
Wajah Zhonglei menjadi berubah. Ternyata untuk menjadi sukses didalam pekerjaan sebagai Shulam ini, tidaklah semudah yang dia sangka selama ini. Jawabnya ragu-ragu..
"Menurut Imam Lu..
Apakah Lei kecil ini harus menambah beban gelang di kaki dan tangan sebesar dua kali lipat?
Apakah.. Beban itu nantinya masih akan dapat aku bawa, mengingat berat badan Zhonglei saja tidaklah seberapa" jawab Zonglei ragu-ragu.
Imam Lu lalu tertawa keras-keras. Jawabnya..
"Maksud pinto mengucapkan kata-kata itu adalah agar, anda Lei kecil tidaklah seketika menjadi berpuas hati. Karena diluaran sana, masaih sangat banyak sekali penyihir-penyihir jenius yang berlatih mati-matian dengan jalan menyiksa diri" Lanjutnya..
"Kamu anak kecil ini tidak perlu untuk buru-buru menambah beban selepas lulus pelatihan pertama.
Pinto rasa, sebaiknya kamu memasang ulang gelang dengan beban dua kali lipat itu, setelah jelang enam bulan kedepan. Sesuatu yang dikerjakan terlalu buru-buru, biasanya kurang baik pada akhirnya.
Sekarang kamu segera duduk bersila, dan lakukan latihan pernafasan dalam posisi lotus".
Zhonglei anak kecil itu menjadi lega di dalam hatinya. Diapun memejamkan mata, lalu duduk dalam posisi lotus dan mulai mengambil nafas "Kosongkan pikiran, buang semua beban..." lalu tidak berapa lama anak itu terlelap.
>>>>>>
hari itu adalah kelas Pertempuran, untuk Zonglei dan kawan-kawannya. Kali ini, agar semua menjadi lebih fokus dan memperoleh manfaat lebih, Pelatih Aragoroth membagi siswa akademi didalam dua kelas.
Kelas pertama adalah kelompok anak-anak dari Nomrogh berwarna merah dan kuning yaitu kelompok Shulam Penyerang dan Pertahanan. Sedangkan kelompok anak-anak berjubah hijau transportasi, biru supporting dan kelabu untuk keahlian lain-lain dikumpul dikelas yang sama.
"Kita sengaja dipisah karena terang saja, keahlian kita bukanlah sebagai seorang penyerang atau petarung. Apabila kita melakukan sparing pertempuran melawan mereka, jelas-jelas kita akan keok didalam kesempatan pertama" koar Quentin yang bernada cemburu.
Quentin melemparkan tatapan penuh iri ketika melihat gadis penyerang tipe api itu membuat bulatan api dari pedang ditangannya. Gadis bernama Elisa Kwan itu lalu melompat setinggi dua (2) meter lebih, lalu dia melakukan gerakan indah menukik ke tanah dalam gerakan Teknik Pedang Bianglala Kota Temaram.
Anak-anak kelompok jubah merah itu bertepuk tangan keras-keras. Mereka berteriak gembira melihat Elisa Kwan mendorong pedang penuh api, menebas penuh ancaman kearah lawan sparingnya anak laki-laki bernama Park Yu.
Meski terlihat seperti keteter, karena berulang kali melangkah mundur dari serangan lidah api Elisa Kwan itu, Park Yu tetap berkonsentrasi sambil tangan kiri kanannya mencoret-coret di udara. Sebuah lapisan kaca muncul dari kehampaan, membuat perisai yang dalam sekejab menyelubungi Park Yu.
"Bagus. Bagus Park Yu !" puji Pelatih Aragoroth.
Pelatih Aragoroth menatap lekat-lekat kedalam pertempuran itu. Dia mendesah pelan ketika melihat, dari sela-sela tameng yang di buat Park Yu secara sihir itu, terkadang anak laki-laki itu membuat tusukan pedang sehingga Elisa Kwan mulai berbalik kerepotan.
__ADS_1
"Blam" sebuah goresan pedang dengan kasar mencoret dada Elisa Kwan, yang lantas wajahnya berubah menjadi merah padam karena marah.
"Kalah !
Kamu telah kalah Elisa Kwan" teriak Park Yu setelah dia mencoret dada Elisa Kwan dengan pedang ditangannya. Pada kenyataannya, semua senjata yang digunakan mereka dalam sparing itu adalah menggunakan senjata kayu.
Elisa Kwan terlihat tidak puas, lalu dia menggetok kepala Park Yu menggunakan pedang kayu ditangannya,
"Plok"
"Aduh - tolong !" dia lalu mengejar Park Yu yang kini berlar menghindari pukulan pedang kayu ditangan Elisa Kwan tiada henti.
"Cih ! Kamu laki-laki busuk. Tidak ada keinginan mengalah sedikitpun dengan seorang anak gadis"
"Tolong !"
"Cukup ! Hentikan perbuatan kanak-kanan itu Elisa Kwan !.
Seharusnya kamu bersyukur. Park Yu tadi itu setidaknya telah memberi kamu pelajaran kecil. Agar kamu jangan terlalu puas dengan pencapaian serangan awal ambigu itu.
Jika saja tadi itu adalah pertempuran di peperangan, sejak awal-awal kamu telah mati bersimbah darah"
"Ketika besok kita masih menjadi sparing latihan, aku akan membuat kamu keok dalam sepuluh langkah"
Park Yu, anak lelaki berjubah Nomrog Kuning itu tidak berkata-kata, membantah desisan Elisa Kwan. Dia terlalu malas untuk memulai pertengkaran baru dengan gadis petarung yang tidak mau kalah itu.
"Pelatihan Teknik Pertempuran menggunakan senjata kelompok pertama telah selesai. Sekarang saatnya kelompok kedua.
Untuk pembukaan sparing ini, aku menunjuk Sergei El dari Jubah Hijau melawan Zhonglei dari Jubah Biru !"
Semua anak-anak dari jubah biru dan jubah kelabu terkesiap.
"Zhonglei baru saja beberapa hari ini lulus latihan beban. Mengapa dia yang di tunjuk untuk sparing melawan pengen air bernama Sergei El itu. Segei El ini adalah seorang pengendali air yang paling baik diantara 5 anak pengendali air di kelas mereka" desis Gladys Wu kepada Quentin.
"Semoga saja Zhonglei tidak dibuat babak belur oleh Sergei El" bisik Quentin.
"Kupikir Sergei itu tidak akan melakukan kekasaran seperti yang sering dilakukan anak-anak pengendali api itu. Sergei El adalah anak laki-laki yang baik dan ramah.
__ADS_1
Bahkan beberapa kali, aku pernah berbicara dengan dia. Dia tidak menampakkan raut membuli atau akan mentertawakanku seperti yang dilakukan anak-anak pengendali api itu" suara Glady Wu terdengar penuh pemujaan.
Dengan raut kesal Quentin melepaskan kata-kata beracunnya,
"Cih.. Kamu perempuan genit. Kamu tidak segan-segan membela anak laki-laki idolamu, bahkan ketika sahabatmu itu akan menjadi sasaran pedang nanti" Quentin menantap dengan kesal kearah Gladys Wu, yang kini berpura-pura menjadi tuli.
***
Saat itu tampak terlihat Zhonglei telah berdiri di tengah kelas terbuka, tangan kanannya memegang erat pedang (Pedang Kayu tentunya). Sergei El berdiri tidak lebih dari sepuluh meter dari hadapan Zhonglei. Tangannya pun terlihat erat menggenggam pedang ditangan.
"Dalam hitungan ketiga, kedua lawan sparing ini dapat melepaskan pukulan.
Satu, dua... Tiga !"
Semua anak-anak kelompok dua itu menahan nafas. Jika dari kelompok pemakai Nomrog Hijau menahan nafas karena melihat kecepatan lompatan Sergei El, dari kelompok Nomrogh Biru menahan nafas karena tidak sanggup untuk melihat Zhonglei menjadi babak belur.
Dari arah penonton, yaitu anak-anak kelas pertama dari Pengendali Api dan Pengendali Tanah bersorak-sorai. Semua menyemangati Sergei El,
"Hajar anak lemah itu Sergei El"
"Buat dia menjadi babak belur !" Artyom terlihat paling bersemangat diantara kelompok itu. Lalu anak-anak berjubah Biru melemparkan tatapan kebencian kepada Artyom yang terus-terusan berpura-pura seakan tidak tahu apa-apa.
Akan tetapi semua tepuk tangan dan sorak-sorai itu menjadi terhenti seketika. Semua anak-anak melongo ketika melihat Zhonglei ikut melompat menghadang Sergei El. Akan tetapi yang membuat semua menjadi ternganga adalah, Zhonglei mampu melompat demikian tinggi. Kira-kira 4 meter tinggi lompatannya. Jauh lebih tinggi dibanding ketinggian lompat anak-anak.
"Bukankah lompatan anak baru itu terlalu tinggi dibanding semua anak-anak di kelas kita?" Ziranmei dari kelompok bernomrogh kuning berteriak ngeri.
Tidak hanya berhenti disitu saja. Di tengah-tengah lompatan itu, Zhonglei membuat gerakan salto indah, lalu tangannya terjulur menusuk kearah Sergei dalam Teknik Pedang Bianglala Kota Temaram. Gerakan pedangnya demikian tenang, lembut seolah-olah tidak bertenaga.
Sergei El seketika menjadi gugup. Dia menangkis tikaman pedang kayu dengan memutar pedang di tangannya.
"Apa ?" Sergei El merasa seolah-olah tebasan pedangnya serupa membuang batu dalam lautan. Kekuatan pedang nya lenyap di telan sergapan pedang ditangan Zhonglei.
"Krak !" semua semakin ternganga ketika melihat pedang di tangan Sergei El patah. Wajah anak itu, Sergei El seketika berubah menjadi pucat seperti kertas. Dia menatap nanar ke arah Zhonglei yang kini tampak mendaratkan kedua kakinya diatas tanah.
"Kamu telah kalah, Sergei El" demikian suara Zhonglei
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.