Chameleon Boy

Chameleon Boy
Kejutan Menggembirakan


__ADS_3

Aska berangkat lebih pagi.


Tepatnya pukul enam, mobilnya sudah bertengger manis di depan gerbang sekolahnya. Ia hanya menunggu satu orang yang kini menjadi tersangka.


Semalaman ia tidak bisa tidur, pikirannya terus berkecamuk memikirkan semuanya. Ia tidak habis pikir, ternyata Dini bisa sepicik itu. Caranya memfitnah Teresa benar-benar tidak beradab dan kuno. Jika memang ia suka padanya, tinggal bilang saja. Aska pasti akan mendengarkan walau tidak akan menerima karena hatinya sudah tercantol kepada Teresa.


Ia masih bersandar di depan mobilnya saat Teresa berjalan melewati. Teresa seakan tidak melihatnya, begitupun Aska yang tidak ingin mengganggu cewek itu dulu. Saat ini pikirannya harus ia fokuskan pada misi ini.


Kita lihat saja nanti, image pendiam Aska yang melekat akan tercopot habis.


Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dini turun dari mobil dengan tanpa dosa, bertegur sapa sekilas dengan salah satu siswa yang mungkin ia kenal kemudian tatapannya tertuju lurus pada Aska.


Cewek itu tersenyum, sedikit berlari kearahnya. Aska tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis sampai Dini pun pasti tidak dapat melihatnya.


“Nungguin gue pasti, iya ‘kan? Ngaku aja lo.” kata cewek itu menempelkan lengannya pada lengan Aska. Cowok itu bergeser menjauh.


“Katanya mau pintar kimia, ayo belajar sekarang aja mumpung belum bel.” Walau Aska kecewa, ia tidak mungkin melabrak Dini di tempat umum. Aska masih memiliki hati nurani dan kepedulian tinggi.


Dini membulatkan mata. “Ha? Harus sekarang?”


“Biar lo cepat pahamnya.” Aska berjalan mendahului.


Dalam hati, Dini merasa senang karena akhirnya Aska sadar jika Dini lah cewek terbaik untuknya. Ia mengikuti langkah Aska sambil bersiul senang.


Dini tersentak halus saat kini Aska menggandeng tangan dan berusaha menyamai langkah cewek itu. Tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding ini. Apa Aska salah minum obat. Dia menggandeng Dini di depan umum! Walau masih sepi tapi sudah cukup membuat Dini merasa bahagia.


Namun langkahnya terhenti saat Aska menariknya paksa menuju belakang perpustakaan.


“Kenapa malah ke sini?”


Aska tidak menjawab, membuat Dini semakin mengernyitkan dahi bingung. Setelah sampai di belakang perpustakaan Aska baru mulai kembali membuka mulutnya.


Dini mengernyit tidak mengerti.


“Gue mau tanya sesuatu sama lo,” Aska memulai aksi introgasinya. Semakin merasa benci saat Dini justru menatapnya tanpa dosa.


“Soal kimia? Aduh gue belum belajar semalam jadi mending lo ajarin gue dulu habis itu baru tanya-tanya.”


“Nggak usah pura-pura bodoh! Atau memang lo bodoh beneran?!” Aska mulai jengah.


Dini berpikir keras. Akankah Gantara sudah menceritakan semuanya kepada Aska? Tidak mungkin! Gantara tidak mungkin tega melakukannya, apalagi kepada cewek yang dia suka.


“Lo kenapa sih, Ka! Lo sehat ‘kan?”


“Lebih dari sehat. Dan orang sehat ini akan bikin lo hancur detik ini juga.” Nada bicaranya terdengar dingin. Dini bergidik. Ia mulai paham. Dirinya dalam bahaya. Dini beberapa kali mendengar kelakuan Aska dari Gantara tapi ia tidak pernah sekalipun percaya. Tapi kini, dari nada bicara yang Aska keluarkan terdengar jelas, bahwa cowok itu memang terlalu berbahaya untuknya.


“Aska, gue bisa jelasin-,” nadanya melirih. Ia sangat ketakutan. Dan tanpa Dini sadari, dirinya sudah berjalan mundur secara perlahan membuat Aska semakin tertawa puas.


“Kalau aja lo bukan cewek, gue pasti udah hajar lo di tempat umum. Tapi berhubung lo ini teman sekelas gue, makanya gue ngumpet. Gue masih cukup punya hati, nggak kayak lo yang kelihatan polos di luar tapi berbahaya di dalam.”


“Aska, lo nggak tahu yang sebenarnya,” Dini bersandar dengan tembok di belakangnya. Lututnya mulai melemas, ia merasa sangat ketakutan.

__ADS_1


“Semuanya salah gue. Gue yang nggak pernah peka sama keadaan, untuk yang itu gue minta maaf. Tapi sorry, lo sama sekali bukan tipe gue. Keno jelas jauh lebih suka sama lo. Gue nggak mau bikin dia kecewa. Lagipula banyak cowok yang suka sama lo kenapa malah suka cowok yang kayak gue?!” Aska berkata tulus.


Perlahan, cewek itu menunduk. Mulai terisak. Memang tidak keras, juga tidak berusaha diperlihatkan jika cewek itu tengah terguncang hebat. Namun Aska tahu dari tubuh Dini yang bergetar menahan tangis. Aska memilih diam, membiarkan Dini menangis agar jauh lebih tenang.


Setelah cukup lama terdiam, cewek itu mendongak. Bertepatan dengan bel tanda pelajaran yang juga telah berbunyi. Tapi mereka tidak peduli. Masalah ini jauh lebih penting dibanding mendengarkan dongeng sejarah yang terus diulang berkali-kali. Mereka baru bangun, dan tidak ingin kembali tertidur nyenyak bila mendengar suara maut Pak Fauzan.


“Apa sih yang bikin lo nggak bisa suka gue? Gue jelas jauh lebih segalanya dibanding Teresa. Gue lebih cantik, lebih kaya, lebih modis, dan lebih bisa diandalin!” Dini mulai menatap Aska. Tidak akan berakhir jika ia terus diam tanpa suara. “Atau lo mau cari yang pintar? Gue bisa! Gue bisa bayar bimbel yang mahal biar gue bisa lebih pintar dari Teresa. Kurang apalagi sampai lo nggak suka sama gue sedikitpun.”


Aska menatap Dini datar. “Gue nggak suka sama cewek yang selalu menjunjung tinggi dirinya sendiri di atas orang yang terlihat lemah. Apa lo bisa kayak Teresa yang selalu gigih dan pantang menyerah? Apa lo bisa kayak Teresa yang selalu sederhana dan menebar senyum walaupun hatinya sedang sakit? Lo nggak akan bisa, Din! Lo nggak akan bisa jadi Teresa.”


“Lo jahat, Ka! Lo cowok paling jahat yang pernah gue temui.” Dini ingin kembali terisak, namun ia tahan.


“Bukannya lo juga jauh lebih jahat yang tega bikin penopang temannya sendiri dicabut. Lo tahu Teresa nggak akan bisa sekolah kalau nggak dengan beasiswa, lo tahu itu. Bikin cewek super lembut kayak Teresa menderita.” Aska masih berusaha berkata santai. Bahkan tangannya bersidekap di dada sejak tadi.


“Gue nggak nyangka kalau kejadiannya bakal kayak gini. Lo harus percaya sama gue. Apa dia nggak cerita kalau gue juga yang bantu bayar SPP adiknya. Gue yang ringanin beban dia!” Dini mulai kehilangan kesabaran. Buktinya, nada yang baru saja ia keluarkan semakin meninggi setiap kalimatnya.


“Gue nggak mau panjang-panjang, intinya lo beresin kekacauan yang udah lo buat. Beasiswa Teresa, atau apapun itu. Termasuk Teresa yang mendadak jaga jarak sama gue.”


Dini tersentak halus. Aska mengetahuinya.


Tanpa menunggu jawaban Dini, cowok itu telah berbalik ingin pergi. Tapi sebelumnya ia kembali mengucapkan kalimat yang membuat Dini ingin menangis darah saja.


“Kalau hari ini nggak lo beresin semuanya, gue jamin besok lo yang akan keluar dari sekolah ini. Lo tahu, gue punya beberapa pasukan berandalan yang siap ngejar lo kemana pun kalau lo macam-macam!” Setelahnya ia berlalu pergi. Entah kemana, Dini tidak ingin peduli lagi.


Dini terduduk sambil meraup wajahnya frustasi. Lutut yang sejak tadi ia paksakan untuk berdiri pun akhirnya tumbang setelah lawannya menghilang. Apa tadi Aska? Kenapa tampak berbeda? Dini mulai membenci cowok itu sekarang.


Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Dini langsung merogohnya dari saku seragam yang ia kenakan.


Gimana kakak, mana imbalan gue? Lo mau bikin gue marah! Cuma bikin Gantara balikan sama gue aja nggak becus*!


Setelahnya ia melempar ponselnya ke selokan.


“Sialan!”


***


“Panggilan kepada Teresa Evania kelas XII IPA 1 harap ke kantor kepala sekolah sekarang juga.”


“Sekali lagi, panggilan kepada Teresa Evania kelas XII IPA 1 harap datang ke kantor kepala sekolah sekarang juga.”


Panggilan dari speaker semua kelas memenuhi gendang telinga setiap muridnya. Khususnya anak-anak XII IPA 1, mereka bertanya-tanya. Ada apa lagi dengan teman sekelasnya itu. Akhir-akhir ini si anak pararel satu sering mendapat perkara, membuat mereka keheranan.


Sedang orang yang sedang mereka bicarakan justru terlelap, tanpa terganggu suara bising mereka. Hari ini gladi bersih sebelum ujian semester senin besok. Jadi tidak ada pelajaran lagi setelah jam pelajaran keempat.


Teresa memilih tidur dibanding keluar seperti biasa. Entah kenapa hari ini ia kurang enak badan. Tubuhnya terasa sakit semua hingga dia dapat tidur dengan mudahnya walau sambil duduk. Padahal biasanya tidak bisa.


Teresa mulai membuka mata saat seseorang menepuk pipinya perlahan. “Sa! Bangun, Sa!”


Teresa mengerjap, membuka matanya sebelum kembali menegakkan tubuh. Ia menatap malas orang yang telah membangunkannya sambil menatapnya datar.


“Dipanggil Pak Kepala Sekolah, tuh! Sana, disuruh ke Kantor sekarang.” Kata sang ketua kelas. Ya, yang membangunkannya tadi adalah sang ketua di kelasnya. Wajahnya sangat tampan dengan kumis tipis yang mulai terlihat. Tapi Teresa tidak suka karena cowok itu salah satu murid pintar yang selama ini menjadi saingan beratnya mendapat peringkat satu di kelas.

__ADS_1


“Kenapa aku dipanggil?” Tanyanya menaikkan sebelah alis. Suaranya lebih terdengar gumaman.


“Ya, mana gue tahu! Emang gue dukun!” Kata cowok itu, Teresa hampir meledakkan amarah. Rasa kantuknya lenyap seketika. Kenapa orang itu selalu bersikap jutek padanya, padahal ia tidak salah apa-apa.


“Aku cuma tanya, nggak perlu sampai ngeluarin otot!” Lanjutnya sambil berdiri, meninggal sang ketua kelas yang kini tengah menggebrak meja dengan keras.


Teresa berjalan cepat. Ada apa lagi, mengapa ia kembali dipanggil? Semoga saja tidak diminta membayar SPP bulan ini. Semoga.


Ia mengetuk pintu dua kali. Seseorang langsung membukakan pintu. Walau ragu, ia berjalan masuk. Melihat siapa saja yang berada di dalam. Oh, hanya Bapak kepala sekolah dan Gantara. Perasaannya mendadak tidak nyaman. Jika berhubungan dengan sang anak pemilik sekolah, dirinya pasti akan dilanda kesialan.


“Maaf Pak, ada apa ya Bapak memanggil saya?” Tanyanya sopan.


“Duduk dulu. Kita bicarakan masalah ini sambil duduk biar lebih rileks.” Teresa mengangguk.


Ia mendudukkan dirinya di samping Gantara dengan salah tingkah. Bagaimana tidak, sejak tadi cowok itu memandanginya tanpa henti membuat Teresa ingin meninju matanya. Tapi tentu tidak akan ia lakukan. Mana berani!


“Dewa, mau saya atau kamu yang bicara?” Tanya Pak kepala.


“Saya aja!” Jawabnya cepat. Teresa semakin dilanda kebingungan.


Saat ini Teresa masih menundukkan kepala, bingung harus bersikap bagaimana, Gantara memutar kursinya jadi menghadap cewek itu sempurna. “Teresa, gue mau bicara penting sama lo.” Katanya memulai obrolan dengan nada begitu lembut seakan kepala sekolah tidak memandangi mereka.


“Ngomong aja,” Teresa masih menunduk. Enggan menatap Gantara. Otaknya masih dilanda kebingungan hebat.


“Gue minta maaf.” Teresa sontak mendongak, menatap Gantara yang juga sedang menatapnya lekat. “Gue ngaku salah. Maaf karena udah bikin lo menderita selama ini. Apalagi fitnah dan bully lo padahal nggak tahu apa-apa.”


Apa Teresa tidak salah dengar? Gantara meminta maaf? Karena kesalahannya selama ini? Sepertinya Teresa masih berada di alam mimpi. Ia mencubit lengan kanannya sendiri.


Sakit.


Teresa masih memilih diam. Biarlah Gantara selesai dulu dengan celotehannya.


“Lain kali gue akan lebih hati-hati lagi. Oh iya, soal beasiswa lo tenang aja, semuanya udah balik seperti semula. Iya ‘kan, Om?” Bapak kepala sekolah mengangguk mengiyakan.


“Tuh Pak Armand udah ngangguk.” Sial. Teresa hampir tertawa. Gantara terlihat seperti anak kecil ketika berkata seperti itu. “Kok lo diam aja sih?! Jawab kek.”


Teresa mengangkat wajahnya. Matanya langsung tertuju pada sosok kepala sekolah yang kini entah sedang mengerjakan apa. “Sebelumnya, terimakasih Pak karena sudah mengembalikan beasiswa saya. Saya yakin Pak Armand memang orang yang baik. Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali.” Katanya.


Pak Armand mengangguk. Menghentikan kegiatannya. “Itu memang hak kamu Teresa. Sejak awal saya memang tidak terlalu setuju beasiswa kamu dicabut. Itu sama halnya dengan kita yang tidak menghargai jerih payah kamu sebagai murid yang sudah menyumbangkan banyak penghargaan untuk Harison. Tapi terlepas dari itu semua, saya juga senang karena Dewa bisa bersikap lebih dewasa dan bijak. Maafkan sikap keponakan saya, Teresa. Dewa memang kadang suka bertindak sesuka hati.”


Teresa mengangguk. “Saya tahu Gantara sebenarnya baik.”


Gantara yang mendengar itu langsung menepuk dadanya bangga. Pak Armand terkekeh pelan. “Papa titip salam, katanya juga minta maaf atas tindakannya yang gegabah.” Katanya menyampaikan amanat dari pak Harison.


“Sama-sama.”


“Ini yang khusus gue, maaf udah salah sangka sama lo. Maaf juga atas kelakuan Dini yang kekanak-kanakan. Dia cuma sedikit iri sama lo. Padahal dia nggak pernah kayak gini sebelumnya.” Merasa pembicaraan mulai terdengar melenceng, Teresa beranjak.


“Kita bicara di luar aja.” Katanya berbisik. Sebelumnya ia pamit kepada Pak Armand sebelum mengajak Gantara keluar dengan tangannya yang tanpa sengaja menarik lengan Gantara.


Semua itu tidak luput dari pandangan Aska. Cowok yang sejak tadi mengintip dibalik ambang pintu. Mendengar semua percakapan antara kepala sekolah dengan kedua insan itu sambil bernapas lega.

__ADS_1


__ADS_2