
Karena terlalu capek dengan pelatihan ada hari itu, Zhonglei langsung tertidur ketika dia kembali dari makan malam di kafetaria akademi.
"Mungkin besok malam baru akan dapat berkunjung ke Imam Lu.
Semoga Imam Lu tidak menaruh prasangka buruk dengan ketidak hadiranku malam ini. Aku benar-benar butuh tidur"
Meskipun dia tidak pergi ke menara itu, Zhonglei terlebih dahulu mengosongkong pikiran, memisahkan Yin dan Yang dari tubuhnya, lalu melakukan Silulian seperti yang telah di ajarkan kepadanya.
Zhonglei terbangun keesokan harinya dengan tubuh yang terasa semakin segar, diliriknya tempat tidur tiga kawan lainnya telah kosong. Anak itu langsung menyiapkan diri untuk melakukan rutinitas sarapan pagi dan belajar lagi di klas seperti biasa.
Karena dirinya terlambat dibanding kawan-kawannya, Zhonglei menjadi terheran-heran ketika melihat suasana di kafetaria seperti mencekam. Satu kelompok anak-anak dengan kelompok lainnya tampak saling bisik-bisik seperti memperbincangkan sesuatu rahasia.
"Kawan-kawan, ada apakah gerangan?" Zhonglei bertanya santai, sambil mulutnya meminum jus hijau aneh itu.
"Ah.. Zhonglei. Kamu tidak membaca kah selebaran yang di bagi-bagikan itu?" Quentin menujuk-nunjuk kearah tumpukan selebaran yang di letakkan di meja-meja sudut kafetaria.
Dengan malas anak itu melanjutkan sarapan paginya. Katanya,
"Tidak bisakah kamu membacakan hal itu kepadaku Tan Quentin?" dia menyebut nama temannya dengan lengkap beserta nama marga.
Sambil memasang wajah bosan Quentin berkata'
"Baik - baik tuan muda Zhonglei.
Intinya bahwa, pihak akademi mengumumkan bahwa seorang tawanan yang menjadi tanggung jawab Akademi, saat ini telah menjadi buronan.
Sejak semalam, buronan yang di sebut Penerawang Lu atau biasa disebut Imam Lu, berhasil melarikan diri dari tahanan akademi. Padahal pihak akademi telah memasang sihir dan formasi array di penjara itu, namun penerawang Lu atau imam Lu itu berhasil menghancurkan semua sihir, lalu melarikan diri.
Semua siswa akademi diminta waspada. Tahanan itu, Imam Lu adalah tahanan akademi dengan tingkat berbahayanya, tinggi !"
Zhonglei lantas merasakan perutnya mual.
"Bukankah itu Imam Lu? Apakah Imam Lu telah melarikan diri dari penjara di menara itu? Mengapa Imam Lu dikategorikan sebagai buronan berbahaya tingkat tinggi?
Imam Lu tidak seperti yang ditulis di selebaran itu !
Imam Lu adalah seorang penyihir berbakat yang baik" ingin rasanya anak itu berteriak keras-keras. Namun dia tahu konsekwensi jika ketahuan bahwa dia secara pribadi di latih oleh Imam Lu.
******
Sepanjang hari itu, pikiran Zhonglei amatlah kalut. Anak itu betul-betul tidak dapat berkonsentrasi didalam setiap pelajaran hari ini. Semua menjadi kacau, sampai-sampai Zhonglei di tegur beberapa kali oleh Pelatih Aragoroth.
__ADS_1
"Aku akan menyelidiki malam ini" pikir Zhonglei sedih.
Satu-satunya yang dia anggap baik di dunia ini, setelah Paman Baojia, adalah Imam Lu itu. Zhonglei merasa kuatir, jikalau terjadi apa-apa yang akan menimpa Imam Lu jikalau orang itu tertangkap nanti.
******
Malam itu, waktu telah menujukkan pukul sepuluh malam lebih. Anak-anak mulai tertidur lelap. Dan tidak seorangpun yang akan menyangka, bahwa sesungguhnya Zhonglei merencanakan hal berbahaya malam itu.
Zhonglei menerobos malam, melewati sulur-sulur tepian bangunan lalu mencoba untuk bergerak menuju menara tempat dia biasa menemui Imam Lu.
Anak itu mengendap-endap dalam balutan pakaian serba hitam. Dia bahkan sengaja mengenakan kerudung dan cadar, agar penampilannya tersembunyi dan sukar di kenali.
Seperti kucing malam, Zhonglei melompat-lompat diatas bubungan, berlari memutar menuju menara tempat dia biasa bertemu Imam Lu.
Hati Zhonglei menjadi jatuh, ketika dia melihat di bawah kaki menara itu, berdiri gagah dua puluh sosok yang mengenakan jubah Nomrog Merah dan Kuning. Bahkan dia melihat Lanhua, gadis yang merekrutnya ketika itu di Desa Meihua, berdiri dengan gagah dalam balutan Nomrogh yang melambai-lambai tertiup angin.
Zhonglei sebenarnya bukanlah anak yang pemberani untuk membentur para jago-jago ahli sihir itu. Akan tetapi karena dia penasaran ingin mendengar percakapan mereka, kemana Imam Lu pergi,
maka dengan mengendap-endap dia merayap seperti cicak, tanpa suara, tiarap begitu rendah, sampai-sampai orang tidak akan menyadari kehadirannya.
Zhonglei tidak mendengar dengan jelas apa pembicaraan mereka sehingga dia tidak mengerti perbincangan itu. Namun secara samar-samar Zhonglei mendapat dengar kata-kata "Klan Feniks", sebuah Sekte Rahasia, dan Pemberontakan-pemberontakan melawan kekaisaran.
"Hatchi - hatchi - hatchi"
"Mata-mata "
"Kejar !"
Anak itu langsung tersadar bahwa kegiatannya telah diketahui. Jantung didadanya seketika berdentum bertalu-talu. Zhonglei ketakutan.
Didalam kekalutan untuk melarikan diri, tanpa Zhonglei sadari, dia teringat kata-kata mantra yang sering di ucapkan Imam Lu ketika membuat udara di ruangan pelatihannya menjadi hangat.
"Cahaya ledakan !" titah Zhonglei tanpa sadar.
Sebuah kilatan cahaya meledak eksplosif membuat mata dua puluh ahli sihir yang melompat kearahnya, langsung melangkah mundur dalam ledakan. Cahaya itu membuat silau dan terasa seperti tabir penghalang mereka.
"Kurang ajar, itu ahli sihir!"
"Tangkap hidup-hidup !"
Suara-suara ribut di arah belakang membuat Zhonglei ketakutan. Dia lalu melakukan teknik pernafasan, mengendalikan pikiran lalu melompat sejauh yang dia dapat lakukan.
__ADS_1
"Suiittt !" Lompatan anak itu bahkan membuat dirinya sendiri menjadi terkejut.
"Sepuluh meter?
Aku dapat melompat sejauh ini?" dia tidak percaya.
"Simpan dahulu rasa kagetmu tolol !" Cerca Zhonglei kepada diri sendiri.
"Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah lari dan bersembunyi !" maki dia didalam hati.
Namun semua itu berlalu dengan cepat. Ketika itu dia melihat seorang laki-laki muda dalam jubah Nomrog berwarna merah, tahu-tahu telah menghadangnya.
"Mau lari kemana kamu mata-mata!"
Laki-laki muda itu mengulurkan tangan dan mengucapkan mantra. Sebuah lidah api tampak keluar dari tangannya, menghalangi dan siap menghanguskan anak itu jika saja berkeras melawan.
"Bagus ! Biarkan dia hidup! Kami akanmembawanya untuk diperiksa Hakim militer !" sebuah suara dari belakang terdengar, menambah kepanikan di hati Zhonglei. Dada itu sudah bukan bertalu-talu lagi. Zhonglei merasa jantungnya akan copot.
Zhonglei teringat akan latihan pertempuran yang sering mereka lakukan. Dia sering melihat anak-anak pengendali api berlatih tempur. Seketika pikirannya membayangkan bahwa dia adalah pengendali api. Lalu dalam bentakan keras Zhonglei mengutuk,
"Api ! Berkobar !" sebuah nyala api berwarna kuning seketika bergulung cepat kearah kbaran api yang menghadangnya.
Wush !
Dua api itu lenyap bersamaan, hilang tanpa bekas. Pria yang menghadangnya tampak kebingungan. Sementara itu Zhonglei telah melompat tinggi-tinggi, sementara di arah belakang tampak perisai-perisai kaca bergulung dengan niat memerangkap dia didalam sebuah formasi.
Zhonglei sekali lagi teringat pelatihan anak-anak pengendali air yang bermain-main membentuk pedang dari air. Dia lantas mengucapkan mantra seperti yang sering di dengarnya,
"Pedang !. Air mengkristal!"
Lalu kurang lebih dua puluh pedang berbentuk air terbentuk, menerjang dengan cepat kearah perisai yang mengejarnya. Dua benda itu bertemu lalu lenyap dalam kehampaan. Namun Zhonglei telah menghilang didalam kegelapan malam, ketika dua puluh ahli sihir Shulam datang ke tempat dia menghilang..
"Dia menguasai hampir semua keahlian hal yang diperlukan menjadi penyihir Shulam tertinggi" bisik laki-laki muda itu ngeri.
"Beruntung semua sihirnya masih mentah dengan energi yang paling rendah. Jika dia memiliki hawa murni Shulam minimal level 1, kita semua sudah mati"
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1