Chronicle Klan Feniks

Chronicle Klan Feniks
Gadis Kelabu


__ADS_3

Ternyata ke tiga kawan sekamar Lei kecil itu adalah calon shulam yang memiliki kekuatan sihir "supporting"atau sihir penunjang, setidaknya itu penjelasan yang diberikan Quentin, ketika Lei kecil menanyakan kemampuan sihir mereka.


"Ketika aku di uji bakat di desaku, warna yang terpancar keluar mencerminka auraku diriku adalah biru pucat. Apakah kalian tahu apa artinya?" tanya ZhongLei.


"Well... kamu adalah sihir penunjang, itu telah jelas. Kamu telah tepat berada di dalama kamar ini bersama kami bertiga" kata Quentin.


"Merah untuk petarung, Kuning untuk pertahanan, Hijau untuk transportasi, Biru untuk Penunjang atau supporting dan Kelabu yang terlemah untuk kemampuan sihir para penerawang dan perapal mantra" Lanjut Quentin.


"Kelak kamu akan di uji sekali lagi didalam kelas oleh Tuan Argoroth.


Ketiga anak itu lantas memberi Lei kecil kesempatan untuk bersiap-siap, karena mereka sudah harus berada di kelas sebelum pukul tujuh. Padahal mereka semua belum lagi mengisi perut mereka dengan sarapan bubur gandum dingin di siram cairan susu. Minumannya adalah jus sayur-sayuran, berwarna hijau yang menggoda.


"Meskipun makanan ini terasa hambar, dan minuman nya terasa getir, namun semua adalah makanan yang telah diperhitungkan masak-masak oleh Miss Aling, agar tubuh kita kuat selama beberapa jam kedepan, menunggu jam makan siang" sahut saosheng yang dengan ceria memasukkan bubur gandum kedalam mulutnya.


"Upayakan semua hidangan di piring itu, habis kita makan. Tidak usah peduli dengan rasanya. Karena biasanya satu jam sebelum jam makan siang, selalu saja ada pelajaran dadakan dari kelas seni bela diri menggunakan senjata. Kamu tidak ingin jatuh pingsan karena kelaparan bukan" lirik Tan Quentin dan tersenyu. Dia kembali menyendok bubur kedalam mulutnya.


Lei kecil hanya mengangguk-angguk kepala saja selama perbincangan itu. Dia merasa geli dengan pelajaran cara menghabiskan makanan di piring-yang di mentori oleh Quentin,


"Kamu belum tahu rasanya kelaparan dan belum makan apa-apa dalam dua hari. Well, mungkin aku akan mengadakan tour berkeliling Desa MeiHua dan mempertontonkan bagaimana rasanya tak makan berhari-hari, lalu di sodori semangkung penuh bubur gandum yang disirami susu" Lei kecil tertawa didalam hati.


Diantara ketiga kawan barunya itu, Lei kecil merasa Hani Wang, anak keturunan Suku Han sama seperti dirinya, amatlah pendiam.


"Meskipun Hani Wang adalah seorang anak yang pendiam, namun kemampuan sihir yang dia miliki sangatlah langka. Ya, Hani Wang adaah seorang Refiner atau pembuat senjata menggunakan sihir" Kata Quentin, lagi-lagi.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, sepertinya Quentin ini adalah pemimpin didalam kelompok ini" batin Lei kecil sambil menatap anak ras campuran bermata biru itu.


Mereka berempat berjalan dengan langkah pendek namun cepat-cepat menuju ke kelas. Lorong panjang itu di hiasai beberapa tembikar, bahkan porselen kuno yang mempertegas aura kuno di akademi itu.


Disebabkan Lei kecil belum memiliki Nomrogh untuk siswa kelas sihir, maka dirinya di pinjamkan sebuah jubah kecil dari kain katun yang berwarna biru terang, menyerupai warna Nomrogh tiga kawannya "Penyihir Supporting/Penunjang itu"


Kelas mereka sebenarnya lebih cocok di sebut dengan sebuah taman in door (taman dalam ruangan).


Ruangan kelas yang seharusnya berukuran 20 x 20 meter itu terasa lebih lapang dari yang seharusnya.


"Sihir sudah pasti. Rasanya seperti tengah berada didalam sebuah taman berukuran 100 meter bujur sangkar, yang penuh dengan hiasan tanaman rempah obat-obatan dan bunga-bunga segar" batin Lei kecil.


Kelas mereka ternyata berjumlah 20 siswa. Usia rata-rata mereka di kisaran 8 tahun hingga 12 tahun. "Mengapa tidak ada yang berusia diatas 12 tahun?" tanya Lei kecil polos.


"Karena seorang penyihir sudah harus mulai berlajar secara riil dengan berlatih langsung di medan perang. Ya tatkala usia kami mencapai 13 tahun, seorang calon Shulam harus berangkat ke Kota Zamorazhivaniye di Utara sana" jawab Quentin santai.


Lei kecil bertambah bingung. Dia tidak paham apa yang di maksud dengan pengoyak jiwa. sepengetahuannya, semua penyihir itu di sebut Shulam.


Kenyataannya ketika dia telah berada di kumpulan calon Shulam seperti ini, dia bahkan terbukakan pemahamannya selama ini. Ada shulam penyerang, pertahanan, transportasi, supportiing dan warna kelabu untuk mereka yang tidak terlalu penting. Sekarang ditambah lagi dengan sebutan Pengoyak Jiwa yang membuatnya bertambah pusing.


"Ah sudahlah. Aku akan mempelajari semua pelan-pelan" batin Lei kecil sambil menghempaskan badannya ke kursi bantal, bersebelahan. dengan tiga kawan lainnya.


******

__ADS_1


Ternyata dari 20 siswa di kelas mereka, 7 anak diantara nya adalah perempuan. Sisanya anak laki-laki termasuk Lei kecil sendiri.


Lalu dia mengamati kelompok anak-anak ber Nomrogh merah menyala,


"Jumlahnya tujuh anak yang masuk kategori penyerang. Hanya satu perempuan dari total 7 penyerang" dan.. Lei kecil melihat kelompok berjubah Nomrogh Merah itu duduk di barisan paling depan.


Disusul barisan kedua kelompok anak-anak berjubah Nomrog kuning berjumlah 3 anak. Mereka terdiri dari 2 anak laki-aki dan 1 anak perempuan. Kelompok Kuning ini adalah pasukan Pertahanan.


Barisan ketiga diisi 5 anak yag terdiri dari 1 anak lelaki dan 4 anak perempuan. Mereka mengenakan Jubah Nomrog berwarna hijau gelap. Itu adalah kelompok yang di sebut transportasi.


Dan di jajaran paling belakang adalah anak-anak berjubah Nomrogh Biru atau dikenal dengan sebutan kelompok Supporting.


Seorang anak perempuan pendiam yang mengenakan jubah Nomrogh Kelabu yang disebut Pelengkap itu hanya asik membaca buku-buku tebal yang terletak di atas meja kecilnya.


"Dia adalah penerawang. Maksudku kehalian nya adalah meramal sesuatu berdasarkan susunan bintang-bintang di langit" bisik Quentin.


"Sebaiknya kamu berhati-hati dengan dia. Meskipun kaum shulam pelengkap seperti itu kadang tidak dianggap, namun kabar burung mengatakan bahwa gadis jubah kelabu itu dapat menjatuhkan kutukan kepadamu" desis Shaoseng menyela pembicaraan Lei kecil dengan Quentin.


"Dia pernah di bully oleh anak-anak penyerang itu, lalu dia kemudian membacaan ramalan mengenai nasib anak yang membully dia. Tak lama berselang, ramalan nya menjadi kenyataan, ketika si pembully kaum penyerang itu mengalami kecelakaan ketika mencoba menggunakan teknik sihir pengendalian api-sesuai dengan ramalam gadis itu" Quentin melirik ngeri kearah gadis pendiam itu.


Lei kecil ikut-ikutan menatap diam-diam, namun tubuhnya mengejang. Gadis kelabu itu seketika memalingkan wajah menatap balik Lei Kecil..


*Bersambung*

__ADS_1


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2