Chronicle Klan Feniks

Chronicle Klan Feniks
Sebuah Teknik Leech


__ADS_3

Sejak hari itu, Zhonglei betul-betul menguras tenaganya untuk menyelesaikan kontrak sihir dengan empat gelang di kaki tangannya.


"Sebelum dua minggu,...


Papan tipis ini sudah harus patah agar kontrakku selesai"


selepas kelar dari kelas di Akademi, Zhonglei langsung pergi ke tempat latihan, berlompat-lompat dalam teknik meringankan tubuh, dengan harapan papan penumpu itu patah.


Demikian juga ketika jam makan malam, anak kecil itu terburu-buru pergi ke kafetaria, mengambil makanan dalam jumlah yang besar untuk dia konsumsi, sebagian lagi di simpan di kantongnya untuk bekal ketika kelaparan tengah malam saat latihan fisik di lanjutkan.


Jam dua belas malam ketika semua orang telah tertidur, anak kecil itu baru menyelesaikan pelatihannya, dimana dia langsung ke atas ranjang, duduk dalam posisi lotus dan mulai melatih pernafasan untuk mengumpulkan energi Shullam dari dunia dan di simpan di Pusat energi.


Ketik bangun pagi, dia memulai pelajaran dengan tekun dan kesemuanya dilakukan penuh perhatian dan membuang jauh-jauh rasa jenuh yang kadang melanda.


Pepatah orang tua-tua yang mengatakan bahwa "Tiada hasil yang mengkhianati usaha" memang ternyata benar adanya.


Pada hari kedua sebelum pertandingnan kompetisi antar kelas angkatan mereka di mulai, disaat anak itu dengan tekun melompat-lompat membuat gerakan tebasan tongkat dan memuntahkan rapalan-rapalan mantra... Tiba-tiba


Kraaak !


Bum !


"Hore !. Papan ini patah. Kontrakku telah selesai !" jerit Zhonglei kegirangan.


Buru-buru dilepaskannya empat gelang sihir yang melingkari kaki dan tangannya, yang kemudian keempat benda itu lenyap dalam kehampaan...


Zhonglei menarik nafas dalam-dalam. Anak itu memompa semua energi Shullam dari pusat energi, lalu bertumpu pada kedua kakinya...


Suiittttt...


"Ya dewa.." pekik Zhonglei gembira. Dia merasakan kakinya memiliki kekuatan yang sangat besar, yang lalu menembak tubuhnnya melesat ke udara setinggi 30 kaki atau setara hampir 10 meter. Tubuhnya melakukan putaran salto di udara, lalu kaki kokoh itu mendarat ringan di atas tanah.


"Sebaiknya aku mencoba dengan melakukan pertempuran sihir.." Zhonglei melompat dengan meniru teori yang dia baca di buku-buku perpustakaan, sebuah teori tentang Teknik Serangan Rajawali.


Dar ketinggian sepuluh meter itu, jubah Nomrog berwarna biru itu mengembang, seolah-olah tubuhnya adalah sesosok Rajawali Biru yang siap menerkam mangsa..


"Leech !" terdengar kutukan dari bibirnya, tongkat sihir itu di arahkan ke tanah yang lantas mengeluarkan cahaya kilat, membuat angin serangan serupa pusaran angin jahat bergulung mengerikan menyapu bersih semua benda di bawah.


"Tebasan Pedang Bianglala Temaram !" tongkat itu lantas menukik dan mengiris horisontal, menimbulkan angin kekuatan yang bahkan mampu merobohkan sebatang pohon berdiameter lima senti.


Selesai mengeksekusi teknik lompatan tadi, tubuhnya menggelinding ditanah dan tongkat itu terangkat lurus, kembali mulutnya merapal mantra "Cahaya !"


Wush !


Satu berkas cahaya menyerupai cahaya lampur sorot keluar dari tongkat, memantul panjang menembus kegelapan malam.


Zhonglei pada akhirnya berdiri diam, mengatur pernafasannya setelah selesai mengeksekusi sihir serangan tadi.

__ADS_1


"Aku siap !" bisiknya dalam hati.


Dengan hati yang lega, Zhonglei bergegas kembali ke asrama tempat dia menginap,


"Pertandingan besok, aku sudah harus dalam kondisi prima.


Beristirahat mengumpulkan kekuatan, agar pertandingan pertama dapat aku selesaikan dengan cepat" anak itu melangkah percaya diri kembali kedalam asaramanya.


>>>>>>


Hari ini adalah hari pertama dalam rentetan acara kompetesi kelas pertama Akademi Intermediate Moonlight. Semua siswa dari kelas pertama, kelas kedua dan kelas ketiga di ijinkan tidak belajar, namun wajib untuk berkumpul di alun-alun Akademi.


Panji-panji warna warni sesuai warna Nomrogh, bertebaran di bawa masing-masing pendukung peserta kompetisi, membuat suasana di alun-alun semakin meriah. Belum lagi teriakan semacam yel-yel pemberi semangat dari masing-masing pendukung, membuat suasana terasa gaduh namun beraura semangat.


"Apakah kamu telah siap?" tanya Gladys Wu kepada Zhonglei. Di tangan gadis itu dia memegang panji-panji berwarna biru dengan tulisan "Pengendali Tanah - Zhonglei" tertulis besar-besar.


Bahkan dua gadis perapal mantra yang merupakan Senior mereka (yang menjemput dua anak itu di stasiun kereta) terlihat hadir bersama Gladys, dengan mengibarkan panji-panji berwarna Biru. Keduanya dengan genit dan tidak malu-malu berteriak-teriak penuh semangat,


"Hidup pengendali kayu.


Hidup Healer...


Hidup Zhonglei"


"Bisakah kalian berdua tidak usah menyebutkan namaku keras-keras?" desis Zhonglei kepada dua gadis perapal mantra itu. Namun dua gadis itu seolah mengacuhkan permintaan Zhonglei, yang ada keduanya semakin menggila dan Zhonglei merasa pipinya memanas karena malu.


Gladys Wu jatuh didalam kekeh yang berkepanjangan, ketika melihat Zhonglei memerah karena malu.


"Dia hanya sekedar seorang tukang obat bukan? Jelas-jelas dia tidak memiliki kekuatan serangan.


Paling-paling dia hanya akan keok di putaran pertama" bisik kelompok Nomrogh merah, teman sekelas Zhonglei.


Karena kelompok tingkat pertama terdapat tiga kelas yang berbeda, maka masing-masing kelas mengirimkan utusannya enam peserta mewakili kelas.


Kriteria dasar tentu saja berdasarkan nilai dan peringkat didalam kelas, dan bukan semata-mata atas keinginan pribadi.


Zhonglei sendiri sebagai pemegang peringkat pertama di kelas, baik pelajaran pertempuran sihir, alkmia dan lain-lainnya.. Tentu saja menjadi utusan mewakili kelas mereka.


Ketika itu samar-samar terdengar suara seseorang membaca pengumuman, tentang siapa yang akan bertanding. Rupanya itu suara dari instruktur Beladiri mereka Master Zu Jian Guang.


"Pertandingan pertama, Zhonglei Pengendali Kayu, melawan Alex Kusnetsov Pengendali Api"


Zhonglei merasakan tubuhnya menggigil. Baru pertama kali ini dia akan menghadapi pertempuran, meskipun itu hanyalah sebuah kompetisi kecil.


Ketika dua anak penyihir itu telah berdiri saling berhadapan di atas panggung, Master Zu Jan Guang sekali lagi membaca peraturan,


"Dilarang keras membuat serangan yang bersifat mematikan,

__ADS_1


Dilarang menggunakan teknik lain selain teknik yang di ajarkan di Akademi sihir, dilarang menggunakan Sihir terlarang dan jika kamu merasa tidak sanggup melanjutkan kompetisi, segera berteriak mengaku kalah..!


Paham?"


Dua peserta itu mengangguk kapal pertanda paham dengan peraturan.


"Kalau begitu, pertandingan di mulai dari.. Sekarang !"


Wush !


Lidah api sekonyong-konyong meluncur dari tinju ditangan Alex Kusnetsov. Semua penonton menjerit ngeri, membayangkan anak lemah pengendali kayu itu akan terbakar.


Namun mereka seketika ternganga, ketika dalam teriakan yang cukup keras, Zhonglei anak pengendali kayu itu berjumpalitan di udara dalam tiga kali putaran.


Alex Kusnetsov tidak menyangka sama sekali kalau anak pengendali kayu itu mampu melompat setinggi sepuluh meter dan menghindari tinju apinya. Dia membungkuk dalam posisi seperti busur dan siap-siap melemparkan tubuhnya dengan nyala api ketika tiba-tiba terdengar sebuah sumpah serangan...


"Leech !"


Alex Kusnetsov terkejut dan mendongak keatas, matanya menyala ketika melihat dari tongkat yang masih melayang bersama tubuh kecil itu, terbang keluar gulungan angin pusaran yang dalam kecepatan yang tidak dia sangka, pusaran angin itu menelan dirinya dan menggulung dia berputar-putar didalam luang hitam tak berdasar.


Alex Kusnetsov seketika mual dan hampir pingsan..


"Tolong...


Tolong aku..!"


Bukannya mnghentikan sihir Leech itu, yang ada anak kecil yang tongkat sihirnya terus mengacung kearah pusaran angin itu berkata dengan lantang,


"Ucapkan mengaku kalah.. Maka aku aku menghentikan sihir ini !"


"Aku mengaku kalah..!


Tolong hentikan, aku mengaku kalah !" jerit Alex Kusnetsov muali menangis.


Seketika terdengar suara instruksi yang memerintah,


"Leech... istirahat !"


Alex Kusnetsov jatuh terduduk dalam keadaan masih sesenggukan. Peluh bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.


Sementara itu, seluruh alun-alun hening dalam diam. Sihir Leech sekuat itu, bahkan untuk seorang Shulam level satu belum tentu mampu membuat sihir sekejam dan sedahsyat itu.


"Apakah anak pengendali kayu ini monster?" semua menatap takjub sekaligus heran


"Babak pertama di menangkan Zhonglei dari Pengendali Kayu. Teknik yang di gunakan adalah Teknik Leech dari kelas Pertempuran secara sihir"


Seolah tersadar dari mimpi, semua orang kini bersorak-sorai dan bertepuk tangan memuji Zhonglei...

__ADS_1


*Bersambung*


   Setelah selesai membaca, selalu jangan lupa likenya, Vote dan memilih favorit untuk author ya gaes. TQ


__ADS_2