
Ketika nama Zhonglei disebutkan untuk mengikuti babak ketiga, melawan seorang gadis pengendali Api yang bernama Amina Kamenev,
Zhonglei melompat dengan teknik salto untuk berdiri diatas panggung duel.
Semua orang bersorak-sorai memberi semangat. Amina Kemenev adalah gadis pengendali api yang paling kuat dari kelas sebelah. Tentu saja banyak yang menaruh harapan di bahu Amina Kemenev.
"Setidaknya jika Amina mampu menaklukkan anak pengendali kayu itu. Kehormatan dan wajah kami selaku kaum attacker (penyerang) akan tercerahkan setalah dua kali anak Pengendali Api dan Tanah bertekuk lutut di bawah kaki healer itu" bisik kelompok bernomrogh merah dan kuning.
Akan tetapi tanpa di sangka-sangka ketika anak Pengendali kayu itu berhadapan dengan Amina Kemenev, secara tak terduga Amina Kemenev berkata keras-keras,
"Aku mengaku kalah !"
Seisi lapangan kecil menjadi terdiam. Semua tak percaya, seorang Amina Kemenev mau mengaku kalah dengan anak pengendali kayu? Apakah ini nyata?
Ada kurang lebih sepuluh tarikan nafas, semua terdiam dan tidak percaya dengan apa yang di dengar mereka. Namun sekali lagi mereka di kejutkan dengan suara Amina,
"Aku Amina Kemenev mengaku kalah !"
Seolah baru tersadar benar-benar, kelompok Gladys Wu dan gadis-gadis penerawang itu menjerit dalam pekik.
"Zhonglei !"
"Hidup Zhonglei !" Gladys Wu berjingkrak-jingkrak kesenangan
Sementara itu, Gadis Pengendali api itu menatap Zhonglei dan berkata pelan..
"Ku harap kamu akan memenangkan kompetisi ini.
Aku mendukungmu untuk menjadi seorang penguasa" bisik Amina Kemenev dalam tatapan dalam.
Zhonglei sendiri mendadak kebingungan.
"Apakah yang dimaksudkan Amina Kemenev ini?
Dia mengijinkan aku memenangkan pertarungan, lalu kemudian mengatakan kata-kata penuh misteri?"
Amina melompat turun dari panggung, dan dia disambut kawan-kawannya dalam nada yang tidak puas. Semua bersungut-sungut menyesalkan tindakan Amina yang melepaskan kemenangan di pihak Zhonglei, tanpa mencoba bertempur sedikitpun. Amina hanya mengangkat bahunya, lalu dia ngeloyor pergi.
Sementara itu Master Zu Jian Guang mengumumkan bahwa kompetisi akan di lanjutkan keesokan dimana Zhonglei ternyata merupakan salah satu Finalis diantara dua orang yang akan bertanding besok.
"Mari kita pergi ke kafetaria.
__ADS_1
Aku sangat kelaparan kata Zhonglei kepada Gladys Wu"
Zhonglei lantas berjalan bersama Gladys Wu serta dua gadis dari kelompok Shulam penerawang. Ketika mereka memasuki ruang kafetaria, Zhonglei tidak menyadari sama sekali. Semua mata diam-diam meliriknya penuh minat.
Gadis-gadis yang awalnya tidak memperhatikan Zhonglei, secara tiba-tiba berubah menjadi ramah. Beberapa bahkan tanpa malu-malu datang mendekat dan memberikan Zhonglei beberapa bingisan kecil.
"ini adalah sebuah souvenir yang aku buat sendiri" kata salah seorang gadis.
Sementara gadis lainnya tanpa malu-malu telah datang membawa berbotol-botol minuman limun yang lantas diletakkan di meja tempat Zhonglei duduk bersama tiga gadis penerawang.
Gladys Wu terkikik ketika melihat minuman limun berbotol-botol dengan macam-macam rasa itu. Katanya berbisik pelan,
"Ku dengar.. Beberapa gadis secara khusus pergi ke perpustakaan ke buku-buku bagian ramuan dan alkimia, untuk mempelajari teknik ramuan cinta.
Konon mereka memasukkan ramuan cinta kedalam minuman-minuman ini, untuk memikat anak-anak lelaki yang mereka sukai"
Gladys Wu dan dua gadis Shulam Penerawang itu lantas mengkikik, tertawa dalam nada yang genit. Tentu saja Zhonglei merasa lehernya tercekat setelah mendengar penuturan Gladys Wu.
Melihat Zhonglei merasa enggan untuk menyantap minuman yang diberikan gadis-gadis pemuja itu, Gladys Wu menyambar minuman limun dan langsung mengkonsumsinya.
"Apakah kamu gila?" kata Zhonglei.
"Apakah kamu tidak tekut terkena efek jampi-jampi gadis-gadis itu?
Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau minuman ini telah di bubuhi ramuan cinta?" desis Zhonglei.
Seketika Gladys Wu dan dua gadis perapal mantra itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Ramuan cinta hanya akan berefek kepada lawan jenis si pembuat ramuan.
Efeknya tidak akan bermanfaat kepada sesama gadis lainnya. Sebaiknya kamu memberikan semua minuman it kepada kami"
Lalu dengan tidak malu-malu tiga gadis perapal mantra itu memasukkan sisa minuman limun kedalam tas kecil yang selalu mereka bawa kemana-mana.
"Apakah itu sama fungsinya dengan Cincin Langit?" tanya Zhonglei ketika melihat gadis perapal mantar senior memasukkan berbotol-botol limun kedalam tas yang sangat kecil.
"Benar sekali.
Apakah kamu pernah melihat yang namanya Cincin Langit? Daya tampung cincin langit tidaklah seluas daya tampung Tas Lautan ini.
Aku memiliki Tas Lautan ini yang dibelikan oleh orang tua ku ketika ulang tahun yang kemarin" jawab gadis perapal mantra itu.
__ADS_1
Diam-diam Zhonglei berjanji didalam hatinya, kalau dia akan memiliki Tas Lautan seperti itu.
"Agar aku dapat menyimpan banyak barang tanpa merasa kerepotan lagi.".
Setelah selesai dengan santap malamnya, Zhonglei meminta diri agar beristirahat lebih dahulu.
"Aku harus tidur awal, karena besok masih ada satu pertandingan lagi yang akan aku ikuti" kata Zhonglei ketika meminta pamit.
******
Pagi itu seluruh alun-alun kecil tempat perlombaan telah ramai dengan berbagai anak-anak Siswa Akademi Sihir Moonlight. Semua begitu antusias kepingin melihat sepak terjang anak laki-laki yang bernama Zhonglei.
Semua anak amat penasaran, bagaimana caranya anak pengendali kayu itu bisa melewati beberapa tahap dan membawa dirinya sebagai Finalis antar Shulam Akademi Moonlight?
Apakah dia memiliki teknik khusus untuk memperkuat sihirnya? Ataukah dia memiliki seorang pendukung di belakang dia, yang tidak di ketahui oleh anak lainnya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat jumalh penonton di hari ini jauh melebihi jumlah penonton di hari sebelumnya.
Semua mata tertuju kearah panggung, yang mana diatasnya telah berdiri seorang anak laki-laki berambut kelabu, mata runcing seperti elang yang mempertontonkan kekerasan dan kekuatannya. Nama anak pengendali api itu adalah Alano Huang. Ditangannya dia memegang pedang sihir berunsur api, yang sesekali berkilat memancarkan kilau api.
Alano Huang ini adalah seorang anak campuran ras dari utara dengan orang suku Han. Ayahnya adalah seorang anggota militer berpangkat Kolonel yang juga merupakan Shulam peringkat tiga.
Ibunya meskipun bukan seorang yang bekerja di kalangan pemerintahan, namun ibu Alano Huang orang utara itu adalah seorang penyihir yang merupakan perapal mantra.
Tetu saja dengan perpaduan dari ayah dan ibu yang seorang penyihir itu, membuat Alano Huang sang pengendali api semenjak kecil telah terlatih dengan sihir-sihir kuat yang melatih dirinya sebagai seorang penyerang sedini mungkin.
Sementara itu Zhonglei berdiri di hadapan Alano Huang, dengan penampilan sederhana layaknya penyihir biasa yang memegang tongkat sihir, bukan sebilah pedang seperti yang di kenakan para Ksatria-ksatria sihir.
"Dia, Zhonglei akan kalah bahkan di bawah sepuluh gerakan" desis gadis perapal mantra teman Gladys Wu dengan ragu.
Gladys Wu melengos, lalu dengan tajam bibirnya berkata,
"Wow,
apakah kamu tiba-tiba melupakan Zhonglei teman kita. Alano Huang itu bukan teman kita.
Mengapa anda tiba-tiba melontarkan kata-kata melemahkan Zhonglei?" jawab Gladys dengan perasaan kurang senang.
*Bersambung*
Setelah selesai membaca, selalu jangan lupa likenya, Vote dan memilih favorit untuk author ya gaes. TQ
__ADS_1