Chronicle Klan Feniks

Chronicle Klan Feniks
Imam Lu


__ADS_3

Mengulangi pelatihan meremas biji kacang itu membuat Zhonglei mulai dilanda keputus asaan. Manakala dia melirik kesampingnya, hatinya menjadi sedikit lega.


"Ah.,. Ada pula satu kawan yang menjadi serupa dengan aku"


Dia melirik puas melihat keringat sebesar biji jagung menetas di dahi Saosheng. Botol di hadapan anak itu juga tidak menunjukan reaksi apapun. Bergerakpun tidak.


"Aku tidak sendirian" Zhonglei menahan senyum sebelum akhirnya mengaku menyerah.


"Cukup untuk calon Shulam berjubah Nomrog Biru.


Selanjutnya kamu" Pelatih aragoroth menunjuk kearah Gladys.


Gladys lantas penuh percaya diri maju kedepan. Dia terlihat berkonsentrasi, lalu ketika matanya menyala seperti memerintah,


"Krak" kacang polong didalam botol retak. Namun botol itu juga menyisakan retak-retak di sekujur badan botol.


"Bagus !" puji Pelatih Aragroth.


"Aku yakin jika kamu berlatih semakin rajin, maka tidak menunggu dua minggu lagi, kamu akan melakukan teknik ini dengan sempurna" Gladys mundur dari podium mini didepan kelas. Banyak mata yang terarah kepadanya dengan tatapan iri.


"Gadis kutu buku itu melakukan teknik ini nyaris sempurna" bisik salah satu pelajar yang mengenakan jubah kuning.


"Apakah hebatnya melakukan hal itu? Aku pun sanggup melakukan dalam sekali gerakan" Artyom dengan pongah berkoar-koar di hadapan anak-anak jubah merah dan jubah kuning.


"Giliran jubah merah. Artyom !" Pelatih Aragoroth menunjuk kearah Artyom yang baru saja menyombongkan keahliannya dan mencibir kemampuan Gladys.


"K-kenapa m-mesti aku yang duluan? Bukankah masih ada anak lain?" Artyom berusaha menolak. Dia agak gemetar, karena sebelumnya dia sempat menyombongkan bahwa dalam sekali praktek saja, kacang polong itu akan retak tanpa mengganggu botol.


"Artyom Bobrov, maju kedepan dan paraktikkan teknik meremas jiwa sesuai yang telah aku jelaskan!


Sekarang atau kelompok kamu akan ku kurangi point kontribusinya!" kejam tiada kompromi kata-kata Pelatih Aragoroth.

__ADS_1


Artyom menggigit bibirnya keras-keras. Dia maju ke podium kecil lalu memejamkan mata, berusaha berkonsentrasi. Namun bayang-bayang ketakutan dan rasa malu karena sebelumnya terlalu berkoar-koar, membuat dia merasa tertindas.


"Hancur !" jerit Artyom.


Demikian kencang teriakan yang di lontarkan anak bermbut emas, sampai-sampai kakak-kakak kelas senior yang tengah berlatih di podium khusus kelas senior ikut-ikutan menjadi kaget.


"Apa yang kamu lakukan?" jerit kakak senior perempuan berambut merah. Dia kesal mendengar jeritan Artyom sedemikian keras, mengganggu konsentrasinya.


Sementara itu Artyom terlihat galau. Dia menatap nanar ketika botol di hadapannya hanya bergoyang tidak jelas. Tak ada yang retak, baik itu botol apalagi kacang polong.


"Memalukan. Setelah berkoar-koar, kini dia hanya dapat menggoyang botol itu" seorang gadis dari kelompok jubah kuning menatap jijik ke Artyom. Kawan-kawannya yang lain ikut-ikutan menatap sinis.


Setelah semua telah selesai berlatih, Pelatih Aragoroth mengumumkan bahwa kelas akan berjalan esok lagi, dengan sesi Menggunakan Senjata Pertempuran.


Semua orang kembali ke kamar masing-masing, untuk bersiap-siap makan malam bersama. Seharian di habiskan dengan berlatih konsentrasi seperti itu, semua energi rasanya telah habis.


Malam di Akademi Kota Temaram mulai sepi ketika waktu menunjukkan pukul 22.00. Saat itu semua anak telah terlelap dalam mimpi indahnya. Namun tidak demikian dengan Zhonglei.


"Aku harus berhati-hati. Aku tidak ingin kebiasaan ku ini akan mengganggu tidur kawan-kawan ini"


Anak kecil itu mengendap-endap berjalan ke pintu, dia membuka gagang pintu kamar mereka.


"Ah.. Syukurlah kamar ini tidak dikunci dari luar" Zhonglei membayangkan kamarnya di desa, yang selalu dikunci dari luar oleh Paman Baojia tindakan itu dilakukan pria tua itu agar Zhonglei tidak melakukan kegiatan jalan-jalan di tengah malam.


"Namun orang tua itu terlalu lugu. Dia tak pernah menyangka kalau aku ahli dalam menerobos jendela, dan berlari melompat-lompat diatas atap rumah-rumah penduduk.


Rupa-rupanya anak kecil itu berniat melakukan tur keliling di Kota Temaram,


"Aku akan berjalan-jalan, melompat-lompat dari bubungan ke bubungan lain diatap-atap rumah penduduk.


Tidak menunggu terlalu lama ketika Zhonglei menemukan sebuah jendela besar yang tidak terkunci rapat. Anak itu lantas keluar melalui jendela, lalu menyusuri tepi-tepi ornamen di sekeliling bangunan, menuju ke atap dari sayap bangunan sebelah lain Kamar Zhonglei dan kawan-kawannya terletak di lantai tiga asrama akademi).

__ADS_1


"Tap - tap - tap" bagaikan kucing, anak laki-laki itu melompat-lompat dari satu bagian ke bagian lain atap-atap rumah di Kota Temaram. Dia merasa demikian bebas ketika angin malam berhembus kencang, melewati sela-sela jubah biru, seragam pengganti nomrog nya.


Bangunan di Kota Temaram adalah bangunan kuno, yang jarak antara satu atap dengan atap lainnya saling berdempetan atau saling menyambung. Tentu saja hal ini membuat Zhonglei dengan mudah melakukan tour menjelajah dunia malam Kota Temaram.


Hatinya terasa gembira, pada bagian-bagian lain dari kota ini masih terdapat keramaian seperti, penampakan kaum Nuli yang terlihat menyapu jalan-jalan di beberapa banguna yang dia temui. Ada juga kumpulan orang-orang dewasa yang tengah asyik dengan minuman anggur dari botol yang berwarna bening, seterang matahari pagi.


Hingga pada akhirnya, setelah dia merasa puas, tiba saatnya anak itu untuk berbalik kembali ke Akademi Kota Temaram.


"Kemungkinan Kepala Asrama akan menemukan aku telah menghilang dari tempat tidur"


Zhonglei terlihat memutar matanya kekiri dan ke kanan. Dia kini dilanda rasa bingung,


"Celaka ! Aku lupa arah pulang.


Dimana letak Akademi Sihir itu?" sedikit panik anak itu berputar-putar melompat ke bagian tertinggi bangunan berbentuk seperti sebuah menara.


Dari tempat tinggi itu Zhonglei masih tetap kebingungan menemukan, disisi mana letak Akademi Sihir Kota Temaram. Berulangkali dia mengutuk kebodohannya sendiri, sampai suatu ketika, dia mendengar sebuah suara halus, berkata-kata kepadanya..


"Apakah kamu mencari Akademi Sihir Kota Temaram adik kecil?"


Zhonglei terkejut dengan tiba-tiba. Sejak awal dia tidak melihat siapapun di sekitar menara yang tingginya sekitar 300 kaki itu. Seorang laki-laki berwajah halus tampan, berusia sekitar 40 tahun, yang mengenakan jubah seperti yang biasa dikenakan imam-imam Agama Tao tiba-tiba telah berdiri disampingnya.


Namun yang membuat Zhonglei merasa heran, laki-laki yang rambutnya di gelung tinggi rapih itu, di kakinya terdapat rantai panjang, berasal dari mana sebuah ruang kecil di menara setinggi 300 kaki itu.


"Siapa anda tuan?" tanya Zhonglei terkejut.


"Ah.. Namaku tidak terlalu bagus di dengar. Bagaimana kalau kamu menyebutku Imam Lu saja?" senyum ramah di wajah pria itu membuat Zhonglei menjadi tidak takut lagi


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.

__ADS_1


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2