
Zhonglei anak kecil itu telah berada di ruang bawah tanah, melakukan perjalanan menuju Dungeon sihir Akademi Moonlight. Pada kenyataan nya yg di sebut dengan dungeon ini adalah satu ruangan bawah tanah, yang merupakan satu kamar spasial yang pintu masuk nya harus melalui pintu khusus di daerah terlarang di Akademi Moonlight - ruang bawah tanah.
Mengapa di katakan terlarang? Karena ada banyak sekali rahasia-rahasia sihir dan metode pelatihan sihir kuat yang di sembunyikan di ruang bawah tanah itu.
Secara pasti letaknya dungeon itu seperti telah di jelaskan diatas, namun pintu masuk area bawah tanah rahasia itu di dibuat rumit dengan teknik array dan meletakkan jampi-jampi sihir, belum termasuk satu mahluk gaib yang kuat.
Ini terbukti ketika Zhonglei yang di tuntun oleh Master Zu Jian Guang untuk berjalan di ruang bawah tanah menuju pintu dungeon setelah melewati array dan jampi-jampi, dengan mendadak Zhonglei di sambar oleh sesuatu bayangan.
Itu adalah sambaran cakar yang mengandung kekuatan magis, sehingga semua bulu kuduk anak itu menjadi berdiri.
"Tolong aku Master Zu !" jerit Zhonglei panik. Dia melompat dan berlari ke arah pintu masuk.
"Jangan kesana ! Kamu akan terperangkap array dan terkena kutukan jampi-jampi !" teriak master Zu.
Master Zu dengan seketika membuat satu gerakan dengan telunjuk nya, dan seberkas sinar putih melesat dari jari itu, menerjang bayang yang mengagetkan dan berniat mencelakai Zhonglei
Duar !
Terdengar jeritan pilu ketika sinar di tangan Master Zu membakar sosok bayangan mengerikan tadi. Wujudnya lantas muncul, dia menampakkan dirinya.
"Jin !" pekik Zhonglei.
Terlihat tengah berdiri di depannya satu mahluk yang jelek yang penampakannya membuuat muak, dia bertanduk dan memiliki ekor yang panjang. Wajah nya memancar kan aura kedengkian, dan tengah menangis karena sengatan api Master Zu.
"Akademi mem-pekerjakan Jin?" tanya Zhonglei heran. Dia menunjuka kearah jin itu
Dengan santai master Zu menjawab.
"Semua penyihir kuat di benua shullam akan memperbudak mahluk halus untuk di jadikan pelayan yang membantu pekerjaan mereka, dengan kontrak jangka waktu tertentu.
Meski tidak se-berbahaya Afrit, namun Jin sudah sangat berbahaya dapat di andalkan untuk menjaga dungeon ini.
Namun karena kekuatan sihir ku tidak terlalu kuat, maka aku hanya dapat memanggil jin kekuatan menengah seperti Zebeus ini. Jin ini bernama Zebeus" kata Master Zu.
"Zebeus ! " panggil Master Zu
"Ya Master" dengan takut-takut jin itu menjawab.
Jin itu mendekat kearah Zhonglei dan Master Zu. Tubuhnya masih berasap, karena sengatan api yg di keluarkan Master Zu sebelumnya. Zebeus melirik dengki dan kebencian kearah Zhonglei.
"Gara-gara anak kurus itu dia sampai disengat api" sungut Zebeus.
"Aku menitipkan Zhonglei ini kepadamu. Dia adalah siswa akademi sihir.
Awasi pintu dungeon yang akan dia masuki nanti. Tidak seorangpun diijinkan mengganggu dia berada dalam dungeon dalam sebulan ini" kata Master Zu tegas. Zebeus hanya membuang muka dengan gumaman tidak jelas.
__ADS_1
"Satu imp akan datang mebawa makanan untuk Zhonglei kamu diijinkan membawa makanan di depan dungeon - tidak diijinkan memasuki dungeon. Kamu mengerti?"
"Baik master" jawab Zebeus sambil menunduk.
Meskipun bibirnya berkata baik, namun di dalam hatinya Zebeus telah mengatur niat untuk kelak melakukan balas dendam dengan mengerjai anak kecil itu. Bibirnya melengkung dalam senyuman tipis tanda puas setelah merandang kejahatan, setelah dia memperoleh ide untuk membalas dendam nanti.
Master Zu lantas meninggalkan kamar bawah tanah setelah berulang kali me-wanti-wanti Zebeus.
******
Malam dan siang tidak akan terasa di ruang bawah tanah. Semua penerangan mengandalkan api atau lentera dan lampion.
Zhonglei saat ini telah berdiri di dalam dungeon, namun dia belum berani menginjakkan kaki nya kedalam arena tempur dungeon itu.
Anak itu mulai memperhatikan dengan cermat ke arah dinding-dinding dungeon yang berbentuk gua itu. Meskipun dungeon tersebut berupa satu gua yang besar, namun penerangan di dalamnya tidak kekurangan cahaya.
"Mungkin sihir atau array yang membuat dinding selalu memancarkan cahaya" pikirnya
Setelah sepuluh tarikan napas - dengan banyak pertimbangan, anak itu mengambil keputusan
"Baiklah.. Saatnya aku untuk melangkah di arena level pertama" batin Zhonglei.
Ketika kaki Zhonglei tepat berada lantai uji arena dungeon, seketika itu juga secara ajaib, tiga laba-laba raksasa - mungkin sebesar anak kerbau berumur satu bulan muncul dari kehampaan. Laba-laba itu berjalan cepat kearahnya. Suaranya berdengung seperti kepakan sayap capung.
"Valoa !" Zhonglei mengutuk monster laba-laba itu dengan kutukan cahaya.
Duar !
Tongkat sihir Zhonglei terlihatmengeluarkan asap. Tangannya gemetar menggenggam tongkat sihir itu. Dia memamng selalu takut dengan mahluk yang bernama laba-laba.
Kini di dungeon Moonlight yang menjadi impian penyihir-penyihir muda, Zhonglei bertemu dengan laba-laba. Bahkan Laba-laba raksasa. Zhonglei menampakkan mimik jijik bercampur ngeri.
"Masih ada dua monster lagi" gumam Zhonglei muak.
Sekali lagi tongkat sihir di tangannya dia ayunkan kedepan - tongkat yang dia beli di Toko Akademi di ketuk ke tanah kuat-kuat lalu mulai merapal mantra mengutuk, energi Shullam mengalir ke ujung tongkat.
"Blackhole !"
Tidak terjadi apa-apa. Sihirnya tidak bekerja.
"Apa yang terjadi?" Zhonglei mulai panik menatap tongkat sihir.
"Mengapa tidak bekerja?'' tatapnya ke benda yang baru dia beli di Toko akademi.
"Ah..benda ini terlalu rendah kualitasnya, Perlu 30 detik kemudian baru tongkat sihir untuk bekerja ulang" Zhongleli memaki dalam hati. Kini dia berlari terbirit-birit berputar-putar di arena level 1 - menunggu sampai lampu batu akik di kepala tongkat sihir menyala.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian..
Waktu telah lewat 30 detik, di saat itulah lampu batu akik di tongkat sihirnya menyala.. mantra di rapal, tongkat sihir diangkat tinggi-tinggi.
"Vaola !"
Kali ini dua sengatan listrik terpercik dari kehampaan..
Duar ! - duar ! Dua laba-laba raksasa itu hangus seketika, dan tak lama berubah menjadi debu.
Zhonglei menarik bafas lega. Namun dia tidak langsung berpindah ke arena level dua. Zhonglei duduk di tengah arena dungeon level satu, dia bersulian mengembalikan energi murni yang di gunakannya melakukan tindakan sihir tadi.
Di Benua Shulam ini, perbuatan dan tindakan sihir selalu melibatkan energi Shullam yang di himpun dari keadaan sekitar, dan di simpan dalam pusat energi di bagian bawah pusar.
Namun alternatif lainnya untuk meng-ekseskusi tindakan sihir, seorang Shulam (Magus) dapat menggunakan energi lainnya berupa pot-pot manna sebagai pengganti sumber energi Shullam.
Manna untuk penyumbang energi sihir ini, hanya tersedia di Toko-toko dagang ternama - dimana manna di buat dan dikreasikan oleh Alkemis-alkemis peringkat tinggi - di jual dengan harga mahal.
Apalah artinya Zhonglei ini. Dia hanyalah satu anak kecil dari sebuah Akademi sihir Kota Moonlight - kota kelas dua yang tidak memiliki banyak harta untuk membeli manna sihir. Logikanya, seorang penyihir kuat pasti menyimpan banyak sekali - berbotol-botol cairan mana energi sihir yang di simpan di cincin tata ruang atau tas tata ruang.
Hal ini dilakukan karena penyihir papan atas itu akan membutuhkan hingga berboto-botol energi manna sihir ketika terlibat dalam satu pertempuran. Pertempuran antar master sihir itu umunya memakan waktu hingga sehari semalam - persediaan botol energi manna mutlak ada.
Bagaimana dengan Tas Lautan milik Zhonglei? Selain berisi catatan point kontribusi, tas spasial anak itu hanya berisi pedang sihir hadiah turnament yang dia ikuti.
Zhonglei larut didalam meditasi, mengumpulkan energi shullam yang ada di sekitar, untuk kembali ke kondisi prima - masuk ke arena level dua. Yang membuat anak itu heran adalah, meskipun dia berada di dungeon - ruang bawa tahan, namun energi Shullam mengalir denga deras, bahkan lebih deras di banding aliran energi di akademi mereka.
"Mungkin kamar dungeon ini di buat secara sihir, sehingga mampu memanipulasi energi menjadi melimpah seperti saat ini" batin Zhonglei dengan mata tertutup.
******
Tanpa terasa, Zhonglei telah ber-siulian selama 5 jam penuh dan dia merasa kondisi energi nya begitu prima saat ini.
"Aku akan masuk kedalam arena level dua" gumam Zhonglei.
Dia lalu berjalan makin kedalam menurunijalan berbatu, suasana remang-remang saja.
"Apakah ini aman? Mengapa pihak akademi tidak memasang barang satu saja lampion atau lampu minyak?"
Keadaan gua di dungeon lantai dua amat gelap. Tidak ada alat penerangan barang satu pun. Zhonglei bergerak ke depan semakin berhati-hati. Dia kini hanya mengandalkan pendengaran dan perasaan saja.
Hingga pada langkah kaki ke seratus, tiba-tiba anak itu menginjak sesuatu benda yang seperti melilit, licin dan bergerak-gerak.
"Apa itu?" pekik Zhonglei geli..
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...