
"Apa yang anda lakukan Imam Lu? Mengapa terdapat rantai di kaki anda?" Zhonglei bertanya penasaran.
Sambil melepas tawa kecil, Imam Lu berkata,
"Semestinya aku yang bertanya. Tidak takutkah kamu anak kecil, berdiri dekat-dekat dengan seseorang yang memiliki rantai di kaki ini?"
Zhonglei menatap pria itu, dia menggelengkan kepala.
"Anda terlihat ramah. Bahkan aura yang anda keluarkan terasa aura bersih yang berhawa posisif" Zhonglei diam sebentar. Lanjutnya
Lalu dengan alasan apakah aku mesti takut dengan kehadiran anda Imam Lu" Zhonglei makin berani, dia bergerak semakin mendekat ke laki-laki berantai itu.
Zhonglei kini menatap lekat-lekat kaki putih Imam Lu, itu tampak bernoda darah yang telah mengering. Sepertinya luka itu terjadi karena pangkal kaki itu selalu tersegel besi pengunci rantai.
"Sakitkah itu?" dia menatap mata Imam Lu
Imam Lu menggelengkan kepala.
"Sudah tidak lagi sakit. Semua rasa sakit itu telah lama terkubur, menyisakan raga yang masih tersisa di benua ini"
Zhonglei merasa keanehan dan membisu. Imam Lu pun ikut-ikutan diam membatu. Kemudian anak kecil itu mengambil inisiatif dan memecah kekakuan malam yang semakin larut.
"Aku seorang siswa di Akademi Shulam Kota Temaram. Karena ini adalah hari kedua aku di sini,
maka aku melakukan tur keliling untuk melihat-lihat. Siapa sangka aku menjadi tersesat, lalu bertemu dengan anda Imam Lu" Imam Lu memperhatikan semua kata-kata Zhonglei dengan roman muka lurus.
"Dapatkah anda memberitahukan aku, kemana arah menuju Akademi Shulam Kota Temaram?" tanya Zhonglei.
Imam Lu menampilkan wajah yang lucu, lalu sambil terkikik dia berkata,
"Akademi Shulam kamu berada tepat di balik menara tinggi, yang mana aku dikurung sana" dia menunjuk kearah menara tinggi yang jendelanya masih terbuka.
Zhonglei menampilkan wajah terkejut ketika diberitahu bahwa Akademi Shulamnya berada tepat di balik menar tinggi itu.
__ADS_1
"Akan tetapi, aku telah berulang kali berputar-putar hingga ke bagian belakang menara itu,
namun tak kunjung jua ku temui asrama shulam kami" Zhonglei merasa bahwa dia diakali Imam Lu itu.
Imam Lu hanya menghela nafas dalam-dalam, lalu berkata.
"Itu karena kemampuan sihir kamu sangatlah minim. Demikian minimnya sampai-sampai kamu tidak menyadari terdapat array selubung yang menyembunyikan akademi itu dari pandangan orang banyak.
Menara dari mana aku datang tadi adalah bagian dari bangunan Akademi Shulam.
Kamu dapat melihat menara tempat aku dikurung sana, itu menunjukkan kamu memiliki bakat sihir yang kuat, namun kemampuan kamu itu masih dalam tersembunyi. Ibaratnya bakat kamu itu saat ini tengah mati suri, menunggu saatnya dibangunkan nanti" Imam Lu lantas mengajari Zhonglei tentang titik kunci, memasuki akademi mereka.
"Berarti anda, Imam Lu seorang penyihir? Kulihat anda paham dengan hal-hal yang berhubungan dengan sihir" tanya Zhonglei.
Imam Lu mendongak kearah langit, dia tampak menatap bintang-bintang di angkasa, dengan nada terdengar hampa dia berkata.
"Dahulu aku seorang Shulam, ahli sihir. Bahkan aku adalah petarung Shulam level dua. Namun sesuatu kemalangan terjadi menimpa sekte kami, semua tercerai berai dan aku di jatuhi hukuman dikurung di menara itu"
"Aku seorang penerawang !" kata Imam Lu.
Lalu dengan ragu-ragu anak itu mengajukan sebuah permintaan,
"Imam Lu.. jika aku meminta petunjuk tentang beberapa hal, semisal pelajaran-pelajaran di akademi sihir itu.. Apakah anda dapat mengabulkan keinginan saya?"
"A-aku merasa diriku amatlah bodoh. Di kelas saja berulang kali aku mencoba berkonsentrasi untuk mengeluarkan kemampuan sihir, namun sia-sia adanya.
Anda adalah seorang ahli Shulam Petarung level dua... Pasti tidak terlalu sulit jika anda memberi aku satu atau dua petunjuk bukan?" Zhonglei lalu memasang wajah memelas.
Imam Lu menjawab,
"Aku tahu. Menurut kamu, kamu sendiri adalah seorang anak lemah yang tidak mampu mengeksekusi kemampuan sihir.
Menurutku, itu bukan kesalahan kamu. Akademi Shulam tidak lagi mengajarkan sesuatu yang mempermudah anak-anak meningkatkan konsentrasi, lalu mengeksploitasi semua kemampuan mereka.
__ADS_1
Semua sihir dibatasi sejak insiden pertempuran berdarah itu.." Imam Lu diam seolah sementara merenungkan sesuatu dari masa lalu. Lanjutnya kepada Zhonglei.
"Jika kamu memang betul-betul berniat untuk menjadi ahli sihir yang bagus, besok malam aku menunggumu di puncak menara sana" Imam Lu menunjuk kearah jendela di ujung menara.
"Aku hanya akan mengajarkan kamu teknik untuk lebih mudah memahami semua teori-teori sihir" tanpa menunggu jawaban Zhonglei, Imam Lu melambaikan tangan.
Tubuh Imam Lu seperti diangkat sebuah awan, yang kemudain membawa dia seperti terbang memasuki jendela di menara tinggi itu. Zhonglei menatap penuh rasa kagum melihat keanehan-keanehan sihir seperti yang baru saja diperagakan Imam Lu.
Zhonglei lantas menyusuri bubungan atap bangunan, lalu di titik yang di ajarkan Imam Lu, dia lalu mengetuk tiga kali.
"Wush " Pemandangan Akademi Shulam langsung terpapar, tampak indah di hadapannya. Lalu dia bergegas menuju kamar tempat dia bermalam dengan tiga kawan lainnya, beristirahat dengan membayangkan pertemuannya dengan Imam Lu.
******
Hari kedua Zhonglei belajar di Akademi Shulam Kota Temaram, dia memulai lagi hari-hari berat dengan jejalan teori-teori sihir dan teknik pertempuran yang memenuhi kepalanya.
Di kelas Pelatih Aragoroth, Zhonglei tidak diijinkan memegang senjata tempur.
"Kamu masih baru. Terlalu berbahaya jika kamu bermain-main dengan pedang roh.
Aku tak ingin terjadi petaka, ketika seorang calon shulam yang belum lagi seminggu berlatih di akademi ini, mengalami kemalangan akibat memaksakan diri berlatih tempur menggunakan senjata roh" Tegas suara Pelatih Aragoroth, sampai-sampai Zhonglei tidak berani membantah.
"Kamu berlari saja keliling lapangan. Jangan lupa memikul dua tempayan besar berisi air.
Aku ingin melihat, seberapa banyak air yang akan kamu bawa kesini, setelah putaran ke sepuluh" kata Aragoroth kejam.
"Apa? Sepuluh putaran? Dan jumlah air dalam tempayan itu tak boleh tumpah?" Zhonglei akan mengajukan protes. Namun ketika dia melihat Pelatih Aragoroth menunjukkan buku point kontribusi, buru-buru dia tersenyum lalu berkata..
"Ah.. Itu hanyalah sepuluh putaran. Tidak masalah jika itu akan membantu diriku untuk menjadi kuat dimasa depan nanti" Zhonglei buru-buru mengambil tempayan sesuai permintaan Pelatih Aragoroth, mengisi air penuh-penuh, lalu dia mulai berlari-lari kecl mengelilingi lapangan pelatihan.
"Ayo Zhonglei, bersemangat !" begitu teriakan memberi semangat dari anak-anak berjubah Nomrogh Biru. Zhonglei melemparkan wajah terima kasih kearah kawan-kawannya. Sementara itu, Artyom dan anak-anak kelompok merah mengeuarkan suara-suara yang merendahkan.
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.