Chameleon Boy

Chameleon Boy
Rumah


__ADS_3

Perlahan, Teresa membuka mata. Merasakan siluet cahaya pagi mulai membakar sebelah pipinya. Mengerjap sejenak, lalu beranjak untuk duduk. Tersenyum beberapa detik seperti yang ia lakukan setiap harinya, sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan bertemu orang-orang yang ia sayangi.


Kepalanya mendadak berdenyut-denyut, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening.


Ia terkesiap, mengingat sesuatu. Kemudian menatap sekeliling dengan pandangan menyelidik. Menatap kasur, kemudian jendela, kemudian kasur lagi.


Kasur king-size empuk, sofa mewah berwarna gelap juga bertengger di samping jendela, ada karpet yang entah harus disebut bagaimana, yang jelas karpet itu pasti berharga sangat mahal. Ini jelas bukan kamarnya!


Kamarnya sempitnya bahkan hanya berisi kasur dan almari berukuran kecil dengan satu kaca yang membuat Teresa selalu mengingat derajat sosialnya.


Semalam, Teresa merasa berada di acara pesta Dini sebelum ia merasa kesepian kemudian meminum air putih yang aneh. Setelah itu, Teresa lupa.


Dimana ia sekarang?!


Kepalanya kembali berdenyut nyeri. Takut. Teresa langsung menatap pakaiannya. Rasanya ingin menangis saja saat melihat dress yang ia kenakan semalam pun sudah berganti dengan baju tidur.


“Sudah bangun ternyata.” Teresa menoleh, mendapati seorang wanita dewasa membuka pintu kamar sambil berjalan menghampirinya. Teresa terkesiap, meneguk ludah yang kini menyangkut di ujung tenggorokan. Rasanya seperti menelan biji salak. Sesaat, Teresa menilai penampilan wanita itu dari ujung kepala hingga kaki. Gayanya terlalu nyentrik.


“Masih pusing?” Wanita itu kembali berbicara.


“A-anda siapa?” Gumamnya. Matanya tidak bisa berhenti menatap wanita itu dari ujung kaki hingga kepala. Bibirnya terus merapal doa, tubuhnya juga mendadak panas dingin tak terkendali. Instingnya mengatakan bahwa wanita yang tengah berdiri di hadapannya ini adalah orang jahat.


“Saya?” Wanita itu menautkan alis coklat yang Teresa yakini telah dipolesi dengan produk make up salah satu brand ternama. “Penculik.”


Teresa membelalak. Sudah Teresa duga, ia dalam bahaya! Apa yang harus ia lakukan sekarang.


“Jangan lari kamu!” Wanita itu reflek menghampiri saat tanpa sadar Teresa merangkak memundurkan badannya.


“Ta-tante siapa sebenarnya?” Teresa meraih selimut, menutupi hampir seluruh badannya sambil beringsut di pojokan kasur.


Wanita itu tertawa. “Sudah saya bilang ‘kan kalau saya ini penculik.” Wanita itu semakin mendekat, menyingkap selimut yang Teresa pakai, memperlihatkan wajah ketakutan Teresa yang terlihat jelas.


Teresa menggeleng-geleng, semakin ketakutan. Matanya juga nyaris mengeluarkan cairan bening. “S-saya nggak pernah tahu, ada penculik yang mengakui dirinya sebagai penculik.” Wanita itu melotot, Teresa semakin merasa terintimidasi. “Eh, tapi saya percaya kok. Ja-jangan apa-apain saya, saya bukan anak orang kaya.”


Wanita itu tertawa menggelegar. Polos sekali bocah ini, katanya dalam hati.


“Kamu ini, bikin saya gemas!” Wanita itu mencubit pipi Teresa. Teresa mengerjap, perlahan mengangkat wajahnya sambil menghapus air mata yang baru keluar setetes.


“Gimana, Ma?” Suara seorang cowok berhasil menginterupsi Teresa. Mengembalikannya dari alam bawah sadar. Cowok itu tengah berdiri di ambang pintu. Menyenderkan punggungnya pada salah satu pilar sambil bersidekap.


“Persis seperti yang kamu bilang. Teresa nyangka Mama penjahat.” Wanita itu kembali tertawa.


Aska menggeleng, kemudian berjalan masuk sambil melihat wajah kebingungan Teresa. Menggemaskan sekali, sampai Aska ingin menyeburkannya ke tengah samudra.


“Dia itu emang selalu aneh kalau lihat orang baru.” Katanya. Teresa hanya diam. Sepertinya masih bingung bagaimana dia bisa berada di sini. “Mama mau pergi sekarang?” Aska mengernyit saat melihat Larina sudah berjalan melewatinya.


“Iya, sayang. Ajak Teresa makan, mukanya pucet banget, tuh!” Jawabnya sambil menutup pintu.


“Jadi? Lo udah sadar sepenuhnya?” Aska mulai bertanya.


Teresa masih menatap Aska heran. “Kok aku bisa di sini? Ini rumah kamu ‘kan?”


“Semalam lo mabuk, jadi gue bawa ke sini. Lain kali makanya hati-hati, jangan sembarangan minum alkohol. Untung gue lihat! Kalau enggak, habis lo dibawa orang.”


“Aku nggak minum alkohol,” Elaknya.


“Terus?”


“Aku cuma minum air putih mahal kemarin, tapi emang rasanya agak aneh.”


“Itu alkohol, bego!” Aska menempeleng kepala Teresa pelan, Teresa mengaduh merapatkan bibir. Berbicara dengan Teresa memang membutuhkan kesabaran ekstra. “Semalam gue juga udah tanya sama Dini, dia nggak ada sediain alkohol buat tamu. Ngaku lo sekarang, dapat dari mana minuman kayak gitu?”


“Ada di meja, aku nggak mungkin minum juga kalau tahu itu minuman haram.”


“Serius?” Teresa mengangguk mantap. “Nanti biar gue cari tahu orangnya.”

__ADS_1


Teresa menggeleng-geleng. “Nggak perlu, lagian ini juga buat pengalaman aja kalau nggak semua minuman bening itu air putih. Nanti kedepannya supaya aku lebih hati-hati.” Teresa nyengir.


Aska mengangguk samar.


“Kenapa nggak bawa aku pulang aja?”


“Gue nggak tahu rumah lo!”


Teresa menghela napas. “Aku mau pulang.” Katanya kemudian berjalan melewati Aska yang masih duduk di ujung kasur. Aska mengikutinya dari belakang tanpa menyahut.


Teresa membuka pintu, kemudian mengingat sesuatu. Ia berbalik mendadak, membuat Aska yang berjalan tepat di belakangnya menjadi tersentak. Wajah mereka langsung berhadapan sempurna, membuat Aska bisa menatap mata cewek itu lekat-lekat. Darahnya kian berdesir aneh kala bisa berdekatan dengan cewek yang akhir-akhir ini semakin dekat dengannya. Rasa yang bahkan belum pernah Aska rasakan sebelumnya. Rasa ini, membuatnya ingin melayang di udara.


Namun itu tidak bertahan lama kala mendengar suara rendah Teresa mulai menelusup gendang telinga.


“Aska, semalam yang gantiin bajuku siapa?”


***


“Enak lo, bos, kemarin bolos. Mana bisa berduaan seharian lagi.” Darren mencibir dengan suara keras hingga membuat Aska mendelik ke arahnya.


Saat ini mereka sedang berada di kantin, duduk di bangku pojok seperti biasa dengan mengambil posisi saling berhadapan.


“Iri? Dengki?”


“Najis! Kemarin Dini nanyain lo.”


Aska menaikkan sebelas alisnya. “Kenapa?”


Darren menggerdikkan bahu. “Lo udah tahu siapa yang bawa alkohol sembarangan waktu itu sampai bikin Teresa mabuk?” Darren mulai menanyai ketiga temannya penasaran.


Aska menoleh, mengabaikan minuman yang baru saja diminumnya. “Belum. Gue juga penasaran siapa yang berani banget bawa alkohol ke tempat Dini, secara ‘kan kalian tahu sendiri Ayahnya Dini salah satu pejabat penting yang katanya anti sama hal-hal yang nggak beradab. Keluarga Dini hampir kayak keluarga ningrat kalau menurut gue.”


“Apalagi si Aska dengan gobloknya bilang ada alkohol nyasar, makin heboh pasti.” Senka ikut menceletuk sambil menyeruput mie ayam pesanannya.


“Nggak juga,” Aska berujar santai. “Masalah sepele kayak gitu nggak mungkin digubris. Sekarang udah jaman modern asal lo tahu! Kayak gitu udah dianggap wajar.”


“Dia nggak biasa minum aja.” Keno menimpali sebelum Aska. Aska mengangguk membenarkan.


“Diam lo, No! Nyahut aja lo, biasanya aja diam nggak peduli.” Senka menyentak tak terima.


“Gue jawab salah, diam salah. Perasaan gue serba salah mulu di mata lo.”


“Jelas salah! Kalau ditanya diam, nggak ditanya nyahut, mau lo apa sih?!”


“Gue cuma bantu Aska biar dia nggak capek jawab omongan nggak penting lo!”


“Aska bukan lo yang selalu capek walau cuma ngomong sekecap.”


Aska menggeleng, berusaha menutup telinga. Jika sudah begini tidak akan ada yang mengalah sebelum ada yang melerai adu mulut mereka. Memilih kembali menyeruput jus semangka pesanannya, namun matanya sontak menoleh saat merasakan seseorang yang sebenarnya sangat ia tunggu kedatangannya kini tengah berjalan memasuki kafetaria.


Mata Aska tak lepas memandang setiap gerak gerik Teresa. Terus memandangi bagaimana cewek itu berjalan menunduk-nunduk, berusaha menipiskan kontak mata dengan beberapa cewek yang memandangnya tak suka secara terang-terangan. Bagaimana cewek itu mencari, menyusuri setiap rak, mengambil roti kegemaran yang tidak pernah lupa ia beli dengan air mineral yang selalu mendampingi. Bagaimana cewek itu tersenyum saat tanpa sengaja seorang adik kelas akhirnya menyapa dan mengakui keberadaannya. Entah kenapa, Aska mulai senang memandanginya.


“Ehem, bos, udah jangan dilihatin terus. Ilernya sampai mau netes tuh saking khusyuknya natap cewek idaman.” Darren mulai menceletuk, membuat Aska kini berbalik menatapnya dengan tatapan membunuh.


Darren nyengir, Senka dan Keno justru menertawainya.


Aska kembali terpaku, menatap Teresa yang sudah berjalan keluar kantin.


“Gue ada urusan, lo talangin dulu pesanan gue. Nanti gue ganti.” Aska langsung bangkit, berjalan santai keluar kantin tanpa menggubris teriakan berwujud olok-olokan dari ketiga temannya.


***


Teresa berjalan gontai menuju belakang perpustakaan. Beberapa kali merasa sedang diikuti seseorang, ia memilih mengabaikannya.


Ia merasa sedih. Hari ini, Dini tidak terlihat mendekatinya, atau berbasa-basa menanyakan apakah ia sudah sehatan. Mungkin Dini sudah menyadari bahwa Teresa memang tidak cocok dijadikan salah satu deretan teman.

__ADS_1


Entah kenapa Teresa merasa, kecewa.


Berusaha melupakan pikiran buruk itu, Teresa memilih membuka roti yang dibelinya tadi. Akhir-akhir ini Teresa semakin jarang membawa bekal.


Bekerja memang begitu melelahkan. Teresa baru menyadarinya sekarang. Ibunya juga mulai curiga karena Teresa selalu pulang malam. Selama ini memang Teresa bekerja tanpa sepengetahuan Ibunya. Ia beralasan melakukan bimbingan bersama Andre karena tidak lama lagi akan memasuki Ujian nasional.


Ia semakin merasa bersalah.


“Banyak orang bilang, kalau sendirian di tempat sepi sambil melamun itu pemicu besar orang itu kesurupan.”


Teresa tersentak menoleh.


“Jadi,” Aska hanya memandangnya datar sambil memasukkan tangan kanannya ke kantung celana. “Lo berniat kesurupan supaya gue rawat lagi?”


“Ishh. Aska ngapain ke sini?” Teresa bertanya, memperhatikan setiap gerak-gerik Aska yang mulai duduk di sebelahnya.


Aska yang semula menghadap depan kini menoleh, menatap wajah Teresa sambil menaikkan sebelah alisnya. “Ngapain lo ke sini?” Aska memutar ucapan Teresa.


“Aku emang suka ke sini. Aku tanya, ngapain Aska ke sini?”


“Gue mau,” Aska berpikir sejenak. “Duduk.”


Teresa mendengus membuat Aska terkekeh.


“Lo nggak takut di sini sendirian?” Aska menatap sekeliling. Sedikit merasa ngeri ternyata memang tempat ini jarang dijamah orang. Banyak daun kering berserakan yang sepertinya telah lama tidak disapu.


Teresa diam. Memilih memakan rotinya sambil memperlihatkan wajah datar.


“Lo marah gue ikutin?”


“Kan!” Teresa melotot. “Aska ngikutin aku, akhirnya ngaku juga.” Teresa tersenyum, merasa menang.


Aska merutuki mulutnya. Kenapa ia jadi ember begini. Terlalu lama bergaul dengan Darren memang kurang berefek baik.


“Hayo ngaku, ngapain ngikutin aku?”


“Gue lapar, pingin minta roti lo.” Aska mulai beralasan.


Teresa berkedip, menatap rotinya. “Aska bangkrut?”


“Enak aja! Gue masih kaya raya.” Aska menyentil jidat Teresa hingga membuatnya mengaduh.


“Terus?”


“Pingin makan sama lo aja.” Jawaban Aska sontak membuat Teresa salah tingkah. Jawaban sederhana, namun mampu membangkitkan seluruh kupu-kupu di perutnya.


Wajah Teresa semakin memanas.


Saat akan menyodorkan satu roti yang belum dibukanya, tangan Aska sudah terlebih dulu mengayun.


Bukan. Bukan ingin mengambil roti.


Teresa mengikuti arah pandangnya. “Aska mau ngapain?” Tanyanya tercekat.


Teresa sontak memundurkan badan.


“Enggak. Gue mau ambil daun kering di rambut lo.” Aska menjawab cepat. Tangannya masih berusaha meraih daun kering di rambut Teresa.


Teresa semakin mundur gelagapan. “N-nggak perlu!” Katanya sambil menepis tangan Aska yang masih di angkat di udara.


Aska mengernyit bingung. “Biar aku ambil sendiri.” Teresa langsung menyentuhi rambutnya, mengambil daun kering yang tersangkut di rambutnya sendiri kemudian sedikit merapikannya. Aska memperhatikannya sambil menyipitkan mata. “Udah.” Serunya memperlihatkan daun kering di tangannya kemudian tersenyum kepada Aska.


Aska diam, malah menatap cewek itu curiga. Aska ingat, Teresa selalu ketakutan setiap kali seseorang menyentuh surai pendeknya.


Seperti...trauma

__ADS_1


Aska harus mencari tahu secepatnya.


Tanpa Aska sendiri sadari, mencari tahu semua tentang cewek itu justru membuat Teresa semakin terikat kuat padanya.


__ADS_2