Choice System: The God Of Thunder In One Piece

Choice System: The God Of Thunder In One Piece
Eps.33 Bantuan


__ADS_3

"Ya ya bagaimana pun aku adalah orang luar di angkatan laut dan tidak berhak ikut campur" Menggelengkan kepalanya Enel menghela nafas sejenak lalu dirinya menoleh ke salah satu prajurit angkatan laut.


"Hei berikan aku makanan kalian! Jika tidak kalian tidak bisa melihat melihat matahari di keesokan harinya." Udara di sekitar nampak berat, Enel menatap tajam ke prajurit yang ketakutan setengah mati.


"Ba baik" Tanpa sadar prajurit itu mengucapkan dengan nada ketakutan.


"Hahaha bagus! Kalian ternyata tidak bodoh juga ya" Enel tertawa senang, dikarenakan stamina yang sekarat dan kekuatan fisik yang berkurang hampir sepenuhnya. Enel tidak memiliki banyak energi untuk bertarung bahkan berjalan saja sangat menyusahkan baginya.


Untungnya para sekelompok angkatan laut bodoh ini ketakutan olehnya.


'Dengan begini masalah peristirahatan selesai', Batin Enel sembari menepuk-nepuk tangannya seakan membersihkan debu.


Beberapa hari yang lalu, di Pulau Langit, Skypiea.


"Robin bagaimana? Apa yang terjadi kepada kalian? Mengapa kalian begitu murung!!" Seru khawatir Luffy memegang ke dua lengan Robin sambil bertanya dengan panik.


Sementara mereka, Robin dan Nami hanya menundukkan kepalanya dan tidak bisa berkata-kata.


"Kakek Ksatria! Apa yang terjadi mengapa mereka berdua begitu murung dan sedih!?" Zoro bertanya dengan marah dia sudah mempersiapkan ketiga pedangnya.


"Bajingan itu!! Apa yang mereka lakukan kepada Robin-Saan, Nami Saann! Aaaawhhh" Sanji di kejauhan berkata dengan sangat marah hingga matanya memunculkan api.


"Go going me Merry telah tiada! Dia dia telah di di hanguskan o oleh Enel bah bahkan ji jiwanya juga, huuuuu" Nami jatuh ke tanah dan menceritakan semuanya sambil nangis.


Luffy, Zoro, Sanji, Usopp, Chopper semuanya terdiam, mata mereka bergetar, tubuh mereka juga bergetar tidak terkendali.


"AAAAAAAAA ENEL, AKU AKAN MEMBUNUHMU" Yang berteriak kencang dengan katapel di tangannya adalah Usopp, dia mempersiapkan seluruh barang barangnya dan ingin berangkat.


"Usopp, Oi Usopp tenanglah" Zoro menghentikan Usopp yang mencoba memberontak.


"Tidak mungkinkan?" Gumam Luffy dengan nada tidak percaya, dia berlutut ke tanah dan menangis "Merrryyy!!!!!" teriaknya.


Anggota Topi Jerami sekarang dalam kericuhan Isak tangis, dan yang paling terluka diantara semuanya adalah Usopp.


Meskipun dia telah pingsan namun mulutnya terus mengucapkan nama Merry.


Gan Fall sendiri merasa tidak berhak untuk bergabung dalam kesedihan mereka karena jika dirinya menjadi lebih kuat setidaknya lebih kuat dari Enel maka ini semua tidak terjadi.


"Enel!!" Luffy yang sudah kehilangan akal ingin menerobos penjara namun dirinya di tahan oleh Nami.


"Luffy berhenti! Jangan mengusiknya lagi! Kita tidak cukup kuat untuk melawannya! Aku tau kau sangat menyayangi Merry tapi setidaknya tolong pikirkan teman-temanmu" Isak tangis Nami menahan Luffy.


Luffy tertegun dan tubuhnya perlahan terkendali, dia memegang kepala Nami dan berkata "Nami cukup jangan menangis! Aku tidak ingin mengingkari janjiku" Lalu dengan mata tajam dia menatap teman teman lainnya dan berkata "Semuanya..."


Beberapa menit setelahnya..


Robin telah selesai membicarakan rencana pelarian dari Skypiea. Walaupun kepergian Merry menyebabkan dampak dan trauma besar kepada mereka.


Namun saat ini mereka tidak memiliki banyak waktu, Mereka diberi kebebasan sementara selama satu bulan asalkan tidak menganggu warga sipil dan juga bawahan Enel.

__ADS_1


Keduanya memiliki kesepakatan dalam 1 bulan tidak akan saling ganggu satu sama lain


"Apakah benar disini?" Zoro bertanya dan menatap Robin yang memimpin jalan.


"Ya, dari dokumen yang kubaca di Kuil Dewa, Conis dan Paman Pagaya ada disini untuk bekerja" Balas Robin.


Melewati semak semak belukar yang di tebas Zoro.


Mereka akhirnya menemukan tempat tujuan mereka.


"Paman Pagaya? Conis?" Kelompok Topi Jerami memandang dengan heran ke arah 2 orang yang sedang bekerja gila gilaan membelah batangan pohon.


"Hah?" Pagaya dan Conis sedikit terkejut, mereka menolehkan kepala mereka kearah kru Topi Jerami.


"Luffy?" Conis bertanya dengan heran.


"Ya ini kami" Kelompok itu serentak berkata dan mendatangi Conis dan Pagaya.


Saat keduanya lebih dekat dibarengi sinar cahaya yang berasal dari api, kelompok Topi Jerami melihat penampilan Pagaya dan Conis.


"Eh?" Kelompok Topi Jerami itu sedikit bingung dengan situasinya.


Mereka melihat Pagaya yang dulunya pria tua sakit-sakitan dengan tubuh kurus dan lemah sekarang telah menjadi pria berotot dengan janggut yang tampan dan kepala botak bersinar.


Conis yang dulunya terlihat anggun dan cantik, sekarang memiliki tubuh berotot dengan rok bulu beruang serta dada yang di tutupi oleh kain dari bulu serigala yang di ikat ketat.


Keduanya terlihat seperti Viking yang siap menjarah harta.


"Hah?"


"Hmm jadi begitu, mudah di mengerti tapi sulit di terima" Ucap sembarang Zoro.


"Bajingan" Sanji berteriak dan memukul kepala Zoro.


"Apa yang kau lakukan koki Mesum" Sembari memegang kepalanya, Zoro berteriak marah.


"Apa nya yang sulit diterima? Lihat Conis-san telah berubah tipe dari lembut menjadi agresif seperti di novel novel, cewek agresif sangat menggoda" Sanji menjelaskan dengan marah.


"Apa hubungannya denganku idiot!" Balas Zoro.


"Paman bisakah kau membantu kami?" Nami mengabaikan keduanya yang sedang berantem dan memohon kepada Pagaya.


"Membantu??" Paman Pagaya bergetar, tubuhnya sangat ketakutan mengingat kejadian saat Enel datang kerumahnya.


"Te tenang saja paman! Kami sudah membuat perjanjian selama 1 bulan ini, Yakni warga sipil yang berhubungan dengan kami tidak akan di beri hukuman dalam batas waktu 1 bulan"


"Kami juga di paksa pergi dalam waktu sebulan ini jika tidak kami akan di musnahkan jadi paman" Nami membungkukkan badannya bersama kru lainnya dan berkata.


"Kami membutuhkan bantuan mu paman" Ucap kelompok Topi Jerami.

__ADS_1


"Ini?" Mata Pagaya memandang mereka dengan ragu.




"Bajingan!! Siapa yang menyuruhmu memakan seenaknya"



Enel yang sedang makan dengan lahap dan puas menoleh ke koridor tidak jauh dari meja makan, di koridor itu teriakan wanita terdengar sangat menyeramkan.



Tak lama kemudian..



Wanita berpakaian kusut dengan rambut mengembang membawa senapan api di tangannya.



\*Darrr..



Sekelompok prajurit angkatan laut segera menunduk.. Enel yang di tembak mengangkat tangannya dan peluru menembus tubuhnya.



"Hei hei bisakah kau tenang sedikit!" Ucapnya dengan senyuman tipis. Lalu dia melanjutkan kata-katanya "Ngomong-ngomong gaya rambut baru mu itu bagus juga".



"Ahhh bajingan matilah!" Namun Hina tetap mengabaikan citra elegannya dan menembaknya terus menerus.



"Percuma saja wanita bodoh! Kau tidak memiliki haki bahkan pelurumu bukan batu laut bagaimana kau bisa membunuhku!" Enel menjadi semakin malas dan mengabaikan peluru yang terus melewati tubuhnya sambil memakan makanannya.



Setelah beberapa menit, Hina kelelahan akibat dampak balik penggunaan senjata yang berlebihan.



Dia terduduk di tanah dan terlihat kelelahan.


__ADS_1


"Oh iya ada yang harus ku bicarakan! Apakah kau memiliki Den Den Mushi yang terhubung kepada Laksamana Armada? Ada yang harus ku bicarakan dengannya!" Nadanya terdengar serius, bahkan Hina yang kelelahan menatapnya dengan heran.


__ADS_2