Choice System: The God Of Thunder In One Piece

Choice System: The God Of Thunder In One Piece
Eps.20 Asal Usul Mereka dan Para Pendosa


__ADS_3

"Hahah aku tidak menyangka kami juga berhubungan dengan kedua orang ini" Gumaman Enel didengar oleh Robin.


"Siapa keduanya apa kau mengenalinya?" Tanya Robin dengan heran.


"Mereka? Apa kau ingin tahu? Jika kau mengetahuinya sekarang perjalanan mu berikutnya mungkin terasa lebih dan kurang menarik" Enel menatap Robin dengan tatapan main main sementara Nami di sisi lain melihat percakapan mereka berdua yang sudah agak akrab berkata dalam hatinya.


"Tebakanku benar! Enel pasti menyukai wanita tipe seperti kak Robin"


Mereka berdua yang sedang berbicara tidak tahu kalau seseorang menebak-nebak hubungan mereka, apalagi Enel tidak menggunakan Kenbonshuko nya maka dari itu dia tidak tahu apa yang dipikirkan Nami.


Robin terdiam, dia mengambil dalam-dalam dan berkata "Aku siap", Enel mengangguk dan membalas "Sebelum itu apakah kau berasal dari Pohon Kebijaksanaan melihat kau bisa dapat dengan mudah memahami tulisan kuno?"


Robin mengerutkan keningnya dan memberikan jawaban "Aku tidak tahu pohon kebijaksanaan apa yang kau ucapkan! Aku berasal dari O'Hara tempat para arkeolog berkumpul"


Enel hanya mengangguk diam dan menjelaskan tentang apa yang di ketahui sebelumnya tentang Joy Boy dan Im.


"Dimulai sebelum abad kekosongan,"


"Dulunya dunia ini hidup dalam system kerajaan hingga sekarang, Joy Boy sendiri adalah suatu raja dari kerajaan yang menyandang nama D. Kerajaannya merupakan kerajaan terkuat dan paling makmur di seluruh dunia.


Pada suatu hari 20 Kerajaan besar berkumpul untuk menghancurkan Kerajaan yang di pimpin Joy Boy, Pemimpin dari 20 kerajaan itu adalah Im. Hingga sekarang Im tetap memerintahkan 20 kerajaan yang menjadi pemerintah dunia dengan banyaknya misteri." Enel menjelaskan asal usul mereka berdua walaupun dia tidak tahu banyak di kehidupan sebelumnya tapi di dunia One Piece yang aslinya pengetahuan ini merupakan pengetahuan berharga.

__ADS_1


"D?" Gumam Robin.


Enel terkekeh dan berkata "Ya D, Musuh alami para Dewa" Walaupun dirinya sendiri Dewa namun Dewa yang di maksud dalam kata-katanya adalah pemerintah dunia yang bertindak seperti dewa.


Dengan tambahan pemimpin dari bulan, Enel menjadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu.


Di saat keduanya sedang berbincang-bincang tentang informasi informasi baik sekarang maupun dulu.. Seseorang berteriak dari kejauhan.


"Bajin*an Enek dimana Aisa" Yang berteriak adalah Raki, mereka berdua di halang oleh Yama didepan pintu gerbang.


Wajah ramah Enel berubah menjadi dingin, Aura dingin yang selama ini hilang muncul kembali, dia menggunakan kenbonshuko Hakinya lalu berkata "Yama biarkan mereka masuk"


Tak lama kemudian pintu gerbang di dobrak oleh Wyper mereka berdua masuk dengan cepat.


Keduanya sangat cepat mereka segera ingin mendatangi Enel, Robin dan Nami yang tahu situasi tidak bagus, pergi sedikit lebih jauh agar tidak ikut campur dengan urusan mereka dan mendengarkan dalam diam.


Mereka berdua ingin mendekati Enel namun, "Kalian berdua makhluk kotor yang bahkan belum membersihkan dirinya ingin mendekati dewa ini?" Nafas Haoshoku Haki keluar dengan penuh arogansi.


Keduanya yang tidak tahan segera berlutut di kejauhan, semangat menyerang mereka hilang dalam sekejap digantikan ketakutan.


Lebij dari itu setelah Haoshoku Haki diambil kembali, Wyper kembali memberontak yang membuat Raki juga ingin ikut.

__ADS_1


"Semut yang merepotkan" Enel melambaikan tangannya dan membuat petir menyambar kedua pemberontak itu.


Dalam sekejap petir yang memiliki minimal 25rb Volt saja sudah membuat mereka kelelahan hingga hampir pingsan.


"Baiklah sekarang kita dapat berbicara dengan nyaman" Enel tersenyum kejam dan berkata "Apa yang diinginkan dua pendosa ini di kuil yang suci! Apakah kalian ingin di adili? Atau tidak?"


Robin dan Nami di kejauhan sedikit bingung karena tidak mengetahui alur ceritanya. seingat mereka Raki itu adalah bawahan Enel mengapa bisa menjadi pendosa.


"Di diam ka kau en enel be bera ni ninya kau men culi k ai s a" Ucap Raki dengan patah-patah.


Enel tersenyum dan berkata "Menculik? Apakah hukuman yang kuberikan bisa kalian anggap sepele? Tikus kecil itu berani menginjak Upper Yard saat di larang? Dan aku memberi hukuman apakah ini disebut menculik?"


"Dimana Aisa Bajing." Wyper berkata dengan lancar karena dia lebih kuat dari Raki namun suaranya sedikit serak.


"Dimana dia? Bagaimana kalau dia sudah mati? Apa yang ingin kalian lakukan? Ikut mati juga kah?" Enel tertawa dan mengejek, baginya dirinya itu tidak memiliki prespektif terhadap kejahatan maupun kebaikan, apapun yang dilakukan itu demi keuntungan dan kepentingannya.


Apakah dia jahat?


Apakah dia Baik?


Dia tidak peduli, Asalkan tujuannya tercapai.

__ADS_1


__ADS_2