Chameleon Boy

Chameleon Boy
Ibu


__ADS_3

Tidak ada yang lebih melelahkan dibanding bekerja paruh waktu seperti yang Teresa telateni saat ini. Ia menyerah, mengangkat tangan pasrah, tubuhnya serasa remuk dalam satu waktu. Berhenti dari pekerjaannya saat ini akan jauh lebih baik daripada ia harus terkena osteoporosis dini.


Ia mengambrukkan tubuhnya ke sofa, berjalan ke kamarnya saja rasanya terlalu berat dilakukan. Ia belum mengerjakan tugas untuk mata pelajarannya besok, sedangkan matanya sudah terpejam rapat. Memaksakan diri tetap bangun akan membuatnya jatuh sakit, sepertinya Teresa akan tidur dulu barang sebentar.


Ia berdiri, berjalan gontai menuju kamarnya.


“Resa, kok baru pulang?” Langkahnya terhenti. Tubuhnya menegang seketika kala melihat Evani berjalan mendekatinya.


“Ibuk belum tidur?” Teresa tersenyum, mengecup punggung tangan Ibunya.


“Belum. Kamu dari mana? Kok jam segini baru pulang?”


Teresa menggerak-gerakkan matanya, mencari alasan. Rasa kantuknya mendadak menguap hilang, digantikan rasa takut yang semakin menjalar. “Resa habis belajar kelompok. Resa ngantuk, Buk. Tidur dulu, ya!” Teresa nyengir. Pura-pura menguap lebar, kemudian berjalan membuka pintu kamarnya.


Baru akan masuk, Ibunya kembali berucap. “Ibuk tahu Resa bohong.”


Teresa menghela napas panjang, bahkan terlalu panjang hingga dadanya merasa tercekat hebat.


“Resa nggak perlu kerja lagi buat kehidupan kita, Ibuk masih kuat kerja.” Evani masih melanjutkan. Teresa belum berbalik, masih menghadap pintu dengan air mata yang akhirnya lolos mengalir.


Menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu berbalik menghadap Ibunya. “Ibuk tahu?”


Evani membekap mulut, ingin menangis. Ternyata benar, putrinya selama ini bekerja diam-diam.


“Resa suka kok. Lagian kalau di rumah suka bosan. Ibuk nggak perlu khawatir.” Teresa tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Bahkan anak kecilpun tahu jika senyuman itu hanyalah kebohongan semata. Air mata semakin deras membanjiri keduanya.


“Ada Ibuk, ada Bapak. Tugas Resa hanya perlu sekolah yang pintar. Biar Bapak sama Ibuk yang cari uang.”


Teresa terkekeh sambil menangis. Tubuhnya serasa ditimpa semen puluhan ton beratnya. Kenapa Ibunya selalu membuatnya semakin merasa bersalah. Kenapa Ibunya selalu mengingatkannya betapa ia hanya menjadi beban selama ini.


Tidak ada yang menyadari jika satu-satunya anak laki-laki keluarga mereka sedang menangis tersedu-sedu di balik pintu.


“Bapak pulang malam setiap hari cuma demi Resa sama Ezra, nggak ada yang lain. Jadi berhenti, mulai besok nggak perlu kerja lagi.” Evani masih terus berucap disaat Teresa semakin sesenggukan.


Memori otak Ibunya memang menjadi lamban setelah kepergian Ayah mereka. Ibunya hingga kini belum mempercayai jika suaminya telah meninggal dunia. Teresa tahu, Evani sangat merindukan sosok suami. Teresa juga tahu, Ibunya terlalu berat memikul beban seorang diri hingga masih sering mengharapkan kehadiran sosok yang selama ini mereka rindukan.


“Gaji ibuk juga nggak kecil-kecil amat sampai harus dibantuin sama Resa! Kalau uang Bapak-,”


“Resa suka, Buk. Lagian Ibuk tahu dari mana Resa kerja?”


“Ada orang yang ngasih tahu Ibuk. Kalau Bapak tahu, dia pasti marah.”


Teresa mulai naik pitam.


“Ibuk nggak akan kasih tahu Bapak, yang penting-,”


“Cukup!” Teresa berteriak. Telinganya terasa panas, pengang. Memilih mengangkat kedua tangannya, menutupi telinga. “Harus berapa kali Resa bilang, BAPAK UDAH MENINGGAL, BUK! BAPAK UDAH NGGAK ADA!” Teresa meninggikan suara. Ia tersadar, membekap mulutnya, apa yang sudah ia katakan?!


Evani membeku di tempat. Kepalanya menggeleng tak terima, kristal beningpun semakin deras membanjiri kedua pipinya. “RESA!!! Nggak boleh ngomong gitu.” Isaknya. “Setiap ucapan adalah doa, Resa mau jadi anak yatim? Meskipun Resa suka marah sama Bapak, tapi Resa nggak boleh ngomong gitu.”


“Ibuk harus sadar, Bapak udah ninggalin kita 5 tahun! Bapak udah pergi, Buk. Selamanya.”


“TERESA!!!” Evani membentak putrinya. Teresa tersentak. “Sejelek apapun sikap Bapak, Ibuk tetap nggak suka kalau yang ngomong Resa.” Ibunya terkulai lemas, menangis meraung-raung, mengacak rambutnya, lalu mengamuk tak terkendali.


Teresa merutuki dirinya sendiri, tidak seharusnya ia berkata demikian. Evani masih perlu penanganan psikolog lagi, dia belum sembuh. Mengingatkan Evani tentang kematian orang yang dicintainya hanya membuatnya kembali terluka. Teresa yang salah. Ia memukul tembok di depannya, tidak bisa memaafkan dirinya sendiri begitu melihat Evani kembali terguncang hebat.


Ezra berlari keluar kamar, berusaha menenangkan Ibunya yang mulai bergumam tidak jelas. Matanya bengkak, sepertinya Ezra mendengar semuanya.


“Mbak Resa harus sabar, Ibuk masih butuh waktu buat menerima semuanya. Semuanya nggak bisa sembuh secara instan.” Ezra berbicara sambil memeluk Evani, mencoba menyalurkan ketenangan.


“Mau sampai kapan?” Teresa bertanya. “Aku udah muak, Zra. Muak setiap hari harus dengar laki-laki itu disebut.”


“Apa sih yang bikin mbak Resa benci bapak? Bapak nggak pernah benci sama anak-anaknya. Bapak nggak benci mbak Resa ‘kan selama ini. Bapak selalu sayang kita.”

__ADS_1


“Kamu nggak tahu yang sebenarnya, jadi nggak usah komentar!” Bantingan pintu terdengar nyaring, Teresa yang melakukannya. Mengunci pintu kamar dengan tidak sabar, kemudian memerosotkan diri sambil menangis terisak.


Menangisi kenapa hanya ia yang mengetahui semuanya.


***


Dengan telaten, Teresa mengompres kedua matanya. Ia tidak boleh terlihat memiliki masalah jika di sekolah. Semua harus berjalan seperti biasanya. Memiliki mata bengkak hanya akan membuat teman sekelasnya menatap penuh curiga.


Memiliki teman kelas yang hampir kesemuanya membenci Teresa memang cukup menyusahkan. Mulut mereka selalu menari-nari berlebihan jika menyangkut dirinya.


Seperti sekarang, Michelle terus saja memperhatikan setiap gerak-geriknya sejak tadi pagi. Teresa bersikap bodoamat. Terus mengerjakan tugas Matematika yang belum sempat ia kerjakan semalam.


“Gue perhatiin akhir-akhir ini lo sering ngerjain PR di sekolah. Mana Teresa yang katanya pararel satu, gue jadi ragu lo punya pawang selama ini.” Michelle terus bercuit, berdiri tepat di samping mejanya.


Teresa diam, mencoba untuk tetap terfokus pada soal yang berusaha ia pecahkan.


“Kalau diam, berarti benar! Astaga, gue nggak nyangka cewek sok polos kayak lo bisa licik juga. Gue juga dengar beberapa hari lalu, lo dilabrak adik kelas gara-gara ketahuan ngerebut anak pemilik Harison dari dia. Benar?”


Teresa masih diam. Mulai merasa jengah tapi ia tidak ingin melawan. Pulpen di tangannya kini jadi sasaran, ia genggam semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Teresa sangat marah. Dari mana cewek itu tahu berita seperti itu, dengan porsi dilebih-lebihkan pula?!


“Padahal Amanda, mantan pacarnya Gantara itu cewek polos, imut. Pendiam banget.” Michelle mulai ngaco.


Cihhh...


Pendiam apanya, jika cewek itu pendiam pasti memiliki adab. Jika memiliki adab, cewek itu tidak akan menjambak, apalagi menginjak tangannya sampai harus dibawa ke rumah sakit.


“Katanya lo jambak dia! Kasihan, sekarang rambutnya jadi pendek karena katanya sampai rontok semua.” Apa Michelle ini tidak capek berbicara dari 'katanya' berkali-kali. Lagipula, mana bisa rambutnya pendek kalau sudah rontok semua?! Yang ada gundul kalau begitu.


“Terus katanya mereka langsung putus setelah kejadian beberapa hari sebelumnya waktu lo-,”


“Kamu nggak capek ngomong terus?” Teresa mendongak, akhirnya menatap objek yang sejak tadi mengajaknya bicara.


“Ha? Apa?” Michelle merasa linglung sampai menaikkan kedua alisnya. Tidak menyangka Teresa akhirnya membalas kalimatnya.


“Kamu bikin aku muak!”


Michelle menyeringai. “Bisa ngomong lo ternyata. Di ajarin siapa? Gantara? Atau teman baru lo yang songong itu. Hebat ya lo, sekarang temannya tajir semua. Udah lo porotin berapa aja, tuh?!” Michelle membicarakan Dini, orang yang menolak saat Michelle mengajaknya menjadi salah satu teman.


“Aku nggak kenal Gantara.” Teresa berucap jujur.


“Munafik! Bohong terus tiap hari. Kemarin aja jalan sama Gantara pas pulang tapi masih aja ngelak, sok nggak kenal!”


“Terserah kamu mau percaya atau enggak.” Teresa tersenyum. Bukan urusannya juga membuat Michelle percaya ucapannya. “Bisa tolong pergi? Aku mau ngerjain tugas." Teresa kembali menunduk, mencoba untuk konsentrasi.


Michelle masih berdiri di sana. Sedang memperhatikan Teresa dengan tatapan tak percaya. Teresa mengusirnya!


Teresa kembali mendongak. “Loh! Kok masih di sini? Atau mau kasih contekan ke aku?”


***


Aska masih memakan makanannya dengan santai ketika Senka menceletuk aneh. Otaknya sedang sibuk menyusun strategi gesit agar ia tidak perlu lagi les private seperti yang Larina inginkan atau ia akan semakin terkekang. Ia ingin hidup bebas. Jika masa muda ia habiskan untuk menuruti sesuatu yang tidak ia inginkan, maka kapan ia akan bahagia dengan pilihannya sendiri.


Semalam, Larina kembali menemuinya. Memintanya dengan baik-baik untuk mau melanjutkan bimbingan belajar yang sudah orang tuanya bayar mahal-mahal. Tentu saja Aska langsung mengiyakannya. Aska sebenarnya mau-mau saja jika ia tidak memiliki keperluan lain yang dianggapnya lebih penting dibanding mengikuti les. Tapi keperluan ini jauh lebih penting, setidaknya menurutnya. Dan semua itu sudah cukup membuatnya merasa bimbang.


“Ren, gue mau tanya sama lo?” Senka bertanya.


Darren menoleh, memelankan kunyahan. “Sok asik lo mau tanya aja pakai tanya dulu!”


Senka nyengir, membuat Aska menoleh. Ikut penasaran. “Kenapa lo panggil Aska, 'bos'?”


“Uhukkkk, uhukkkk...” Darren tersedak jusnya. Keno yang berada di sampingnya menepuk-nepuk punggung Darren, hal itu justru membuat Darren menatapnya horor. Keno menjauh seketika.


“Jangan pegang-pegang, No! Lo bikin gue risih!” Darren menepis lengan Keno di punggungnya.

__ADS_1


“Gue bantuin ini, nggak tahu terima kasih emang!”


“Santai, Ren, santai. Gue nggak minta minum lo!” Senka menceletuk nyaring. Aska memperhatikan cowok pendek di depannya itu sambil menerka-nerka. Bagaimana reaksi mereka ketika mengetahui yang sebenarnya. Ah, Aska tidak mau membayangkannya. Pasti heboh.


“Kenapa lo tanya gitu?” Aska mengernyit, berusaha terlihat biasa.


Senka menoleh, menatap Aska. “Gue penasaran aja, sih! Dari kelas satu Darren udah manggil lo ‘bos’, tapi gue baru ngeh sekarang.”


“Dia emang anak buah gue.” Aska berucap santai. “Lo juga mau jadi anak buah gue? Sini, panggil gue 'bos'!”


Senka bergidik ngeri. “Ogah! Paling lo suruh-suruh entar. Eh, tapi anak buah apaan? Lo kerja sama Aska, Ren?” Senka mengernyit.


“Kepo lo!” Darren memutar bola mata jengah.


“Woi, gue tanya serius ini. Gue beneran penasaran.”


“Nanti juga tahu sendiri.” Aska kembali berbicara.


Senka mencibir tak terima. Saat ingin kembali bertanya, seorang cewek terlihat berlari kesal memasuki kantin. Mereka tidak menghiraukannya, sebelum cewek tersebut menyebut nama Teresa. Aska langsung memasang telinganya baik-baik. Bukan bermaksud menguping, tapi cewek itu terlanjur membuatnya penasaran.


“Iya! Parah ‘kan! Si Teresa itu udah berani jawab bahkan ngusir gue. Padahal gue cuma nanya, apa hubungan dia sama Gantara. Eh, dianya nyolot. Ngeselin emang!” Kata cewek itu.


Aska dapat mendengarnya, ia senang Teresa mulai bisa melawan orang yang membullynya. Ini adalah suatu pencapaian hebat. Tapi tunggu, Teresa mengenal Gantara? Apa Teresa berurusan dengan Gantara? Jangan sampai atau hidupnya tidak akan bisa tenang. Teresa selalu ceroboh dalam bertindak. Jangan sampai Gantara melukainya atau Aska akan turun tangan. Ia sangat mengenal Gantara. Sangat. Tanpa Aska sadari, bahwa dirinya sendiri juga cukup berbahaya jika terlalu dekat dengan Teresa.


Kedekatan mereka, pasti tidak akan berjalan mulus seperti yang Aska perkirakan.


***


“Assalamualaikum, Resa pulang!” Teresa membuka pintu, mencari saklar lampu. Baru semalam bertengkar hebat dengan Evani, hari ini Teresa kembali pulang malam. Lampu menyala, Ezra tidur di sofa. Teresa langsung menghampirinya.


“Ezra, hei. Bangun!” Ia menggoncang-goncangkan tubuh Ezra pelan, Ezra menggeliat. Teresa tersenyum.


“Mbak Resa!” Ezra langsung terbangun, mengucek matanya sambil menguap lebar.


“Kalau nguap ditutup mulutnya, nggak malu dilihat cewek!” Teresa terkekeh.


“Cewek? Siapa, Mbak?”


“Ini?” Ucapnya menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. “Ada cewek cantik di sini masa nggak kelihatan.”


“Nggak lucu, Mbak!” Ezra berdiri, berjalan menuju kamarnya sendiri. Teresa mengembuskan napas lelah sebelum berjalan, mencegah saat pintu kamar Ezra akan ditutup. “Apalagi, Mbak?” Ezra memutar bola matanya malas.


“Ezra masih marah?”


“Enggak.”


“Kok jawabnya gitu, mukanya juga cemberut terus.” Ezra jika sedang marah memang selalu dingin. Teresa juga yang salah, membentak dan membuat Ibunya kembali terluka. “Maafin, Mbak!”


“Kenapa minta maaf?” Ezra menaikkan sebelah alisnya.


“Karena Mbak salah.” Teresa menjawab polos.


“Aku nggak marah. Lagipula apa hak aku buat marah? Mbak Resa harusnya minta maaf sama Ibuk. Walau Ibuk pasti udah lupa, tapi mbak Resa tetap harus minta maaf.” Ucap Ezra sebelum menutup pintu kamarnya.


Teresa masih bergeming di tempatnya. Ezra benar, ia harus minta maaf jika tidak ingin di tempatkan di neraka jahanam. Ia berjalan ragu, menarik napas sebelum mengetuk pintu kamar milik Evani. Pintunya tidak dikunci, Teresa langsung masuk tanpa diminta.


Melihat Evani sedang tidur dengan nyenyak, Teresa tidak tega untuk membangunkan. Ia hanya menatap dari ambang pintu. Melihat Evani yang tertidur dengan damai membuat Teresa menjatuhkan airmatanya, mau sampai kapan keluarganya mengalami masa kelam.


Harus dengan cara apalagi untuk membuat Ibunya melupakan kehadiran Ayah mereka. Mau sampai kapan?


“Resa sayang Ibuk.” Ucapnya terisak sebelum menutup pintu kamar Ibunya.


“Maafin Resa karena nggak pernah jujur.”

__ADS_1


__ADS_2