
Hani Wang menatap lekat-lekat anak kecil kawannya itu,
"K-kamu telah mampu melakukan teknik mengoyak jiwa?
D-ari mana kamu dapat menghimpun kekuatan itu?"
Hani Wang meminta penjelasan dari Zhonglei. Kemampuan untuk mengumpulkan energi yang bayak, lalu memerintah pikiran untuk merusak jiwa lawan dari jarak jauh, membutuhkan kekuatan dan pelatihan yang sangat lama.
Sedemikian susahnya mengumpulkan energi seperti itu, sampai-sampai pelajaran untuk mengoyak jiwa, hanya akan diajarkan di Akademi kelas Menengah di Kota besar lain Wilayah Tengah nanti
"Aku tidak tahu" desis Zhonglei.
"Semua terjadi begitu saja ketika aku membayangkan teknik ketika kita meremas kacang polong waktu itu"
Zhonglei tidak memberitahukan kalau dia diam-diam berlatih teknik Siulian ssuai ajaran Imam Lu.
"Benarkah demikian? Aku meragukan jawabanmu" tanda Hani Wang.
"Ya dewaa... Kamu betul-betul tidak percaya denganku Hani Wang!
Coba kamu pikir. Darimana anak desa seperti aku memperoleh kekuatan ini,
jikalau kamu diam-diam mencurigaiku berlatih teknik khusus, apakah kamu tidak merasa waktu kebersamaan kita hampir selalu bersama-sama selama 24 jam?"
Hani Wang terlihat berpikir sebentar. Kemudian dia berkata,
"Baklah untuk kali ini aku percaya kamu Zhonglei.
Akan tetapi, mulai besok aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi. Aku kepingin memiliki kemampuan yang sama seperti kamu" kata Hani Wang penuh misteri.
"Oke" jawab Zhonglei. Mereka pun meninggalkan jalan itu, setelah melihat kawan-kawan yang lain ternyata telah memperoleh bantuan dari pejalan kaki yang melintas. Rupa-rupanya anak-anak itu menjerit-jerit sehingga menarik perhatian para pejalan kaki, yang beramai-ramai menggebuk orang-orang Keelak itu.
******
Mulai keesokan harinya, Zhonglei mulai menambah kekuatan gelang di tangan dan kakinya, menjadi seberat dua kali lipat berat sebelumnya. Kini masing-masing gelang kaki kiri kanannya menjadi seberat 40 kati. Sedangkan masing-masing gelang tangannya dipasanga beban seberat 20 kati.
"Apakah ini tidak akan berbahaya?
Aku merasa teramat sangat tidak nyaman" keluh Hani Wang ketika dia pada akhirnya ikut-ikutan memasang gelang di kaki dan tangannya.
__ADS_1
"Jangan bodoh !
Dasar pemalas. Ikuti saja semua tata cara ku. Bukankah kamu yang begitu berkeras untuk mengikuti apa saja yang akan aku lakukan? Sekarang kamu pakai empat gelang itu dan hentikan keluh kesahmu itu. Kupingku terasa sakit" cemooh keluar dari mulut Zhonglei.
Mau tidak mau Hani Wang pun mengikuti semua yang di lakukan Zhonglei.
Tidak berapa lamapun, dua anak itu mulai melompat-lompat di atas papan kayu setebal 0.6 cun. Keduanya berharap penyiksaan ini tidak akan terlalu lama.
Waktu pun berlalu dengan cepat, dan tanpa terasa telah enam bulan masa sengsara Zhonglei dan Hani Wang dengan memikul empat gelang berat mereka jalani. Maskipun demikian, harapan agar papan lompatan itu segera patah, tak jua kunjung datang.
Sementara itu, pelajaran-pelajaran barupun mulai memasuki kurikulum anak-anak itu. Saat itu Instruktur Lani Sun memulai pelatihan mereka dengan Pelajaran "Seni Merapal Mantra"
Tentu saja pelajaran ini sangat diminati oleh Gladys Wu. Sebagai gadis yang memiliki bakat sihir sebagai perapal mantra.
Salah satu pelajaran yang menarik Zhonglei adalah Teknik Penyembuhan secara Sihir. Anak itu memperhatikan dengan seksama ketika instruktur Gregory Wang menjelaskan cara menjahit luka secara sihir, dan beberapa teknik kelas rendah.
Zhonglei jelas-jelas memperoleh point kontribusi beberapa kali didalam kelas itu. Dia dengan mudah membuat luka goresan kecil menutup, bahkan tidak terlihat bekas luka sama sekali, dan itu hanya tersisa berkas garis tipis, yang nyaris tak dapat dilihat pada bekas luka.
Selama kurun waktu itu, Zhonglei tidak pernah lupa untuk berlatih teknik siulian, sehingga semakin lama semakin banyak energi Shulam yang berkumpul di pusaran energinya. Manfaat yang diperoleh setelah makin banyaknya energi terkumpul di pusaran energinya, dia sama sekali tidak merasakan kerepotan lagi dengan empat beban gelang di kaki dan tangannya.
Hingga pada suatu hari yang sangat cerah, Zhonglei berhasil membuat papan lompatan mereka patah, terbelah menjadi dua.
"Horee !"
Hani Wang tidak kalah girangnya. Keduanya buru-buru menanggalkan beban di tangan serta kaki itu.
"Cobalah kamu melakukan teknik salto" kata Zhonglei.
"Baiklah.. Kamu coba beri nilai" Hani Wang langsung menekuk kakinya, dia melompat ke tembok pagar akademi, lalu tubuhnya terlontar setinggi hampir 6 meter.
"Waaahh !" Zhonglei di buat terkagum-kagum ketika melihat Hani Wang meliuk di udara, lalu dia berjumpalitan dan mendarat ringan di tanah.
"Sekarang kamu melihat aku dengan Tarian Pedang Bianglala Temaram ini" Zhonglei lalu memutar pedang kayu ditangannya, dia kemudian terlihat seperti menari dengan gerakan Pedang Bianglala Temaram.
Adapun Hani Wang, anak itu terdiam dan tercekat. Rasanya dia tak percaya melihat kegesitan dan lincahnya gerakan Zhonglei yang dia anggap lebih cepat dari gerakan seekor kijang.
"Kamu betul-betul telah berubah menjadi seorang anak penuh prestasi dalam waktu hampir setahun ini.
Tidak seorangpun akan menyangka, bakat kamu sebagai seorang ahli sihir itu adalah penyerang.
__ADS_1
Sayang sekali basis unsur di tubuh kamu adalah unsur kayu" Hani Wang terlihat memuji dengan tulus.
"Tidak perlu menjadi seorang pengendali api jika benar-benar ingin ahli memainkan pedang bukan?
Dan tidak usah repot-repot untuk menjadi pengendali tanah atau air, untuk menjadi ahli dalam mengoyak jiwa bukan?" Zhonglei mengkedipkan mata kepada Hani Wang, keduanya lalu tertawa keras-keras.
"Bahkan anak-anak bodoh itu, para pengendali api, tanah dan air itu, tidak mampu memainkan pedang sebagus dan sesempurna kamu. Mereka bahkan belum mampu untuk melakukan sihir meremuk jiwa seseorang" kata Hani Wang.
KIan hari keakraban Hani Wang dengan Zhonglei mengalahkan keakraban Zhonglei dengan Quentin. Hal ini sampai-sampai membuat Quentin kadang-kadang dilanda api iri hati. Dia merasa bahwa dirinyalah yang mula-mula menjadi sahabat Zhonglei.
Apalagi akhir-akhir Zhonglei semakin populer. Anak itu selalu paling unggul didalam pelajaran Pertempuran menggunakan senjata. Juga di bidang Alkimia dan Teknik Penyembuhan sihir.
Banyak anak-anak Nomrogh berjubah merah yang mengajak Zhonglei untuk makan bersama bahkan mengajaknya untuk pergi weekend bersama-sama kelompok mereka.
Zhonglei tidak serta merta menolak ajakan itu. Dia mengikuti kemuan mereka, namun dia juga mengajak empat kawannya itu untuk bergabung dalam kelompok berjubah merah tersebut.
Pelan-pelan, keadaan didalam kelas yang pada awalnya terbagi-bagi didalam beberapa kelompok, kini mulai lebih terasa hangat lagi persahabatan diantara mereka.
Waktupun berjalan dengan sangat cepat, tahu-tahu anak-anak itu sudah harus dihadapkan dengan kenyataan mereka harus berpisah.
Usia mereka kini memasuki angka dua belas tahun, yang berarti mereka telah saatnya pindah ke Akademi Sihir Intermediat atau Peringkat menengah untuk persiapan diri menjadi Shullam level satu.
Masing-masing anak akan dikirim ke Akademi Sihir Intermediate, sesuai dengan bakat dan nilai kemampuan mereka di dalam Kelas.
******
Zhonglei duduk diam di bangku Kereta Terbang yaitu Ikan Paus Raksasa yang memiliki bangunan-bangunan tinggi diatasnya. Kali ini Zhonglei dikirim akademi untuk berlatih di Akademi Intermediat Kota Midnight Moon.
Konon katanya Akademi Intermediat kota ini adalah Akademi terbaik di seluruh Wilayah Tengah. Anak-anak jenius dari berbagai penjuru benua bagian tengah yang akan menjadi Shullam ternama, berkumpul dan saling bersaing di Kota Midnight Moon. Zhonglei menggigil ketakutan. Dia merasa tidak percaya diri dengan hal ini. Usianya baru saja 12 tahun dan dia harus melakukan perjalanan seorang diri.
"Lei.. Zhonglei..!
Ternyata kamu juga dikirm ke kota yang sama" suara anak perempuan memanggilnya.
Zhonglei bernafas lega ketika melihat itu adalah Gladys Wu.
"Terima kasih. Aku tidak sendirian"
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.