Chameleon Boy

Chameleon Boy
Teman Baru


__ADS_3

Siang ini, XII IPA 1 tengah digemparkan dengan kedatangan salah satu murid populer Harison ke kelas mereka. Cewek itu tampak celingak-celinguk mencari seseorang. Sedangkan yang dicari justru semakin asik membaca bukunya.


Jelas saja yang dicari tidak terlihat. Dini yang masih di ambang pintu saja sudah dihujani pertanyaan beberapa teman sekelas Teresa.


“Lo Andini, ‘kan?” Tanya salah satunya. Dini mengangguk singkat tanpa tersenyum. Matanya masih melirik ke segala arah, mencari sosok yang tidak kunjung menampakkan diri.


“Gue Michelle. Jadi teman gue dong! Kita ‘kan sama. Nanti kita bikin squad anak pejabat.” Kata cewek berambut blonde. Wajahnya cantik, pasti keturunan bule.


Dini tersenyum, seperti memberi harapan. “Pertemanan bukan diukur dari tingkat kekayaan seseorang.” Sinis? Tentu saja! Dini memang orang yang paling sinis. Wajahnya pun mendukung kepribadiannya hingga membuat beberapa anak takut hanya dengan melihat wajahnya yang datar.


“Mau cari siapa lo?” Tanya yang satunya. Temannya si bule tadi. Nadanya sedikit terdengar sirik, jadi Dini tidak menanggapinya. “Songong guys anaknya. Bubar! Bubar!” Sergahnya membubarkan kerumunan. Beberapa anak langsung mendadak tidak menyukai Dini.


Ya, memang begitu. Sekolah di Harison memang banyak menguji kesabaran. Semua anak konglomerat pasti diam-diam bersaing mendapatkan gelar yang terkaya. Namun Andini bukan salah satunya. Dia tidak banyak memiliki teman, hanya beberapa. Karena kebanyakan mantan temannya pasti berujung pamer ketika bersama.


Orang-orang yang mengerumuni Dini sudah membubarkan diri keluar kelas, membuat mata Dini langsung tertuju pada cewek yang memang sedari-tadi ia cari.


Dini menjentikkan jari, tersenyum cerah. Menghampiri Teresa yang duduk di kursi paling depan. Sedang fokus pada bacaannya. “Teresa.” Panggilnya membuat beberapa murid yang masih di dalam kelas memandang tak percaya.


Teresa mengenal Dini?! Mereka sampai tercengang beberapa saat. Tidak begitu percaya ternyata si anak miskin memiliki kenalan setelah sekian lama menutup diri.


Teresa sedikit tersentak. Namun tak urung juga menoleh. Melihat orang yang sedikit mengagetkannya tadi justru membuat Teresa bahagia. Teresa langsung memperlihatkan senyumnya. “Eh, Dini.”


“Lo udah janji mau ke kafetaria sama gue. Ayo! Tepatin janjinya!” Katanya berkacak pinggang.


“Aku bawa bekal dari rumah, Din.” Teresa menolak halus.


Dini langsung duduk di sebelah Teresa. Terlihat antusias. “Lo bawa bekal?”


Teresa mengangguk. Menutup bacaannya kemudian mengeluarkan bekal makanannya dari dalam tas. “Aku tadi bawa agak banyakan. Aku masak sendiri, loh. Kamu mau?”


“Mau lah. Gue mau nyobain masakan lo.” Teresa langsung tersenyum cerah. Di luar dugaan, Dini justru mau makan dengannya. Teresa pikir setelah tahu Teresa membawa bekal Dini mau pergi sendirian.


Teresa membuka kotak makannya dengan senang hati. Dini tampak memekik senang. “Nasi goreng? Gue suka nasi goreng.”


“Oh, iya?”


Dini mengangguk.


Teresa menyerahkan satu sendoknya kepada Dini, dan tentu saja Dini menerimanya dengan senang hati.


Teresa sengaja membawa dua sendok untuk bekalnya kali ini. Awalnya ia ragu, takut jika ia kecewa. Ia pikir harapannya semalam untuk mendapatkan seorang teman akan berujung sia-sia.


Tapi Dini memupuskan pikiran jeleknya. Dia memakan masakan Teresa dengan nikmat. Dini memang orang baik.


“Enak.” Kata cewek itu sambil mengunyah. Teresa mengerjap, kembali tersadar. Lalu ikut memakan nasi goreng buatannya sambil tersenyum bahagia.


“Oh iya Teresa, minggu depan ulang tahun gue. Gue harap lo bisa datang. Gue ngundang lo secara langsung.”


Teresa menahan napas, memelankan kunyahan. Ulang tahun? Dini? Yang datang pasti anak-anak populer. Mana bisa Teresa berbaur di antara mereka. Penampilannya pasti akan terlihat menyedihkan.


“Kalau lo nggak datang, gue bakalan sedih banget.” Katanya sambil menyerahkan undangan. Teresa menerimanya. Melihat nama yang tertera di bagian depan. Namanya.


Teresa Evania.


“Kamu tahu nama panjangku?” Teresa heran. Bukannya sombong, tapi yang Teresa ingat ia belum mengatakan nama panjangnya.


“Iya, tadi pagi gue sempat ngobrol sama Aska sambil nulisin nama buat undangan itu. Terus pas nulis nama Teresa doang, Aska tanya ‘Ini Teresa Evania? Yang kemarin ngobrol sama lo di halte?’ gitu. Yaudah gue jadi tahu nama panjang lo."


Teresa mangut-mangut.


Mendengar nama Aska membuatnya mengingat kejadian kemarin. Ternyata cowok itu tidak seperti yang Teresa kira selama ini. Aska baik. Buktinya ia benar-benar mengantar Teresa sampai cafe. Memang searah dengan rumahnya, sih?! Tapi tetap saja judulnya diantar.


Aska juga tidak terlalu pendiam seperti yang Bu Devi katakan. Dia sedikit cerewet, dan pemarah. Sikap juteknya kadang tidak sinkron dengan perlakuannya. Teresa harus banyak-banyak berterima kasih kepada Aska.


“Heh, kok malah melamun?!” Dini mengernyit bingung membuat Teresa justru tersenyum tidak enak. “Oh iya, Sa. Ternyata lo temannya Aska, ya? Gue baru tahu.”


Teresa mengernyit. “Teman?” Sejak kapan ia berteman dengan Aska.


“Iya, Aska bilang lo temannya. Udah lama kenalnya? Tadi gue tanya sama Aska dijawab 'kepo'. Tuh anak emang ngeselin!”


“Baru kenal. Kita sama-sama ikut lomba kimia.” Teresa menjawab seadanya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mau dibilang teman juga tidak, dibilang musuh apalagi.

__ADS_1


Hati Teresa sedikit menghangat saat mendengar ternyata Aska menganggapnya teman. Teresa pikir Aska menganggap mereka tidak saling mengenal.


“Aska ikut lomba? Baru tahu tuh anak minat ikut kayak gituan.”


“Hah? Kayak gituan gimana?”


“Lomba. Tuh anak ‘kan nggak suka yang ribet-ribet dari dulu. Gue kasih tahu nih ya, Aska itu emang dari luar kelihatan cool, pendiam, tapi aslinya. Beuhhhhh," Dini bercerita sedikit berlebihan.


Teresa melebarkan mata. “Kamu tahu banget tentang dia,”


Dini langsung tersadar. Ekspresi senangnya luntur secara perlahan. Mengedipkan mata beberapa kali, kemudian kembali berekspresi santai. “Kita teman sekelas. Jelas tahu lah.”


Melihat Dini yang mendadak berubah ekspresi sudah cukup membuat Teresa bungkam. Ia tidak mau membuat orang lain tidak nyaman ketika bersamanya.


“Eh, menurut lo, Aska gimana orangnya? Ganteng? Menarik?”


Hah? Masih membahas Aska. Teresa pikir Dini sudah ingin mengganti topik, tapi kenapa justru kembali membahas Aska. Dini memang cerewet sekali. Padahal sejak tadi Teresa hanya menjawab singkat dan cenderung pasif, tapi Dini masih terus saja berbicara tanpa henti.


Teresa terlihat berpikir keras. Mengingat-ingat wajah partner lombanya itu. Kalau dipikir-pikir Aska memang sangat tampan. Wajahnya terlihat blasteran, tubuh tinggi atletis, rahang tegas, hidung mancung, alis yang tebal, kulit putih bersih. Ah, sempurna sekali dia.


“Biasa aja.”


“Sumpah lo bilang cowok kayak Aska biasa aja?! Kayaknya lo perlu periksa mata, deh. Dia itu perfect tahu nggak. Semua cewek di kelas rata-rata suka dia walaupun cuma diam-diam. Nggak ada yang berani terus terang karena emang Aska nggak pernah kelihatan suka sama lawan jenis. Gue curiga dia guy!"


“Aku aja baru tahu Aska beberapa hari lalu.”


“Iya sih, dia emang nggak sepopuler Gantara.”


Teresa membenarkan dalam hati. Walau dia tidak tahu, siapa itu Gantara?


“Jangan-jangan lo nggak tahu siapa Gantara,” Dini menatap Teresa curiga.


Teresa mengangkat bahu acuh, memilih menyuapkan kembali nasi goreng ke dalam mulutnya. “Kelihatannya nggak penting,”


“Sumpah, lo benar-benar kuper, Sa! Main lo kemana sih, masa sama anak pemilik sekolah nggak tahu! Satu Sekolah bahkan tahu siapa itu Gantara.” Dini sedikit berteriak membuat beberapa anak yang terlihat di dalam kelas menoleh heran ke arah mereka, tapi Teresa terlihat acuh.


Oh, jadi Gantara yang itu. Yang waktu itu mengancam Teresa di belakang perpustakaan. Pantas saja namanya terdengar tidak asing. “Udah lah. Aku nggak mau tahu gosip di sekolah ini. Buat apa juga kita bahas mereka.”


Teresa menimbang-nimbang. Mana bisa ia menolak jika Dini kembali memaksa seperti itu. Walau baru saja saling mengenal, tapi Teresa sudah menganggap Dini teman baiknya. Mana mungkin Teresa membuat Dini kecewa.


Teresa harus bagaimana? Ia pasti juga harus menyiapkan kado yang layak.


“Aku pasti datang kok, tenang aja.”


Dini memekik. “Oke! Acaranya malam, sih. Kalau lo mau, nanti gue suruh supir buat jemput,”


“Ng-nggak perlu! Aku bisa berangkat sendiri.” Tolaknya halus. Ia tidak enak jika terlalu merepotkan Dini walau sebenarnya ia juga bingung harus ke rumahnya naik apa.


“Terus lo naik apa?”


“Gampang nanti. Banyak transportasi ‘kan? Tinggal pilih.” Teresa mengatakannya dengan nada bercanda. Bermaksud membuat Dini yakin jika Teresa bisa pergi sendiri.


“Iya sih. Acaranya jam 7 malam sesuai di undangan. Disitu juga udah tertulis alamat rumah gue, biar nggak nyasar. Mending lo naik ojek atau taksi online aja, soalnya kalau naik angkot nggak bakal sampai. Kecuali kalau lo mau jalan kaki sampai rumah gue, sampai-sampai pasti juga udah bubar acaranya. Yakin lo nggak mau di jemput supir aja? Rumah gue jauh loh!”


“Aku bisa pergi sendiri.” Teresa tertawa geli melihat teman barunya itu mendadak tidak bisa berhenti berbicara. Padahal ia baru dua hari mengenal Dini, tapi rasanya seperti bertemu kawan lama.


Sepertinya Teresa merasa cocok berteman dengannya.


“Terserah lo, lah. Yang penting gue udah nawarin.” Dini kembali memakan nasi goreng di depannya.


***


Teresa menyusuri koridor yang mulai lenggang. Membawa setumpuk buku LKS untuk dikumpulkan di meja guru. Sendiri.


Tidak berat. Teresa sudah biasa membawa buku milik teman-temannya untuk dikumpulkan ke ruang guru. Memang tidak ada yang membantu. Toh, ia juga tidak mau dibantu.


LKS menjulang itu sedikit menghambat jalannya. Tubuhnya yang pendek sangat tidak seimbang jika dibanding dengan buku menjulang itu. Matanya tidak bisa menatap lurus ke depan. Alhasil, saat ingin memiringkan tubuhnya untuk dapat sedikit melirik jalan, buku-buku yang dipegangnya justru jatuh berhamburan di sepanjang koridor.


Teresa mendengus. Berdecak kemudian membungkuk. Membereskan buku-buku yang sudah tidak beraturan.


Sebelum itu, ia melihat keadaan sekitar. Sepi. koridor benar-benar sepi. Teresa sengaja keluar paling akhir di kelasnya tapi tidak menyangka koridor sudah sesepi ini. Teresa merapatkan bibir. Disaat seperti ini, ia justru mengharapkan pangeran berkuda putih datang untuk menolongnya membereskan buku. Teresa memang gila. Menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Menggelengkan kepala, ia kembali memunguti buku satu persatu.

__ADS_1


Teresa harus cepat. Ia lupa harus segera mengganti peran. Peran pelayan sudah menunggunya di depan mata.


Teresa kembali mengangkat buku itu walaupun kesusahan. Berusaha menyeimbangkan langkahnya yang sedikit sempoyongan.


Bukunya terasa ringan. Tidak seberat tadi. Apa ada buku yang belum Teresa ambil?


Teresa menatap lantai di sekitarnya, barangkali masih ada buku yang tertinggal. Tidak ada. Semua memang sudah Teresa pungut.


Teresa tertawa. Gila! Ini benar-benar gila. Apa sekarang ia memiliki kekuatan super?!


Teresa menatap lurus ke depan. Bukunya memang berkurang! Ia bahkan bisa menatap lurus ke depan tanpa hambatan seperti tadi. Ia langsung menolehkan arah pandangnya.


Ia tersentak. Langsung mengatupkan bibir rapat-rapat. “Aska!”


“Puas ketawa?” Tanyanya berjalan santai di samping Teresa. Pantas saja, sebagian bukunya sudah di ambil Aska tanpa permisi.


Teresa tersenyum canggung. “M-makasih.”


“Jangan kebanyakan sendiri, kesambet lo lama-lama.”


Teresa tersenyum. Belum menjawab. Justru menatap cowok yang sedang berjalan santai di sampingnya.


“Kamu juga sendirian.”


“Teman lo yang lain kemana? Nggak tanggungjawab. Masa cewek suruh bawa sendirian.”


Teresa berkedip. “Aku udah biasa. Sini aku bawa sendiri aja!” Teresa mengulurkan sedikit tangannya yang sudah terdapat beberapa buku untuk menerima buku yang Aska bawa. Bukannya di berikan, Aska justru mengambil sisa buku yang ada di tangan Teresa.


Teresa melotot. “Sini biar aku yang bawa!” Teresa berusaha mengambil buku di tangan Aska, tapi dengan cepat Aska mampu mencegahnya.


“Bawel!” Aska mencibir. Teresa menipiskan bibir. “Ke ruangan siapa ini?”


“Bu Yayuk. Siniin makanya,” Teresa ingin kembali meraihnya, namun dengan cepat Aska menghidar. Tertawa ketika Teresa justru terjerembab. Akan jatuh, tapi Teresa masih bisa menjaga keseimbangan.


Teresa melirik Aska sebal. Namun kekesalan itu pudar entah kemana saat Aska terlihat tertawa begitu lepas.


“Nggak usah lihat-lihat. Nanti naksir!” Aska menampilkan tampak menggodanya.


Teresa tersentak. Apa? Tadi apa? Naksir? Teresa ingin muntah mendengarnya.


Tanpa menjawab guyonan Aska, Teresa jalan terlebih dahulu memasuki ruang guru. Menyusuri setiap ruangan kecil di sana diikuti Aska di belakangnya. Mencari ruangan guru Matematika.


Teresa memasuki ruangan itu. Sudah tidak ada siapapun. Teresa meminta Aska menurunkan bukunya di meja.


“Makasih.” Kata Teresa lagi.


“Hidup lo kebanyakan terimakasih dan minta maaf.”


“Karena emang cuma kalimat itu yang nggak menyinggung orang lain.”


“Tapi gue muak dengarnya!”


“Aku nggak minta Aska dengarin!”


“Tapi gue punya kuping!”


Teresa cemberut. Selalu saja kalah berdebat dengan cowok itu.


“Teresa!”


Teresa menoleh. Mendapati Dini berjalan tidak jauh dibelakangnya. Ia mengernyit. Kenapa Dini belum pulang.


“Pulang bareng gue, yuk!” Ajaknya. “Aska, Teresa tanggungjawab gue.” Katanya lagi sambil menarik lengan Teresa. Aska mengernyit, kemudian bersikap acuh.


Padahal Teresa belum sempat menjawab, tapi Dini sudah menariknya tidak sabaran.


Teresa memilih menurut. Berusaha menyamai langkah lebar Dini sambil sesekali melirik Aska yang berjalan tidak jauh di belakangnya melalui ekor mata.


“Besok lo gantian tanggungjawab gue.” Ucap Aska berbisik ketika berjalan mendahului Teresa.


Selanjutnya, dunianya serasa runtuh seketika.

__ADS_1


__ADS_2