Chronicle Klan Feniks

Chronicle Klan Feniks
Artyom Yang Angkuh


__ADS_3

Anak berambut emas itu, si Quentin menyeret Zhonglei dengan berlari kecil melintasi lorong-lorong di akademi. Nampak di belakang mengikuti mereka Hani Wang dan Saosheng. Gerakan terburu-buru itu tidak membuat Zhonglei dapat menikmati keindahan tembikar seperti semalam ketika dia berjalan bersama Lanhua.


"Instruktur teknik pertempuran itu amat kejam. Tidak seorang pun diijinkan untuk datang terlambat didalam kelasnya" desis Qenting, di sela-sela nafasnya yang memburu.


Zhong lei akhirnya memaklumi juga, setelah dia melirik kerah Hani Wang dan Saosheng. Dua anak itu terlihat begitu takut terlambat untuk datang di kelas pertempuran.


"Well.. Sepertinya instruktur pertempuran ini tidak bisa diajak berkompromi. Aku akan lebih berhati-hati dengan dia" batin Zhonglei.


Ketika mereka memasuki kelas Teknik Pertempuran itu, terlihat beberapa anak-anak lain dari kelas yang lebih tinggi telah berdiri menunggu didalam ruang latihan itu.


"Mereka tidak lulus ujian Teknik Pertempuran Tahap pertama. Jangan sampai kamu menjadi serupa dengan mereka.


Pada kenyataannya meskipun berasal dari kelas yang lebih tinggi, mereka diam-diam menjadi bahan cemoohan intruktur Aragoroth.


Lihat saja nanti" bisik Quentin. Dia berhati-hati berbicara, menghindari konflik dengan anak-anak dari kelas yang lebih tinggi.


Sementara itu Zhonglei melihat beberapa anak telah memulai latihan mandiri, sebelum instruktur masuk ke kelas. Kelompok anak-anak itu berasal dari kelompok pengendali api bermain-main dengan api ditangan. Dengan penuh kekaguman Zhong lei melihat Artyom Bobrov si rambut emas membuat lingkaran kecil dari api.


Begitu lingkaran api itu terbentuk, Artyom melemparkan lingkaran api itu kepada seorang anak gadis yang dia tahu bernama Ziranmei. Ziranmei ini adalah seseorang pengendali air yang berkultivasi sebagai petarung defense atau pertahanan.


Ziranmei melirik acuh ketika lingkaran api melesat cepat kearahnya. Dia mengangkat tangannya dan mengucapkan kata-kata yang tak terdengar. Gelombang air terlihat bangkit dari kolam di dalam ruang kelas dan membentuk semacam cermin kristal.


"Bum !" lingkaran api itu lenyap ketika membentur cermin kristal.


Ziranmei melempar senyum kearah Artyom yang juga membalas dengan tawa yang demikian keras.


"Lemah sekali lidah api yang anda terbangkan. Apakah kamu kurang makan belakangan ini Artyom Bobrov?" suara Ziranmei terdengar mengejek.


"Hahaha... Tak kusangka sama sekali. Kekuatan mengendalikan air kamu telah maju ke level yang lebih tinggi.

__ADS_1


Kamu bahkan mampu membentuk kristal dari cairan lembut itu" Artyom kemudian bertepuk tangan keras-keras, disusul pujian dari teman mereka dari kelompok Nomrogh warna merah dan Nomrog berwarna Kuning.


Artyom lalu memalingkan wajahnya, dia menatap tajam kearah Zhonglei dan tiga kawannya yang berNomrog biru itu. Mendadak Quentin dan dua kawannya yang lain membuang muka. Zhonglei heran, mengapa tiga kawannya seperti enggan untuk melayani Artyom?


Pertanyaan di dalam hati Zhong lei terjawab, ketika Artyom mengeluarkan suara dengan keras,


"Seperti itulah seharusnya kaum Shulam jika beraksi. Bertempur ! Bukannya duduk dan diam didalam ruangan, mengolah sesuatu dan menghafal mantra-mantra umum.


Artyom kemudian melirik juga kearah gadis perapal mantra dari kelas mereka. Quentin dan kawan-kawannya menjadi merah seketika. Gadis perapal mantar itu, terlihat tidak peduli. Dia hanya memberikan tatapan bosan kepada Artyom. Mungkin gadis itu terlalu sering diremehkan, sehingga dia bersikap tak ambil pusing.


Teriakan Artyom itu kemudian di sambut dengan tertawa riuh dari lima kawan sekelas mereka, yang mengenakan jubah Nomrogh berwarna merah. Murid-murid berjubah kuning, hijau dan warna lainnya, berusaha keras untuk terprovokasi, dan mentertawakan kelompok Zhonglei.


Melihat dukungan yang diperoleh hanyalah dari kelompok Nomrogh merah, Artyom menunjukkan wajah kurang puas. Sebaliknya dengan hal itu, Quentin seolah merasa mendapat dukungan dari pengguna Nomrog berwarna lain selain merah.


Lalu mulut tajam Quentin mulai berkata-kata,


"Hm... Besar sekali mulutmu Artyom Bobrov. Kamu bersikap seolah-olah kaum shulam itu hanya terdiri dari kelompok penyerang saja.


Jika aku kebetulan yang bertugas disana, ketika kamu terluka... Aku tidak akan datang sekalipun kamu menjerit-jerit memanggil tenaga Healer (Penyembuh dengan cara sihir), untuk memperbaiki usus terburaimu, dan menjahit luka mu dengan sihir"


Tajam nian kata-kata yang keluar dari mulut Quentin. Artyom Bobrov si rambut emas terdiam. Wajahnya memerah karena marah. Sementara itu anak-anak kelompok lainnya tidak berani membantah kata-kata Quentin.


Kenyataannnya memang seorang Healer sangatlah dibutuhkan di dalam peperangan, ketika akan menyembuhkan luka dan kecelakaan lainnya yang di alam petarung. Dengan wajah puas, Quentin membuang muka lalu mengajak Zhonglei dan yang lain berpindah menonton aksi anak-anak dari kelas yang lebih tinggi.


Terlihat kelompok pengendali air dari kelas lebih tinggi bermain-main dengan air di kolam. Seorang anak pengendali air yang telah mahir dan telah menguasai kekuatan air, dengan mudah membentuk sebuah pedang dari air itu, yang dengan penuh percaya diri dia kibas-kibaskan pedang air itu seolah-olah itu barang permainan belaka.


Namun tidak sedikit juga anak-anak pengendali tanah dan pengendali angin hanya menonton keseruan ajang saling pamer kemahiran itu. Sepertinya mereka belum terlalu mahir untuk mengendalikan kekuatan mereka


"Tidak perlu merasa minder. Kita semua akan di ajari teknik menggunakan pedang sehingga kemampuan kita tak akan kurang di banding dengan mereka pengendali-pengendali pertempuran itu"

__ADS_1


Quentin mencoba menghibur Zhonglei karena dia melihat anak itu seolah-olah merasa minder.


"Bukankah mereka terlihat luar biasa ketika mengendalikan api, air dan tanah?


Namun lihatlah... Kita dapat mengendalikan apa? Apakah kita akan mengendalikan kayu?" Hani Wang yang biasanya pendiam, kali ini memperdengarkan suara mengejek.


Memang rata-rata Shulam dari kelas supporting adalah penyihir dengan unsur kayu. Namun tidak sedikit juga yang berasal dari pengendali air, karena teknik mengolah kekuatan air cukup sulit.


"Sstt, diam! Instruktur tempur telah datang" bisik Saosheng.


Seorang laki-laki yang rambutnya di kuncir, dengan mengenakan baju tanpa lengan, hanya menenteng jubah Nomrognya yang berwarna Merah menyala.


"Dia pengendali api yang amat terkenal. Dia termasuk didalam dua puluh besar Penyerang yang memiliki kekuatan Attack tertinggi di wilayah Tengah benua ini.


Bahkan dia adalah veteran perang dengan level sihir Shulam kelas dua Pengoyak Jiwa" Empat pasang mata anak-anak Shulam Supporting itu menatap penuh pemujaan ketika instruktur bernama Aragoroth berdiri angker didepan kelas mereka.


"Semuanya tenang ! Harap berkumpul dekat-dekat dengan ku. Dengarkan instruksi ini.


Hari ini aku ingin kalian berlatih konsetrasi menggunakan kekuatan sihir kalian, dan meremas kacang polong didalam botol ini"


Aragoroth itu lalu mengeluarkan dari cincin langitnya, begitu banyak botol berisi satu kacang polong di dalamnya. Dan anehnya, jumlah botol dan kacang polong itu tepat sejumlah anak-anak yang mengikuti kelas tempur itu.


Aragoroth meletakkan botol demi botol sejauh lima meter, lalu masing-masing anak diminta berkonsentrasi untuk memecahkan kacang polong di dalam botol.


"Prang - prang - prang" bunyi botol yang berulang kali pecah, namun kacang di dalamnya


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.

__ADS_1


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2