Dini mengangguk. “Thanks. Nikmati pestanya, ya. Gue ke sana dulu!” Dini kembali pergi, meninggalkan Teresa seorang diri.


Teresa berkedip. Sekarang ia harus bersama siapa, sedangkan Dini saja kembali berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Ia tidak punya teman yang harus ia ajak berbicara basa-basi.


Bersama Aska? Bahkan untuk menoleh saja Teresa merasa malas. Padahal hanya karena gagal dipuji cantik, tapi sudah cukup membuat Teresa berubah mood seketika.


Meninggalkan Aska yang juga berkumpul bersama teman-temannya, Teresa memilih mendekati meja di depannya. Ingin mengambil minuman.


Teresa memilih mengambil air putih dan mulai menegaknya. Ia mengernyit, kenapa rasanya aneh, pahit. Baunya juga aneh, tidak seperti air putih. Mungkin ini jenis minuman orang kaya. Orang kaya memang selalu memiliki selera yang membingungkan.


Memilih mengabaikannya, Teresa langsung menegaknya hingga habis. Mubazir bila tidak dihabiskan.


Teresa menatap sekeliling. Suara dentuman musik membuat Teresa merasa mual. Kepalanya mendadak berkunang-kunang. Pandangannya berubah buram. Matanya terus saja ia kerjapkan berharap rasa peningnya dapat menghilang. Tapi tidak, sekarang tubuhnya justru melemah, rasanya ingin beringsut jatuh.


Teresa memaksakan diri untuk berjalan, sepertinya ia mendadak kurang enak badan. Ia ingin menghampiri Dini dan pulang terlebih dahulu. Bahkan cara jalannya saja sekarang terasa sempoyongan.


Ada apa ini?


Apa yang ia minum tadi?!


Kepalanya serasa di putar-putar. Tubuhnya juga mulai terasa ringan, seperti di awang-awang.


“Bos, Teresa kenapa tuh?” Darren yang tidak sengaja menatap Teresa mulai bertanya.


Aska menoleh, ikut memperhatikan Teresa yang mulai berjalan tidak terkendali. Ada yang tidak beres. Aska langsung menghampirinya sebelum Teresa jatuh terjerembab.


Tepat! Aska berhasil merengkuh tubuhnya saat Teresa hampir tersandung kaki meja. Teresa kembali mengerjap. Menatap cowok familiar yang sudah berbaik hati menolongnya. Pandangannya semakin memburam.


Aska mengendus. Bau alkohol. Siapa yang berani menaruh alkohol sembarangan di meja. Teresa pasti mengambil minuman asal.


“Harusnya lo nggak perlu jauh-jauh dari gue!” Aska membantunya untuk berjalan keluar pesta. Sepertinya Teresa sudah terpengaruh alkohol sepenuhnya. Buktinya, cewek ini sudah tidak bisa Aska aja bicara. Sebaiknya Aska mengantarnya pulang saja.


Teresa mulai bergumam sepanjang jalan. “Aku kenal kamu ya?” Tanyanya sambil memandangi Aska tanpa rasa malu seperti biasa.


“Enggak.” Jawabnya asal.


“Terus? Kamu temanku?”


“Bukan.”


“Terus siapa?”


Aska tampak berpikir, sepertinya seru jika mengerjai cewek ini sekali-kali. “Gue...pacar lo!”


Mata Teresa langsung berbinar. “Aku punya pacar?” Aska mengangguk. “Siapa namanya?”


Aska tertawa mendengarnya. “Aska.”


Sorot matanya berubah buram. Aska mengeryit. “Aska jahat!”


Aska langsung menganga. Sejak kapan Aska jahat padanya. “Jahat?”


“Aska bikin aku senang waktu bilang aku cantik, tapi setelah itu bikin aku kecewa.”


Aska mengerjap. Jadi karena itu. Ia pikir Teresa jenis cewek yang cuek dengan penampilan, ternyata ia peduli juga dengan perkataan orang tentang dirinya.


“Aku jelek ya?” Teresa kembali bertanya. Wajahnya terlihat harap-harap cemas. Matanya mengerjap beberapa kali membuatnya terlihat sangat manis.


“Lo cantik.” Katanya sekali lagi. Itu memang benar adanya, Teresa memang memiliki kecantikan yang natural. Aska sudah mencetak rekor baru dengan mengatakan cantik pada cewek yang sama sampai dua kali hanya dalam satu jam. Aska tidak habis pikir.


Beruntung Teresa sedang tidak sadar.


Senyuman tulus langsung menghiasi wajah cantiknya. Aska ikut tersenyum.


“Aska juga ganteng banget!” Teresa memekik senang.


Aska mengerjap, menahan napas. Kemudian tertawa dengan sangat keras. Ia memang tampan, tapi jika Teresa yang mengatakan membuat Aska merasa bangga. Secara ‘kan Teresa cewek dengan harga diri selangit. Jika Teresa sadar, dijamin tidak akan pernah mengatakan itu semua.


Aska jadi berpikir. Ia harus membawa Teresa kemana sedangkan rumahnya saja Aska tidak tahu.


Sebaiknya ia membawanya ke sana saja.

__ADS_1


__ADS_2