
Hari ini Maria merasa senang, karena untuk pertama kali setelah sekian lama ia berkunjung ke rumah teman sekolahnya. Setelah pulang dari sekolah, Maria dan Widya menuju ke rumah Maria terlebih dahulu. Maria segera turun dari mobil dan masuk ke perkampungan. 20 menit kemudian, Maria kembali dan menemui Widya yang sedang menunggu di dalam mobil.
"Wid, maaf ya udah bikin kamu menunggu lama. Tapi Nenek minta ketemu kamu dulu. Bisakah?" Tanya Maria
"Oke Mar.. Ayok." balas Widya segera turun dan pergi kedalam kampung mengikuti Maria.
"Maaf ya Wid kalau merepotkan kamu, soalnya Nenek khawatir dan mau lihat sama siapa aku pergi, apalagi menginap" ujar Maria
"Astaga Mar... Seharusnya yang bener itu aku harus minta izin ke Nenek kamu." jawab Widya
Maaf ya, attitude gua jelek" Imbuh Widya sedih menyadari kesalahannya.
"Husss.. Jangan bilang gitu... Habis ini sampai" ujar Maria menepuk punggung Widya.
Setelah sampai di depan rumah, terlihat Nenek yang sudah menunggu dan mempersilahkan Widya masuk.
Sampainya didalam, Widya segera duduk dan mencium tangan Nenek. Widya terlihat sedikit bingung karena melihat penampilan Nenek Aisyah yang menggunakan mukena.
Untuk sesaat, ia melihat ke arah Maria bingung.
"Nanti aku jelasin" ucap Maria mengerti dengan sikap Widya yang bingung.
"Bentar ya nak, Nenek mau ganti dulu. Tunggu sebentar ya" ucap Nenek menuju kamar tidur.
Widya mengangguk sopan.
Sekitar 10 menit akhirnya Nenek keluar mengenakan baju biru lengan panjang bermotif bunga, dan hijab berwarna merah.
"Mau Nenek buatin teh dulu? " tanya Nenek kepada Widya
"Tidak usah Nek, terimakasih. Supir Widya sudah menunggu di depan" jawab Widya tersenyum
Nenek hanya mengangguk dan beliau menatap Widya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan beliau sangat serius dan membuat Widya merasa sedikit tidak nyaman dan takut. Namun Widya tetap berusaha tenang supaya tidak menyinggung Nenek.
"Ada keperluan apa nak, sampai mengajak Maria menginap? " tanya Nenek.
"Sebenarnya saya ingin belajar bersama Maria di rumah Nek. Dan saya ingin Maria berkunjung ke rumah saya" jawab Widya
"Nak, bisa ikut Nenek ke belakang sebentar" pinta Nenek ke Maria.
Nenek segera berdiri dan Maria mengikutinta dari belakang.
"Ada apa Nek? " tanya Maria sambil memegang lembut tangan Nenek.
"Nak, apa kamu yakin mau menginap ke rumah temen yang baru saja kamu kenal? " tanya Nenek dengan raut muka khawatir.
"Nek, tidak usah khawatir ya. Percaya sama Maria, Widya itu baik kok." jawab Maria dengan senyuman untuk menenangkan Nenek.
"Kamu yakin? " tanya Nenek lagi dengan raut muka yang masih khawatir
"Aku yakin Nek... Maria juga sudah mengalami banyak hal, jadi Maria tau kok mana yang baik dan mana yang bukan" senyum Maria berusaha menenangkan Nenek
"Nenek tau nak.. Nenek cuma khawatir jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi menimpa kamu" timpal Nenek
"Nenek tenang saja ya, aku nginep cuma satu hari saja, dan besok pagi aku langsung pergi ke sekolah bareng Widya dan sorenya aku juga sudah pulang. Nenek jangan khawatir ya" ucap Maria meyakinkan Nenek.
"Ya sudah.. Kalau kamu sudah yakin, Nenek cuma bisa mendoakan saja" kata Nenek sambil mengelus wajah Maria.
"Iya Nek" senyum Maria lembut.
Setelah mengobrol di belakang,Nenek dan Maria kembali ke ruang tamu untuk menemui Widya.
"Nak Widya, maaf ya menunggu lama" kata Nenek sambil duduk
"Tidak apa-apa Nek" jawab Widya
"Nak Widya, Nenek minta tolong ya supaya kamu jaga Maria dan di rumah saja. Jangan keluar kemana-mana" pinta Nenek sambil memegang kedua tangan Widya.
__ADS_1
"Baik Nek, Widya janji" jawab Widya.
"Nek, Maria sama Widya berangkat dulu ya" ucap Maria pamit dan mencium tangan Nenek.
Mereka berdua keluar rumah dan Widya mengikuti Maria dari belakang.
Setelah 15 menit, akhirnya mereka berdua sampai kembali ke mobil. Kemudian merka memasukan semua barang ke bagasi.
Untuk sesaat, Widya sekilas merasa melihat motor milik Ahmad.
"Apa perasaanku saja ya. Tadi seperti melihat Motor si Steven.. " gumam Widya.
"Wid, ada apa?. Kok melamun? " tanya Maria yang melihat Widya tiba-tiba melamun dan berhenti memasukan tas ke bagasi.
"Eh gak ada apa-apa Mar. Ayo" jawab Widya yang tersentak dari lamunannya.
Mereka berdua telah selesai memasukan tas dan segera masuk kedalam mobil. Dari kejahuan tampak Ahmad yang hampir saja ketahuan saat menyembunyikan dirinya dengan masuk ke gang sebelah.
"Sial.. Semoga tadi mereka gak ngelihat gua" umpat Ahmad yang takut ketahuan.
Ahmad mencoba mengintip dari balik gang dan melihat mobil Widya berangkat dari gang Maria. Melihat situasi yang sudah aman, Ahmad keluar dari gang persembunyiannya dan melajukan motor miliknya tepat ke depan gang rumah Maria.
Untuk sesaat ia melihat ke arah gang tersebut. Rasa penasaran muncul didalam hati Ahmad.
Ahmad merupakan sosok yang tidak bisa membiarkan dirinya dalam keadaan gundah. Dengan segenap hati, ia memberanikan diri untuk turun dari motor dan masuk ke gang perkampungan kumuh tersebut.
Perlahan Ahmad berjalan masuk dan mengamati daerah sekitar. Walaupun Ahmad lahir dan dibesarkan di keluarga kaya raya, ia tidak pernah jijik atau merendahkan orang lain yang mempunyai ekonomi kelas bawah.
"Buk, permisi.. Rumahnya Maria anak SMA Pancasila yang baru saja lewat tadi dimana ya?" tanya Ahmad kepada salah seorang ibuk yang sedang duduk di teras rumahnya sambil menyisir rambut anak gadisnya.
"Disana kang, lurus aja terus sampai ada pertigaan, lalu ambil belok kanan." jawab Ibuk tersebut.
"Makasih ya buk" jawab Ahmad.
Ahmad berjalan lurus ke arah pertigaan depan yang agak sedikit jauh sesuai dengan arah yang ditunjukan ibu tadi. Saat ia sudah sampai di pertigaan Ahmad terdiam sejenak.
Ia menoleh dan melihat sekitar hanya terlihat segerombolan anak kecil di belokan kiri.
Saat ia berbaik arah untuk mencari orang yang lebih dewasa, gerombolan anak kecil yang tadi bersenda gurau tiba-tiba lari tak karuan, dan salah seorang anak berlari mengejar teman-temannya sambil membawa tong besar berisi air lumpur.
Karena larinya yang sangat cepat, anak kecil tersebut menabrak Ahmad dan menumpahkan air lumpur tersebut.
Tumpahan air lumpur, mengotori seluruh pakaian milih Ahmad. Baju seragam dan jaket yang ia pakai kotor dan bau, begitupun dengan tubuh Ahmad.
"Ya Allah.. Anak-anak nakal ya. Sini semua" teriak seorang Nenek memarahi anak-anak kecil tersebut.
"Kabur!... " teriak anak-anak kecil tersebut sambil berlari
"Dasar bocah nakal. " teriak lagi Nenek tersebut.
Ahmad melihat seorang Nenek mengenakan baju biru lengan panjang bermotif bunga, dan hijab berwarna merah di depannya sambil berteriak marah.
"Sudah Nek, saya tidak apa-apa" ucap Ahmad
Nenek tertegun sebentar melihat Ahmad
"Astaghfirullah, kamu ndak apa-apa nak?. Badan kamu kotor semua" tanya Nenek yang langsung tersadar.
"Gpp kok nek, lebih baik saya pulang saja" jawab melas Ahmad.
"Sini.. " Nenek menarik lengan Ahmad dan membawanya ke dalam rumah bercat biru.
"Lepas sepatu sama kaos kaki kamu di depan sana ya! " perintah Nenek.
"Nek tidak usah, saya pulang saja" ucap Ahmad tidak mau merepotkan Nenek.
"Astaga nak, bagaimana kamu bisa pulang, kalau dari atas rambut sampai bawah kaki kotor semua. Bau lagi" jawab Nenek.
__ADS_1
"Sudah ikuti perintah Nenek" kata Nenek lagi dengan tegas.
Ahmad tak punya pilihan lagi. Ia sadar jika ia tidak bisa pulang dengan keadaan kotor dan bau. Dengan pasrah, akhirnya Ahmad mengikuti semua perintah Nenek.
Segera Ahmad melepas semua baju kotornya dan pergi mandi. Dengan cepat, Nenek pergi ke kamar tidur milik Maria dan mengambil kaos abu-abu bergambar kartun couple dan celana training panjang abu-abu.
"Maria sudah jarang memakai baju dan celana ini. Kasihan anak itu" fikir Nenek mengambil kaos dan celana training panjang tersebut.
Tokk. Tokkk.
"Nak... baju sama celana, Nenek taruh di depan pintu ya" kata Nenek dari depan pintu.
"Iya Nek, terimakasih banyak" sahut Ahmad.
Setelah meletakkan pakaian di atas kursi yang Nenek taruh di depan kamar mandi, supaya bajunya tidak ditaruh dibawah lantai, Nenek pergi ke dapur dan membuatkan minuman hangat.
Hampir 30 menit Ahmad menghabiskan waktu di kamar mandi, bau dan lumpur yang melekat sangat susah untuk dibersihkan dengan terburu-buru. Setelah badan bersih semua, Ahmad memakai pakaian yang Nenek berikan. Kemudian ia menuju ruang tamu dan duduk di kursi.
"Nak, ini tehnya diminum dulu" seru Nenek berjalan dari dapur menuju ruang tamu sambil mengaduk teh hangat di tangannya.
"Terimakasih Nenek, tidak perlu repot-repot. " ucap Ahmad.
Nenek meletakan teh di atas meja dan memandang Ahmad.
"Nama kamu siapa? " tanya Nenek
"Nama saya Ahmad Nek" jawab Ahmad sambil meminum teh.
"Nak Ahmad, bisa panggil Nenek, Nek Aisyah. Dan Nenek mau mengucapkan terimakasih." ucap Nenek.
"Terimakasih kenapa Nek?" tanya Ahmad bingung
"Kalo bukan kamu, pasti air lumpur itu bakal terlempar ke arah Nenek. Soalnya saat itu kebetulan Nenek baru saja keluar dari rumah belakang kamu" ucap Nenek.
"Sama-sama Nek, saya juga berterimakasih karena Nenek mau bantu Ahmad" ujar Ahmad bersyukur
"Iya nak Ahmad"
"Lagian, nak Ahmad mau cari siapa?. Soalnya Nenek tidak pernah liat kamu disini" lanjut Nenek
Kring.. Kringg
Suara Hp Ahmad berbunyi dengan keras. Terlihat tulisan Papa di layar handphone. Sesaat Ahmad melihat ke arah Nenek. Kemudian Nenek mengangguk setuju.
"Assalamualaikum Pa"
"Iya Pa.. Baik.. Ahmad pulang sekarang"
"Wallaikumsalam pa" tutup Ahmad.
"Nek, Ahmad minta maaf , Ahmad tidak bisa berlama-lama.. Adik perempuan saya sakitnya lagi kambuh" ujar Ahmad.
"Ohh. Iya gak apa-apa, cepet nak. Jangan lupa hpmu dan tas ya. Untung tasnya cma kena sedikit bisa di lap" ujar Nenek
"Iya Nek, tapi seragam saya?. Trus baju ini? " tanya Ahmad
"Sudah kamu bawa saja. Besok sore kamu ambil ya seragam ini. Kamu juga sudah tau rumah Nenek" kata Nenek.
"Baik Nek, saya pakai dulu ya bajunya"
"Iya.. Iya" kata Nenek.
"Assalamualaikum Nek" Ahmad pamit dan mencium tangan Nenek.
"Wallaikumsalam. Hati-hati ya nak Ahmad" ucap Nenek.
Ahmad segera keluar kampung dan menaiki motornya lalu pulang.
__ADS_1
"Besok sore aku akan mengembalikan baju ini ke Nenek dan bertanya apa beliau mengenal Maria". Gumam Ahmad dalam hati sambil mengendarai motor miliknya.