
Saat itu tiga orang kawan sekamarnya telah kembali ke asrama mereka, karena Zhonglei membuat alasan dengan mengatakan bahwa dia masih memiliki sedikit urusan di perpustakaan. Katanya...
"Tiga kawanku yang baik,
kalian bertiga sebaiknya langsung kembali ke asrama atau bersantai di ruang reliks saja.
Aku akan pergi ke perpustakaan, untuk menonton pelajaran hari ini. Selepas memahami semua penjelesan instrukur, aku akan kembali ke asrama kami"
Tiga anak itu langsung memaklumi ketika Zhonglei memberikan alasan serupa demikian. Memang kebiasaan di akademi sihir, hari setiap pelajaran di kelas selalu direkam menggunakan teknik Array, lalu di simpan didalam slip giok dan pajang di perpustakaan.
Siswa yang tidak sempat menghadiri kelas, dapat memilih sesuai tanggal yang dia inginkan. Tentusaja, di dunia ini tidak ada makan siang yang gratis. Setiap kali siswa ingin menonton siaran ulang pelajaran istruktur, mereka akan dikenakan biaya 2 point kontribusi.
Itulah sebabnya, di akademi sihir.. Point kontribusi jauh lebih berharga di banding koin emas atau bahkan batu hablur sekalipun. Beruntung dalam beberapa waktu lalu, dia diberi 100 point kontribusi oleh instruktur alkimia Lianjin Lui.
Zhonglei menonton tampilan citra dihadapannya. Instruktur Lianjin Lui membaca dengan keras-keras, catatan text book di hadapannya,
"Seorang ahli Alkimia pada dasarnya adalah sama dengan seorang Master Tallisman (jimat).
Tingkatan di dalam seorang Master Alkimia atau Tallisman dimulai dengan peringkat; Alkemis Junior, Alkemis Menengah, Alkemis Mahir, Master Alkemis dan terakhir Granmaster Alkemis.
Adapun pil-pil atau jimat-jimat yang di hasilkan, terbagi didalam peringkat; Pil Fana, Pil Roh, Pil SAINT, Pil Abadi dan terakhir Pil Surgawi"
Selanjutnya Zhonglei menatap lekat-lekat, ketika instruktur alkimia melakukan tarian jari, dia melempar satu demi satu bahan-bahan dan membuat sebuah Pil kelas Fana.
Zhonglei membuat gerakan ndah di jari-jarinya, mengikuti gerakan jari instruktur. Dia kurang puas lalu memperpanjang sewa slip giok itu dan mengulang-ulang teknik jari-jari instruktur, ketika meramu dan melempar bahan-bahan dalam meramu sebuah pil.
"Setidaknya gerakannya telah mirip" batin Zhonglei, ketika melihat jari-jemarinya berlatih tarian alkimia.
"Sekarang aku akan berpindah menonton Teknik Pedang Bianglala Temaram"
Zhonglei merasa penting untuk mengulang-ulang semua gerakan yang dilakukan Pelatih Aragoroth.
"Gerakan yang dilakukan oleh pelatih, sangat jauh berbeda jika di eksekusi oleh siswa-siswa Akademi ini.
Itulah sebabnya, penting untuk meniru semua gerakan yang dia peragakan, bahkan memperhatikan aliran energi shulam yang mengalir di senjata, agar teknik ini memperoleh manfaat yang lebih"
Satu jam lebih Zhonglei menghabiskan waktu di perpustakaan, dengan mengulang-ulang gerakan teknik pedang tadi. Setelah dia rasakan gerakannya telah mendekati yang dia pikir sempurna, anak kecil itu tidak langsung kembali ke asrama.
Zhonglei pergi menuju ruang pelatihan akademi yang dapat di sewa.
__ADS_1
"Dua point kontribusi untuk satu jam pemakaian, ruang pelatihan level bawah" kata laki-laki muda penjaga ruang pelatihan.
"Tolong di potong untuk dua jam. Aku ingin berlatih selama dua jam di dalam ruang itu" Zhonglei menyerahkan kartu point kontribusinya kepada anak muda itu.
"Masih tersisa delapan puluh lima point kontribusi" kata anak muda itu ketika menyerahkan balik kartu point kontribusi kepunyaan Zhonglei.
Didalam ruang pelatihan Akademi Sihir...
Hiyaaat !
Zhonglei melakukan gerakan serupa tarian pedang dalam Teknik Pedang Bianglala Temaram. Terdengar angin pedang menderu, pertanda di batang pedang itu terkandung kekuatan murni yang di sebut dengan Hawa Murni Shulam.
Jika saja instruktur Aragoroth melihat kemampuan anak sekecil itu, telah dapat menghimpun energi shulam kedalam pusat energi, lalu mengalirkannya ke saraf-sara kekuatan, mirip dengan cara Aragoroth sendiri ketika melakkan gerakan itu, kemungkinan Aragoroth tidak akan percaya kalau Zhonglei adalah anak usia 10 tahun.
Dan lagi, dia tidak pernah mengajarkan bagaimana teknik menghimpun energi shulam yang melimpah di dunia shulam ini. Pelajaran untuk menghimpun energi Shulam hanya di ajarkan ketika seorang penyihir dianggap pantas dan dikirim ke ibukota Wilayah Tengah, dan berlatih di Akademi kekaisaran Cabang Ibukota Tengah.
Zhonglei kembali ke kamar asramanya, ketika waktu menujukkan pukul 11 malam. Badannya basah kuyub dengan keringat. Meskipun saat itu adalah musim dingin, latihan keras seperti tadi membuat dia berkeringat.
Dia buru-buru naik ketempat tidur, lalu melakukan teknik pernafasan Siulian lantas jatuh tertidur. Pikirannya demikian jernih dan kosong. Tidak ada beban apa-apa dipikirannya.
******
Zhonglei tampak berjalan gembira bersama Tan Quentin, Hani Wang, Saosheng dan Gadys Wu. Setelah menukar sepuluh point kontribusi dengan 20 koin emas, kelima anak itu masuk kedalam sebuah toko makanan yang terlihat demikian menggiurkan.
"Hmmm... tart labu, Pie Apel, Juice Persik, ice cream leci.. Sebaiknya aku memesan semuanya, lalu kita saling mencoba hidangan itu satu demi satu. Aku yang mentraktir" kata Zhonglei gembira.
"Horee... !" jerit empat anak lainnya.
Lalu dengan mulut yang penuh dengan kue-kue lezat serta minuman-minuman limun dan ice cream lembut memenuhi memenuhi dahaga tenggorokan mereka, mereka bercakap-cakap dengan bising.
"Mari kita mencoba minuman beer jahe di toko sebelah" kata Gladys Wu.
"Aku yang mentraktir" lanjutnya.
Tan Quentin agak ragu-ragu. Katanya,
"Bukankah itu minuman mengandung alkohol?
Kita masih kanak-kanak. Bisa-bisa kita di tangkap dan di giring ke kantor militer untuk di adili" mimik wajahnya menampakkan raut ngeri.
__ADS_1
Gladys Wu tertawa terbahak-bahak, lalu masih dalam nada yang penuh tawa dia berkata...
"Bodoh sekali !
Beer jahe itu sebenarnya bukanlah minuman yang mengandung alkohol. Dia disebut beer karena, demikian banyak buih yang di hasilkan ketika minuman itu di tuang,
sampai-sampai kamu serasa memiliki kumis dan janggut ketika menyantap minuman lezat itu"
Tan Quentin langsung memerah karena malu. Lalu katanya,
"Lessgo kalau begitu.
Maafkan kebodohan hamba ya Nona Penyihir Gladys Wu" dia membuat gerakan membungkuk seperti yang dilakukan kaum-kaum bangsawan ketika memberi hormat.
Gelak tawa seketika pecah kembali, sementara lima anak calon shulam itu berpindah ke toko sebelah, dengan niat menyantap beer jahe.
***
Lima anak kecil itu demikian senangnya. Mereka begitu larut didalam kegembiraan sehingga tidak menyadari. Diam-diam enam pasang mata yang kemerahan menatap dalam kearah mereka.
"Anak-anak itu kaya !
Aku melihat mereka mondar mandir berbelanja mulai dari Toko Cake lalu berpindah ke toko limun dan juice di sebelahnya. Uang mereka tak ada habisnya" tatapan mata merah laki-laki dewasa itu menyorot dalam aura tamak.
"Akan tetapi... Mereka itu penyihir.
Bagaimana kalau mereka kemudian melumpuhkan kita dengan teknik sihir? Apakah kalian tidak takut?"
"Bodoh sekali pemikiran kamu. Memang jiwa kamu telah lama menjadi budak, sampai-sampai penuh ketakutan hanya dengan anak-anak kecil seperti itu.
Anak-anak lemah itu adalah pemula! Mereka tak mampu melakkan teknik sihir apapun.
Ayo ! Kita sergap lima anak itu dan mengambil semua koin emas mereka" suara pria bermata merah itu begitu berapi-api.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1