Choice System: The God Of Thunder In One Piece

Choice System: The God Of Thunder In One Piece
Eps.13 Keluarga Pagaya


__ADS_3

Tempat tinggal Conis dan Pagaya berada di dekat pantai, rumah mereka sederhana dan tidak terlalu mewah. Enel dapat melihat keluh kesah hati mereka mengkhawatirkan kelompok Topi Jerami.


Kedatangan Enel membuat kedua orang itu syok berat dan pasrah.


"Apakah kamu Pagaya?" Enel melihat orang tua dengan janggut sangat tebal dan dua rambut antena di kepalanya.


Enel tidak terbiasa dengan budaya Skypiea lagipula dia datang dari Birka dan malas mempelajari budaya mereka jadi dengan salam khusus yang dimiliki Skypiea dia mengabaikannya.


Orang tua setinggi 179 Cm itu bergetar dengan keringat di sekujur tubuhnya, dalam hidup Pagaya, hal ini kedua kali dia bertemu langsung dengan Enel.


Dia yang sudah tua merasakan, di tubuh Enel berbeda dengan sebelumnya, Dia tidak memiliki aura tirani dan ganas serta sombong seperti sebelumnya.


Namun Serius, Tegas dan memiliki aura kepemimpinan.


"Jadi kamu yang menggelapkan mereka?" Tanya Enel dengan mata menunduk kebawah, tubuhnya yang setinggi 266 Cm melihat Pagaya seperti anak anak baginya.


Pagaya langsung mengerti, dia berlutut dan berkata "Dewa, hukum aku! Tolong biarkan anakku tetap hidup". Sebagai penatua di desa dia mengerti dengan jelas aturan yang di terapkan di Skypiea.

__ADS_1


Conis di kejauhan gemetaran ketakutan menghadap Enel, Meskipun Enel tidak menatapnya namun beberapa hari yang lalu dia telah di jatuhi hukuman dewa tapi tetap selamat berkat Kelompok Topi Jerami.


"Hmmm? Semudah itu kah" Enel terkekeh dan tersenyum kejam. Petir dan Listrik di tubuhnya bergejolak.


Pagaya dan Conis semakin ketakutan dan lebih takut lagi.


"Apakah semudah berlutut dan meminta maaf? Apakah hanya itu? Kelompok yang kalian gelapkan telah membuat kericuhan di Tanah Para Dewa, Upper Yard dan hanya meminta maaf??"


"Jika permintaan maaf berlaku apakah kerusakan berdiameter 500 meter yang memiliki pohon pohon kuno itu dapat dengan mudah kembali" Ucap Enel dengan marah.


Darrr..


"Apakah hanya meminta maaf??" Enel berjongkok dan melihat Pagaya yang berlutut gemetaran.


"Hanya meminta maaf? Pagaya" Enel melirik Pagaya yang berlutut mengeluarkan air mata. Bahkan Conis di kejauhan mengeluarkan air mata penyesalan dimatanya.


"Aku aku!" Pagaya ingin berkata.

__ADS_1


"Jadi menurutmu? Para keroco itu dapat mengalahkanku dan kamu bisa hidup dengan tenang?" Enel terus menyudutkan Pagaya, dia ingin membuat mental Pagaya down.


Melihat Pagaya tidak bisa menjawab pertanyaannya, Enel berdiri dan berjalan kearah Conis.


Conis ingin mundur namun dia tidak bisa karena dirinya sudah ketakutan. Enel memegang dagu Conis dan mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat Enel.


"Ayahmu tidak bisa menjawab! Bagaimana denganmu? Gadis Kecil?" Tanya Enel melihat Conis menangis bahkan peliharaannya tidak bisa melawan karena aura Enel.


"Aku? Aku? Bi bisa men menjadi Bu budak m mu" Jawab Conis dengan nada keberatan dan bahkan dirinya semakin menangis tanpa suara?.


"Hahahahaha? Sepertimu? Bahkan pelayanku berkali-kali lipat lebih cantik dibandingkan dirimu? Lebih tinggi dan besar daripada kamu? Apa yang kau banggakan" Enel tertawa dan meroasting habis mereka berdua.


Saat ini Conis tidak bisa menjawab apa apa lagi, Enel melepaskan dan berjalan keluar rumah Pagaya, dengan punggung menghadap mereka, Enel berkata "Kalian selama seumur hidup akan menanam pohon di Upper Yard! Jika kalian menolak, Aku tidak ragu untuk mengambil nyawa kalian".


Enel mengeluarkan Haoshoku Hakinya membuat Pagaya, Conis dan Hewan peliharaan mereka pingsan.


Di pantai White Sea, Enel melihat lautan putih tak berujung.

__ADS_1


Menghela nafas dan membebaskan pikirannya, Enel berkata dalam hatinya "Sekarang aku telah menjadi seseorang yang lain bahkan tidak bisa untuk tidak merasa kasihan! Haaa~~ Aku harus mengubah hal ini" Setelah tidak ada yang harus dia perhatikan.


Enel menghilang di tempat dan kembali ke Kuil Dewa menggunakan kekuatan petirnya.


__ADS_2