Choice System: The God Of Thunder In One Piece

Choice System: The God Of Thunder In One Piece
Eps.18 Jebakan


__ADS_3

"Yah kalian benar benar orang yang tidak beradab! Beraninya melakukan hal itu saat saya datang kemari?" Enel bangkit dari sofa yang bukan miliknya ini.


Berjalan keluar dari ruang ini, Kepala Desa Shandia ingin menghentikannya tetapi Enel meluncurkan Haoshoku Hakinya menekan seluruh desa.


Para penduduk dan pejuang di desa tidak mampu menahan aura tirani Enel, berlutut dan terjatuh ke tanah mereka memohon ampun kepada Enel dalam keadaan sadar atau tidak sadar.


Bahkan Kepala Desa Shandia yang memiliki aura kepemimpinan tidak sanggup menahan Haoshoku Haki yang menekan jiwa mereka.


Enel perlahan terbang ke langit dan melihat desa Shandia dibawahnya, "Sebagai Dewa di Skypiea! Aku menghukum kalian akibat melakukan dosa yang tak terbantahkan didepan Dewanya" Ucap Enel dengan tenang, dia menjulurkan tangannya ke langit dan memborbardir setengah dari rumah penduduk Shandia.


"Kalian akan selamanya tinggal di bawah Giant Jack dan tidak diperbolehkan menginjak Upper Yard selamanya hingga kalian membayar dosa ini dengan sesuatu yang berguna" Enel melirik kepala desa dan menggunakan Haoshoku Haki hingga batasnya.


Beberapa orang yang tidak tahan langsung pingsan, mereka menyisakan Kepala Desa yang masih gemetar takutan menahan aura tirani Enel.


"Shandia? Kalian mengecewakan" Enel membuat evaluasi terakhir yang membuat Kepala Desa Shandia menjadi semakin sakit hati.


Berjam-jam berlalu sejak kepergian Enel.

__ADS_1


Kepala desa membangunkan para penduduk dan dia tidak kenal lelah langsung memanggil seluruh petinggi dan pejuang terkuat di Shandia agar berkumpul.


Kepala Desa duduk di kursi sembari menatap satu persatu petinggi dan pejuang di depannya.


"Sekarang beritahu aku! Siapa dua dari kalian yang melakukan ..... dan bahkan tidak berhenti saat God Enel datang" Kepala Desa memandang Wyper dan Raki. Sebagai kepala desa dia sangat tahu hubungan Raki dan Wyper sangat dalam namun dia sendiri tidak percaya jika kedua orang ini berhenti ketika God Enel datang.


Semua petinggi dan pejuang yang tidak bersangkutan berkata dengan sejujurnya dengan keadaan sebelum God Enel datang.


Sekarang hanya tersisa Raki dan Enel yang memerah dan membatu tidak bisa memberi pertanyaan yang menyakinkan.


"Sia.lan, Wyper, Raki. Gara-gara kalian rumahku terbakar" Seorang pejuang membanting pisau besarnya ke tanah.


"Uhuk" Batuk kepala desa memberhentikan kekacauan.


"Wyper dan Raki. Aku sangat kecewa dengan kamu berdua yang bertingkah seperti itu! Apakah kalian tidak mengerti! Enel menghancurkan setengah rumah di Desa dan sebagian besar tempat penyimpanan makanan kita." Kepala desa menjelaskan hukuman yang di berikan Enel, dia juga merasa kalau hal ini juga konspirasi yang dimainkan Enel untuk menahan perkembangan mereka.


"Apa?" Wyper terkejut dikarenakan persediaan makanan penduduk yang rusak itu cukup untuk beberapa tahun tapi sekarang telah menjadi debu atau rusak dibuat petir Enel.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" Raki berseru kaget, dia tiba tiba tersadar dan berkata "Kepala Desa! Itu Aisa! Aisa pergi ke Upper Yard sebelumnya!" Kata Raki dengan panik.


Kepala desa yang tetap tenang juga terkejut dan panik, dia sangat khawatir dengan Aisa apalagi menurutnya Enel tidak memiliki konsep simpati terhadap siapapun.


Raki ingin pergi mencari Aisa dan memulangkannya namun tangan Wyper menggenggamnya. "Biarkan aku ikut bersamamu" Walaupun Wyper tiap hari kejam terhadap Aisa namun dalam lubuk hatinya dia sangat menyayanginya.


Keduanya segera pergi ke Upper Yard mencari keberadaan Aisa, Sementara Kepala Desa berjalan mondar-mandir sambil berpikir "Dengan kemampuan Mantra Enel mencari Aisa adalah hal yang sepele tapi!" Kepala Desa memandang kepergian Raki dan Wyper.


"Sialan kenapa aku tidak bilang ini dari tadi! Ini Jebakan pasti jebakan!!" Kepala Desa berteriak dengan marah.


Saat semua orang pingsan kecuali dia, dia tidak melihat Enel melakukan apa-apa saja jadi maklum jika keberadaan Aisa tidak ditemukan apalagi Aisa memang sering menghilang.


Tapi tepat saat Enel datang, Kepala desa melihat keberadaan Aisa dalam sekilas. Setelah Enel pergi keberadaan Aisa menghilang.


Sudah jelas ini jebakan yang di siapkan Enel untuknya.


"Sialan bajinga.n Enell!!!!" Teriak marah Kepala Desa hingga memuntahkan darah.

__ADS_1


__ADS_2