Chronicle Klan Feniks

Chronicle Klan Feniks
Sebuah Menara yang tinggi


__ADS_3

Zhonglei membakar semangatnya agar dia kokoh teguh menyelesaikan sepuluh putaran, dengan dua tempayan besr berisi air yang penuh itu. Tentu saja, air didalam tempayan yang terisi lebih hampir memenuhi kepala tempayan, membuat dia kesulitan menyelesaikan tugasnya.


Diiringi sorak-sorai pemberi semangat dari kelompoknya, Zhonglei tersenyum kecut. Baru saja dia menyelesaikan dua putaran, air di tempayan telah berkurang seperempat dati isinya.


Ketika pada akhirnya Zhonglei menyelesaikan sepuluh putaran, wajahnya semakin kecut. Air didalam tempayan itu tersisa dua bagian dari keseluruhan daya isinya.


"Aku terlalu ceroboh. Sudah caraku berlari tidak beraturan, deru nafas yang ngos-ngosan, seluruh tangan ku bergetar sehingga air dari tempayan itu terbuang percuma"


Zhonglei menyesali ketidak cakapan dirinya. Akan tetapi dia terkejut. Tidak ada sedikitpun kata-kata merendahkan atau meremehkan yang keluar dari bibir Pelatih Aragoroth. Malahan pelatih itu mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan semangat Zhonglei.


"Ketika aku menjadi siswa akademi di usia yang sama dengan kamu, aku bahkan hanya menyisakan beberapa tetes air dalam tempayan.


Jika kamu tekun dan rajin, aku yakin... Kamu akan menyelesaikan tugas yang ku berikan, di tambah bonus merupa manfaat pelatihan keras ini"


Hati Zhonglei terasa hangat. Rasa minder karena ketidak cakapan dirinya dalam bidang pertempuran maupun sihir, segera terbang jauh-jauh meninggalkan dirinya. Yang ada dalam hatinya sekarang ini, adalah tekad yang membara untuk mengejar ketinggalan ilmunya dibanding kawan-kawan yang lain.


Diam-diam Zhonglei melirik tiga kawan lainnya yang memutar-mutar pegang, melakukan teknik yang di ajarkan Pelatih Aragoroth.


"Ini hanyalah sebuah gerakan dasar sederhana cara mengatur kuda-kuda ketika mengayunkan pedang. Kelak ketika kalian telah aku rasa siap, maka aku akan mengajarkan teknik pedang Akademi Kota Temaram ini.


Sebuah seni bela diri pedang yang dinamakan Seni Pedang Bianglala Temaram"


Keributan terdengar diantara seluruh siswa akademi yang hadir didalam pelajaran Senjata dan Seni Beladiri. Memang, Pelatih Aragoroth mengajar didalam 2 hingga 4 pelajaran di kelas mereka itu. Kemampuan dan kehaliannya sebagai Penyihir Pertempuran Level dua membuat dia diberi tugas yang banyak untuk mengajar di Akademi itu.


>>>>>>


Hari ini berlalu seperti biasa. Setelah lelah dengan pelajaran sihir dan pertempuran, siswa-siswa pergi untuk makan malam di aula besar. Hidangan-hidangan lezat di sajikan hasil kerja Kaum Nuli yang dipekerjakan sebagai Asisten yang mengatur kerapihan dan semua hidangan di akademi.


Zhonglei betul-betul kelaparan. Dia menambah sekali lagi sepiring kentang tumbuk di campur dengan sebongkah besar daging sapi yang di masak karee ala Hidangan Pegunungan di Barat. Untuk minuman dia mengambil soda leci ditambah hidangan penutup puding karamel yang lezat.


"Aku harus mengembalikan semua energiku yang terkuras habis dalam pelatihan tadi siang.


Ketika nanti aku berlatih bersama Imam Lu, aku tidak akan terlihat lelah karena semua energiku telah kembali seperti semula"


Perasaan anak itu dilanda kegembiraan. Dia mengingat janjinya dengan Imam Lu, yang mana sebagai seorang Veteran Perang ahli Petarung Shulam Level dua, tentu saja Imam Lu memiliki muslihat-muslihat khusus sehingga pada masanya di diangkat sebagai seorang petarung perang.


***

__ADS_1


Malam telah menjelang, waktu menunjukkan pukul 10 malam, ketika para petugas malam berkeliling kota sambil mengetuk gong dan berteriak,


"Waktu menunjukkan pukul 10 malam waktu Kota Temaram, sebaiknya anga bergegas pulang ke rumah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan"


Memang demikian adanya kebiasaan di Negri Wilayah Tengah yang banyak di huni orang suku Han. Setiap malam ketika waktu mulai menunjukkan pukul delapan malam, petugas khusus akan berkeliling kota, memukul gong khusus dan memperingati orang-orang yang berada di luar agar cepat-cepat pulang kerumah.


Namun demikian, hal itu tidak berlaku bagi seorang anak di kamar calon shulam yang dikenal sebagai ahli supporting. Zhonglei menyelinap seperti kucing, keluar dari kamar tidur dia bersama tiga kawan lainnya. Seperti seekor cicak dia merambat melewati pinggi-pinggir jendela, lalu melompat layaknya kucing keatas bubungan bangunan akademi.


"Hap-hap-hap" demikian bunyi langkah kaki ringan Zhonglei, yang saat itu mengenakan sepatu dari jerami agar meredam semua gerakannya.


Lalu di bawah bayang-bayang rembulan yang bercahaya setengah-setengah, Zhonglei berpindah dari satu bubungan ke bubungan yang lain, sehingga dia terlihat seperti kelelawar, ketika jubah Nomrog Biru meliuk-liuk di terpa angin.


(Aku lupa menceritakan kepada kamu. Siang tadi pada akhirnya Zhonglei memperoleh sebuah jubah Nomrogh berwarna Biru).


Zhonglei berputar diatas bubungan Akademi, lalu setelah 180 derajat putarannya, tiba-tiba dia melihat menra tinggi itu, tampak muncul dari kehampaan.


"Array.. Kelak aku akan berlatih teknik array seperti ini" batin Zhonglei.


Zhonglei berdiri di kaki menara tinggi itu, dia mendongakkan kepala keatas, jauh-jauh pandangannya.


"Begitu tinggi.


"Apakah Imam Lu ini betul-betul memiliki niat untuk melatihku secara pribadi? Mengapa dia memberi ujian yang rasanya tidak mungkin aku kerjakan?"


Baru saja dia akan berpikir untuk mengutuk kekejaman Imam Lu, sekonyong-konyong dia melihat sebuah tali yang terbuat dari gulungan baju yang disambung satu demi satu, hingga pada akhirnya menjadi tali yang demikian panjang.


Sebuah suara terdengar berbisik di telinganya,


"Naik !"


Zhonglei melongo. Jawabnya berbisik,


"Dengan apa aku mesti naik keatas wahai Imam Lu?"


Kembali suara itu terdengar memenuhi kepalanya...


"Anak bodoh !

__ADS_1


Tentu saja menggunakan tali yang baru saja aku turunkan itu.


Aku pikir aku tidak perlu menjelaskan lebih rinci, bagaimana cara kamu menggunakan tali itu bukan?" nada mengejek terdengar didalam bisikan itu, yang membuat kuping Zhonglei memerah.


"Baiklah, aku mengerti" katanya


Dengan mengemposkan nafas keras-keras, Zhonglei memanjat menara tinggi itu, dengan menggunakan tali yang di julurkan Imam Lu dari ruang paling atas menara itu.


Setengah jam berlalu, Zhonglei baru saja melewati setengah dari tingginya menara itu, ketika dia mulai merasa lelah. Kedua tangannya terlah gemetar hebat, menahan sakit dan lelah. Sekujur tubuhnya telah basah dengan keringat, walaupun malam itu angin bertiup kencang dan musim gugur telah menjelang.


Hingga pada hitungan kedua dari posisinya sekarang ini, Zhonglei tergelincir, dimana tangannya tanpa sadar melepaskan pegangan pada tali itu. Dia meluncur kebawah, terjun bebas tanpa hambatan.


"Celaka !


Mati aku kali ini. Berakhir sudah semua mimpiku untuk menjadi seorang ahli sihir" rintih Zhonglei dalam hati.


Akan tetapi semua keputus asaan itu lenyap seketika. Sambil menimbulkan bunyi yang berdesis seperti tiupan angi,


"Sssstttt"


Tali raksasa itu meliuk seperti ular. Ujung nya lantas dengan keras melilit pinggang Zhonglei, membuat anak kecil itu tertahan, terhenti di tengah-tengah tiang menara.


"Aku selamat" Zhonglei mengucap syukur. Barusa tadi dia telah berkeringat dingin.


Lalu kemudian sebuah kekuatan yang sangat besar, terasa seolaholah mencampakkan dirinya, sehingga tubuh kecil Zhonglei terhempas dengan keras ke udara.


"Suiiitt" kemudian dia merasa tubuhnya di tarik oleh kekuatan yang amat kuat, yang mana tahu-tahu dia melihat dirinya telah terjerembab, jatuh dengan lembut di jerami di dalam ruangan paling atas menara itu.


Sambil berkeringat dingin Zhonglei melihat Imam Lu tersenyum kepadanya.


"Bagus ! Kamu bukanlah seorang anak penakut seperti yang aku sangka.


Tekad kamu demikian besar, dan aku merasa senang untuk melatih kamu secara pribadi"


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.

__ADS_1


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2