Choice System: The God Of Thunder In One Piece

Choice System: The God Of Thunder In One Piece
Eps.23 Monster Jelek


__ADS_3

"Hooaamm pagi yang cerah" Enel meregangkan otot-ototnya di taman rumahnya sembari melihat mentari pagi.


Setelah peregangan sederhana..


Enel memakan sarapan paginya dan kembali ke Kuil Dewa.


Enel melihat Sena dan Sely sedang membersihkan Kuil dan matanya beralih ke Yama yang berlutut didepan kuil.


"Salam God Enel, Bawahan ini membawa kabar dari orang Blue Sea" Ucap Yama dengan sangat rendah hati.


Enel mengangguk dan duduk di kursinya mempersilahkan Yama memberitakan kabar tentang aktifitas orang-orang Blue Sea.


Mendengarnya dengan seksama Enel tidak merasakan kelompok Bajak Laut Topi Jerami melakukan hal hal yang mencurigakan.


"Selain itu, God. Wanita dari Blue Sea menyebutkan jika hal yang di suruh sudah selesai dikerjakan"


Enel sedikit terkejut 'Secepat itu? Layak menjadi wanita cakap dan dewasa di kru Topi Jerami.' Batinnya.


Enel mengangguk "Baiklah kau bisa pergi ke Wanita Blue Sea itu untuk datang ke Kuil Dewa" Ucapnya dan melambaikan tangannya untuk mengusir Yama.


"Haaa~ aku tidak menyangka hal-hal akan menjadi serumit ini?" Enel menatap gambar tahta yang sosok mendudukinya telah rusak dan tidak diketahui tampang aslinya.


"Oh iya" Enel bergumam, dia berdiri mengambil tongkatnya dan berkata dalan hatinya "Apakah kau akan menyerahkan hal itu kepadaku? Kepala Desa Shandia" melangkah dengan kaki Enel menghilang di tempat.


Sementara di Desa Shandia..


"Aisa dengarkan kakek! Jangan pernah pergi ke Upper Yard selamanya ingat!" Kepala Desa memarahi Aisa sambil mengajarkan ke anak anak desa lainnya.


"Ingatlah anak anak apapun yang terjadi jangan pernah ke Upper Yard" Ucap tegas kepala desa.


"Tapi kakek" Aisa ingin menyangkal namun Kepala Desa menginterupsi dengan memukul kepalanya "Bisakah kau sedikit pintar bocah bodoh! Jika hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya desa kita akan hancur"


Anak anak lainnya mendengar hal ini sedikit ketakutan namun semangat pejuang mereka bangkit.


"Ya untuk apa kakek kita harus diam disini saja!"


"Ya betul kek! Paman Wyper dan Bibi Raki saja berani pergi ke Kuil Dewa untuk mengalahkan dewa"


Beberapa anak yang terlihat kuat memberontak. Kepala Desa melihat ini menunjukkan wajah pahit, pengaruh Wyper dan Raki jelas besar didesa namun hal itu juga membuat beberapa kerugian.

__ADS_1


Tiba tiba saat pelajaran selanjutnya dimulai..


Sebuah petir melintas menghantam tanah (Terbuat Dari Awan) tidak jauh dari mereka.


Enel muncul di tengah-tengah campur aduk awan. Badannya terlihat memerah dengan urat-urat mengerikan yang muncul namun dalam sekejap petir petir kembali menyelimutinya membuat penampilannya kembali ke kondisi normal.


"Aku tidak mengharapkan Teknik yang baru ini begitu sulit di gunakan" Ucapnya yang terdengar ke Kepala Desa ataupun anak anak.


Di mata ketakutan mereka..


Sosok berdiri tidak jauh dari mereka.


Sosok yang di sebut dewa, Penguasa Skypiea.


"God Enel" Ucap Kepala Desa dengan ketakutan.


Enel mengabaikan mereka dan masih berpikir tentang teknik yang tadi.


Teknik yang barusan saja dilancarkan olehnya teknik yang menggunakan mekanisme alami petir untuk menyambar benda di bawahnya yang memiliki muatan positif saat petir kekurangan muatan positif untuk mempertahankan muatan negatif.


Namun petir tidak memiliki kesadaran untuk mendarat di mana dengan cepat, berbeda dengan Enel dia memiliki kecerdasan namun sayangnya dia memiliki massa, jika tubuhnya tidak memiliki massa gaya timbal balik tidak akan muncul di tubuhnya.


"Thunder Down? Ya cukup bagus! Namun penggunaan berlebihan sangat merusak" Enel melihat tubuhnya yang secara bertahap menyerap Muatan Positif dan Mengeluarkan Banyak Muatan Negatif untuk mempertahankan keseimbangan.


Enel menatap Kepala Desa yang sudah ketakutan dan berkata "Yo! Apakah kau tidak membuat beberapa persiapan? Kelihatannya kau begitu tenang?"


Kepala Desa yang sedang ketakutan ingin menyemburkan darah dan berkata.


"Apakah ini disebut tenang, Bajing.an"


"Karena kau sudah membuat persiapan! Ayo lakukan dengan cepat, Aku tidak ingin berlama-lama" Enel mencibir dan menatap Kepala Desa dengan tatapan tajam.


"Ba Baiklah" Kepala Desa ingin menolak namun dirinya tidak berani.


Kepala Desa segera membawa Enel ke suatu tempat.


Tempat yang di maksud adalah sebuah batang Giant Jack yang telah dijadikan goa, tempat ini pada awalnya tertutup batang Giant Jack yang lain, namun Enel menghancurkan batang yang menggangu pintu masuk itu.


Masuk ke Goa yang cendek dan tidak begitu dalam.

__ADS_1


Enel melihat sebuah kunci bewarna Merah mengambang secara misterius di tengah-tengah Goa. Dia ingin maju dan langsung mengambilnya namun Enel menunggu apa yang selanjutnya kepala desa.


Kepala Desa, mengambil pisau dan menggunakan darahnya untuk membuka segel tersembunyi.


Setelah kunci di ambil dengan aman, Enel menunggu dengan sabar. Kepala Desa membawa kunci itu perlahan, Enel sedikit mengerutkan keningnya dan menunggu apa yang dilakukan kepala desa.


"Hahahah" Kepala desa tertawa terbahak-bahak, tubuhnya secara bertahap berubah menjadi kering karena semua darahnya di hisap ke kunci.


Setelah darahnya tersedot habis, tubuhnya tiba tiba pulih dan menjadi semakin kuat, kunci yang terbang tercetak di tengah dadanya.


"Sekarang kau dapat mati Enel" Teriak Kepala Desa sambil meninju Enel dengan kecepatan yang sangat cepat.


Enel tetap diam tanpa mengambil posisi apapun. Melihat Kepala Desa dengan tatapan jijik karena penampilannya menjadi semakin menjijikkan. Enel bergumam: "Kau sangat jelek, Kepala Desa"


Tinju kepala desa tinggal seinci lagi, Enel telah menghilang di tempat dan keluar dari Goa.


Melipat tangannya seakan-akan menganggap remeh lawannya, Tongkat emasnya telah berubah menjadi trisula berdiri gagah di sampingnya.


Beberapa detik kemudian, Enel mendengar suara tapak kaki di iringi dengan getaran. Semakin lama semakin besar getarannya bahkan penduduk desa shandia mau tidak mau khawatir.


Di pintu goa yang sempit tiba tiba terkoyak.


Sosok monster muncul, kepala dengan penuh darah dan bentuk aneh, badan yang bergejolak penuh darah bahkan ukurannya telah meningkat berlebihan.


Enel memandang raksasa setinggi 20 - 30 meter didepannya dengan tatapan kosong.


"Oi Kepala Desa! Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu ini?" Ucapnya dengan tenang tanpa terlihat panik sekalipun.


Namun yang membalasnya bukanlah suara Kepala Desa tapi raungan monster yang mengerikan.


Air liur menyembur ke Enel namun Enel dengan mudah menghindar berkat bantuan kenbonshuko dan buah iblisnya.


Enel memegang trisulanya dan terbang ke langit berkat bantuan medan magnet.


"Sepertinya kau telah kehilangan kebijaksanaan, Kepala Desa" Nada Enel terdengar dingin, Trisula ditangannya secara bertahap berubah menjadi katana sepanjang 2 meter.


"Hahahaha baiklah, aku sudah lama tidak menggerakkan seluruh otot-otot ku monster jelek"


Langut secara bertahap menjadi gelap, Enel sengaja melakukannya agar dia dapat dengan mudah memobilisasi kekuatan buah iblisnya.

__ADS_1


Monster jelek itu mengaum menghadap Enel.


Keduanya memulai pertarungan mereka...


__ADS_2