Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 35 : Duka


__ADS_3

"Apa ini aman-aman saja Pak?" tanya Rudi kepada Kuncoro di ruang tamu rumah mereka.


"Tenang saja. Selama Bapak yang mengatur dan merencanakan semuanya, tidak perlu khawatir" jawab Kuncoro sambil menyeringai gembira.


"Mereka harus membayar apa yang putri mereka sudah lakukan kepada kamu. Perempuan hina itu, dengan sok beraninya mempermalukan dirimu di Kantin Sekolah" imbuh Kuncoro yang sekarang berubah dengan raut muka yang marah dan memerah.


Rudi hanya tersenyum dan mengangguk setuju.


Hari itu, hujan turun begitu deras disertai petir yang menyambar tiada henti. Hari itu, langit ikut menangis bersama Maria. Untuk kedua kalinya, hal yang berharga baginya direnggut secara paksa.


Keempat korban, sudah dibawa ke Rumah Sakit terdekat yang jaraknya tidak jauh dari Rumah Sakit Maria. Polisi memutuskan untuk melakukan autopsi kepada korban. Namun Kepala Polisi menolak dan melarang adanya autopsi. Beliau menginginkan supaya korban dibiarkan dan menunggu untuk dimakamkan.


Kedua Polisi yang bernama Arya dan Anji adalah 2 Polisi muda yang bertanggung jawab demi keselamatan Maria dan yang mengajukan beberapa pertanyaan pada kala itu.


Setelah mereka mengabarkan berita duka kepada Maria, mereka bergegas untuk kembali ke Rumah Sakit Tempat korban dititipkan dan terkejut saat mendengar keputusan Kepala Polisi.


Hati nurani mereka bergerak dan meminta dokter autopsi untuk diam-diam melakukan autopsi tanpa sepengetahuan siapapun.


Satu hari penuh, hujan tiba-tiba saja turun pagi hari hingga malam tiba. Dokter Ester meminta bantuan temannya seorang Psikolog untuk khusus datang ke ruangan Maria. Para Suster berjaga dan bergantian tanpa celah.


Maria yang tersadar, langsung menangis dan berteriak juga memaksa untuk turun dari tempat tidur untuk bertemu keluarganya. Suster terpaksa dengan izin Dokter memberikan suntikan cairan penenang dosis rendah.


2 Polisi Arya dan Anji setelah diam-diam melakukan autopsi, mereka berdua pergi memeriksa kendaraan yang ditumpangi keluarga Maria di kantor Polsek. Mereka melakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan atasan.


Mereka curiga jika ada sesuatu yang ganjal dan disembunyikan atasan mereka. Benar-benar melakukan hal ini tulus dari hati nurani.


Keesokan harinya, pihak Kepolisian bersama tempat Papa bekerja telah bekerja sama untuk membantu proses pemakaman. Pemakaman dilaksanakan di salah satu Tempat Pemakaman Umum tak jauh dari tempat tinggal Maria.


Pemakaman berlangsung sunyi. Maria yang sudah lelah dan kehabisan air mata, hanya bisa duduk lemas disamping Nek Aisyah. Bahkan Dokter Ester datang ke pemakaman.


"Terimakasih Dok telah datang" ucap Anji kepada Dokter Ester.


"Sama-sama Pak. Saya juga menghargai perhatian Pak Anji dan Arya selaku 2 anggota polisi muda yang menjaga Maria selama di Rumah Sakit dan proses pemakaman" Dokter Tania menganggukkan kepalanya tanda terimakasih lalu menoleh ke arah Maria.

__ADS_1


"Yang kuat ya nduk, gak boleh nangis ya. Nanti mereka gak tenang. Doa saja sama Tuhan" pinta Nenek sembari mengelus rambut Maria.


Hari itu 3 pemakaman dilaksanakan secara bersamaan. Namun untuk Sisca, pihak keluarga memilih untuk memakamkan putrinya di salah satu pemakaman keluarga milik mereka di Jakarta Utara.


Orang tua Sisca membenci Maria untuk selamanya, dan tidak mengizinkan dirinya untuk datang atau melawat ke kuburan sahabatnya itu.


Selama 1 minggu penuh, Maria tidak berbicara dan mengatakan apapun. Karena hal itu, Nek Aisyah memutuskan untuk pindah dan tinggal di rumah Maria.


Nenek ingin Maria untuk pindah ke desa bersamanya, namun ia tidak tega jika memaksa Maria melupakan semua kenangan yang ada. Beliau dengan sabar merawat dan mendampingi Maria yang sudah seperti kehilangan arah.


2 minggu berselang, tiba-tiba datang 2 anak perempuan dari sekolah yang sama dengan Maria. Mereka berdua adalah satu-satunya yang dari sekolah datang untuk menjenguk Maria. Bahkan dari pihak guru, tidak ada yang datang atau memberi santunan.


Tok.. Tok..


Suara pintu diketuk pada sore hari.


"Permisi.. " terdengar suara wanita dari luar.


Nenek kemudian membuka pintu dan melihat 2 anak perempuan sebaya dengan Maria memakai seragam SMP Cendana.


"Ada nak. Tapi maaf, nama kalian siapa ya?" tanya Nenek dengan lembut


"Nama saya Anjani buk. Yang ini namanya Rini" jawab Anjani sambil menunjuk ke arah Rini.


"Kalau Nenek boleh tau, kalian siapanya Maria ya?" tanya Nenek sedikit khawatir.


"Kami teman sekolahnya Nek" jawab Anjani.


"Oh.. Masuk.. Masuk" ajak Nenek mengizinkan Anjani dan Rini masuk kedalam rumah.


Anjani dan Rini kemudian masuk dan duduk di ruang tamu sambil menoleh ke kanan dan kiri melihat sekitar, karena ini baru pertama kali mereka berkunjung.


Nenek kemudian membawakan 2 gelas berisikan teh hangat untuk Anjani dan Rini

__ADS_1


"Terimakasih Nek, maaf merepotkan" ucap Anjani.


Nenek hanya tersenyum dan pergi ke atas untuk memberitahu Maria. Beberapa saat kemudian, Maria turun dengan kondisi yang sama dengan raut muka pucat, lemas dan depresi bertemu dengan Anjani dan Rini.


Anjani dan Rini yang melihat kondisi Maria terkejut dan sontak berdiri.


"Duduk saja"pinta Maria dengan suara lemah kepada Anjani dan Rini.


Anjani dan Rini kemudian duduk dan menatap ke arah Maria.


"Mar, kami berbela sungkawa atas kejadian yang menimpa kamu" ucap Anjani sembari memegang dadanya.


Maria hanya mengangguk dan tiba-tiba saja meneteskan air mata saat mendengar ucapan itu


"Mar, maaf kalau aku bikin kamu tambah sedih" Anjani khawatir dan meminta maaf.


"Terimakasih" jawab singkat Maria yang masih menangis, menggetarkan hati Anjani dan Rini.


Tanpa sadar, Anjani berdiri lalu memeluk Maria. Seolah hatinya ikut remuk dan merasakan kesedihan yang sama. Untuk sesaat, Anjani merasakan takut jika Mamanya yang ada di Rumah Sakit tidak bisa bangun dari koma.


Maria menangis sejadi-jadinya di pelukan Anjani. Rini yang sedari tadi diam kemudian berdiri dan memeluk mereka berdua.


Beberapa hari kemudian, Maria memberanikan diri untuk bersekolah dan tatapan-tatapan sinis masih ada di mata para murid yang lain.


Namun bak Oasis yang ada di tengah gurun, Maria menemukan kebahagiannya yang baru bersama Anjani dan Rini. Mereka bertiga perlahan menjadi sahabat dan saling melindungi satu sama lain.


Hingga Maria akhirnya naik ke kelas 3 dan satu kelas dengan Anjani juga Rini. Mereka bertiga selalu bersama untuk pergi bermain dan mengerjakan tugas sekolah.


Anjani dan Rini selalu menguatkan Maria saat ia rindu dengan keluarga juga sahabatnya. Nek Aisyah sangat senang saat melihat kedua temannya ini selalu ada untuk memberi semangat kepada Maria.


Namun sekali lagi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Saat Ujian Kelulusan selesai, Maria mendapatkan fakta jika Anjani selama ini menyimpan video saat ia dibawa Rudi pada malam itu.


Mengejutkannya, Anjani tidak merasa bersalah ataupun meminta maaf kepada Maria. Seakan pertemanan mereka selama ini tidak berarti sama sekali.

__ADS_1


Mulai detik itu, mereka memutuskan pertemanan dan kembali ke masing-masing.


__ADS_2