
Maria yang semakin masuk kedalam hutan, terkejut saat mendengar suara tangisan anak kecil dibalik batu besar. Maria berjalan mendekat dan terkejut melihat anak kecil sedang menangis sesenggukan.
"Nama kamu siapa dek?" tanya Maria khawatir.
"A... Arumi kak" jawab Arumi yang sesenggukan karena menangis dan ketakutan.
"Arumi kok bisa sampai kesini?" tanya Maria bingung melihat anak kecil perempuan ada di tengah hutan.
"Ada yang ngejar Arumi kak. Arumi takut." tangis Arumi sesenggukan.
"Yang ngejar siapa?" tanya Maria sembari menenangkan Arumi.
"Arumi gak tau kak. Mereka orang jahat" ucap Arumi yang berusaha tenang dan mengusap air matanya.
Maria mencoba mencerna situasi dan berusaha tenang. Tujuannya adalah mencari Tania. Namun dia tidak bisa meninggalkan Arumi begitu saja.
"Begini Arumi. Nama kakak Maria. Arumi jangan takut ya. Ada kakak disini." ucap Maria berusaha tenang dan tidak panik.
"Orang jahat itu dimana?" tanya Maria pelan
"Arumi gak tau" jawab Arumi.
Maria kemudian berdiri sejenak dan menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan sekitar.
Beberapa saat kemudian, ia melihat 3 orang pria dewasa dengan tato di lengannya sedang mencari sesuatu.
Maria segera menunduk dan mengambil tindakan sebelum pria-pria itu semakin mendekat.
"Arumi percaya kakak kan?" bisik Maria pelan.
Arumi hanya mengangguk.
"Ayo ikut kakak kesana." pinta Maria dan menggandeng tangan Arumi untuk jalan pelan-pelan menjauh dari pria-pria tadi.
Di saat bersamaan, Ahmad dan Kak izam memilih untuk berpencar dan pergi ke Goa Belanda dan satunya ke Goa Jepang.
Ahmad berusaha tenang dan tidak panik supaya pencarian Arumi tidak terhambat. Ia mulai bertanya ke setiap pengunjung yang ia temui. Tapi hasilnya nihil.
Kak Izam berusaha semampunya dan menanyai setiap pengunjung. Di Goa jepang tidak menemukan hasil sama sekali.
Ahmad yang pergi ke Goa Belanda juga mulai merasa putus asa dan serasa ingin menangis.
"Mas cari adiknya?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba menepuk punggung Ahmad.
__ADS_1
"Eh iya ibuk" Ahmad terkejut.
Lalu ibu itu menunjukan arah saat ia melihat seorang gadis kecil yang pergi bersama penjual balon. Ibu itu mendengar berita jika tadi ada kasus hilangnya anak perempuan saat membeli balon. Namun ibu itu tidak tau dimana orang tua si anak kecil tadi.
Ahmad yang mengira itu Tania, segera menyusuri tempat yang Ibu tadi beritahu..
Secepat angin, Ahmad berlari dan hampir menabrak orang sekitar.
Ahmad berlari turun meninggalkan Goa Belanda dan terus turun lalu belok masuk ke hutan-hutan.
Ahmad terus berlari dan berlari, berharap bertemu dengan Arumi. Namun betapa terkejutnya Ahmad ketika melihat seorang anak kecil yang ada di depannya disuruh buka baju sama pria dewasa.
Insting Ahmad yang begitu kuat mengatakan jika pria itu bukanlah orang baik. Kemudian Ahmad lari dan berteriak lalu memukul kepala orang itu dengan keras.
Pria itu terjungkal dan merintih kesakitan sembari memegang wajahnya. Ahmad yang sudah penuh dengan emosi, terus memukuli pria itu hingga berdarah.
"Breng**k.. Baji**an... Apa yang lu bakal lakuin ke anak ini anj**ng" umpat Ahmad yang tak kuasa menahan emosinya.
Wajah pria itu terus dipukuli hingga darah mengucur dimana-mana. Tania yang ketakutan pun menangis dan berteriak.
Ahmad kemudian tersadar dari emosinya yang membabi buta dan berhenti memukul pria itu.
"Hei.. Hei.. Susshhh" ucap Ahmad dengan lembut dan memeluk Tania yang menangis.
"Tenang ya.. Ada kakak disini" Ahmad masih memeluk Tania dan mengusap rambutnya.
Saat sudah mendekat ke jalan utama, Ahmad bertemu dengan Kak Izam yang akan menyusul Ahmad.
"Tadi waktu Kak Izam mau nyusul kamu ke Goa Belanda, orang-orang ramai membicarakan tentang kamu yang lari-larian. Dan.. " Kak Izam berhenti sejenak karena melihat Ahmad menggendong seorang anak kecil yang bukan Arumi.
"Nanti Ahmad jelasin ya Kak" ucap Ahmad yang mengerti dengan Kakaknya yang kebingungan.
Ahmad kemudian berjalan di jalan setapak dan meminta tolong ke pengunjung untuk memberikan air minum buat Tania.
Para pengunjung menanyakan kronologi lengkap kepada Ahmad dan akhirnya beberapa pengunjung pria pergi ke bawah untuk cek keadaan penculik tadi.
Hari sudah semakin sore dan tidak ada tanda-tanda ditemukannya Arumi.
Bagian pengaduan pengunjung, telah menghubungi polisi dan sementara mengerahkan beberapa staff untuk melakukan pencarian.
"Kak, kita pergi kemana?" tanya Arumi yang terus memegangi tangan Maria dan tidak akan melepaskannya.
"Kakak, sedang mencari jalan keluar supaya tidak masuk jauh ke hutan" terang Maria yang terus berjalan sambil menengok kanan dan kiri.
__ADS_1
"Arumi jangan takut ya. Kita sembunyi disini dulu" perintah Maria lembut dan mereka berdua istirahat sejenak.
"Arumi lihat kakak" pinta Maria menatap Arumi.
Arumi menuruti dan menatap Maria.
"Arumi harus kuat ya. Jangan takut, karena kakak ada disini menjaga kamu" ucap Maria menepuk pelan kepala Arumi sambil tersenyum tipis.
Maria menyadari jika para penjahat itu sadar ia membantu Arumi dan mereka mulai mendekat.
"Aku harus menahan mereka" gumam Maria dalam hati.
"Arumi, bisa tolong bantu kakak ya" bisik Maria.
"Apa kak?" tanya Arumi pelan.
"Jika kakak bilang lari, kamu lari ya jangan pernah noleh ke belakang." ujar Maria
"Nih, kakak kasih penjepit rambut punya kakak ya." imbuh Maria sembari memasang jepit warna pink miliknya ke rambut Arumi.
"Dengan ini, Arumi gak usah takut. Arumi lari terus dan jangan nangis ya"
Arumi mengangguk dan menahan air matanya untuk tidak menetes.
"Anak baik" belai Maria.
"Tuhan, jika memang hari ini adalah hari terakhir aku hidup. Hamba mohon supaya kau pertemukan Tania dengan yang lain dan bantu Arumi kembali ke keluarganya. Ampuni segala dosa hamba. Amin" doa Maria dalam hati.
Para penjahat, menyadari tempat persembunyian Maria dan semakin mendekat. Maria kemudian menggambil bongkah kayu yang ada dibelakangnya dan memegangnya dengan erat.
"Arumi Lari... " teriak Maria yang kemudian berdiri dan memukul kepala salah satu penjahat.
Arumi yang mendapat perintah, segera lari dengan kencang dan berusaha menahan air matanya. Ia berlari terus tanpa menoleh ke belakang.
Maria terkejut, bahwa ia berhasil membuat pingsan salah seorang penjahat.
Maria mengayunkan kayu secara acak dan tak beraturan demi menghadang penjahat supaya tidak bisa mengejar Arumi.
Untuk kedua kalinya, Maria berhasil memukul yang satu lagi hingga berdarah. Terlihat betapa kerasnya Maria dengan sekuat tenaga mengayunkan kayu itu sehingga membuat tangannya berdarah.
Saat Maria lengah, salah seorang yang lain, menarik pisau dari celana belakang dan menusuk Maria.
Jleb....
__ADS_1
Pisau menusuk perut bawah Maria dan mengeluarkan darah..
"Ahh... " Maria berteriak sambil memegang erat tangan pria yang menusuknya, supaya pria itu tidak bisa kabur.