
Perjalanan menuju Kota Midnight Moon tidak lagi membuat Zhonglei menggigil ketakutan akan kesendirian. Gladys Wu, gadis perapal mantra sekaligus penerawang itu kini bersama-sama dengan dia.
"Setidaknya memiliki seseorang yang dikenal adalah lebih menyenangkan, ketika memasuki suatu tempat yang sama sekali baru bukan?" kata Gladys Wu yang rupanya juga merasa gamang sebelum bertemu dengan Zhonglei.
Kereta Paus Raksasa mereka dalam beberapa saat lagi akan mendarat di stasiun kereta Kota Midnight Moon itu. Dari kejauhan Zhonglei dan Gladys Wu melihat bendera-bendera sihir dalam warna-warni Merah, Kuning dan hijau berkibar-kibar.
"Apakah itu adalah bendera yang warnanya mengikut jubah nomrogh yang kami kenakan?" tanya Gladys Wu
"Ah.. Jika itu adalah warna simbol sihir Nomrogh kita, lalu dimana coba warna Biru dan Kelabu di Nomrogh kami berdua?" jawab Zhonglei pesimis.
"Apakah tidak ada yang datang menyambut kami berdua? Eh maksudku dari tim Nomrogh Kelabu dan Biru?
Ataukah... Keberadaan kami berdua akan menjadi mahluk yang langka di Akademi Intermediate ini?" suara Gladys Wu terdengar demikian tawar penuh warna kecewa.
Baru saja Gladys Wu larut didalam kecewa, sekonyong-konyong Zhonglei berteriak.
"Lihat !
Bukankah itu adalah bendera penyihir, dalam nada warna kelabu? Ah.. Kamu tidak perlu berkecil hati Gladys Wu"
Gladys Wu menyusut air mata yang telah menetes di pelupuk matanya. Wajahnya kini menjadi penuh cahaya kegembiraan.
"Benar adanya..
Lei kecil, lihatlah. Aku tidak akan menjadi kaum terkucil di akademi ini" Gladys Wu berjingkrak-jingkrak kesenangan.
Sementara itu diam-diam Zhonglei mengeluh di dalam hati,
"Apakah ini berarti keberadaan penyihir dengan penguasaan unsur kayu sepertiku, akan menjadi langka di tempat ini?" Zhonglei membuang jauh-jauh pikiran sepi itu.
"Tidak mengapa jika aku ternyata menjadi kaum terkucil di tempat ini. Pada kenyataannya nanti, mereka akan melihat siapa aku sebenarnya" Zhonglei memompa semangatnya kencang-kencang, lalu dia membusungkan dada ketika turun dari kereta paus.
Pada kenyataannya, keberadaan kereta mereka bukan satu-satunya yang baru saja berlabuh di stasiun Kota Midnigh Moon. Terdapat kurang lebih lima Kereta Paus lainnya, yang berasal dari kota-kota kecil lainnya yang membawa delegasi penyihir pemula seperti mereka berdua.
Akan tetapi perbedaan yang sangat nyata adalah, lima kereta yang lain itu membawa banyak sekali shulam pemula yang mengenakan Nomrog Merah, disusul kuning dan terakhir shulam bernomrogh hijau. Anak-anak itu ramai benar ketika disambut oleh gerombolan Shulam Senior yang mengenakan Nomrogh Merah.
Anak-anak pengendali api itu bahkan tidak segan-segan memamerkan keahlian mereka bermain-main dengan api. Salah satu junior pengendali Api dengan cekatan membuat ledakan di udara, yang kemudian dalam nyala api indah, tulisan besar "Fire" berarti api menyala diatas gerombolan junior itu.
Para senior kelompok api bertepuk tangan sambil tak henti-hentinya memuji-muji junior pembuat tulisan fire itu. Sedangkan para penumpang lainnya yang terdiri dari tentara militer dan kaum bangsawan yang menumpang kendaraan kereta paus, menjerit senang lalu larut dalam tepuk tangan penuh pujian.
__ADS_1
Sementara itu kelompok Nomrogh Kuning dan Hijau tidak mau kalah menampilkan atraksi mereka. Suara riuh tepuk tangan puji-pujian dari kelompok senior dan pengunjung di stasiun makin membuat bangga anak-anak Nomrog Merah, Kuning dan Hijau itu. Saking larut didalam puji-pujian, kelompok itu seolah olah melupakan kehadiran kelompok Nomrog Biru dan Kelabu.
Dua gadis senior Nomrog Kelabu lantas berkata menghibur Gladys Wu,
"Tidak perlu menjadi cemburu melihat mereka senantiasa memperoleh panggung kehormatan. Bukankah hal itu sudah sepantasnya diberikan kepada mereka?
Merekalah ujung tombak Kekaisaran kami didalam pertahanan ketika perang melanda..."
Gladys Wu mengiyakan, dia hanya berkata,
"Senior, Zhonglei Pengendali kayu ini adalah sahabatku. Bolehkah dia bersama-sama dengan kami menuju ke Akademi Midnight Moon?"
"Oh tentu saja bisa. Semua anak-anak akademi boleh menumpang dan menaiki kereta yang telah kami pesan" jawab salah satu senior perempuan dengan wajah ramah. Tentu saja Gladys Wu dan Zhonglei merasa lega.
Zhonglei sejak tadi tengah berpikir keras, bagaimana cara agar dia bisa tiba di Akademi Midnight Moon itu. Siapa menyangka, anak-anak kelompok kelabu itu adalah kaum yang supel dan ramah hati.
Baru saja mereka akan keluar meninggalkan stasiun itu, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan-bentakan keras.
Rupa-rupanya di peron sebelah mereka, tepatnya di kelompok anak-anak shulam bernomrogh merah tampak senior mereka, remaja pria usia 15 tahun tengah bertempur melawan seseorang yang memiliki tinggi badan mencapai dua meter.
Anak muda pengendali pai itu memiliki wajah yang demikian tampan, sampai-sampai dua senior Jubah Kelabu saling berbisik,
Selain itu dia adalah pria yang paling mahir didalam seni pertempuran. Semua gadis megidolakan dia"...
Sementara itu mata Zhonglei terkunci kearah pria yang menjadi lawan pengendali api itu.
"Orang Keelak" desis Zhonglei
"Apa gerangan yang membuat remaja itu bertempur melawan orang Keelak yang sepertinya perampok itu?"
Pria Keelak itu memegang belati ditangannya. Dia sepertinya telah terlatih dengan seni pertempuran. Belati ditangannya dihujamkan seolah akan mengoyak dada remaja pria kaum pengendali api itu.
Anak muda pengendali api itu membuka mulutnya, lalu sebuah nyala api berkobar memaksa pria Keelak itu menarik mundur tikaman belatinya.
Pria Keelak itu kemudian mendengus dingin,
"Kalian para penyihir api, air dan tanah ini, terlalu bangga dengan kemampuan sihir serangan kalian.
Cobalah kalian mengeluarkan teknik sihir itu, setelah aku menggunakan sarung tangan sihir ini"
__ADS_1
Pria Keelak lantas menyarungkan kedua tangannya dengan sepasang sarung tangan yang berpendar dalam nyala mistis. Ketika dia memulai pertarungan ulangan dengan anak muda pengendali api itu, kini hanya terlihat uap kecil yang muncul ketika anak muda itu akan menyebarkan sihir apinya.
Kontan saja anak muda itu gelagapan. Dia berlari kesana kemari untuk menghindari sabetan belati pria Keelak itu.
Kawan-kawan anak muda pengendali api itu mencoba membantu, akan tetapi semua sihir mereka menjadi tidak berlaku lagi. Kini mereka menjadi bulan-bulanan keganasan pria Keelak itu yang berulang kali menendang tidak berhenti.
Bahkan ketika kelompok Shulam warna kunig dan hijau mencoba membantu, kenyataannya sihir mereka tidak berlaku lagi. Wajah anak-anak itu menjadi pucat seperti kertas.
"Bukankah kami di ajarkan untuk bertempur menggunakan energi shulam bukan saja menggunakan energi itu untuk menjadi api dan lain sebagainya.
Tidakkah anak-anak itu dapat menggunakan pedang atau senjata apapun?" tanya Zhonglei didalam hati. Dia merasa gemas melihat kelakuan anak-anak itu yang terlalu tergantung akan kekuatan sihir, dan melupakan kemampuan tempur manual mereka.
"argghh.." suara jeritan terdengar, ketika pria Keelak itu merobek kulit anak muda pengendali api itu.
Dengan dingin pria Keelak itu berkata,
"Ini hanya sekedar peringatan untuk kamu, kelak jangan mencampuri urusan kami kaum Keelak" pisau di tangannya menorehkan luka sepanjang 20 cm, yang menganga di punggung anak muda pengendali api itu.
Setelah puas memberi tanda mata berupa luka, orang Keelak itu beranjak pergi, sambil menjinjing sebuah tas yang rupanya dia ambil dari salah satu penumpang kereta paus.
Keadaan stasiun lantas menjadi hening, jika tadinya penuh sorak-sorai menyambut anak-anak kelompok Nomrogh merah, Kuning dan Hijau, kini berubah seperti kuburan.
Melihat darah yang mengalir deras di punggung anak muda pengendali api itu, seseorang dari kelompok berjubah kuning lantas berteriak dengan keras-keras.
"Healer...
Kami butuh seorang healer.
Adakah pengendali kayu yaitu seorang healer disini?" dia berteriak dengan panik.
Semua orang seperti disadarkan dengan kondisi parah anak muda pengendali api itu. Lalu semua buru-buru memalingkan wajah kesana dan kemari, mencari-cari seseorang healer yang mengenakan jubah biru. Mereka tersadar kalau mereka telah melupakan kelompok lain dari kaum shulam, yang keberadaannya amat penting dalam kehidupan mereka.
Samar-samar mereka mendengar suara anak kecil yang berteriak,
"Healer disini. Tolong semua minggir, berikan jalan untukku melihat korban !"
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
__ADS_1
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.