Chameleon Boy

Chameleon Boy
Perkara Baru


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir baru saja selesai lima menit lalu. Seperti biasa, menunggu kelas sepi, Teresa baru keluar kelasnya. Setelah itu ikut melakukan bimbingan bersama Aska.


Memilih menyalakan ponsel yang sejak pagi ia matikan, kemudian mendial nomor seseorang. Mengatakan bahwa ia akan telat berangkat kerja. Lagi. Lama-lama Teresa menjadi tidak enak dengan Andre. Ia pekerja di sana, tapi justru datang pergi seenaknya.


Nanti, Teresa akan coba menanyakannya kepada Andre tentang masalah ini.


Dirasa sekolah mulai terlihat sepi, Teresa keluar. Berjalan santai menuju perpustakaan. Ia akan melakukan bimbingan keduanya di sana.


Ralat. Bimbingan pertama, mengingat beberapa waktu sebelumnya, bimbingan tersebut berakhir kacau.


Sudah ada Aska. Sedang duduk santai membaca buku.


Teresa berdeham. Kemudian duduk di sampingnya dengan canggung. Tidak ada reaksi apapun dari Aska, tetap santai tanpa terganggu sedikitpun.


Teresa mulai mencoba mengajak bicara. “Udah lama?” Tanyanya.


“Udah.”


Teresa mangut-mangut. “Bu Devi belum datang?”


“Belum.”


Teresa berkedip. Aska mendadak kembali dingin seperti biasa. Ada apa dengan cowok ini sebenarnya? Kadang dia terlihat begitu dingin, tapi terkadang mendadak begitu hangat. Sikapnya benar-benar sulit untuk ditebak.


Membuat Teresa menjadi...penasaran?


Teresa sekarang ingin mengetahui kehidupan cowok itu. Apa di rumah ia juga bersikap sama acuhnya, atau justru hangat mengundang tawa?


“Ayo, kita mulai bimbingannya sekarang.” Teresa terkesiap. Bu Devi sudah duduk tepat di depannya. Membuka buku, menjelaskan bagian-bagian yang tidak Aska mengerti sedangkan Teresa lebih banyak diam mendengarkan.


Hingga hampir satu jam dilalui tanpa hambatan.


Kantung kemihnya mendadak terasa penuh. Teresa ingin pergi ke kamar mandi.


“Bu, boleh izin ke kamar mandi sebentar?” Tanyanya membuat Aska akhirnya merasa terusik.


“Silakan.”


Teresa mengangguk kemudian bangkit berdiri. Berjalan menuju kamar mandi terdekat dengan sedikit berlari.


Merasa acuh saat melihat beberapa cewek bergerombol terlihat menunjuk-nunjuk ke arahnya. Setelah selesai. Teresa keluar. Ia harus cepat-cepat kembali sebelum tertinggal banyak materi.


Tapi seseorang terlihat menghadangnya.


“Yang ini, Mel, orangnya?” Kata salah satunya. Teresa mengernyit. Kenapa cewek-cewek tadi justru menghadangnya.


Yang di sebut 'Mel' tadi terlihat mengangguk.


“Oh, jadi ini cewek yang bikin gue putus sama kak Gantara.” Katanya sedikit berteriak.


Teresa semakin mengernyit. “Maaf, ada apa ya...dek?” Tanyanya berusaha sabar. Logo seragamnya saja masih terlihat satu tahun dibawahnya, tapi tindakannya sangat tidak beradab dengan kakak kelas yang jelas lebih tua darinya.


“Nggak usah pura-pura nggak tahu lo, kak!”


“Aku emang benar-benar nggak tahu. Kalian tiba-tiba hadang aku terus ngomong sesuatu yang nggak sopan.”


“Munafik lo, kak! Gue nggak habis pikir kak Gantara putusin gue demi cewek jelek kayak lo.”


Masalah apa lagi ini????


Sekarang ia di tuduh perusak hubungan orang lain, sedangkan Teresa lagi-lagi tidak tahu apa-apa!


Kenapa akhir-akhir ini nama Gantara seolah menjadi bencana.


“Tolong yang sopan, ya! Aku nggak kenal siapa itu Gantara. Dan aku nggak ada hubungannya sama kandasnya hubungan kalian.” Katanya masih berusaha sabar.


Ia ingin melanjutkan jalannya, tapi cewek itu justru mencekal lengannya kasar. “Jangan kabur dulu, kak! Gue nggak mau tahu pokoknya kak Gantara harus balikan sama gue, enak aja dia main putusin orang sembarangan apalagi demi cewek kayak gini.”


“Bisa dijelasin dulu duduk perkaranya?” Teresa mulai naik pitam. Adik kelasnya ini sudah terlalu banyak mengoceh.


Teresa memang penakut. Tapi ia tidak akan pernah takut jika ada orang yang melakukan penindasan dengannya atas dasar bukti yang tidak jelas. “Kenapa bisa menuduh aku sampai kayak gitu.”


“Teman gue waktu itu lihat lo sama kak Gantara mojok di belakang perpustakaan. Kelihatan mesra banget.” Mesra? Kapan? “Dan habis itu kak Gantara langsung putusin gue tanpa sebab. Gue yakin lo pasti ngomong sesuatu yang bikin kak Gantara putusin gue kan? Ngasih apa lo sampai kak Gantara putusin gue?!”


“Ada bukti?” Tidak ada yang menyahut, mereka malah melihat satu sama lain. “Enggak ‘kan! Kalaupun Gantara putusin kamu, itu berarti memang kamu udah nggak pantas untuk diperjuangkan.”


“Ngomong apa lo, kak!” Cewek itu langsung mendorong Teresa. Tubuhnya oleng, kemudian jatuh. Teresa ingin bangkit tapi cewek itu justru menginjak telapak tangannya.


Apa bocah ini tidak pernah di ajarkan tata krama?!


Teresa meringis, merasakan batu-batu kecil mulai menembus kulitnya. Ia mengaduh, meminta di lepaskan. Cewek ini benar-benar gila.


Ketiga teman yang mengikutinya tersentak kaget. “Nda, kayaknya lo udah keterlaluan.” Kata salah satunya sambil sedikit menarik cewek itu.

__ADS_1


“Biarin! Biar dia ngerasain apa yang gue rasain waktu diputusin kak Gantara.” Ketiga langsung diam. Tidak ada yang berani mencegah.


Baru kali ini ia merasakan pembullyan secara nyata. Biasanya hanya kalimat-kalimat kasar yang memenuhi gendang telinga. Cewek menarik kakinya setelah puas.


Teresa melihat tangannya, berdarah, banyak kerikil-kerikil kecil menyangkut berbaur dengan darah. Ia hampir menangis melihat keadaan tangan kanannya. Tapi Teresa tidak boleh terlihat lemah. Ia harus terlihat kuat agar cewek-cewek itu jengah.


“U-udah?” Tanya Teresa terbata. Masih menahan perih.


Cewek itu menautkan alisnya. “Sakit ‘kan, kak! Itu yang gue rasain sekarang.”


“Sama sekali nggak sakit, kok.” Teresa berusaha tersenyum walau air mata pertamanya justru kian menetes. Kenapa kehidupannya seperih ini. Apa Teresa tidak boleh sekali saja merasakan kebahagiaan.


Cewek itu mencondongkan badannya. Ingin meraih rambut Teresa. Tapi Teresa segera menepisnya kasar menggunakan tangan kiri. “Jangan sentuh rambutku!”


Cewek itu terlihat tersentak, kemudian marah. Tangannya kembali terulur menjambak rambut Teresa semakin bringas.


“Lep-as!” Teresa mengaduh.


Kepalanya mendadak serasa diputar-putar. Badannya menggigil hebat. Jambakan ini? Kenapa rasanya sama persis seperti dulu? Kenapa Teresa harus mendapat perlakuan ini lagi setelah sekian lama?


Bahkan ketika rambutnya sudah ia pangkas pendek. Masih ada saja orang yang mencoba menyakitinya.


***


Aska terus menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah. Matanya tidak bisa berhenti melihat pintu tidak jauh di depannya. Kenapa cewek itu lama sekali. Apa dia buang air di Antariksa?!


Aska tidak khawatir. Hanya saja, ia benci melihat orang yang tidak menghargai waktu yang ada. Bagaimana mereka bisa menang jika cewek itu keluyuran seenak hati.


Merasa tidak tahan lagi, ia mengangkat tangannya, membuat bu Devi yang sedang menerangkan materi jadi mendongak. “Saya izin ke kamar mandi, Bu.”


“Kamu mendadak kebelet juga?” Aska mengangguk. “Ya sudah. Bimbingan sampai sini dulu saja. Nanti kalau saya paksakan kamu bisa pingsan.” Katanya sambil membereskan buku.


Aska mengangguk, mulai membereskan buku-bukunya juga.


“Sana susul Teresa!”


“Saya beneran kebelet, Bu!”


Bu Devi tersenyum mencurigakan. “Iya, kebelet!”


Aska mengangguk mengiyakan, kemudian berdiri menenteng tasnya.


“Kebelet pingin ketemu Teresa, ‘kan?” Bu Devi menyeringai.


Aska menggertakkan gigi. “Saya permisi duluan!” Aska berjalan cepat. Berusaha tidak menanggapi bu Devi yang mulai senang menggodanya.


“Tasnya Teresa nggak sekalian dibawa?”


Aska berbalik. Merutuki dirinya sendiri. Menahan rona merah yang mendadak menghiasi wajahnya. Ia sangat malu.


Seharusnya ia tetap melanjutkan jalannya saja!


Memunguti buku Teresa dan memasukkannya asal kedalam tas. Bu Devi sudah keluar terlebih dahulu sambil tertawa renyah.


Kenapa cewek itu selalu menyusahkannya. Apa cewek itu pulang duluan karena tidak kuat mendapat bimbingan? Katanya pararel satu tapi bimbingan satu jam saja sudah menyerah.


Aska berjalan cepat menuju kamar mandi terdekat. Tidak ada.


Teresa tidak ada di dalam.


“Sial!”


Aska mengumpat. Ingin membuang tas yang ia bawa tapi tangannya terhenti. Ada beberapa cewek bergerombol tidak jauh di depannya.


Bukankah ini sudah menjelang sore, kenapa mereka belum pulang.


Ingin berbalik pergi tapi Aska seperti mengenal salah satunya. Sepertinya yang sedang berjongkok itu Amanda, tetangganya.


Apa Amanda melakukan pembullyan lagi? Aska terlihat penasaran. Ia mendekat.


“Berhenti!” Teriaknya.


Keempat cewek tersebut terlihat terkejut. Wajah Amanda menjadi pucat pasi. Amanda langsung melepas tangannya dari rambut Teresa yang masih menangis sesenggukan, kemudian menginterupsi teman-temannya untuk pergi.


Aska mendekat. Berjongkok menghadap Teresa. “Kalau ada yang nggak adil sama lo itu dilawan! Jangan diam sambil nangis kayak gini!” Aska langsung mengeluarkan protesannya, mengabaikan Teresa yang menangis sambil memegangi kepala dengan tangan kiri.


Aska mendengus.


Kemudian membelai rambut Teresa. Teresa langsung menepisnya kasar. “Jangan sentuh!” Teriaknya sambil merangkak mundur. Seakan takut bila Aska akan menyakitinya.


“Are you okay?” Tanya cowok itu mulai khawatir. Teresa malah menutupi wajahnya dengan tangan. “Sini gue lihat kepala lo, takut ada yang luka.”


“Jangan!” Teriaknya kembali menangis. Bahkan tangisnya jauh lebih keras dibanding tadi.

__ADS_1


Semakin Aska perhatikan, Teresa terlihat seperti orang depresi.


“Oke,” Aska mengangkat kedua tangannya, lalu mundur beberapa langkah. “Sekarang bangun, lo kelihatan semakin menyedihkan kalau kayak gitu.”


Perlahan, Teresa mendongak. Memperlihatkan wajah kacaunya. Mata sembab, hidung merah pekat, pipi...berlumur darah!


Aska langsung meraih tangan kanan Teresa. Teresa nampak terkejut.


“Tangan lo, kita ke rumah sakit sekarang!”


***


“Jangan dipaksain buat kerja dulu, Sa!” Andre kembali mengomel setelah Teresa memecahkan gelas keduanya.


Tangan kanannya yang masih terasa perih sehingga sangat sulit saat harus memegang gelas berisi kopi panas.


Sebenarnya Andre sudah melarangnya bekerja saat melihat Teresa turun dari mobil Aska dengan tangan berbalut perban tebal.


Teresa saja yang menyangkal. Alhasil tangannya justru merugikan Andre untuk kedua kalinya.


“Potong gaji aku aja, Mas! Aku udah buat dua kekacauan.”


Andre mengangguk singkat, kemudian meninggalkan Teresa yang masih membersihkan pecahan gelas. Walau begitu Teresa tahu Andre tidak sungguh-sungguh akan memotong gajinya. Ia hanya mengangguk agar


Teresa merasa lega.


Teresa perhatikan Andre terlihat berbeda hari ini. Tidak ramah seperti biasa. Sore ini rasanya Andre terlihat lebih murung, datar, dan sedikit judes.


Teresa ingin bertanya, tapi rasanya sedikit sungkan. Teresa sebelumnya tidak pernah bertanya tentang urusan pribadi Andre, kecuali jika Andre yang menceritakannya sendiri.


Perbedaan usia mereka yang terpaut cukup jauh kadang membuat Teresa merasa bahwa dirinya tidak boleh terlalu ikut campur urusan orang dewasa.


“Biar gue aja!” Suara seorang cowok yang amat Teresa kenal berhasil menginterupsinya.


Cowok itu membungkuk, sedikit mendorong Teresa agar menjaga jarak, menjauh dari pecahan gelas. Aska langsung membereskannya dengan cepat kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah khusus.


Teresa diam. Membiarkan Aska menggantikan pekerjaannya. “Kok bisa masuk?” Tanyanya setelah Aska berdiri tepat di hadapannya.


“Lo pikir penjagaan cafe ini seketat hotel bintang lima sampai gue masuk dapur aja nggak bisa.” Aska menyeringai.


“Mau apa? Kalau mau pesan silakan tunggu di depan, nanti aku ke sana.”


“Gue udah bilang ‘kan tadi kalau lo nggak boleh kerja sampai tangan lo sembuh, kenapa susah sih diaturnya!”


Teresa mengernyit, Aska bawel sekali. Padahal dokter saja tidak menyuruhnya macam-macam.


Memang tadi Aska yang membawanya ke dokter sekaligus membayar biaya perawatan. Teresa sudah mengatakan tidak perlu tapi Aska terlalu memaksa. Sebenarnya Aska juga memaksanya untuk istirahat di rumah saja, tapi Teresa tetap teguh pada pendiriannya.


“Memang kamu siapa sampai harus atur hidup aku kayak gitu?”


Aska tersentak, ekspresinya langsung berubah datar. “Dokter yang atur lo, bukan gue! Sebagai orang yang antar lo ke dokter gue merasa punya tanggungjawab buat ngingetin lo.”


“Makasih udah mau peduli, tapi aku harus tetap kerja. Kamu bisa keluar sekarang? Aku nggak akan kenapa-napa. Silakan pulang aja kalau nggak pesan-,”


“Wait, wait, wait,” Aska memotong ucapan Teresa. “Gue ke sini buat ngopi asal lo tahu, nggak cuma buat lihatin lo!”


“Siapa yang bilang buat lihatin aku?”


“Perkataan lo tadi cukup bikin gue kelihatan sebagai seorang penguntit.”


“Aku cuma suruh Aska pulang,”


“Gue bakal bilangin bos lo kalau lo ngusir pelanggan yang mau pesan kopi!” Aska mulai mengancam.


Teresa hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Aska datar. “Aku nggak berniat ngusir sama sekali, cuma mau sadarin Aska supaya yang buang-buang waktu.”


“Jadi lo pikir ngopi itu buang-buang waktu? Terus gue harus ngelakuin apa biar waktu gue nggak terbuang sia-sia? Belajar? Bimbel? Itu aja terus sampai mampus!”


“Terserah! Yang penting jangan di sini!”


“Emang ada larangan Aska Fernando Pratama nggak boleh ke sini?”


“Kalau untuk makan atau ngopi boleh,”


“Lah! Siapa yang bilang gue mau renang?” Aska menaikkan sebelah alisnya.


Teresa menggertakkan gigi. Untung cafe tidak terlalu ramai. Jika iya, habis Teresa dimarahi oleh Andre. “Kamu tahu nggak, kamu kelihatan beda banget dari pertama kali aku lihat kamu di depan kelas. Dulu kamu kelihatan pendiam, cuek, dingin,” Teresa memberi jeda.


“Tapi setelah bareng kamu beberapa kali aku mulai bisa lihat sisi lain dari kamu. Kamu galak, kadang juga mendadak perhatian, tapi bisa tiba-tiba dingin lagi. Aku nggak tahu alasan kamu memilih untuk enggak menjadi diri kamu sendiri, tapi aku yakin itu yang terbaik buat kamu.”


“Lo juga, kelihatan pendiam tapi ternyata cerewet dan suka sok tahu sama kehidupan orang.”


“Aku nggak sok tahu tapi emang tahu!” Aska tersenyum meremehkan.

__ADS_1


Teresa merapatkan bibir. Entah kenapa tapi ia merasa nyaman bisa berdebat dengan Aska. Perdebatan kali ini justru membuatnya merasa...senang.


“Teresa!!! Mau kerja apa ngobrol?!!” Suara berat Andre mampu membuatnya menegang seketika.


__ADS_2