
"Berhenti !" enam orang melompat menghadang lima anak-anak Akademi Sihir itu.
"Orang-orang Keelak !" desis Gladys
"Mereka kaum pencoleng" bisik Quentin.
Orang-orang Suku Keelak dari Barat, adalah salah satu kaum pemberontak. Mereka berbeda dengan Orang Bangsa Enet yang juga dari Barat.
Orang Keelak ini tidak bersedia di atur oleh pemerintahan Kekaisaran Zamorazhivaneya, apalagi oleh Bangsa Enet. Mereka menganggap status mereka lebih tinggi dari Bangsa Enet.
Alhasil orang-orang Keelak ini muncul di kota-kota, kebanyakan atau sebagian besar melakukan pekerjaan sebagai pencoleng. Pencoleng adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan pencurian, atau pencurian terhadap orang lain, dengan menggunakan kekerasan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Zhonglei.
"Tubuh mereka tiga kali, bahkan empat kali lipat dari tinggi badan kita semua" kelima anak itu memandang enam orang Keelak yang tinggi besar dan kasar itu.
Enam orang Keelak itu terlihat tertawa-tawa. Pelan-pelan mereka maju mendekati Zhonglei dan kawan-kawannya, yang mundur pelan-pelan.
"Tidak ada jalan lain, selain lari dan meminta pertolongan" desis Hani Wang.
"Dan kita akan berpencar melarikan diri, mulai dari....
Sekarang !" raungan suara Hani Wang membelah keheningan jalan sepi itu.
Suara derap kaki anak-anak berlarian diatas salju yang keras itu terdengar, menyusul bentakan-bentakan kasar orang-orang Keelak yang marah melihat kelima bocah itu lari berpencar.
"Tangkap !"
"Jangan biarkan lolos !"
"Satu orang mengkuti aku, kita mengejar anak laki-laki kurus itu. Kulihat dia yang paling royal berbelanja. Kupikir dia banyak memiliki koin emas !"
Dua orang dewasa itu memburu Zhonglei. Sementara itu Zhonglei berlari kearah jalanan lainnya yang terlihat sepi juga.
"Buntu !
Jalan ini buntu !"
Zhonglei panik. Matanya melihat dengan cepat kearah jalan. Dia tertuju pada sebuah tongkat sepanjang 3 kaki.
"Ini mirip panjang sebuah pedang pendek. Semoga aku dapat mengusir dua pencoleng itu" jantung anak itu kembali bertalu-talu.
Masih jelas di ingatannya, ketika dia di buru oleh dua puluh ahli Shulam remaja. Kejadian yang mirip terjadi lagi. Dia akan menghadapi dua orang dewasa Suku Keelak.
__ADS_1
Zhonglei lantas bersembunyi diatas tembok yang membuat jalan menjadi buntu. Dengan sekali menggerakkan kaki, dia merasa energi shulam terpompa deras, membuat kakinya menjadi kuat dan tubuh menjadi ringan.
Tahu-tahu dirinya telah melompat setinggi dua belas kaki (4 meter), dan dengan ringan mendarat diatas tembok.
Suara derap kaki terdengar menuju jalan buntu itu.
"Mana bocah itu?"
"Ini adalah jalan buntu. Tidak mungkin dia dapat menghilang, ayo cari di sekitar!" titah pria yang berotot dan bertubuh paling tinggi.
Sekonyong-konyong terdengar pekikan keras. Lalu sesosok tubuh melayang dari ketinggian tembok itu. Gerakannya serupa benar dengan seekor burung raksasa yang melebarkan sayapnya, sementara dua cakar siap memangsa lawan.
"Aduh !"
"Aduh !"
Zhonglei mengayunkan tongkat pendek sebanyak dua kali, dalam gerakan yang dia pelajari di Teknik Pedang Bianglala Temaram.
Ayunan tongkat itu tepat mengenai titik lemah dari dua orang Keelak itu, akan tetapi karena tenaga anak kecil sepuluh tahun itu sangat lemah, dua orang Keelak hanya merasakan kesakitan. Numan keduanya tidak lantas menjadi lumpuh dengan serangan itu.
"Anak nakal !" pria yang paling tinggi itu mengayunkan tangan nya. Dia memukul dengan kekuatan kasar.
Wush !
"Kamu anak celaka.. Tidak lama lagi ketika kamu betul-betul berubah menjadi penyihir, pasti kamu akan mencari kami lalu membalas dendam dan menindas.
Lebih baik aku membunuh kamu"
Wajah orang Keelak itu berubah menjadi kejam. Dia mencabut belati dari pinggangnya. Sambil tertawa-tawa dia mengejek..
"Penyihir-penyihir seperti kamu ini yang menyulitkan orang-orang biasa seperti kami.
Jika aku membunuh kamu sekarang, bukankah aku telah berjasa dengan cara melenyapkan satu calon monster di masa depan?"
Zhonglei menjadi ketakutan. Biar bagaimanapun dia masih seorang kanak-kanak. Perbuatan dan kata-kata kejam seperti itu, bukanlah konsumsi anak-anak seperti dia.
Akan tetapi saat ini dia kepepet. Jika dia tidak melawan sekuat tenaga, dirinya lah yang akan di habisi dua mahluk jahat ini. Dengan mata nanar Zhonglei teringat teknik yang diajarkan Pelatih Aragoroth.
"Berlatih menghancurkan kacang kedelai dalam botol ini, serupa dengan Teknik Pengoyak Jiwa.
Dasar-dasarnya adalah sama. Akan tetapi pemahaman kalian serta penguasaan energi shullam kalian belumlah sampai di tahap ini"
Dua orang Keelak itu berjalan mendekat pelan-pelan. Makin lama makin dekat pada jarak sekitar 12 kaki.
__ADS_1
Zhonglei sendiri lantas menjernihkan pikirannya. Dia membuang jauh-jauh semua ketakutan di hatinya. Anak itu kini fokus dengan semua energi shulam di pusat energinya. Dia menutup mata sebentar, dan kembali membuka matanya.
Mata anak itu bersinar aneh. Dua pria Keelak itu langsung menjadi waspada. Kedua nya saling berpandangan,
"apakah kita akan lanjut membegal bocah ini?"
"bocah ini terlihat aneh.. Apakah tidak sebaiknya...."
"Tidak !. Aku harus melanjutkan membunuh anak ini" pria yang satunya mengacungkan belati itu tinggi-tinggi.
"Ucapkan selamat tinggal kepada dunia !" pria tinggi itu menangis.
Bersamaan dengan itu Zhonglei bernyanyi dalam nada sendu, namun mengerikan ...
"Mengoyak jiwa !"
Pria tinggi itu seketika melotot. Dia melihat sesuatu dalam wujud sosok berkerudung yang terbentuk dari asap kehitaman meringkus dirinya. Pria itu menjerit pilu. Akan tetapi dia langsung terdiam ketika nyawanya telah melayang.
Pria yang satunya menjerit ketakutan. Matanya melotot kearah Zhonglei..
"K-kamu penyihir !
K-kamu Pengoyak jiwa " seluruh bulu kuduk orang Keelak itu meremang nafasnya memburu dan dia merasa jiwanya telah melayang.
Pria Keelak itu lantas berlari cepat, meninggalkan Zhonglei didalam lorong sepi itu. Akan tetapi malang bagi dirinya. Anak kecil yang terlihat dalam keadaan trance (kesurupan) itu sekali lagi mengumandang kan nada sendu yang mengerikan.
"Mengoyak jiwa !"
Sekali lagi jeritan pilu terdengar mengerikan di dalam jalan sepi itu. Sosok berkerudung hitam dalam bentuk asap itu menelan jiwa laki-laki Keelak yang satunya. Pria itu juga mati dengan kondisi jiwa yang tercabik-cabik.
Zhonglei jatuh terduduk. Tubuhnya berkeringat antara ketakutan dan juga antusias karena mampu melakukan teknik mengoyak jiwa yang hanya dapat dilakukan ahli shulam di level satu.
Dia bahkan belum berpindah di akademi pusat wilayah tengah, namun dia mampu melakukan teknik mengoyak jiwa.
"Apakah yang salah dengan diriku?" Zhonglei kebingungan.
Sementara itu, sejak tadi tanpa anak itu sadari, sepasang mata menatapnya lekat-lekat dalam rasa terkejut yang dalam. Mata itu adalah milik Hani Wang yang mengamati eksekusi sihir Zhonglei, tanpa berkedip sedikitpun.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1