
Zhonglei kembali ketempat duduknya dan disambut dengan kehebohan oleh Gladys Wu..
"Lei kecil...
Siapa mau menyangka. Dirimu ternyata mampu menjalankan sihir Leech itu dengan amat sempurna" mata Glady Wu berbinar-binar..
"Kaaan-kapan kamu harus mengajarkan diriku dengan sihir pertempuran itu" desak Gladys..
Zhonglei membalas permintaan Gladys Wu dengan kata-kata yang penuh candaan,
"Siap nona penyihir...
Hamba akan mengajarkan teknik leech ini dengan syarat, kamu harus mentraktir diriku dengan makanan yang banyak ketika weekend nanti"
Gladys Wu mengkerdipkan mata tanda setuju. Dua anak itu lalu terlibat dalam bicang-bincang ringan, sehingga melupakan keadaan. Sesungguhnya mereka itu tengah menghadiri turnament antar kelas Siswa Akademi.
Pada hal saat itu puluhan mata memandang Zhonglei lekat-lekat, dan semua peserta mulai memasukkan anak kecil itu didalam daftar yang harus di waspadai.
Saat ini diatas panggung arena, tengah bertarung seorang gadis dari Nomrog Kuning melawan Gadis lain yang menggunakan Nomrogh hijau.
Meskipun dua gadis itu telah berusaha menampilkan kekuatan serangan pedang sebagai pengendali Bumi dan Pengendali air, akan tetapi pertarungan diantara keduanya tidaklah semenarik pertandingan awal, tatkala Zhonglei tampil.
Gelagatnya, pertarungan yang ditampilkan begitu indah oleh sepertinya telah menjadi patokan untuk pertarungan-pertarungan selanjutnya.
Pada akhirnya, gadis ber Nomrogh Kuning itulah yang memenangkan pertarungan melawan gadis yang mengenakan Nomrogh Hijau. Lima buah bom yang terbuat dari tanah berhasil di tembakkan si Nomrogh Kuning, membuat gadis pengendali air itu seketika jatuh terguling-guling dengan separuh tubuh tertelan tanah.
Gadis Nomrogh Kuning itu menang telak, yang lantas dirinya di sambut tepuk tangan meriah dari kelompok jubah kuning
***
"Zhonglei pengendali kayu akan bertarung melawan Andres Huang seorang pengendali tanah di babak kedua ini" suara Master Zu Jian Guang.
Seorang anak laki-laki berwajah lancip, tubuh tinggi dan mengenakan jubah Nomrog Kuning melompat keatas arena. Tepuk tangan dan sorak-sorai menyertai Andres Huang ketika anak itu berada diatas panggung arena.
"Kali ini si pengendali kayu itu akan dibuat keok.
Bukankah Kayu selalu kalah dari tanah?" bisik seorang anak.
"Aku pun berpikir demikian.
Terlalu aneh rasanya jikalau secara berturut-turut pengendali api lalu tanah yang di angung-agungkan sebagai kelompok penyerang, dibuat bertekuk lutut dibawah seorang pengendali kayu.
Bukankah itu menyalahi ketentuan alam bukan?" jawab kawannya bersemangat.
__ADS_1
Sementara itu, kini arena tempat kontes itu terlihat telah semakin banyak di penuhi anak-anak. Jika pada awalnya kebanyakan yang menonton adalah anak-anak kelas terendah saja, kini bahkan anak-anak kelas dua tengah dan anak-anak kelas tiga akhir mulai berkerumun di arena kompetisi itu.
Zhonglei tentunya tidak mau kalah didalam aksinya. Dia ingin membuat penampilannya terlihat dramatis, maka dikerahkan semua kekuatan dari pusarnya, dan di arahkan ke kaki.
Kakinya menekuk dengan tubuh membentuk seperti busur, lalu dengan tarikan nafas dalam-dalam... Dia mengemposkan seluruh kekuatannya untuk meleting, melompat tinggi di udara.
Wush !
Zhonglei melompat dalam ketinggian hingga sepuluh meter lebih, lalu dia melakukan dua kali putaran di udara dan kakinya hinggap dengan kuda-kuda yang kuat diatas panggung arena.
Woo ! Suara-suara ribut penuh rasa kagum terdengar memenuhi arena.
Zhonglei membentangkan tongkat d tangannya dan berkata,
"Aku siap !"
Master Zu Jian Guang seperti terkejut ketika mendengar suara Zhonglei, dimana dia masih mengagumi teknik salto yang diperagakan anak kecil itu,
dengan enggan mengumumkan kalau pertandingan Pengendali kayu melawan pengendali tanah itu telah siap di gelar...
"Maka pertarungan dapat di mulai dari sekarang !" suara MAster Zu terdengar menggelegar.
Wush !
Andres Huang seketika mengeluarkan kemampuannya mengendalikan tanah, dimana tanah muncul dari lantai dan memborgol kaki Zhonglei.
Lima bola seukuran bola tenis (bom), yang terbuat dari tanah muncul dari arah bawa, berputar mengancam akan menghujam tubuh Zhonglei.
"Pergilah !" titah Andres Huang.
Lima bola bom untuk melayang kedepan untuk menghantam bebas ke tubuh Zhonglei, yang tidak berdaya karena kakinya di borgol tanah secara sihir.
Saat itu dalam keadaan panik, Zhonglei teringat akan pelaran-pelajaran rapalan mantra di kelas yang di ikuti. Lalu Zhonglei mengangkat tongkat sihirnya tinggi-ting, mulutnya menggumamkan kata-kata,
"Cahaya - kehancuran !"
Zhonglei membenturkan tongkat sihirnya keras-keras di tanah, lalu dari kepala tongkat yang mengandung penguat sihir itu keluar cahaya seperti cahaya matahari.
Duar !
Cahaya sinar matahari itu membentur lima bola tanah yang di tembakkan Andres Huang, lalu meledak.
Wajah Andres Huang berubah menjadi pucat pasi. Dia tak menyangka sama sekali sihir tanahnya itu akan dapat di ledakkan dengan menggunakan sebuah mantra kutukan biasa.
__ADS_1
Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba telinganya mendengar teriakan.
"Leech !"
Andres Huang sadar, dirinya berada didalam bahaya. Buru-buru dia melompat mundur menjaga jarak.
Akan tetapi patut disesali, rongga hitam tak berujung itu berputar cepat, bahkan memiliki efek menyedot yang sangat kuat. Andres Huang tersedot ketat untuk masuk kedalam rongga hitam tak berujung.
"Tolong !"
Nampak betul Andres Huang meronta-ronta seperti seekor ikan yang di keluarkan dari air dan harus menghirup udara oksigen manusia.
"Tolong..!! Aku tersedot !" teriakan pilu anak itu tidak di hiraukan siapapun. Ini adalah ajang kompetisi yang tidak dapat meminta pertolongan siapapun.
"Bodoh ! Katakan saja kamu menyerah, maka lawanmu pasti akan menghentikan sihir kutukan itu" teriak anak-anak dari kelompok berjubah Nomrog Kuning.
Pada akhirnya, karena tidak tahan lagi dengan sedotan kutukan Leech itu, Andres Huang berteriak mengaku kalah,
"Aku menyerah !
Tolong lepskan aku dari kutukan ini !" jeritnya.
Zhonglei lantas menarik balik semua kekuatan yang keluar dari pusaran energinya, sehingga sihir Leech itu langsung memudar.
Andres Huang berjalan gontai, ketika belitan sihir Leech itu memudar. Wajahnya demikian pucat pasi sampai-sampai semua penonton menjadi diam tergugu.
"Pemenang Babak Kedua adalah Zhonglei.. Pengendali kayu"
Sorak-sorai terdengar membahana, mengelu-elukan Zhonglei. Kini dia semakin dikenali, sehingga tanpa anak itu sadari, ternyata dia telah memiliki beberapa pemuja yang berulang kali meneriakkan namanya berulang-ulang.
"Zhonglei pengendali kayu"
"Zhonglei pengendali kayu"
Wajah Zhonglei memerah karena rasa jengah yang mendalam. Anak itu tidak pernah memperoleh perhatian orang banyak, sehingga puja-pujaan seperti itu, membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Zhonglei tidak dapat berkata-kata, ketika beberapa gadis dari kelas dua dan kelas tiga, menghampirinya dan memberinya berbotol-botol air limun dan minuman soda leci.
"Halo selebriti baru kami.." kata Gladys ketika melihat Zhonglei duduk dengan setumpuk botol minuman penyegar yang di hadiahkan anak-anak gadis pemujanya.
"Tolong jangan menggodaku...
Aku tidak tahu lagi, seberapa merah wajahku saat ini" bisik Zhonglei kepada Gladys Wu.
__ADS_1
*Bersambung*
Setelah selesai membaca, selalu jangan lupa likenya, Vote dan memilih favorit untuk author ya gaes. TQ