Chameleon Boy

Chameleon Boy
Kunjungan


__ADS_3

Langkahnya terhenti, menatap gundukan tanah kering di depannya. Untuk kedua kalinya ia kemari, saat ini dan saat penguburan jasad Bramantyo lima tahun silam. Teresa terisak. Menatap gundukan tanah tak terawat dengan nama 'Bramantyo Adipranata'. Entah sudah berapa tahun dirinya dan Ezra tidak memakai marga itu lagi.


Air matanya semakin mengalir deras ketika mengingat nama kecilnya.


Teresa Evania Adipranata.


Memaksa sang Adik menghapus nama Adipranata dari keluarganya dengan bantuan Om Vino. Dengan harapan semua dapat melupakannya. Memulai hidup baru tanpa bayang-bayang sosok Ayah. Tapi tidak, bahkan setelah Ayahnya meninggal pun masih memaksa mereka selalu mengingatnya. Melalui penyakit Evani yang tak kunjung memiliki titik terang.


Teresa menunduk, mencium nisan sang Ayah sebelum duduk bersila di depan makamnya. Menyeka air mata yang terus saja mengalir walau jika di seka, dirinya justru menangis semakin terisak.


“Assalamualaikum, Pak. Maaf, Resa baru datang,” katanya kembali menyeka air mata. Mengambil jeda beberapa saat karena mulutnya terasa kelu untuk berbicara. “Gimana kabar bapak di sana?” Tanyanya kemudian, walau masih terbata.


Tangannya terulur, mencabuti satu persatu rumput liar yang hampir menutupi makam sang Ayah. Air matanya semakin meluncur tak beraturan. “Resa nggak marah sama Bapak, sama sekali enggak. Bapak masih sayang Resa, ‘kan? Jangan benci Resa, ya.”


Mengambil bunga dari dalam tas, Teresa menaburkannya. “Resa pingin Bapak ada lagi. Bareng sama Resa, sama Ibuk, sama Ezra. Resa terlalu egois karena selalu nyalahin Bapak atas semua yang terjadi, padahal semua sudah garis takdir Tuhan. Seharusnya Resa hanya tinggal menerimanya. Tuhan pasti marah karena Resa sering ngeluh. Tolong bilang sama Tuhan kalau Resa minta maaf...” Menatap makam Bramantyo sambil tersenyum, Teresa kembali berbicara. “Bapak bahagia ‘kan di sana?”


“Resa durhaka sebagai anak, nggak pernah kirim bekal ke Bapak. Nggak pernah bersihkan kubur Bapak.” Teresa menyeka air matanya menggunakan punggung tangan. Tangannya kotor, tapi air matanya tidak memberi toleransi. “Tapi mulai sekarang, Resa akan datang terus jenguk Bapak. Kirim doa ke Bapak, bersihkan rumah terakhir Bapak. Bapak senang ‘kan?”


Seperti mengharap jawaban, Teresa terdiam. Merasakan semilir angin sore yang entah kenapa lebih terasa sejuk dari biasanya.


“Kalau Bapak tanya keadaan Ibuk, Ibuk baik-baik aja. Tapi tolong, buat Ibuk menerima kepergian Bapak. Tolong sedikit aja kasihani Resa...”


“Sakit Resa udah sembuh, tapi Ibuk belum.” Teresa masih mengelusi nisan, seakan Ayahnya akan senang bila ia memperlakukan kuburan sang Ayah dengan baik. “Resa nggak minta tanggungjawab Bapak, tapi tolong mintakan sama Tuhan. Sembuhkan Ibuk biar Ibuk juga bisa bahagia.”


Matanya merabun akibat kebanyakan air matanya yang keluar. Teresa meraih tasnya ingin mengambil tisu, tapi sebuah lengan terlebih dahulu menyekakan genangan air matanya. Aska berusaha tersenyum, walau terpaksa.


“Ini Aska, Pak. Pacarnya Resa.” Katanya memperkenalkan orang yang sejak tadi bersama namun ia lalaikan. “Resa beruntung ya dapat Aska. Lihat, dia ganteng banget. Kata Tika, Aska mirip artis Francisco Lochowski. Resa sampai browsing di internet buat lihat kemiripannya. Ternyata benar kata Tika, mereka mirip...”


Aska terkekeh. Disaat berduka begini saja, Teresa masih bisa bercanda.


“Bapak suka Aska, ‘kan? Dia udah janji akan selalu jagain Resa, nggak bikin Resa nangis lagi. Katanya Aska mau gantiin peran Bapak sebagai Ayahnya Resa.”


Aska tersedak air liurnya. Sejak kapan ia bilang seperti itu. Biarpun iya, tapi Aska ingin menjadi pendamping Teresa, bukan Ibunya.


“Aska baik banget, Pak, sama Resa. Ah iya, Ibuk belum bisa ke sini, tapi nanti Resa bujuk pelan-pelan. Resa sekalian mau ngadu sama Bapak, kalau Ibuk sering cari Bapak. Gimana caranya Resa ngomong? Ibuk kangen banget sama Bapak katanya.”


Ya, seperti yang Aska bilang, sudah saatnya Ibunya tahu dan menerima semuanya. Jika psikoterapi saja tidak mempan. Gundukan tanah ini pasti akan membuka ingatan Evani. Walau dengan risiko besar, asal demi kebahagiaan keluarganya. Akan Teresa lakukan.


Setelahnya ia beranjak, mengelus nisan sang Ayah sekali lagi. “Bapak yang nyaman di sana, nanti kalau udah waktunya, kita pasti ketemu lagi. Tapi Bapak harus sabar dulu. Assalamualaikum.”


Entah kenapa, kalimat terakhir yang Teresa ucapkan terdengar berat. Aska tidak terima Teresa berkata demikian. Itu sama saja dengan Teresa yang ingin cepat-cepat bertemu sang Ayah.


“Aska, bilang salam sama Bapakku.” Katanya membuyarkan pikiran Aska. Aska salah tingkah.


Dengan ragu, ia membuka mulutnya. “S-saya pamit dulu, Om. Assalamualaikum.” Katanya. Sekarang Aska merasa dirinya sudah gila karena berbicara dengan kuburan.


“Resa selalu sayang Bapak...”


***

__ADS_1


Membawa Evani mengunjungi tempat pemakaman umum bukanlah perkara mudah. Evani pasti akan bertanya atau curiga. Tapi jika Teresa mengatakan ingin berkunjung ke makam Bramantyo, Evani pasti sudah terlebih dahulu syok dan berakhir seperti sebelum-sebelumnya.


Jadi yang Teresa katakan adalah mereka akan piknik di hari minggu. Mendengar Evani dan Ezra bersorak bahagia membuat Teresa ingin menangis. Jahatkah dia jika baru saja membuat keluarganya bahagia dengan iming-iming liburan namun berakhir di sebuah pemakaman.


Mulutnya yang kurang penyaringan selalu saja membuatnya salah langkah.


Seperti sekarang ini, Evani termenung, menatap gapura TPU dengan mata membulat sempurna. Ezra tak mau kalah, matanya menatap nyalang sang kakak seolah bertanya 'Untuk apa kita kemari?'


“Buk, kita pulang aja. Mbak Resa pasti ngerjain kita.” Ezra merangkul bahu Evani, menuntunnya untuk melangkah pergi tapi Teresa terlebih dahulu mencegahnya. Terdapat sirat ketakutan bercampur kemarahan dari kedua manik mata yang Ezra sorotkan padanya.


“Ezra! Jangan coba-coba,” katanya berusaha menghentikan.


“Mbak Resa udah gila! Apa sih yang ada di otak mbak Resa sampai bawa kami kemari?! Kalau mbak Resa udah nggak mau ngerawat dia, ya udah. Ezra bisa sendiri. Tapi jangan bikin dia tambah sakit karena ini.” Ezra sengaja menekankan kata 'Dia' yang dimaksudkan adalah ibu mereka. Ezra tidak ingin Evani mengetahui maksud Teresa mengajaknya ke tempat ini.


“Justru ini yang terbaik. Kamu percaya sama Mbak, kali ini aja. Mbak nggak akan bikin Ibuk sakit lagi. Mbak mohon,” Tanpa suara, Teresa terisak. Cengeng sekali dirinya, sudah berapa kali dalam sehari ia menangis seperti ini?!


“Apa maksudnya Ibuk sakit lagi?” Evani bertanya tak mengerti. “Ibuk sehat selama ini. Resa juga, kok bawa kita ke kuburan. Resa mau piknik di sini? Kalau tahu gitu Ibuk nggak ikut.” Evani cemberut.


“Ada sesuatu yang mau Resa kasih tahu ke Ibuk.”


“Apa?” Ibunya bertanya-tanya.


“Bukan di sini. Tapi di dalam.” Ucapnya menuntun Evani, memasuki TPU. Evani menurut, berjalan tertatih-tatih karena takut menginjak kuburan seseorang. Bisa kualat kalau yang punya marah pada mereka.


Mereka berhenti pada sebuah makam. Tentu saja makam Bramantyo. Ezra memegangi bahu sang Ibu, sedang Teresa menggenggam tangan Ibunya erat. “Ini kuburan siapa, Sa?” Tanya sang Ibu bingung. Belum membaca nama yang Tertera pada batu nisan di depannya.


“Makamnya, Bramantyo Adipranata.”


“Ini memang makam Bapak, Buk. Bapak Resa sama Ezra. Ibuk baca namanya.”


Evani menoleh, menatap nisan di depannya. Matanya nyalang, ukiran nama sang suami tertera jelas di sana. Lengkap dengan tanggal lahir dan kematiannya. Lima tahun lalu. Evani membekap mulutnya sendiri. Bahunya bergetar. “Enggak, nggak mungkin! Resa jangan ngawur. Udah berapa kali Ibuk bilang jangan jelek-jelekin Bapak masih aja bandel...”


“Sekarang apa? Resa bikin kuburan palsu atas nama Bapak biar Ibuk percaya? Kalau Bapak pulang dari kantor nanti, Ibuk akan suruh Bapak hukum Resa biar kapok...”


Evani mulai terisak. Perlahan, tubuhnya merosot menatap sendu makam sang suami sambil terus bergumam bahwa semua ini tidak mungkin terjadi. Ezra menangis, tidak bisa menenangkan sang Ibu atau mencegah Kakaknya untuk berhenti bicara.


“Ini benar-benar makam Bapak, Buk! Ibuk harus percaya. Resa nggak bohong.”


“Ibuk kecewa sama Resa!”


Evani menamparnya.


Tepat di pipi kanan. Teresa mengerjap, air mata yang sempat berhenti mendadak kembali mengurai. Semakin deras. Mengelusi pipi kanannya Teresa mulai menatap kosong semua pandangan. Ini adalah kali pertama Evani menggunakan kekerasan untuk membungkam putrinya. Dalam sejenak saja suara tangis Teresa berbaur, menyatu dengan tangis sang Ibu yang kini tengah merasa bersalah.


Untung saja pemakaman dalam keadaan sepi. Bila tidak, semua akan mengusir mereka keluar sekarang juga.


“Ibuk nampar Resa?”


Evani mengalihkan pandangan.

__ADS_1


“Ibuk ingat ‘kan waktu kita masih tinggal di rumah lama? Bapak meninggal dengan banyak luka tembakan. Ibuk ingat kan?” Memilih mengabaikan panas di pipi, Teresa kembali meyakinkan Evani. Anggap saja angin lalu, Teresa tidak masalah walau dirinya akan mendapat seribu tamparan sekalipun karena ini.


“Waktu Ezra sama Ibuk nangis, dan aku pulang sekolah langsung masuk kamar. Ibuk yang bujuk aku supaya mau ke pemakaman Bapak untuk terakhir kali. Ibuk ingat ‘kan?”


Evani masih terdiam. Di luar dugaan, Ibunya lebih tidak memberontak seperti biasa. Hanya menunduk sambil menatap lurus batu nisan yang disentuhnya.


Tapi Teresa tahu jika Evani mendengarkan.


“Buk, jawab Resa, jangan diam aja.”


“Mbak, cukup! Jangan bikin Ibuk pusing dulu.” Ezra menyentak.


“Ezra nggak usah ikut campur, anak kecil jangan sok dewasa! Buk, Ibuk ingat ‘kan? Ingat juga ‘kan waktu kita pindah ke rumah yang sekarang karena Bapak udah nggak ada. Ingat ‘kan, Buk?” Nadanya mulai meninggi karena Ezra terus saja berusaha membekap mulutnya. Berulang kali, Teresa menepisnya kasar.


“Kalau Ibuk lupa, tolong ingat-ingat lagi. Resa mohon, Resa nggak mau Ibuk sakit lebih lama. Kalau kali ini Ibuk belum juga ingat, Resa nggak tahu lagi harus berbuat apa.” Bahkan sejak tadi hanya Teresa yang berbicara. Tidak ada yang lain. Ia gagal untuk membuat Ibunya mengingat semuanya.


Teresa terduduk. Mengajak bicara Ayahnya. “Bapak! Bilang sama Ibuk, Pak! Bilang! Kemarin Resa udah minta ‘kan buat jelasin semuanya.” Katanya.


“Mbak, udah. Jangan ribut di sini. Kasihan Bapak nggak bisa tenang.” Ezra. Bocah itu sudah mengacak rambutnya frustasi karena Teresa tidak mau mendengarnya.


“Pak! Ibuk susah Resa bilangin. Bilang sama Ibuk, kalau Bapak udah bahagia di sana. Nggak dipaksa bos buat bunuh orang lagi, nggak harus hidup dalam tekanan lagi. Bilang, Pak, biar Ibuk sadar!” Teresa mulai sesenggukan. Napasnya terengah akibat dadanya yang menyesak.


“Maksud, Mbak apa ngomong gitu? Bapak bunuh siapa?”


Teresa tidak menghiraukan ucapan Ezra, badannya kembali ia balikkan. Kali ini memeluk makam sang Ayah.


“Mbak, JAWAB!”


Teresa menarik napas. Ia sudah keceplosan dan lebih baik ia katakan saja sekalian. Sudah saatnya mereka tahu. Ezra juga sudah dewasa untuk bisa menyikapi semuanya. “Selama ini pekerjaan Bapak bukan pekerja Kantor, tapi pembunuh bayaran dari seorang bos besar. Bapak bunuh orang hampir tiap hari. Aku lihat orang tua Jasmine mati dalam sekejap. Sering lihat noda darah di baju bapak. Dijambak Bapak tiap hari karena aku nggak mau nurut."


"...Apa kamu tahu kalau badan Mbak selalu penuh luka memar setiap harinya?! Bapak selalu bilang mau ajak aku jalan-jalan dan kamu selalu iri dan musuhin Mbak, ‘kan?! Tapi kamu harus bersyukur karena Bapak bukan ajak aku jalan-jalan, tapi lihat dia bunuh orang di depan mataku karena Bapak nggak mau aku beberin rahasianya, puas!” Dadanya naik turun memikirkan apa yang ia ucapkan barusan.


Tamat. Sudah tamat semuanya. Semua sudah tahu, terbongkar di depan makam orang yang mereka bicarakan. Bramantyo pasti sangat kecewa padanya. Ia meminta maaf berkali-kali kepada sang Ayah walau dalam hati.


“Aku masih nggak ngerti.” Ezra paham, tapi pura-pura tidak memahami. Atau lebih tepatnya tidak mau memahami semuanya. Orang yang selama hidupnya selalu ia bangga-banggakan. Ia sanjung dan ia sayangi sepenuh hati ternyata seorang pembunuh bayaran yang keji?!


Jadi selama ini mereka memakai uang dari nyawa seseorang?! Ezra ingin muntah, bagaimana bisa Kakaknya kuat menghadapi semuanya tanpa keluhan sedikitpun. Ezra merengkuh tubuh Teresa. Menyalurkan cewek itu ketenangan.


“Mbak nggak minta kamu buat ngerti, tapi mikir! Mbak kena phobia juga karena masalah itu makanya Mbak selalu salahin Bapak soal apapun karena bapak memang nggak sepenuhnya benar.”


“Bapak juga nggak sepenuhnya salah dalam hal ini. Kamu benar, Bapak orang baik. Bapak melakukan pekerjaan kotor demi kita, biar kita nggak hidup kekurangan. Mbak yang bikin Bapak susah. Bapak siksa Mbak juga karena terpaksa, karena Mbak yang nggak ngertiin Bapak. Bapak selalu bilang akan segera keluar setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tapi Mbak yang selalu nyangkal dan marah sampai Bapak emosi.”


“Iya, Mbak. Maafin Ezra yang gagal jadi pemimpin keluarga. Bahkan Ezra nggak pernah cari tahu penyebab depresinya Mbak Resa selama ini. Aku minta maaf.”


Teresa menggeleng dalam dekapan Ezra.


“Resa,” Suara berat seorang wanita kini menginteruksinya.


Teresa berbalik, melepas pelukan mereka. Menatap Evani yang semula memeluk nisan Bramantyo pun kini telah berdiri tegap menghadapnya.

__ADS_1


“Maafkan Ibuk...”


__ADS_2