
Teresa berjalan santai memasuki kelasnya. Jam pelajaran baru akan dimulai lima belas menit lagi. Baru memasuki kelas, indra pendengarannya sudah menangkap banyak bisikan menggema. Bukan tentangnya, tapi si cowok pemilik sekolah. Siapa lagi kalau bukan Gantara. Apa cowok itu kembali membuat sensasi.
Katanya cowok itu memang suka membuat ulah, jadi Teresa mengabaikan cicauan ghibah teman-temannya. Paling-paling soal berantem atau sejenisnya, ia sampai hafal.
Ia mendudukkan dirinya dengan santai saat justru teman-temannya semakin heboh berkumpul. Teresa memilih mendengarkannya. Menguping maksudnya.
“Iya, gue nggak nyangka ternyata Dafa Adiknya Gantara. Beruntung banget tuh si Dafa masuk keluarga Harison. Gue dengar-dengar Papanya Gantara a.k.a Pak Harison itu selingkuh sama perempuan jalang, terus anaknya tuh si Dafa itu.” Teresa masih mendengarnya, siapa Dafa?
“Lo serius, Chel?” Mereka mulai bertanya, tidak banyak yang percaya dengan ucapan omong kosong yang Michelle katakan.
“Kapan sih gue bohong. Gini-gini gue juga takut dosa kali. Terus lo tahu kenapa si Dafa bisa tinggal sama keluarganya Gantara?” Belum ada yang menjawab, Michelle sudah terlebih dahulu melanjutkan. “Gara-gara Ibunya mati! Dafa langsung diasuh sama Mamanya Gantara. Katanya Mamanya Gantara juga udah anggap Dafa anaknya sendiri tapi si Dafanya aja yang ngelunjak. Sok punya harga diri tinggi sampai nggak mau ngakuin keberadaan mereka. Dafa emang sok banget, udah ditampung tapi masih aja belagu.”
Michelle memberi jeda. Teresa berdeham, berusaha tidak terlihat jika sedang menguping. “Terus katanya belum lama ini Gantara ngelabrak si Dafa, cuma minta si Dafa sopan sama nyokapnya tapi Dafa nggak mau. Sampai tonjok-tonjokan di belakang perpustakaan, gila nggak?”
Teresa tercekat. Siapa yang menyebarkan berita ini. Tonjok-tonjokan di belakang perpustakaan yang melibatkan dirinya saat itu. Gawat! Ia dalam bahaya!
Ia baru mengetahui kabarnya sekarang, tapi Gantara pasti akan mencarinya sebentar lagi.
Brakk!
Oh, sekarang!
Teresa meringis, menatap Gantara yang dengan penuh amarah mendekati bangkunya. Ia menggebrak meja membuat Teresa semakin merasa terintimidasi. Semua mendadak terdiam, hening sesaat namun kemudian berbisik-bisik memandangi keduanya.
“G-gantara, bu-bukan aku-,”
“Gue nggak minta lo ngomong!” Sergahnya membentak. “Kurang jelas omongan gue kemarin? Kurang jelas, hah?! Gue cuma minta lo tutup mulut, dan itu doang lo nggak bisa?!”
Teresa menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia berdiri, semakin mundur saat Gantara justru semakin mendekatinya dengan mata memerah. Dia sangat marah. “Gantara, please dengar penjelasanku dulu-,”
“Gue nggak butuh!” Gantara menangkup kedua pipi Teresa kasar membuat cewek itu merintih, merasakan kesakitan. “Jangan mentang-mentang lo cewek, gue bakalan dengan gampang lepasin lo! Lo salah, salah karena nggak mau dengar peringatan gue.” Gantara mendorong Teresa sampai menabrak meja. Punggungnya sakit, Teresa merintih. Bagaimana caranya membuat Gantara mengerti bahwa Teresa tidak tahu apa-apa. Bisik-bisik semakin terdengar jelas, sampai ada yang merekam keduanya. Semua pasti salah paham.
Belum sempat Teresa bernapas, Gantara menariknya kasar keluar kelas. Semua teman sekelas Teresa menatap penuh tanda tanya, tidak ada yang berusaha menyelamatkan nyawa Teresa walau hanya melalui pembelaan mulut.
“Gantara, ampun! Bu-bukan aku, bukan aku yang sebarin semuanya!” Teresa memohon, merintih. Bahkan seorang guru yang berpapasan dengan keduanya pun memilih pura-pura tidak melihat, takut melihat anak Harison itu marah. Dimana letak keadilan? Teresa sangat membutuhkannya sekarang.
Gantara menyeretnya ke tengah lapangan. Cowok mendorong Teresa kasar hingga ia jatuh terjerembab. Teresa mengaduh, sikut yang ia jadikan tumpu jatuh jadi berdarah.
“Semuanya harap ke lapangan! Sekarang!” Gantara berteriak, menginterupsi semua murid untuk mengerubungi keduanya. Keadaan semakin ramai, Teresa ingin menangis saja jika begini. “Kalian pasti udah dengar ‘kan gosip tentang gue yang semalam kesebar di grub sekolah. Itu semua cuma gosip, itu hoax. Jangan ada yang percaya apalagi nyebarin.”
Semua berbisik-bisik satu sama lain. “Dia yang sebarin,” Gantara menunjuk-nunjuk Teresa. “Dia yang udah bikin nama baik keluarga gue hancur. Nggak ada perselingkuhan, apalagi anak haram. Semuanya cuma rekayasa dia untuk dapat kepopuleran.” Jelasnya semakin lantang terdengar. Teresa menunduk, ia mulai terisak hebat. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia dipermalukan seperti ini di depan umum.
Gantara menarik kerahnya, membuat Teresa otomatis berdiri. “Lo tahu ‘kan dia cuma anak miskin? Gue yakin dia ngelakuin itu cuma buat popularitasnya doang karena selama ini dia selalu di pandang sebelah mata.” Gantara menatap Teresa lekat, dapat ia lihat Teresa menangis. Matanya terus mengeluarkan kristal bening membuat Gantara menghela napas jengah.
Gantara menarik napas sejenak. “Lo mau duit? Iya? Gue bisa kasih lo berapapun kalau waktu itu lo minta.”
__ADS_1
Teresa masih diam. Semuanya mulai menatapnya semakin rendah. Teresa habis, harga dirinya sudah habis mulai saat ini. “Kenapa lo diam? Ngomong! Butuh duit berapa lo, hah?”
“Aku nggak butuh!” katanya akhirnya bersuara.
“Masih nggak mau ngomong berapa?”
“Aku harus bilang berapa kali kalau aku nggak tahu sama sekali tentang masalah kamu.”
“Gue nggak mau dengar! Sekarang, gue minta lo buat sujud di kaki gue!” Teresa terbelalak. Gantara semakin tersenyum puas. “Atau satu-satunya penopang lo sekolah di sini bakalan gue cabut.”
Teresa menggeleng, tungkainya melemas seketika. Ia harus bagaimana? Tinggal satu semester lagi dan Teresa akan lulus, tapi kenapa masalah ini justru terjadi.
“Cepat!” Gantara memaksa Teresa duduk di depan kakinya. Teresa menurut pasrah. Sorak sorai semakin ramai terdengar.
“Minta maaf dan sujud di kaki gue atau beasiswa lo gue cabut sekarang juga! Atau bisa aja lo sebutin nominal yang lo mau, habis itu gue lepasin. Gampang ‘kan?”
Itu sama saja merendahkan harga dirinya. Teresa tidak mau itu terjadi.
Tidak ada pilihan lain, Teresa akan melakukannya. Ia bukan cewek bodoh yang mau-mau saja diperdaya seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya akan hancur jika Teresa menuruti egonya untuk pergi dari lapangan sekarang juga.
Ia mulai membungkuk, menangkupkan kedua tangannya. Memohon. “Aku minta maaf-,”
“Hentikan!” Suara bariton kasar terdengar keras, membuat seluruh siswa jadi menoleh. Banyak yang bertanya-tanya, siapa dia?
Aska. Siapa lagi.
“Lo...gila!” Tunjuknya pada Gantara. Gantara berdecak. Aska menarik paksa Teresa, lalu menyembunyikannya di belakang punggung. “Apa lo nggak punya hati bikin cewek malu di depan umum?”
“Lo nggak perlu ikut campur!”
“Jelas gue harus ikut campur, brengsek!”
Banyak yang bertanya-tanya apa hubungan antara Aska dan Teresa. Tentu saja Aska mendengar gerutuan itu, tapi ia memilih berbalik. Menghadap Teresa yang berusaha mati-matian menghentikan tangisnya. “Lo nggak ngelakuin itu ‘kan, Sa?” Aska bertanya. Menangkupkan kedua tangannya di pipi cewek itu. Teresa bergetar, ketakutan.
“Kamu juga nggak percaya sama aku?” Suaranya merintih. Teresa mulai menangis terisak-isak. Bahkan orang yang ditunggunya sejak tadi pun juga menuduhnya secara halus.
“Gue selalu percaya lo. Gue cuma mau mastiin aja.” Aska tersenyum tipis sebelum kembali berbalik menghadap Gantara. Sebelum itu, ia terlebih dahulu mengembuskan napas panjang karena ini akan menjadi skandal pertamanya selama ia bersekolah di Harison. Dengan anak pemilik Harison pula, Papanya pasti bangga. “Lo dengar ‘kan dia nggak ngelakuin itu?”
“Lo ke sini buat nemenin dia sujud di kaki gue? Nggak perlu, dia bisa sendiri!” Sorak sorai semakin riuh terdengar. Aska menggeram, mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya meninju pipi sebelah kiri Gantara. Gantara terhuyung, napasnya tersenggal-senggal. Ia memegangi pipinya, matanya melotot menatap Aska. “Lo berani sama gue?!”
Penonton mendadak hening. Mereka mulai berbisik-bisik.
“Sejak kapan gue takut sama lo?” Aska menaikkan sebelah alisnya. Teresa menarik-narik lengan Aska, memintanya mengalah tapi cowok itu sama sekali tidak mendengarkan.
“Gue cuma berurusan sama tuh cewek, bukan lo! Mending lo pergi, balik ke kelas sambil baca buku kayak biasanya.”
__ADS_1
“Aska pergi aja, aku nggak apa-apa.” Teresa melepas genggaman di lengan Aska, tapi cowok itu justru berbalik menggenggam tangannya. “Aska! Lepas!” Ucapnya meronta.
“Oke, gue pamit balik ke kelas.” Aska berkata pada Gantara, bersikap acuh tak acuh memilih berbalik keluar lapangan dengan tangan Teresa yang ia genggam kuat.
“TERESA EVANIA!! HABIS LO SAMA GUE!!!”
***
Siang harinya, semua benar-benar terjadi. Yang sejak tadi Teresa gelisahkan kini menjadi kenyataan. Bukan BK yang mengendusnya, tapi kepala sekolah, dengan pemilik Harison sekaligus. Teresa seperti tikus kecil di ruangan dingin ini. Semua menatap tajam ke arah Teresa, tak terkecuali si biang masalah dari semua ini. Gantara.
“Jadi, bagaimana kamu menjelaskan kejadian ini?” Pak kepsek kembali bertanya, entah sudah berapa kali pertanyaan itu keluar. Jawabannya pasti akan tetap sama walau Teresa ditanya seribu kali pun.
“Bukan saya yang menyebarkan berita itu.” Teresa menunduk, berkata lirih. Ingin menangis terisak tapi ia harus menjaga harga dirinya. Di sini ada lima orang yang menatap tajam Teresa, termasuk cowok yang ia yakini adik tiri Gantara yang bernama Dafa.
“Kamu jangan berbohong!” Wakil kepsek membentaknya. Teresa semakin ciut nyali. Jika biasanya para guru memandang hangat ke arah Teresa, maka lain dengan hari ini. Bahkan kepala sekolah pun tidak lagi menunjukkan sisi hangatnya hanya karena gosip yang jelas tidak benar.
“S-aya tidak berbohong, Pak! Bahkan sebelum berita ini menyebar saya tidak tahu masalah pribadi Bapak Harison sama sekali.” Sergahnya melakukan pembelaan.
“Sudah-sudah. Sepertinya gadis ini memang bukan pelakunya. Lagipula ini hanya masalah kecil, kenapa harus kita besar-besarkan.” Pak Harison menengahi. Teresa dapat bernapas lega. Sepertinya Pak Harison orang yang bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia jadi ragu Pak Harison berselingkuh selama ini.
“Pa! Beritanya bilang Papa selingkuh sama wanita jalang tapi Papa bilang masalah kecil?” Gantara menyanggah. Berbicara dengan nada sedikit tinggi.
“Siapa yang lo bilang wanita jalang?!!” Cowok yang semula diam itu mulai menyahut.
“Nyokap lo! Siapa lagi.” Jawab Gantara acuh.
Dafa menggeram kesal.
“Sudah-sudah, kenapa malah berantem! Dafa, Dewa, duduk!” Pak Harison berteriak. “Kamu juga Dewa, sudah berapa kali Papa bilang kalau Mama Dafa bukan wanita jalang seperti yang kamu sangka selama ini!”
Teresa mulai merasa pening, mereka malah bertengkar masalah pribadi. Disaksikan orang luar pula, sungguh keluarga yang hebat.
“Teresa, bisa kamu minta maaf dengan Gantara dan Dafa?” Pak kepsek bertanya padanya. Teresa berpikir cukup lama. Jika ia mengiyakan maka Teresa akan di cap sebagai tersangka. Tapi jika ia tidak mau, kedudukannya di sekolah ini akan terancam.
Teresa memejamkan mata, menarik napas sesaat. Meminta petunjuk kepada Tuhan sebelum akhirnya memilih mengangguk ragu.
Gantara menggebrak meja. “Nggak bisa! Gue nggak butuh maaf lo! Pa, aku mau beasiswa dia dicabut sekarang juga!”
“Dewa!” Pak Harison tersentak berdiri. “Jaga sikap kamu! Bukan perkara mudah mencabut beasiswa murid paling pintar di sekolah. Ini bukan hanya tentang pemilik sekolah tapi juga berhubungan dengan para donatur utama yang bersedia mengeluarkan banyak uang untuk sekolah ini. Beasiswa Teresa di tangan mereka, bukan di tangan Papa.”
“Aku nggak mau tahu! Buat aku, ini masalah besar.” Gantara berdiri, membuat semua menatap ke arahnya. Ia melanjutkan ucapannya. “Karena menyangkut kedudukan Mama di rumah kita.” Katanya lirih di akhir kata, sebelum keluar dari ruangan dengan bantingan pintu yang terdengar kencang.
Pak Harison menarik napas panjang. Hening sesaat, nampaknya Pak Harison sedang berpikir ucapan Gantara tadi. Teresa semakin was-was. “Dia benar, maafkan saya Teresa. Mungkin keputusan ini akan menyakiti hati kamu, karena merasa tidak diadili. Saya mohon maaf.”
Teresa tahu arah pembicaraan ini, ia harus menyanggah. “Maaf sebelumnya Pak Harison. Mungkin kalian lelah mendengar pembelaan saya, tapi demi Tuhan bukan saya yang menyebarkan berita miring itu. Saya sadar diri, Pak, jika saya memang bukan orang kaya, jadi mana mungkin saya macam-macam. Apalagi dengan anak Bapak.” Teresa melakukan pembelaan terakhir. Jika memang masih tidak ada yang percaya, ia mengalah. Mungkin memang garis hidupnya akan selalu seperti ini.
__ADS_1
“Maafkan kami Teresa, surat pencabutan beasiswa akan kami berikan besok.” Ucap Pak Harison finish sebelum mengikuti Gantara, keluar dari ruangan.
Teresa berhasil menjatuhkan air mata pertamanya.