
Di kamar asramanya, Zhonglei memperhatikan hiasan permata di kepala tongkat sihir setinggi 1 meter itu.
"Ini hanyalah batu pualam biasa peringkat paling rendah.
Seandainya batu pualam ini adalah minimal batu pualam peringkat rendah saja, aku yakin energi gelombang penguat kekuatan sihir ku akan meningkat drastis" batin Zhonglei.
"Aku akan mencoba kekuatan sihirku menggunakan tongkat ini" batin Zhonglei.
Di sambarnya Nomrogh birunya, lalu dia berjalan cepat-cepat menuju ruang pelatihan.
Di ruang pelatihan, kebetulan sekali tidak terdapat orang lain. Zhonglei lantas mengeluarkan tongkat sihirnya lalu dia memulai gerakan pedang Bianglala Temaram.
Tubuh Zhonglei seketika berubah menjadi seperti burung walet saja. Dia dengan lincah melompat dan melakukan tebasan dengan mudah. Semua gerakan ini telah di hafalnya baik-baik, bahkan dia mempelajari secara khusus di Perpustakaan Akademi Temaram pada waktu itu, sehingga tentu saja kekuatan seni pedang yang dia praktekkan telah menyamai seorang ahli saja.
Anak itu tidak juga terlihat ngos-ngosan setelah dirinya melakukan satu putaran Teknik Pedang Bianglala itu. Dia berdiri sebentar, lalu kemudian berniat mempraktekkan teknik sihir Leech (Menyedot) yang di ajarkan di kelas beladiri Akademi Intermediate ini.
Selama ini, dia tidak pernah secara maksimal melakukan teknik Leech seperti itu dimana efek leech yang menyerupai lintah itu, tidak bermanfaat sama sekali.
Zhong lei menutup mata berkonsentrasi. Dia meluapkan semua energi murni di pusarannya lalu dengan kekuatan jiwanya dia menyedot penguat gelombang sihir dari pualam di tongkat sihirnya. Ketika anak kecil itu membuka matanya, tanpa dia ketahui, sebuah kilat terlintas di dua bola mata itu.
Zhonglei berteriak keras dengan suara yang terdengar seperti suara kuno dari kehampaan... Tangannya dengan yakin mengetok tongkat sihir itu ke lantai "bam !"
Leech !
Sebuah gelombang hitam seperti terlontar muntah ketukan tongkat sihir dilantai, melompat dalam jarak dua meter dan membentukan lobang hitam dalam, seperti lobang jebakan tiada habis dasarnya. Beberapa benda yang berada di dekat lobang hitam itu tersedot, lalu terdengr bunyi memekakan telinga..
Krak - krak !
"Patah lalu layu?" batin Zhonglei dengan terkejut.
"Sekuat itukah kekuatan Leech yang aku hasilkan" pikirnya gembira.
Anak itu lalu mengulangi teknik Leech digabung dengan Teknik Pedang Bianglala, secara berulang-ulang sampai dia kemudian merasa nyaman melakukan teknik pertempuran menggabungkan dua-duanya.
Dua jam kemudian, Zhonglei telah bermandikan keringat, lalu dia bergegas pulang ke kamarnya dengan menyimpan rahasia lagi.
"Setelah menguasai teknik Pengoyak Jiwa. Kini aku mahir menggunakan teknik Leech. Dua hal ini harus aku rahasiakan dalam-dalam.
Akan berbahaya jika orang tahu anak usia 11 tahun sepertiku telah mahir dengan dua teknik ini" batin Zhonglei
Anak itu lalu naik ketempat tidur, bukannya berguling dalam posisi tidur, dia malahan duduk seperti posisi bunga lotus (teratai) dan memulai Siuliannya. Tidak terlalu lama dia tidur dalam posisi lotus dengan nafas yang teratur.
__ADS_1
Satu hal yang tidak disadari anak itu, saat ini jika dia diajak bertempur melawan seorang Shulam yang telah menamatkan Kelas Intermediat, dia tidak akan kalah dengan mudah. Bahkan kemungkinan dia dapat memenangkan pertempuran.
Anak itu tidak menyadari bahwa bakatnya kini telah tumbuh menjadi lebih mengerikan.
>>>>>>
Keesokan harinya, ketika kelas belum lagi dimulai, Zhonglei telah mendekati Gladys Wu dan berbisik-bisik.
"Gladys Wu...
Apakah pelajaran kalian yaitu perapalan mantra cukup menarik? Kapan-kapan aku kepingin untuk mengikuti pelatihan di kelas merapal mantra itu" bisik Zhonglei kepada Gladys.
"Kamu berminat? Sangat jarang sekali pelajaran merapal mantra itu diikuti seorang anak laki-laki.
Akan tetapi jika kamu memang berminat, aku berpikir bahwa pelajaran itu amatlah baik dan menarik jika dipelajari Alkemis atau Healer seperti kamu.
Maka marilah bergabung di kelas kami selepas makan siang nanti" ajak Gladys.
Zhonglei yang kini merupakan bocah yang haus dengan pengetahuan, tentu saja tidak menyia-nyiakan hal itu.
Dia lalu bersama-sama dengan gadis-gadis itu berlatih mempelajari banyak hal dalam merapal mantra. Zhonglei bahkan menyadari... Banyak sekali sihir atau mantra-mantra serangan yang dapat dia ketahui setelah mempelajari teknik merapal mantra.
Kelas kami sama sekali tidak diijinkan untuk mempelajari mantra-mantra kutukan lagi. Dahulu sekali mantra kutukan pernah populer. Namun sekarang itu adalah tindakan ilegal" tandas Pelatih kelas Perapal Mantra, ketika Zhonglei bertanya tentang perang sihir di masa lalu sesuai sejarah-sejarah yang dia baca di perpustakaan.
>>>>>>
Waktupun berlalu, dan Zhonglei telah berusia 12 tahun. Sebagai hadiah ulang tahunnya, Zhonglei memulai pelatihan beban berat dimana dia menyiksa diri dengan mengenakan gelang kaki berbeban 40 kati di masing-masing kaki, dan 20 kati di gelang tangan kanan dan kirinya.
"Kamu menyiksa diri kamu sendiri" kata Gladys Wu ketika melihat Zhonglei memasung kaki dan tangannya dengan benda berat itu.
Zhonglei tidak memperdulikan ejekan Gladys Wu. Dia semakin rajin saja berlatih kekuatan fisik untuk meningkatkan kekuatan serangan dan juga untuk membuat nilai kelicahannya meningkat lagi.
Enam bulan telah berlalu, dan pelatihan melompat-lompat diatas papan menggunakan gelang kaki itu, belum juga menunjukkan pelatihannya telah selesai.
Sementara itu anak-anak satu kelasnya telah demikian heboh dengan membaca papan pengumuman pada hari itu..
"Lei keci..
Mari kita pergi membaca papan pengumuman.
Akademi Moonlight kita akan mengadakan semacam pertandingan kecil tempur diantara kelas.
__ADS_1
Pemenang pertama di ajang beladiri kecil itu berhadiah Tongkat Sihir yang dapat menjadi pedang itu" kata Gladys Wu di suatu sore.
"Benarkah?" jawab Zhonglei antusias..
"Mari kita pergi menengok papan pengumuman"
Papan pengumuman akademi sihir sore itu di padati anak-anak yang demikian berapi-api setelah mendengar berita heboh turnament antar kelas nanti.
Hadiah utama tongkat sihir yang dapat berubah menjadi pedang tentu saja membuat keinginan semua orang menjadi menggebu-gebu.
"Harganya setara 1000 point kontribusi..."
"Aku akan mengikuti kompetisi itu. Hadiah utama itu akan menjadi milikku" demikian bunyi suara-suara penuh harapan ketika mereka saling berdiskusi.
Zhonglei menyampaikan kesusahannya kepada Gladys Wu..
"Betapa ingin aku mengikuti ajang turnament itu...
Akan tetapi lihatlah, aku masih terikat kontrak sihir dengan pelatihan gelang ini" Zhonglei menunjukkan gelang di tangan dan kakinya kepada Gladys.
"Apakah kamu tidak bisa melakukan tindakan menghentikan seketika pengaruh gelan-gelang itu? Bukankah tidak akan ada pengaruhnya jika kamu melepas benda itu" tanya Gladys.
"huh kamu tahu apa.
Jika aku secara sepihak melepas gelang sihir ini, maka pelatihanku selama ini akan sia-sia.
Kutukan sihir akan memakan setengah tahun masa pelatihanku, dan kemampuanku akan menurun tentu saja" jawan Zhonglei sedih.
"Kalau Begitu kamu harus berlatih siang dan malam, agar mempercepat proses penyelesaian pelatihan sihir gelang itu" kata Gladys.
Zhonglei seketika tercerahkan. Dia hanya perlu meningkatkan pelatihannya sebesar dua kali dari biasa, maka kemungkinan masa pelatihan gelang sihir akan selesai dengan cepat, sebelum kompetisi antar kelas di mulai.
"Ah.. Kamu briliant Gladys.. Terima kasih.
Bukankah aku akan menjadi bulan-bulanan ketika mengikuti kompetisi, sementara tangan dan kakiku terikat dalam beban 40 kati ini?"
Dua anak itu lalu tertawa terbahak-bahak. Zhonglei memastikan dia akan mendaftar di ajang turnament antar kelas itu..
*Bersambung*
Setelah selesai membaca, selalu jangan lupa likenya, Vote dan memilih favorit untuk author ya gaes. TQ
__ADS_1