Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 32 : Operasi Darurat


__ADS_3

Ambulance datang dan Maria segera dibawa masuk untuk dibawa ke Rumah Sakit dan segera di tangani dengan cepat.


Kak Izam melajukan mobilnya dan membawa Arumi ke Rumah Sakit yang bagus namun agak jauh.


Ambulance yang membawa Maria segera menuju Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU). Dr. M. Salamun.


Sesampainya di Rumah Sakit, Maria segera dibawa ke ruang UGD demi mendapat penanganan karena luka tusuk yang dalam. Maria masih terlihat tidak sadarkan diri ditemani Sisca.


Papa, Mama, Tania dan Nek Aisyah pergi menggunakan mobil pribadi mengikuti Ambulance dari belakang. Petugas Kepolisian membantu mengawal mobil Ambulance supaya segera sampai.


Sisca sudah dalam keadaan panik dan terus menangis melihat kondisi sahabatnya yang menghawatirkan.


"Maaf, mbak tidak boleh masuk" ucap Suster yang menahan Sisca.


Sisca hanya bisa menangis dan menunggu mobil Papa dan yang lain untuk datang.


10 menit kemudian, Papa dan yang lain terlihat menghampiri Sisca.


"Dimana Maria?" tanya Papa panik memegangi Sisca


"Mar.. Maria sudah di dalam om" jawab Sisca yang masih menangis.


Mama dan Nek Aisyah tidak bisa berkata-kata dan terus meneteskan air mata. Pihak Kepolisian berjanji akan membantu menangani kasus ini hingga selesai.


Mereka semua menunggu Maria keluar dari ruang UGD. Terlihat seorang Dokter keluar dan bertemu dengan Papa dan yang lain.


"Dok. Gimana keadaan anak saya?" tanya Papa dengan suara yang bergetar ketakutan.


"Pak, bapak harus siap dan tabah ya. Anak bapak, harus segera dibawa ke ruang operasi karena tusukan pisau mengenai organ vital dan harus segera di operasi" ucap Dokter berusaha tenang menjelaskannya.


Mama yang tak kuat mendengarnya hampir pingsan dan dipegangi Nek Aisyah. Sisca yang menggendong Tania tak kuasa mendengar keadaan temannya ini.


"Saya mohon maaf pak. Saya minta bapak atau ibu bisa segera mengurus dokumen persetujuan operasi, supaya kami bisa segera mengoperasinya" pinta Dokter


"Ba.. Baik pak. Saya akan isi semua prosedurnya dan saya minta bapak segera operasi anak saya. Saya akan bayar berapa pun" pinta Papa memohon kepada sang Dokter.


"Dokter bisa segera bantu operasinya. Kami dari Pihak Kepolisian mengawasi dan membantu semua prosedur yang diperlukan" sahut salah seorang Petugas Kepolisian yang ada di sana.


"Baik" ucap Dokter dan segera meminta tolong suster untuk membawa Maria ke ruang operasi.


"Panggil Dokter Ester untuk segera ke ruang operasi dan menyiapkan semuanya" perintah Dokter kepada salah seorang suster.

__ADS_1


"Baik Dok" jawab suster tersebut dan segera menuju meja Administrasi dan menelfon Dokter Ester.


Dokter dan Suster kemudian menarik tempat tidur Maria dan segera membawanya ke ruang operasi.


Semuanya menangis melihat Maria yang tak sadarkan diri, di dorong menuju ruang operasi yang penuh dengan alat-alat tajam.


Semuanya sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk saat operasi berlangsung. Tak lama kemudian Dokter Ester yang bertanggung jawab akan operasi datang dan meminta supaya keluarga untuk terus berdoa demi kelancaran operasi.


"Dok, tolong selamatkan anak saya yang malang" pinta Mama tersedu-sedu sambil memegangi tangan Dokter Ester.


"Iya ibu, doakan saja. Saya dan tim akan berusaha dengan baik. Dimohon untuk menunggu disini dan berdoa" ucap sang Dokter sambil menenangkan Mama.


Dokter Ester kemudian masuk dan membersihkan tangan terlebih dahulu lalu masuk ke ruang operasi.


Papa dan yang lain, hanya bisa menunggu dan berdoa. 30 menit telah berlalu dan Maria masih belum selesai operasi.


"Papa beli makanan dulu" ucap Papa yang berdiri dan pergi ke Kantin untuk membeli makanan.


"Iya pa. Tania sudah lapar" jawab Mama sambil menggendong Tania yang baru bangun dari tidurnya.


Terlihat sekali raut wajah capek Mama, Sisca, Nek Aisyah, dan Papa. Namun mereka masih belum bisa tenang sampai Maria selesai operasi.


Pihak Kepolisian sudah kembali ke kantor dan melaporkan semua kejadian yang terjadi. Mereka meminta supaya dihubungi kembali jika Maria sudah selesai operasi dan siuman.


Semua yang sudah menunggu berdiri dan melihat Dokter serta Maria.


"Bawa pasien ke ruang rawat inap ya sus" perintah Dokter Ester.


"Mama sama yang lain, pergi bersama Maria dulu. Papa biar ngobrol sama Dokter" pinta Papa kepada Mama.


Mama mengangguk dan pergi bersama yang lain untuk mengikuti Maria.


"Pasien, mengalami pendarahan hebat dan syok karena benda tajam yang masuk dan dikeluarkan secara paksa. Hal ini menyebabkan usus halus pasien harus kami potong 20 cm." terang Dokter Ester


Papa yang mendengar hal itu, serasa mau pingsan dan jatuh. Ia berusaha menguatkan dirinya untuk mendengar penjelasan dokter lebih lanjut.


"Trus bagaimana Dok?" tanya Papa tersendat-sendat.


"Jangan khawatir ya pak, kami sudah melakukan yang terbaik dan pasien sudah aman dari masa kritis. Untuk sekarang, pasien membutuhkan istirahat yang cukup dan kami akan pantau terus perkembangannya" ucap Dokter sambil menenangkan Papa.


"Terimakasih ya Dokter atas bantuannya. Terimakasih" ucap Papa berterimakasih.

__ADS_1


"Iya pak. Sama-sama".


Dokter Ester kemudian pergi dan menuju loket Administrasi untuk menulis laporan hasil operasi Maria Puspa Jelita.


Papa kemudian menyusul yang lain dan akhirnya sampai di ruangan Maria.


Karena hari yang sudah gelap, Papa mengurungkan niat untuk mengantar Sisca dan Nek Aisyah pulang.


Sisca dan Nek Aisyah memaksa untuk tetap menunggu Maria sampai ia siuman. Sisca kemudian permisi untuk menelfon ibunya dan menceritakan semua hal yang terjadi.


Tentu saja Ibu Sisca marah besar dan memintanya untuk pulang besok pagi. Ibu Sisca sedari dulu tidak menyukai anaknya bermain dengan Maria karena Maria terlalu memiliki banyak masalah. Tapi Sisca tidak memperdulikan hal itu.


"Kamu izinnya gimana nak?" tanya Mama yang curiga jika Sisca izin ke ibunya tidak liburan bersama Maria.


"Maaf tante, kalau Sisca ngomong akan liburan bersama Maria, Ibuk bakal tidak setuju. Jadi Sisca izinnya kerja kelompok" ucap Sisca tertunduk dan merasa bersalah.


"Ya udah, jangan sedih. Kamu memang sahabat Maria yang baik. Besok kalau sudah pulang, minta maaf ke Ibuk ya nak" Mama memberi nasihat dengan lembut kepada Sisca.


Semuanya sepakat untuk bermalam dan menunggu Maria di ruangan rawat inap. Pihak Rumah Sakit mengizinkan mereka semua untuk menginap karena situasi yang mendesak.


Papa sudah menghubungi Kepolisian dan besok pagi, Polisi akan membantu mengantar Mama dan yang lain pulang.


Keesokan Harinya.


Waktu tepat menunjukan pukul 09.00 pagi, dan belum ada tanda-tanda Maria siuman. Dokter sudah datang dan memeriksa keadaan Maria dan disuruh bersabar dan menunggu Maria sadar.


3 orang polisi datang dan menemui Papa. 1 anggota yang lain akan membantu mengantar pulang Mama dan yang lain untuk kembali ke rumah. Sedangkan Papa akan bertanggung jawab dan menjaga Maria.


Kepolisian sudah menghubungi keluarga Abi dan menginformasikan bahwa pelaku adalah penjahat yang akan menculik anaknya Arumi. Pihak Kepolisian akan melakukan investigasi dengan mewawancarai Maria sebagai korban dan saksi.


Papa mengerti dan siap membantu penyelidikan.


Disisi lain, pada hari Maria dibawa ke Rumah Sakit, Abi dan yang lain menuju Rumah Sakit Ibu & Anak di Kota Bandung untuk memeriksakan Arumi.


Keadaan Arumi tidaklah menghawatirkan karena luka di badannya adalah luka karena jatuh dan syukurlah tidak mengalami infeksi. Namun yang dikhawatirkan Dokter adalah Trauma Psikis yang akan dialami Arumi di masa mendatang.


Setelah mendapatkan perawatan, Arumi dipersilahkan untuk pulang dan bisa dirawat di rumah. Dokter telah memberi resep obat.


Abi dan yang lain, akhirnya sampai di rumah dan segera membawa Arumi untuk istirahat di kamar.


Bunda pada malam itu tidur bersama Arumi. Lalu Ahmad yang sudah sangat capek, tidak bisa menahan rasa kantuknya lalu tertidur di kamarnya.

__ADS_1


Abi dan Kak Izam masih berjaga menunggu kabar dari Kepolisian dan setelah beberapa jam menunggu, akhirnya mendapat telefon dari Kantor Polisi kalau kejadian ini adalah murni penculikan dan ada sangkut pautnya dengan musuh bisnis Abi.


__ADS_2