
Ketika botol selai yang isinya biji kacang polong itu pecah, terdengar demikian garing di telinga siswa-siswa yang tengah berlatih tempur itu.
"Prang !"
Wajah lucu Quentin berubah memerah. Anak laki-laki itu menjadi malu, bukannya kacang polong didalam botol yang pecah, melainkan botol itu sendiri yang pecah berkeping-keping. Quentin bertambah memerah ketika dia mendengar suara gelak tawa yang coba ditahan dari kelompok anak-anak yang mengenakan jubah Nomrogh merah.
"Puih, belum tentu kamu akan mampu meremas biji kacang polong itu" dengan suara menggerutu yang pelan dia menatap Artyom dan kawan-kawannya yang terlihat tanpa sungkan-sungkan mentertawakan kemampuannya dengan keras-keras.
"Diam ! Biarkan anak-anak kelompok supporting berkonsentrasi teknik peremuk jiwa ini" bentak Arogoroth kearah kelompok jubah merah. Mata nya melotot seakan mau keluar dari rongganya. Lanjutnya dalam amarah...
"Akan tiba saatnya nanti kamu akan menjadi bahan tertawaan berikutnya !" mata Aragoroth menyambar ke Artyom seperti elang menyambar anak ayam di pekarangan.
Kelompok berjubah merah itu kemudian diam, dan anak-anak Supporting Shulam melanjutkan Pelatihan Meremuk Jiwa.
"Krak !" suara benda retak. Dan semua mata terarah ke botol selai yang menjadi sasaran uji sihir Hani Wang. Suara retak itu terdengar lain, tidak serupa dengan suara ketika botol selai pecah akibat sihir semrawut yang di lakukan Quentin.
"Nyaris sempurna" desis anak-anak berjubah kuning.
"Dia berhasil meremuk kacang polong itu, meskipun botol selai juga mengalami retak-retak kecil"
"ini adalah permulaan yang baik bagi seorang ahli peremuk jiwa. Aku yakin, kutu buku bernama Hani Wang itu akan menjadi seorang penyihir yang diambil pihak kerajaan nanti"
Sementara itu Artyom dan kelompoknya yaitu anak-anak berjubah merah kini terdiam. Mereka tahu, meskipun mereka adalah calon penyihir hebat yang ahli dalam mengendalikan api, namun didalam Militer nanti, seorang penyihir dengan keahlian meremuk jiwa terbaiklah yang akan dipilih menjadi pasukan elit.
"Dia hanya kebetulan saja memperoleh keberuntungan saat melakukan teknik meremas jiwa tadi" bisik Artyom kepada kawan-kawannya. Nada cemburu yang begitu besar tak dapat dia sembunyikan.
Tengah kelompok jubah merah itu berdiskusi dan memburuk-burukkan kemampuan anak-anak berjubah biru, tiba-tiba sebuah suara menyela kesenangan kelompok pengendali api,
"Cih.. Kalian hanya cemburu. Kalian memburuk-burukkan orang lain tatkala kalian merasa diri kalian adalah pecundang dibanding orang itu"
Tatapan jijik di arahkan oleh Gadis Kelabu kearah Artyom dan kawan-kawannya. Artyom jelas-jelas merasa tindakan buruk dengan mejelek-jelekkan orang lain terlucuti, bagaikan di telanjangi gadis kelabu itu.
Kalau saja dia tidak teringat dengan kutukan yang sering dilontarkan dari bibir perapal mantra dan penenung itu, ingin rasanya Artyom menampar dan menjambak rambut gadis itu.
Namun Artyom masih berpikir dengan jernih. Tidak sedikit cerita-cerita beredar yang memberi kesaksian, bahwa gadis kelabu itu adalah penenung. Kutukan-kutukannya seringkali menjadi kenyataan, manakala dia melemparkan sumpah serapah kepada siswa akademi yang menindasnya.
Artyom lalu mengambil tindakan bersikap jijik kepada gadis kelabu. Katanya keras-keras,
__ADS_1
"kamu hanyalah kelompok minoritas, karakter minor diantara sekian banyak ahli sihir yang ada.
Kamu tidak layak untuk berbicara, apa lagi menilai kami karakter utama ini" dengan arogan Artyom meludah ke tanah, membuat tindakan yang merendahkan gadis kelabu.
Masih didalam nada yang terdengar sinis, gadis kelabu menjawab,
"Aku berdoa kepada segala kaum suci didunia ini. Kelak, ketika kamu menjadi seorang tentara, dan kamu diberi tugas berperang atau menyelesaikan misi, semoga saat itu tidak terdapat seorangpun perapal mantra atau penerawang.
Dan aku berdoa karena kesombongan kamu menganggap kami adalah kelompok minor ini tidak penting, disaat itu kamu pergi berperang tanpa pedoman ahli nujum kaum minor ini, yang menjelaskan cuaca buruk akan terjadi...
Maka ketika kamu menaiki kapal roh, bencana dan malapetaka alam akan terjadi dan menimpa kapal roh kamu itu!" keras kata-kata serapah yang di ucapkan Gadis Kelabu, membuat Artyom kepingin menangis.
Apalagi, kala itu suara halilintar terdengar menggelegar, seolah-olah setuju dengan sumpah yang di ucapkan gadis kelabu, membuat anak-anak berjubah merah lainnya menjerit ketakutan.
"Tenung ! Gadis itu mulai menenung !" jerit salah satu gadis.
Mereka lantas beramai-ramai meninggalkan Artyom, dengan alasan, takut ikut-ikutan terkena tulah akibat kutukan gadis kelabu.
Diam-diam Zhonglei memperhatikan itu, lalu dia berkata pelan-pelan kepada gadis kelabu itu,
"Nona... Bukankah apa yang kamu ucapkan itu terlalu mengerikan?" matanya terarah dalam ke dua bola mata gadis kelabu.
"Hihi... Mereka adalah anak-anak yang terlalu banyak membaca kisah-kisah horor, sehingga mereka menganggap kata-kata ku adalah sumpah jitu yang di kerjakan seorang ahli.
Jika saja aku telah sedemikian hebat seperti perkiraan semua orang, untuk apa aku harus belajar, berlatih dengan keras di akademi ini?
Bukankah aku akan memiliki uang yang banyak jika aku membuka praktik keliling, melayani kaum bangsawan, sukur sukur pihak istana mau menyewaku dengan semua keahlian meramal ku? Alih-alih seperti begitu, namun lihat aku sekarang. Terkurung di akademi dan mulai berlatih dari nol"
Zhonglei kemudian tersadar,
"Benar adanya. Dia tak lebih seorang siswa pelajar seperti kami. Kemungkinan anak-anak lainnya terlalu membesar-besarkan cerita keahlian meramal gadis kelabu itu"
Karena merasa gadis itu pada kenyataannya adalah gadis yang baik, Zhonglei lantas menyebutkan nama, mengajak gadis kelabu untuk berkenalan.
"Namaku Zhonglei. Aku baru saja bergabung di Akademi Kota Temaram ini.
Aku dengan hasil scan secara positif menyatakan kalau aku adalah penyihir supporting" Zhonglei mengulurkan tangannya dan menjabat tangan gadis kelabu.
__ADS_1
Anak itu lantas menyambut uluran tangan Zhonglei, dia menjawab,
"Namaku Gladys Wu. Keahlian sihirku, well kamu telah tahu sendiri bukan?" wajah Gladys terlihat manis ketika dia memasang senyum. Tidak semenakutkan ketika dia hanya diam-diam saja.
"Gladys Wu, mengapa anda tidak bergabung saja dengan kami dari Jubah Biru?
Bukankah tidak enak rasanya selalu kemana-mana selalu sendirian?" tawar Zhonglei.
"Baiklah kalau demikian adanya. Aku akan berkumpul dengan kalian penyihir berjubah biru" jawab Gladys ceria.
Sementara itu anak-anak yang lain tampak terheran-heran ketika melihat Zhonglei dengan mudah bergaul dengan Gladys. Bukannya selama ini mereka tidak pernah menawarkan gadis kelabu itu bergabung di kelompok mereka.
"Terima kasih ! Akan tetap aku lebih nyaman bergerak seorang diri seperti sekarang" demikian jawaban Gladys, tiap kali anak-anak penyihir brjubah biru menawarkan dia untuk bergabung di kelompok mereka.
"Sepertinya gadis itu tertarik denganmu" desis Quentin kepada Zhonglei. Saoshan ikut-ikutan menggoda Zhonglei, sementara Hani Wang terlihat tidak peduli. Hani Wang seperti biasa lebih tertarik dengan pelajaran ketimbang hal-hal remeh seperti yang diributkan anak-anak yang lain.
"Saosheng dan Zhonglei. Giliran kalian sekarang !" teriak Quentin membuyarkan lamunan Zhonglei.
"Pelatih Aragoroth mulai marah karena kamu tidak bergegas ke depan untuk meremas kacang polong itu" desis Quentin, yang dengan kasar mendorong Zhonglei kedepan.
Aragoroth menatap mata Zhonglei dalam-dalam, katanya.
"Meskipun kamu masih baru, namun kamu tetap harus mempraktikkan teknik meremas jiwa.
Ikuti instruksiku, lalu kamu mencoba meremas kacang didalam botol selai itu dari kejauhan"
Aragoroth lalu membacakan teori untuk bertarung menggunakan teknik meremas jiwa, yang lantas diingat Zhonglei dalan sekali pengucapan.
"Retak !"
Zhonglei menatap nanar, ketika botol selai dikejauhan itu tidak bergoyang sedikitpun. Apalagi untuk berharap kacang didalam botol itu akan pecah. Mimpi !
"Tidak usah menjadi takut dan minder, ulangi sekali lagi" teriak Aragoroth.
Zhonglei mengulang praktik meremas jiwa sesuai teori yang dikatakan Aragoroth. Namun dia kembali harus menahan malu, ketika melihat tidak terjadi apa-apa dengan botol selai berisi kacang dihadapannya.
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.