
"Ahhh" Teriakan gadis terdengar begitu melengking...
Sementara bersebelahan tepat disampingnya, seseorang pria yang sederhana tiba tiba tertusuk sebuah pisau tajam. Pria yang menggunakan jas hitam rapi, sebuah simbol nama plastik metalik menunjukkan nama yang singkat bernama Folen.
"Arrggghh" Folen terkejut, mulutnya memuntahkan darah. Menoleh ke belakang, Folen melihat seorang pria gelandangan sedang memegang gagang pisau dengan tubuh yang gemetaran.
"Kamu?" Dengan terbata-bata Folen berkata melihat gelandangan dengan mata yang melebar
Pria gelandangan itu tanpa sadar melepas tangannya dari pegangan pisau, dia memandang Folen dengan tatapan meminta maaf lalu dia pergi melarikan diri dengan cepat.
Tempat dimana penusukan terjadi jarang di lalui polisi dan jauh dari kantor polisi, jadi saat dia melarikan diri butuh waktu sedikit lebih lama untuk di tangkap.
"Julian?" Folen bergumam, dia memegang perutnya yang tertancap pisau dan terjatuh ke tanah untuk menghemat energi. "Mengapa?" Batin Folen, dia mengeluarkan air mata kesakitan.
Folen menoleh dan melihat seorang gadis tengah menangis di sampingnya sambil berkata "Kakak kakak".
"Amel?" Batin Folen mendengar suara adiknya, Folen menjadi semakin berjuang melawan kematiannya.
Folen merasa rasa nyeri dan terkoyak di perutnya dan organ dalamnya dengan rasa kesemutan aneh di sekujur tubuhnya, Enel menahan rasa sakit ini sampai bala bantuan tiba.
Semakin lama waktu berlalu..
Matanya secara bertahap menjadi kabur daerah di sekitarnya saat ini tidak bisa dia lihat bahkan orang terdekatnya adiknya sendiri menjadi kabur di matanya, Folen melihat beberapa bayangan di kejauhan yang dia tidak tahu apa itu, jika dalam pandangan asli bayangan di kejauhan adalah kelompok kerumunan orang yang menyaksikan.
__ADS_1
Disaat matanya kabur dan kondisinya semakin sekarat, pendengaran Folen menjadi lebih tajam juga dia merasa waktu berjalan sangat lambat seperti biasanya. Dengan pendengarannya dia mendengar sirene ambulan di kejauhan, Folen yang tidak memiliki harapan diberi harapan lagi dan memperkuat tekadnya melawan maut.
Tak lama unit darurat datang dan dengan cepat mereka memeriksa serta merawat folen.
Di dalam mobil Ambulans setelah Folen di angkat dan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
Salah satu dokter darurat berkata, dia memandang pria yang terluka itu dengan mata sedih.
"Tidak bisa dia telah kehilangan banyak darah, dan dengan luka yang begitu besar akan sangat sulit baginya untuk selamat"
Sementara dokter lainnya menanggapi dan membalas "Tetap lakukan, Bagaimanapun kita adalah dokter kita harus menyelematkannya!" Melihat perlawanan datang dari dokter didepannya, Dokter yang pertama berkata terdiam.
Pria yang terbaring di tandu ini sudah jelas jelas di ambang kematiannya, dengan seluruh luka mengerikan ini apakah mungkin baginya untuk tetap hidup? Batin Dokter tersebut..
Folen menggunakan energi terakhirnya untuk berkata "Kau tidak perlu berusaha sekeras mungkin, Hidupku sudah berakhir! Sebelum kematianku aku ingin kalian mendonorkan bagian tubuhku kepada anak anak yang membutuhkan!" Ucapnya sambil batuk darah
Para dokter dan perawat yang hadir mau tidak mau gemetar mendengar hal ini, mereka melihat Folen dengan tatapan terkejut serta takjib.
"Anda?" Dokter ingin berbicara.. Tangan yang menggenggamnya terlepas yang membuat mata dokter itu melebar.
Folen telah kehabisan seluruh energinya dan mati dengan senyuman
Senyuman itu sangat tulus dan mengekspresikan hatinya saat berada diambang kematian.
__ADS_1
"Dia mati dengan rela" Ucap salah satu dokter yang terlihat sudah berumur. ruangan seketika hening.
Setelah kematian Folen..
Para dokter bekerja keras menuruti wasiat terakhir Folen, Mereka menggunakan organ-organ Folen yang masih layak dipakai untuk dioperasikan kepada anak anak yang membutuhkan.
Dokter-dokter sempat menantang keluarga Folen, untungnya adik perempuan Folen bernama Amelia menjadi saksi atas wasiat terakhir Folen membuat keluarga Folen tidak bisa bertindak apa-apa.
Polisi yang bertugas berhasil menangkap pelaku pembunuhan. Dan informasi yang dirilis sebagai berikut:
Pelaku berusia 36 Tahun bernama Julian Antonio. Tinggi 173 Cm, Melakukan kasus pembunuhan kasar. Tindak Pidana: Hukuman Mati.
Korban berusia 35 Tahun bernama Folen. Tinggi 182 Cm, Bagian punggung di tusuk hingga menembu perut. Kronologi: Pada siang hari di trot... Selengkapnya.
Pada inti kronologinya dan beberapa riset yang dilakukan oleh pihak polisi, alasan terkait Julian Antonio membunuh Folen diakibatkan rasa kecemburuan mendalam karena kesenjangan status ekonomi dan sosial.
Hubungan keduanya merupakan sahabat sehidup semati yang telah bersahabat selama 20 tahun lebih.
Permintaan terakhir Julian adalah dia ingin datang di acara pemakaman Folen.
Proses pemakaman Folen dihadiri banyak orang karena dikenal sebagai Pahlawan yang menyelematkan anak anak yang membutuhkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Gw revisi beberapa kejadian namun intinya tetap sama.