Choice System: The God Of Thunder In One Piece

Choice System: The God Of Thunder In One Piece
Eps.32 Kapten Hina


__ADS_3

"Haah haah, Dunia Sialan!!! Sudah 2 hari terbang tidak ada satupun pulau" seseorang berteriak sembari terengah-engah di lautan antah berantah.


Terbang di langit dengan kecepatan yang melambat sambil membawa karung besar, sosok yang kelelahan dengan wajah marah yah dia itu Enel.


Sudah 2 hari sejak meninggalkan Pulau Jaya, Perjalanannya tidak semulus biasanya karena dia harus menghindari badai kuat yang aneh.


Selama terbang ini Enel hanya fokus di Log Pose dan tidak berani gegabah untuk mengubah rute perjalanannya.


"Sialan jika tidak ada badai 2 hingga 3 hari cukup untuk terbang namun sekarang satu hari saja sudah membuatku kelelahan" Kata Enel yang sedang mengelap keringat di dahinya.


"Apakah tidak ada kapal satupun? Aku mungkin bisa mati jika tidak berisitirahat" Enel melihat ke sekelilingnya, dirinya masih berharap jika sebuah kapal atau pulau muncul.


Hingga beberapa jam berlalu, pagi hari telah menjadi siang hari.


Siang hari ini Enel melihat sebuah titik kecil di kejauhan.


"Hahahaha! Akhirnya sebuah pendaratan" Dengan energi yang tersisa Enel mempercepat proses terbangnya juga berteriak senang.


Terbang dalam beberapa menit saja, Enel tidak memperdulikan kapal apa itu yang penting dia mendarat.


"Hei apa itu?" Salah seorang kru kapal melihat sebuah benda hitam yang jatuh dari langit.


"Hah mungkinkah itu meriam? Apakah ada serangan musuh" Seorang kru lain mempersiapkan senjata sembari bertanya heran.


"Tidak tidak mungkin ada musuh! Dan dilihat bukankah meriam itu terlalu besar untuk sekedar meriam" Seorang kru lain menggelengkan kepalanya dan menolak gagasan temannya.


"Jadi bisakah kau sebutkan apa itu?" Merasa di intrupsi, Kru yang bersiap menyerang sedikit tidak senang dan menantang kru tersebut.


"Aku tidak tahu lebih baik beritahu Kapten Hina jangan bertindak gegabah" Bukannya marah, kru itu malah menasehati dan memberi arahan.


Kru yang ingin berperang sedikit marah dan ingin berkata-kata. Namun sebuah ledakan terjadi.


Saat keduanya berbincang.


Enel di langit perlahan mendekat kapal..


"Akhirnya sampai!" Melihat kapal di bawah kakinya, Enel tiba tiba menghilang seperti petir yang menyambar tanah dia muncul di geladak kapal.


Enel menggunakan Thunder Down untuk menjatuhkan dirinya dengan cepat, walaupun hal itu membuat kekuatan fisiknya berkurang setengahnya.


*Darrrm


"Apa itu?"


"Serangan musuh!!"


"Semuanya berkumpul"

__ADS_1


Kru kapal semua berteriak..


Enel turun langsung ke geladak membuat ledakan keras dan asar yang membuatnya kabur di pandangan semua kru kapal.


Hingga asap menghilang...


"Eh? Angkatan Laut?" Enel melihat sekeliling dengan wajahnya yang tidak terlihat santai sama sekali, yah dia cukup gegabah menggunakan Thunder Down untuk turun secara langsung.


Mengakibatkan hampir semua staminanya berkurang dan kekuatan fisiknya hampir mencapai batas.


"Siapa kau? Apakah kau bajak laut??" Suara wanita yang keras dan marah terdengar menusuk di telinga Enel.


"Hah?" Enel sedikit terkejut dan menatap seseorang yang berbicara begitu keras tadi.


Sesosok wanita tinggi dengan pakaian serba merah sedikit gelap, rambut pink yang tergerai, bibir merah yang mempesona dan sosok yang sempurna.


Dia adalah Kapten Hina.


"Bajak laut? Yah mungkin" Enel menjawab dengan seringai yang terlihat terpaksa padahal dia hanya kelelahan.


Tanpa menunggu jeda, Hina langsung bergerak dan menggunakan kekuatan buahnya.


Tubuh Enel yang terlihat lusuh bewarna merah kemudaan dan urat urat yang terus bergejolak di kekang oleh sebuah logam membentuk sangkar.


Ori Ori no Mi.. Atau Buah Sangkar.


Bentuk Kandang yang mengekang Enel adalah persegi panjang yang membatasi semua gerakannya.


Pengguna buah iblis Ori Ori no Mi saat ini ialah Hina.


"Aku sedikit memberimu pengampunan dengan membuat persegi panjang" Ucapnya Hina dengan enteng seolah melakukan hal hal yang sepele.


"Hahah bodoh" Namun reaksi Enel beberapa dari harapannya, Enel hanya tertawa dan mengejek perilakunya yang bodoh itu.


Hina menyipit dan menatapnya dengan tajam. Para angkatan laut di sekitarnya sedikit bingung.


"Apa kau tau besi itu termasuk konduktor" Ucapnya dengan senyuman kemenangan.


"Ya?" Hina sedikit bingung? Meskipun mereka bukanlah pelajar sarjana yang menjadi ilmuwan namun sebelum masuk atau sesudah ada pelajaran dan tes teori kecuali untuk yang spesial.


"Walaupun tidak seefektif emas, perak dan tembaga namun tetap saja dia bisa di aliri listrik, maka begitu" Tubuh Enel beriak listrik yang mengeluarkan suara mencicit.


Di wajah terkejut semua orang termasuk Hina, Besi yang mengurung Enel berubah menjadi bola meriam di tangannya.


"Ambil ini! Punyamu kan" Dengan senyuman Enel berkata hangat namun tubuhnya tidak sepertinya karena.


Bola besi di tangannya di lemparkan ke arah Hina, beberapa di bayangan beberapa orang, bola itu hanya dilemparkan layaknya bola basket.

__ADS_1


Hina secara tidak sadar menangkapnya dan wajahnya bertanya-tanya, "Apa yang kau lakukan?" Dia sedikit bingung karena besi yang selalu di bawah kendalinya kini dengan mudah dikendalikan Enel.


"Aku hanya sedang membodohi gadis kecil" Enel sedikit terkekeh melihat mata Hina berkontraksi.


"Kamu!!" Hina sangat geram dia ingin melemparkan kembali bola di tangannya ke wajah Enel.


Namun bahkan sebelum melepasnya, tubuhnya tiba tiba gemetar dan gosong dengan rambutnya yang mengembang menjadi afro.


"Aahhhh" Dengan mata yang menjadi putih dan tubuh yang gosong, Hina jatuh ke tanah layaknya ikan mati.


"Kapten Hina!!" Para kru mulai berteriak marah, mereka menatap Enel dengan tatapan mengerikan.


"Beraninya kau menyerang kapten" Salah seorang angkatan laut pemberani maju selangkah demi langkah.


"Walaupun kepribadian kapten itu buruk namun dia tetap saja bagian dari hatiku" Ucap angkatan laut itu. Para angkatan laut di sekitarnya memandangnya dengan kagum.


"Hah?" Enel mengupil dan menatapnya dengan tatapan melihat orang bodoh.


"Karena kamu berani merusak bagian hatiku! Maka terimalah serangan dari ototku" Angkatan Laut itu tiba tiba membesar menjadi sebuah manusia berotot setinggi 3 meter hanya menyisakan sempaknya saja.


"Waaahh" Angkatan Laut di sekitarnya berteriak kaget memandang angkatan laut pemberani yang berubah.


Bahkan Enel juga termasuk.


"Eh?" Enel tiba-tiba tersadar, dia menatap laki laki berotot itu dengan tatapan heran.


"Apa kau itu bodoh atau goblok?" Menghadapi pertanyaan Enel yang bukan pilihan, pria berotot itu tiba tiba berpose.


Tangannya di letakkan di dadanya, dia berkata dengan suara berat "Aku? Aku hanya orang bodoh yang bersyukur memiliki bagian Hina dalam hatiku"


"Karena kau melukainya, maka terimalah! Serangan Kasih Sayang Ketiak" Mendengar nama jurusnya saja, wajah Enel menghitam, dia memandang pria berotot yang menjulurkan ketiaknya ke arah.


"Sangat menjijikkan! Apakah ini perlakuan mu di pertarungan antar pria?" Kata Enel dengan nada tidak terima, sementara para angkatan laut di sekitarnya sedikit heran.


Tiba tiba mereka mengingat saat dimana Enel mengupil. "Bajingan ini" Batin mereka.


"Hah?" Pria berotot berhenti namun karena sudah terlalu dekat dengan Enel, dia sudah masuk perangkapnya.


"Heh! Satu orang lagi sudah masuk kedalam perangkap!" Enel menjulurkan tangan kirinya dan mengeluarkan listrik mengenai Pria Berotot dalam jarak dekat.


"Apa??" Pria berotot sedikit bingung namun selanjutnya dia berteriak kesakitan dan pingsan di tanah.


Karena kekuatan fisik yang hampir habis dan tidak banyak stamina yang dimilikinya, jarak penyalur listrik Enel berkurang drastis, dia hanya bisa mengeluarkan listrik dalam radius 2 meter tanpa banyak menguras kekuatan fisiknya.


Jadinya Enel memancing pria itu agar datang dan memukulnya sementara Enel hanya menunggu ikan menangkap umpan.


"Aku tidak mengerti? Apakah para angkatan laut sebodoh ini? Kalian hampir mirip seperti bajak laut biasa dibandingkan citra asli angkatan laut" Enel mengomel sedikit dan memandang tajam para angkatan laut yang malu.

__ADS_1


__ADS_2