Chameleon Boy

Chameleon Boy
Akar


__ADS_3

Teresa kembali memotong rambutnya.


Seperti biasa, dengan bantuan Evani, rambutnya berubah mengambang tepat di atas bahu dalam sekejap. Tangan terampil Ibunya selalu berhasil membuat dirinya puas.


Cewek itu menatap pantulan dirinya di cermin. Kalau sedang berambut pendek, Teresa merasa dirinya lebih imut daripada saat rambutnya panjang. Maka dari itu, selain alasan karena phobia yang di deritanya, juga karena wajahnya lebih indah bila rambutnya sepanjang itu.


Teresa Tersenyum puas sebelum berjalan keluar kamar.


Suara klakson mobil dari luar membuatnya berjalan tergesa-gesa. Bila Evani ada di rumah, pasti Teresa sudah habis diomeli karena berjalan dengan langkah rusuh. Kayak ada maling, katanya. Untung Evani sedang ke pasar.


Aska. Cowok itu sedang bersandar manis di samping mobil. Teresa salah tingkah. Ini adalah kali pertama ia dijemput cowok setampan Aska.


Aska membuka kaca mata hitamnya begitu Teresa terlihat mendekati. Cowok itu masih bisa tersenyum manis sesaat sebelum ia menyadari ada yang berbeda dengan ceweknya. Ah, walaupun belum berpacaran, Aska sudah menganggap Teresa adalah miliknya.


“Dari rumah jam berapa, jam enam lebih lima belas udah di sini?” Tanya Teresa begitu jarak mereka sudah dirasa dekat.


“Jam berapa ya tadi?” Aska mengingat-ingat. “Setengah enam lebih kayaknya.” Jawabnya setelah itu.


Mata Teresa membulat. “Pagi banget.”


“Takut macet, nanti jadi telat jemput kamunya.”


Jawaban spontan itu sontak membuat Teresa **** senyum. “Padahal agak siangan juga nggak apa-apa.”


“Jangan, dong! Nanti telat. Aku nggak mau kamu dihukum. Berjemur loh hukumannya, mau? Eh, tapi kalau kita berdua yang dihukum romantis juga.”


Teresa semakin tersipu. Bibirnya memberontak ingin tersenyum tapi otaknya mengatakan bahwa ia harus jual mahal. Dasar Aska, pagi-pagi sudah memberikan gombalan receh.


“Kalau senyum jangan ditahan, nanti keluar dari belakang.” Aska menggoda, menjawil bahu Teresa pelan, cewek itu jadi tersedak tawanya. Sial, pertahanannya runtuh hanya karena kalimat ringan seperti yang Aska ucapkan.


Tawa lebar Teresa pun sampai mengundang binaran di mata Aska. Senyum itu, selalu saja manis seperti biasa. Membuat Aska ingin memunculkannya setiap waktu dan hanya untuknya.


“Kamu potong rambut, ya?”


“Iya. Bagus ‘kan? Ibuk yang potongin rambutnya.” Teresa menyentuh-nyentuh rambut pendeknya.


Aska mengangguk. “Bagus.” Katanya. “Tapi aku lebih suka kalau kamu panjangin rambut.”


“Kenapa? Aska nggak suka aku punya rambut pendek?” Teresa menyendu. Matanya tidak lagi berbinar seperti tadi. Ada sedikit rasa kecewa di lubuk hatinya yang berusaha ia tutupi. Padahal hanya komentar dari Aska, tapi mampu membuatnya berubah mood seketika.


“Suka. Kamu kelihatan jauh lebih imut, jadinya kayak anak SD. Pipi mochi kamu juga tambah kelihatan. Bikin gemas!” Aska menjelaskan sambil memainkan kedua pipi Teresa.


Teresa berpikir tanpa sedikitpun terganggu dengan tangan Aska yang memainkan pipinya. “Terus? Bagus dong, berarti aku awet muda.”


Aska mengangguk membenarkan. “Tapi, kalau aku jalan sama kamu nanti dikiranya aku jalan sama adikku gimana?” Aska berdiri tegap berhadapan dengan Teresa. “Tuh, kamu sepundakku aja nggak sampai. Kamu tumbuh tinggi nggak sih sebenarnya?”


“Aku nggak pendek!” Teresa mendongak, menatap Aska garang. Giginya menggertak halus. “Aska aja yang ketinggian.”


“Iya, iya. Teresa nggak pendek.” Aska mengelusi puncak rambut Teresa. Hal yang tidak disadari keduanya, bahwa chaetophobia yang diderita Teresa perlahan telah menghilang tanpa ada yang menyadari. “Cuma nggak tinggi aja,”


“Aska, ih!” Teresa menepis tangan Aska kasar, kemudian berjalan memutari mobil. Membuat pintu kemudian masuk tanpa terlebih dahulu dipersilakan sang pemilik.


Aska hanya terkekeh sambil ikut masuk. “Tapi aku serius, kamu jauh lebih cantik dan dewasa dengan rambut panjang. Aku nggak bisa bayangin nanti kalau rambut kamu panjang digerai. Bidadari pasti kalah.”


Andai Teresa tidak mengetahui bagaimana sifat Aska yang berubah-ubah dalam setiap tempat, maka sudah dapat dipastikan bahwa dirinya akan sulit bernapas detik ini juga. Tapi karena dirinya sudah tahu sifat dan tabiat Aska yang sebenarnya, jadi dia hanya menjawab. “Oh,” sambil tetap memandang lurus ke depan.


Aska terdengar terkekeh sambil menyetir. Tidak butuh waktu lama kekehan itu terdengar berbeda di telinga Teresa. Terdengar lebih berat.


Tiba-tiba Aska meminggirkan mobil dan mematikan mesin.

__ADS_1


“Ada yang ketinggalan?” Tanya cewek itu heran. Tautan alisnya sampai terlihat sangat jelas.


“Aku mau tanya hal yang lebih serius sama kamu, tapi kamu harus jawab jujur.” Katanya belum menjawab pertanyaan Teresa sebelumnya. Aska kini menghadapkan tubuhnya kepada Teresa sempurna.


“Tanya aja. Selama aku bisa jawab pasti akan aku jawab jujur.”


Aska mengangguk mengerti. Baru membuka mulut, Teresa kembali berbicara. “Tapi nggak sekarang. Kita udah telat!”


***


“Aku nggak tahu kamu termasuk orang yang bisa dipercaya atau enggak, Ka. Karena apa yang akan aku ceritain ini cuma aku sendiri yang tahu. Bahkan Ibuk sampai bertanya-tanya karena anak gadisnya tiba-tiba punya phobia aneh.”


“Jadi Ibu kamu juga nggak tahu penyebab semuanya?” Aska mendadak serius. Merasa apa yang akan mereka bicarakan kali ini sangatlah rahasia. Sontak, Aska mempertipis jarak di antara mereka.


Teresa menggeleng.


“Tenang aja, kamu cerita sama orang yang tepat, karena aku yang akan selalu jagain kamu. Harusnya aku yang tanya, kamu percaya ‘kan sama aku?”


Mata Teresa mulai berembun. Merasa apa yang Aska bicarakan cukup membuatnya tersentuh. Rasanya ia telah menemukan orang yang tepat. Orang, yang siap menjadi tempat curahan hati yang selama ini ia pendam dalam. Seorang diri.


“Semuanya berawal saat ulang tahunku yang ke 10 tahun,”


***


Teresa beringsut ketakutan, berlari sekencang yang ia bisa menuju lantai dua. Bahkan sebelum Ayahnya dapat meraih pelukan kepada sang putri yang kini tengah berulang tahun.


Terisak, Teresa membanting pintu. Untuk ukuran anak usia sepuluh tahun, Teresa sudah mengerti situasi apa yang tengah menimpanya. Teresa sudah cukup mengerti. Ia pintar di sekolah, tentu juga pintar menganalisa keadaan.


Terdengar ketukan pintu dari luar. Teresa semakin menahan pintu, agar siapapun yang berada dibaliknya tidak dapat menembus masuk. Untungnya ia tidak lupa mengunci pintu saat masuk tadi.


“Resa,” kembali terdengar ketukan dari luar. “Resa marah sama Bapak.”


“Kalau gitu buka dong pintunya. Bapak udah belikan playstation seperti yang Resa pingin.” Teresa tidak lagi dapat menjawab. Isakan kecil mulai menghalangi pendengarannya tapi Teresa masih berusaha memasang telinga tajam-tajam.


“Res,”


“Resa,”


“Resa, jawab Bapak dong. Bapak minta maaf deh kalau ada salah sama Resa. Buka ya?”


Walau begitu, Teresa tidak sedikitpun berniat membukakan pintu. Air matanya semakin deras mengalir. Mendengar suara lembut Bramantyo membuat Teresa tidak dapat menerima semuanya. Apa Teresa harus melupakannya dan memilih seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa?


“Resa beneran marah sama Bapak, ya?”


Teresa menggeleng walaupun Ayahnya tentu tidak akan dapat melihatnya. Tidak mungkin bisa! Hanya dengan menatap sang Ayah saja Teresa sudah ciut mental. Tentu semua akan curiga.


Tidak terdengar ketukan lagi setelahnya. Teresa menghapus jejak air matanya sebelum berjalan menuju kasur. Mendadak rasa kantuk menguasainya.


***


Teresa mengerjap merasakan sebuah elusan lembut di dahinya. Tanpa perlu membuka matapun Teresa tahu siapa pelakunya. Usapan lembut yang selalu menenangkan itu mendadak dingin menegangkan. Dengan mata yang masih terpejam, Teresa menepis lengan Ayahnya sambil berpura-pura menguap.


“Resa jadi ke bangun, ya?” Bramantyo bergumam.


Ia tidak akan bertanya bagaimana Ayahnya masuk karena sebelum Teresa tidur, ia yakin sudah mengunci pintunya rapat. Sudah pasti sang Ayah mengambil kunci cadangan milik kamarnya.


“Bapak ada salah apa sih sama Resa, kok diamkan Bapak terus?” Suara Ayahnya melirih, Teresa terisak dalam hati. Tenggorokkannya jadi tercekat karena terlalu lama menahan tangis membuat sebuah isakan lirih menggema ke seluruh ruangan. Ya, akhirnya Teresa memperlihatkan tangisnya di depan sang Ayah.


Bramantyo terlonjak bingung, meraih putrinya ke dalam dekapan. “Hei, Resa kok malah nangis. Ada apa? Siapa yang jahatin Resa, bilang sama Bapak?!”

__ADS_1


Teresa menggeleng dalam dekapan Ayahnya.


“Temannya Resa nakalin Resa lagi?”


Teresa kembali menggeleng.


“Terus kenapa? Bilang sama Bapak biar Bapak tahu. Kalau begini ‘kan Bapak bingung.”


Teresa masih saja diam terisak. Semakin mengeratkan pelukannya kepada sang Ayah. Mungkin pelukan setelahnya tidak akan sama lagi bila Teresa mengatakan semuanya.


“Bapak, udah bunuh berapa orang?”


Bramantyo mendorong putrinya sambil tersentak berdiri.


***


“Jangan macam-macam, atau Bapak akan kirim kamu ke Pesantren. Bapak jamin kamu nggak akan bisa pulang lagi.”


“Kalau sampai Ibu dan Adikmu tahu, kamu yang selanjutnya akan Bapak bunuh!”


“Kamu memang putri kesayangan Bapak, tapi karena kamu nggak pernah mendukung pekerjaan Bapak, maka jangan salahkan kalau Bapak nggak sayang sama Resa lagi.”


Entah sudah berapa kali Bramantyo mengancam dengan kalimat itu, Teresa sampai lupa. Setiap dirinya akan melaporkan semuanya kepada sang Ibu, ia selalu mendapatkan jambakan di rambutnya. Entah berapa kali pula ia harus mengurus rambutnya yang kusut agar Evani tidak curiga.


Teresa bukan takut dimasukkan ke Pesantren atau takut bila dirinya ikut dibunuh seperti korban-korban sang Ayah yang selama ini dia lihat, tapi memang ia harus tetap di sini. Menjaga Ibu, juga Adiknya. Mereka tidak tahu bagaimana sifat sang Ayah dibalik topeng ramahnya. Tidak ada yang tahu bahwa pekerjaan sang Ayah selama ini tidak lain adalah sebagai seorang pembunuh bayaran. Karena yang Ibunya tahu, Bramantyo bekerja di perusahaan.


Entah sudah berapa kali Bramantyo mengajak paksa Teresa saat dirinya membunuh korbannya dengan keji hanya agar Teresa tutup mulut.


Sudah setahun sejak pertama kali Teresa mengetahuinya ia selalu mendapat jambakan dan pukulan di sekujur tubuh yang selalu berusaha ia tutupi. Bahkan hanya dengan lambaian tangan sang Ayah dirinya sudah beringsut ketakutan.


Hal itu membuat Evani curiga. Karena setiap akan menyentuh rambut putrinya justru mengeluarkan air mata ketakutan.


“Pak, aku khawatir sama Resa. Entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini mentalnya tergoncang. Aku cuma gerakin tangan, anaknya udah takut sambil nangis.” Evani mengadu pada sang suami. Tangannya dengan lihai memasangkan dasi pada kerah baju Bramantyo. Evani tidak akan mengetahui bahwa tepat setelah keluar rumah, dahi yang bertengger dileher langsung ia buang asal.


“Bapak juga khawatir, Buk.” Seperti biasa, sandiwara Bramantyo dimulai secara otomatis. “Bapak juga sering lihat dia melantur tidak jelas. Sepertinya ada sedikit gangguan mental-,”


“Bapak kok ngomong gitu sama anaknya sendiri?!” Evani marah.


“Bukan begitu, maksud Bapak lebih baik kamu periksakan kondisinya. Maaf, Bapak harus lembur hari ini jadi kemungkinan nggak bisa nganter.” Bramantyo berkata sambil mengecup dahi sang istri sebelum keluar dari rumah mereka.


Evani bergeming, tidak mengantar kepergian sang suami, tapi dirinya berjalan menaiki tangga. Menuju kamar sang putri yang mungkin sudah bersiap berangkat ke sekolah.


Evani mencegahnya. Seperti biasa, saat akan membelai rambut sang putri selalu saja mendapatkan tepisan singkat. “Resa, antar Ibuk ke rumah sakit, yuk. Kepala Ibuk agak pusing.” Evani beralasan.


“Sekolah Resa gimana?”


“Bolos sehari nggak akan bikin Resa bodoh. Resa ‘kan selalu pintar walau Ibuk heran, akhir-akhir ini nilai Resa agak merosot. Tapi nggak apa-apa, Ibuk nggak marah. Yang penting sekarang anterin Ibuk ke rumah sakit.”


“Oke.” Kata Teresa singkat sebelum berbalik memasuki kamarnya. Evani menatap putrinya sendu. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Teresa yang dirinya tidak ketahui selama ini? Semua keceriaan Teresa seakan lenyap dibawa angin, hanya dalam sekejap membuat Evani menangis memikirkannya. Cobaan apa yang sudah keluarga kecilnya dapatkan?!


Belum selesai sampai di situ, sang dokter meminta Evani mengantarkan Teresa kepada pskiater. Dengan alasan, “Maaf, bu. Anda salah tempat. Sepertinya putri anda baik-baik saja. Jika memang keluhannya seperti yang anda bicarakan, seharusnya anda membawanya ke pskiater.” Begitu katanya.


Tangis Evani semakin pecah karena setelah dirinya membawa sang putri pergi kepada seorang psikolog. Memberikan jawaban yang sangat tidak masuk di akalnya.


“Berdasarkan analisa dan test yang sudah saya lakukan, putri anda menderita Chaetophobia, Bu. Phobia pada rambut, mungkin akibat trauma yang pernah di dapatkan atau sejenisnya. Saya juga belum mengerti. Putri anda tidak mau memberitahukannya kepada kami. Akan sangat sulit menyembuhkan phobianya bila putri anda saja seperti tidak ingin sembuh.”


Yang tidak Evani mengerti hingga kini, apa penyebab phobia yang diderita Teresa?


Apa?!

__ADS_1


__ADS_2