Chameleon Boy

Chameleon Boy
Berpikir Menyaingi?!


__ADS_3

Keempat murid SMA Harison itu berjalan santai menyusuri koridor yang masih sepi. Bukan karena mereka berkuasa, seperti most wanted kebanyakan.


Tidak juga membusungkan dada karena merasa dirinya yang paling kaya dan bermartabat. Mereka bukan salah satu dari sekian banyak murid populer yang ada. Hanya murid biasa yang kebetulan mampir belajar di SMA Harison.


Hampir semua murid SMA Harison adalah anak orang terpandang. Saling memamerkan harta satu sama lain sudah terlalu biasa Aska dengar. Kadang Aska heran, memang apa yang bisa dibanggakan dari harta orang tua? Tanpa orang tua mereka tidak akan bisa apa-apa.


Ada satu cewek yang menurut Aska begitu tangguh. Ah, Aska jadi mengingat sesuatu. Ia harus menemui Bu Devi sekarang.


Aska menepuk pundak Darren. Darren mengernyit menoleh, lalu menaikkan alis.


“Kalian duluan aja, gue ada urusan!” Katanya.


Teman-temannya mengangguk tanpa bertanya.


Aska segera memutar langkahnya. Kembali menyusuri koridor yang tadi sudah ia lewati kemudian berbelok ke arah kanan menuju kantor guru. Aska berhenti di depan pintu bertuliskan 'Ruang guru'. Ia menarik napas sebelum masuk dan menyusuri setiap ruangan. Mencari ruangan milik guru Kimia cantik itu.


Aska mengetuk. Sebenarnya ia tidak yakin kalau Bu Devi sudah ada di ruangannya. Tapi apa salahnya mencoba?!


Tidak ada sahutan. Aska memberanikan diri membuka pintu. Ia intip sekilas ruangan di balik pintu sebelum masuk.


Bu Devi ada di dalam.


“Permisi, Bu.” Sapanya ragu.


Bu Devi yang sedang fokus mengerjakan sesuatu pun menoleh. Lalu mengernyit.


“Aska?”


Aska mengangguk kemudian duduk tanpa diminta.


“Ada apa?” Bu Devi kembali bertanya.


“Saya ingin tanya-tanya tentang lomba yang kemarin anak cewek itu bilang.” Aska lupa nama cewek pendek yang kemarin!


“Teresa?”


Aska ingat. “Iya! Itu jenis lomba seperti apa ya, Bu? Kenapa Teresa terus menyebut partner?” Aska penasaran. Teresa tidak menjelaskan maksud lomba berpartner itu seperti apa hingga membuatnya bingung untuk setuju atau tidak.


“Oh. Lombanya memang berpasangan. Nanti kamu yang prakter, Teresa yang mengerjakan teori. Sekitar sebulan lagi. Kalau kamu mau, bisa mulai bimbingan lusa.”


Aska mengangguk mendengarkan.


“Kamu setuju?” Bu Devi balik bertanya.


“Tergantung,”


Bu Devi tersenyum. “Mau ya? Buat Teresa menang!”


Aska justru mengernyit. Kenapa ucapan Bu Devi barusan seperti mendukung Teresa, bukan sekolah. Seakan Teresa harus menang bagaimanapun caranya. Ada apa? Sekolah menuntut apa padanya?


“Buat Sekolah ini menang maksudnya?”


“Iya. Itu juga.”


“Tapi saya belum pernah ikut lomba sebelumnya,”


“Nanti saya latih, saya bimbing biar menang!”


Aska mengangguk.


Bu Devi memperhatikan Aska sebentar. “Kenapa kamu mau?” Tanyanya kemudian. Terlihat penasaran.


Hal yang cukup mengherankan memang Aska mendadak mau mengikuti lomba. Ini bukan kali pertama Aska ditawari, tapi selalu menolak dengan alasan yang sama.


Ribet!


Dan sekarang justru ia yang bertanya tanpa dipaksa?!


Aska berpikir. Tidak ada alasan khusus ia mau keluar dari zona nyamannya selama ini. “Cuma pingin mencoba.”

__ADS_1


“Jangan 'cuma'. Bantu Teresa, ya?! Bekerja sama yang baik sama dia! Jangan bikin Teresa susah!”


“Kenapa dari tadi yang saya tangkap kayak lomba ini didedikasikan buat Teresa? Kenapa Teresa? Lomba harusnya didedikasikan untuk sekolah!” Aska nampak protes. Telinganya terasa pengang saat seakan cewek bernama Teresa itu sangat dispesialkan. Memangnya dia anak pejabat mana sampai sespesial itu.


Tunggu, kalau dia anak pejabat, lalu kenapa cewek itu jadi pelayan?!


Cewek itu benar-benar membingungkan.


“Jelas dispesialkan! Teresa memang yang paling spesial.”


Aska mengernyit tidak mengerti.


Bu Devi tersenyum melihat kebingungan Aska. “Jarang sekali ada anak setangguh Teresa. Dia anak yang luar biasa!”


Sebentar! Sebentar! Teresa? Semakin lama disebut, nama itu semakin terdengar tidak asing di telinganya. Tapi siapa?


Atau dia anak salah satu donatur? Tapi donatur yang mana?!


Aska mengetahui semua nama donatur sekolah ini karena Papanya adalah salah satu diantaranya. Tapi untuk anak mereka, tidak penting untuk diingat.


“Tidak perlu mengingat-ingat! Tidak akan ketemu jika yang kamu ingat-ingat nama anak-anak donatur di sekolah ini.” Tepat sasaran! Aska merasa tersentil.


“Selalu pararel satu setiap tahunnya. Berusaha kamu kalahkan tapi tidak pernah berhasil!” Bu Devi mulai memberi petunjuk.


Aska langsung ingat.


Jadi dia orangnya...


“Teresa Evania? Dia Teresa Evania?!!” Sungguh sulit dipercaya.


Orang yang hampir dua tahun ini menjadi saingan beratnya meraih pararel satu. Aska selalu tersingkir di nomor dua jika bersaing dengan cewek bernama Teresa Evania. Dan baru sekarang Aska tahu. Ternyata Teresa orangnya yang itu.


Teresa. Si anak emas sekolah. Selalu menyumbangkan piala di berbagai lomba. Bahkan kepala sekolah selalu menyanjungnya.


Aska hampir iri dengannya selama ini. Papanya kerap kali membandingkannya dengan si cewek serba bisa. Setiap ada perkumpulan donatur sekolah, nama Teresa selalu disinggung. Anak itu, kenapa bukan Aska saja yang ada di posisinya.


“Jangan perpikir menyaingi Teresa, karena kamu nggak akan bisa!”


***


Istirahat pertama baru saja berbunyi, tapi Darren sudah seperti cacing kepanasan ingin mengajak Aska ke kantin.


Aska tidak bergeming. Tangannya tetap santai mencatat semua materi yang ada di papan tulis.


“Bos! Ayo! Lo mau gue mati di tempat?!” Darren kembali memaksa. Padahal masih ada Keno dan Senka. Kenapa Darren justru memaksanya. Sepertinya Darren sudah menjadikannya salah satu aksen yang penting dan wajib.


Aska berdecak. Merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas kemudian bangkit berdiri.


Berjalan ke kafetaria di ikuti ketiga temannya.


“Ka, tadi pagi lo kemana?” Senka tiba-tiba menceletuk. Berjalan beriringan, menyamai langkah lebar Aska. Cowok itu terlihat kesusahan sampai sedikit berlari. Senka adalah teman Aska yang paling pendek. Walau begitu, bila tidak ada Senka. Tidak ada yang bisa mereka bully.


“Ada lah.”


“Lama banget perasaan. Lo ada apa-apa ya sama Bu Devi?” Senka menatap penuh curiga. Mulai su'udzon. “Lo jangan jadi orang ketiga dong, Ka! Keno 'kan udah duluan!” Senka mulai mendramatisir.


Keno yang merasa terpanggil segera mendongak. Melepaskan pandangannya dari ponsel. “Sembarangan lo!”


“Toyor aja, No! Toyor!” Darren mengompori. Keno justru acuh, kembali menatap ponsel. Tidak menghiraukan Darren yang tengah mengumpatinya dengan segala sumpah serapah.


Bermain game! Kenapa kehidupan Keno dipenuhi dengan permainan tidak berguna itu? Aska mulai menatap Keno heran.


“Kak Keno nggak jadi toyor adek?” Senka menawarkan. Matanya juga mengerling-ngerling jahil seperti anak kecil.


Ketiganya mendadak mual. Namun tak urung juga tertawa, termasuk Aska. Tidak begitu menyadari bahwa tawanya mengundang minat seluruh murid SMA Harison di sepanjang koridor.


Aska yang menyadari itu pun langsung mengatupkan bibir. Kembali berjalan santai seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian, karena itu akan merepotkannya suatu saat. Itu sebabnya ia tidak pernah menonjolkan diri di sekolah. Ia menganggap itu tidak ada gunanya.


Menyadari jalannya semakin cepat, ketiga temannya jadi sedikit berlari. Menyamai langkahnya.

__ADS_1


“Lo kenapa, sih, bos! Jangan mentang-mentang kaki lo lebar terus bisa ninggalin seenak jidat!” Darren nampak protes di sampingnya.


“Biarin aja, Ren. Aska kebelet boker.” Senka tertawa dengan ucapannya sendiri. Entah apa yang lucu. Abaikan saja.


Darren menyadari satu hal. Aska mulai merasa tidak nyaman.


Darren ikut mengatupkan bibir dan berjalan cepat memasuki kafetaria. Memilihkan tempat duduk paling pojok untuk teman-temannya.


Aska mengikuti. Kemudian duduk dengan santai.


Selesai memesan, Darren mulai bertanya. “Lo beneran menutup diri ya, bos? Takut banget jadi pusat perhatian.” Yang lain mengiyakan.


“Bukan takut, tapi males.” Jawabnya santai. Memang apa pentingnya terlihat menonjol? Yang ia lihat, terlalu menonjol di sekolah tidak membuahkan hasil apapun.


Contohnya saja si ‘Most Wanted’nya SMA Harison. Gantara. Anak pemilik sekolah.


Dia populer. Ceweknya nempel sana sini. Tapi apa dia bahagia? Wajahnya tidak pernah menampakkan senyum sekalipun.


Pararelnya juga selalu urutan hampir akhir. Apa yang bisa dibanggakan. Tidak ada.


“Oh iya, Ka. Gimana sama cewek yang kemarin? Lo jadi bantuin dia?”


Aska mengangguk.


Pesanan mereka pun sampai. Aska menerima bakso pesanannya sambil tersenyum ramah.


“Siapa namanya? Gue lupa,” Senka bertanya sambil meraih sambal di depannya. Menyendoknya sampai tiga kali kemudian mengaduknya agar sambal itu merata dengan bakso yang ia pesan.


“Teresa,”


“Gue baru tahu ternyata cewek itu anak beasiswa.” Darren berkata tanpa memandang objek yang di ajak bicara. Matanya fokus menatap nasi goreng pesanannya, menimbang-nimbang, harus dari manakah ia makan. Darren memang selalu ribet.


Aska mengernyit, memelankan kunyahan. Baru tahu ternyata si pararel satu hanya salah satu murid hasil belas kasihan para donatur. Kenapa selama ini ia tidak pernah tahu?!


“Serius lo?” Senka terkaget tidak percaya. Wajahnya memerah karena kepedasan.


Darren mengangguk santai.


Jangan tanya Keno, dia masih ada. Sibuk memakan burger pesanannya. Cowok itu terlalu vegetarian sampai-sampai ia tidak sadar kalau dirinya terlalu kurus.


Tipe cowok irit bicara, tidak sedikitpun berniat ikut nimbrung. Keno memang Aska versi akut. Pendiamnya tidak ada yang bisa menandingi.


Semua makan dalam diam. Aska masih berpikir, kehidupan cewek itu sepertinya tidak semudah dia. Buktinya, padahal cewek itu penerima beasiswa berturut-turut setiap tahun, tapi masih saja menjadi pelayan.


Aska jadi merasa prihatin.


Selesai makan, Aska langsung bangkit. Ingin membayar.


Jangan lupakan janjinya dengan Darren untuk mentraktirnya satu tahun. Darren benar-benar memanfaatkannya habis-habisan.


Aska mengantri. Kafetaria cukup ramai hingga menguji kesabarannya. Antriannya panjang sekali, apalagi kebanyakan cewek. Aska merasa ciut mental. Ia sedikit memundurkan tubuhnya saat cewek di depannya ingin berbalik pergi. Sepertinya tidak sabar menunggu antrian.


Terdengar barang jatuh di belakangnya. Aska reflek berbalik. Mengambil air mineral jatuh itu, lalu menyodorkannya.


“Makasih.” Aska mengangguk samar.


Cewek pendek itu mendongak menatapnya. Aska sedikit terkejut. Teresa? Sepertinya ia sama terkejutnya. Buktinya air mineral itu sampai kembali terjatuh sampai terlihat penyok di ujungnya.


Teresa langsung berbungkuk mengambil.


“Ganti minum yang baru aja,” Aska menawari. Merasa bersalah karena minuman yang Teresa pegang jadi tidak berbentuk karena kesalahannya.


Teresa terlihat menggeleng cepat. “Ng-nggak perlu. Air mineral walaupun jatuh seribu kali juga nggak akan berubah jadi sianida.” Katanya menunduk dalam.


Aska mengernyit aneh. Memangnya Aska bilang kalau air itu sudah berubah jadi racun karena terjatuh?! Padahal ia hanya menawari minuman yang lebih layak.


Teresa berjalan cepat tanpa memandang Aska lagi. Tampak memotong antrian beberapa anak. Terdengar protesan cukup nyaring saat Teresa menyenggolnya, tapi Teresa terlihat tidak peduli.


Aska masih diam mengamati dari tempatnya. Menatap punggung Teresa yang berjalan semakin menjauh keluar kafetaria.

__ADS_1


Kenapa cewek itu terlihat takut padanya?


__ADS_2