
"Ba baiklah aku akan memberikannya namun dengan syarat"
Melihat Kepala Desa menerima tawarannya, Enel tersenyum senang namun mendengar ada syarat dia menjadi penasaran.
"Hmm Apa syaratnya?"
Kepala desa mengambil nafas dalam dalam dan berkata "Anda tidak boleh mencampuri urusan desa kami dan kami tidak akan mencampuri kalian, kami akan tetap tinggal di Hidden Cloud Village. Tolong kami tidak akan ke Upper Yard kami akan selamanya di sana" Kepal desa berlutut minta tolong membuat kedua pejuang shandia itu terkejut.
Bahkan Nami dan Robin mulutnya sedikit terbuka karena terkejut oleh keputusan kepala desa.
"Hahaha tenang saja aku tidak mencampuri dan menganggu kalian lagi jika kalian masih menaati perintah yang kalian buat" Enel berkata dengan bahagia, akhirnya hal yang diinginkan telah ada di tangannya.
"Sena Sely bawa gadis itu dan berikan kepada mereka" Ucap Enel dengan sembarang.
Sena dan Sely muncul dari pintu belakang kuil membawa Aisa yang memberontak pada sebuah penjara kecil. Nami dan Robin memandang Sena dan Sely dengan heran, "Apakah ini pelayan Enel?" Gumam Nami menatap sosok indah Sena dan Sely.
"Dia sangat cantik, tinggi dan besar! Patut saja Enel tidak memandangku" Nami melihat dirinya lalu memalingkan wajahnya dengan malu.
__ADS_1
Sementara Robin terkejut saat dia melihat gadis kecil yang dikurung "Bukankah gadis ini yang berkeliaran beberapa hari yang lalu di hutan".
Sena dan Sely mengantar Aisa me depan kepala desa lalu memberi kunci penjara, setelah itu dia berbalik dan berjalan ke belakang Enel.
Mereka berdua berdiri di belakang Enel dan berkata "Sudah selesai dewa".
Enel mengangguk "Baiklah kalian bisa kembali". Keduanya tersenyum dan kembali ke belakang kuil.
Robin dan Nami sedikit penasaran apa yang ada di belakang kuil, namun mereka tidak berani bergerak terlalu bebas di kuil orang yang menangkap mereka.
"Kau bisa mengambil mereka bertiga, untuk pembayarannya besok akan di selesaikan" Enel melirik kepala desa lalu menatap ke 3 Sandra.
Sementara Enel dan Nami serta Robin masih tinggal di sana.
Enel berdiri, dia membuka laci lemari di sudut kuil dan mengambil sebuah buku dengan judul kuno, lalu dia mengambil buku baru dan dua buah dial. Enel membagikannya kepada Robin.
"Ini adalah buku yang harus di terjemahkan" Enel memberi buku kuno itu lalu "Kau tinggal memindahkannya disini" dia memberi buku baru dengan kertas tingkat atas karena tidak akan rusak jika terkena air.
__ADS_1
"Ini adalah upah untukmu juga bisa mempercepat pekerjaan mu kedepannya, kedua dial ini terhubung jadi satu adalah Sound Dial dan yang lain Writer Dial.
Kau hanya perlu menggunakan suara untuk mengubahnya menjadi teks atau mengubah teks menjadi suara yang mengikuti suara terakhir." Enel membagikan kedua Dial yang cukup berharga ini, Dia melirik ke langit dan berkata "Hari sudah mau gelap, sebaiknya kalian berdua bertemu Yama, untuk mencari penginapan." Setelah berkata hal itu, Enel mengucap kata lain yang tidak bisa didengar mereka berdua.
"Aku sudah memberitahu Yama jadi kalian jangan khawatir, sekarang kalian bisa pergi" Ucap Enel dengan santai, kualifikasinya untuk keduanya tidak terlalu buruk apalagi Robin dia merupakan orang yang menarik bagi Enel.
Keduanya mengangguk dan pergi dari kuil dewa.
Setelah kuil dewa sepi, Enel memegang punggungnya dan berkata "Hah~~ hari yang sulit ya" dia melirik ke sekitar kuil dewa dan menatap senja hingga habis.
"Yama tutup kuil" Gumam Enel menggunakan teknik transmisi sinyal.
"Arghh beberapa hari tidur di sofa membuat punggungku sakit! Lebih baik tidur di rumah. Aku juga sudah lama tidak pulang" Enel berjalan ke belakang kuil.
Di belakang kuil,,
Enel turun dari tangga yang berbentuk tangga ke lantai bawah, di bawah Enel melihat mansion putih suci yang bersih dengan banyak pelayan dan pembantu. Hehe tentu saja semuanya perempuan.
__ADS_1
"Ah jika aku tau rumah Enel seperti ini aku tidak akan tinggal di kuil yang sempit itu" Memandang mansion didepannya Enel bergumam.