
Maria berjalan dengan cepat dan sampai di depan rumah.
"Nek.. Nenek" panggil Maria masuk.
Dan saat sampai di dalam.
"Nek.. Maria.. Pul.. " terkejut Maria tidak bisa meneruskan kata-katanya karena melihat Ahmad sedang duduk bersama Nenek.
"Ahmad.. " tunjuk Maria terkejut.
"Mar.. Maria.. " Ahmad berdiri dari tempat duduknya dan terkejut melihat Maria
Untuk sesaat, mereka berdua saling bertatapan dan terkejut satu sama lain.
"Ahmad.. Kok kamu ada disini?" tanya Maria yang masih bingung sambil melihat ke arah Nenek.
Ahmad yang masih terkejut, bingung mau bicara apa.
"Sudah... Maria cuci kaki dan ganti baju dulu" perintah Nenek memecah suasana.
"Nak Ahmad, duduk. " perintah Nenek sekali lagi terhadap Ahmad.
Ahmad yang mendengarkan langsung duduk dan mengalihkan pandangannya ke arah Nenek.
Maria lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk cuci kaki dan berganti baju. Maria melepas seragam dan berganti kaos putih polos dengan celana pendek di atas lutut.
Setelah berganti baju, cuci kaki dan muka, ia berjalan kembali ke ruang tamu menemui Ahmad dan Nenek.
"Maria, duduk sana sebelah Ahmad. Nenek mau ngomong" suruh Nenek dan Maria menurutinya.
Entah kenapa pada hari itu, Ahmad merasa gugup sekali duduk di sebelah Maria. Muncul perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nenek sudah tau apa yang ada di fikiranmu, karena sebelum kamu datang, Ahmad sempat bertanya dimana rumah Maria anak SMA Pancasila" jelas Nenek menatap Maria.
"Setelah meminta maaf, dengan polosnya ia bertanya dan sebelum Nenek sempat menjawab, kamu sudah datang" imbuh Nenek sambik tertawa kecil.
"Nah.. Nak Ahmad, ini rumah Maria." kata Nenek menatap Ahmad dengan senyuman
"Aduhh.. Mateng gua" ucap Ahmad dalam hati
"Nek, bisa tolong jelasin kenapa tiba-tiba ada Ahmad disini?" tanya Maria yang masih bingung.
Nenek menjawab pertanyaan Maria dengan menceritakan awal mula mereka bertemu, hingga meminjamkan baju milik Maria ke Ahmad.
Maria tercengang, mendengar cerita Nenek yang bisa kebetulan bertemu dengan Ahmad.
"Ahmad kesini, mau meminta maaf, kalau belum bisa mengembalikan baju kamu, sekalian ambil seragam dia" Nenek menjelaskan.
"Iya Nek, saya meminta maaf karena saya benar-benar lupa naruhnya dimana karena banyak hal yang terjadi" ucap Ahmad.
"Bukannya harus minta maaf ke aku nih?"cletuk Maria sambil melirik ke arah yang berlawanan.
"Hmm.. Baiklah.. Maaf ya Mar. Nanti kalau sudah ketemu aku kembalikan" ucap maaf Ahmad.
"Iya gak apa-apa" jawab Maria sedikit senyum.
"Kalau begitu, Ahmad pamit dulu ya Nek" pamit Ahmad yang langsung berdiri dan mencium tangan Nenek.
"Apa ndak makan dulu nak Ahmad?. Nenek masak sayur asem tuh" ucap Nenek memegang tangan Ahmad.
"Ndak usah Nek, terimakasih banyak, soalnya ini udah mendung. Kayaknya mau hujan gede" jawab Ahmad lalu pergi keluar dan menganggukkan kepalanya ke arah Maria.
Saat Ahmad melangkahkan kakinya keluar rumah, Hujan sangat deras mengguyur pemukiman. Ahmad tanpa fikir panjang langsung berlari kencang.
Namun saat sampai di tengah-tengah jalan, baju dia sudah basah kuyup seperti orang berenang, dan ia terpaksa berteduh di bawah genteng rumah orang.
Hujan semakin deras dan disertai angin, membuat arah hujan tidak karuan dan kemana-mana. Petir yang menghawatirkan dan angin yang menyeramkan.
Ahmad menoleh kanan dan kiri mencoba mencari teras rumah yang agak luas untuk dia bisa berteduh.
Saat mencari-cari, ia melihat Maria dari kejauhan membawa 2 payung menghampirinya. Penglihatan Ahmad semakin buram karena air hujan yang terkena angin terus menghantamnya.
"Ahmad.. Pakai ini. " teriak Maria kencang di tengah badai yang bergemuruh.
Ahmad tidak terlalu dengar suara Maria.
Tanpa pikir panjang, Maria menarik tangan Ahmad dan membawanya kembali ke rumah kontrakan Nenek.
Ahmad yang tangan kirinya memegang payung hanya pasrah ketika tangan kanannya ditarik Maria. Mereka berdua berjuang melewati angin kencang yang menerjang.
__ADS_1
Terlihat, Nenek yang sudah menunggu di depan teras dengan khawatir.
"Ayoo masuk.. Aduhh basah kuyup kamu nak" Nenek sangat khawatir dan menyuruh Ahmad juga Maria untuk ganti baju.
Nenek kemudian berlari ke arah dapur untuk memasak air dan bikin air hangat.
Ahmad yang ada di depan teras segera membuka baju miliknya. Terlihat dada yang bidang dan perut sixpack yang keras, dan garis V di bawah perutnya.
"Omo.. Omo.. Apa yang kau lakukan wahai kisanak" kaget Maria sambil menutup matanya.
"Ohhh.. ****.. Maaf" kaget Ahmad karena ia lupa ada Maria di depannya.
Saat Ahmad mau mengenakan pakaiannya kembali, Maria meminta Ahmad untuk langsung saja ke kamar mandi dan ganti baju.
"Kamu ke kamar mandi aja langsung, nanti aku ambilkan baju baru" perintah Maria.
Ahmad menuruti perintah Maria dan masuk ke kamar mandi dalam keadaan telanjang dada. Ternyata Nenek telah memasak air untuk Ahmad supaya Mandi air hangat.
"Terimakasih banyak Nek, maaf merepotkan" ucap Ahmad sebelum menutup pintu kamar mandi.
Segera, Maria menuju kamar miliknya dan mengambil kaos juga celana panjang miliknya yang sudah lama tidak dipakai.
"Aku taruh di disini ya, aku taruh atas kursi kok" ucap Maria sambil menaruh kursi kecil untuk baju Ahmad dan menatanya.
Maria yang belum selesai menata terkejut karena pintu kamar mandi dibuka dan terlihat Ahmad yang hanya dibalut handuk bagian bawahnya.
"Astaga Tuhan Yesus.. " ucap Maria yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena melihat Ahmad setengah telanjang.
Maria lalu menunjuk handuk biru yang dipakai Ahmad dengan tangan gemetar.
Tanpa basa-basi, Ahmad mengambil baju itu dan kembali ke dalam kamar mandi. Maria masih tertegun dan berdiri di depan pintu.
"Maria.. " teriak Nenek memanggil dari dapur.
"I.. Iya Nek." sahut Maria yang masih tidak percaya jika anak laki-laki mandi di rumahnya.
"Udah cepet basuh rambut kamu di tempat cuci piring dan ganti baju lalu minum teh anget ini" suruh Nenek.
Maria kemudian menuruti perintah Nenek dan membasuh rambut serta mengganti bajunya.
Ahmad kemudian keluar dari kamar mandi dan duduk di ruang tamu, lalu Maria menyusul keluar dari kamarnya. Mereka duduk saling berhadapan dan minum teh anget yang sudah disediakan Nenek.
"Ikut aku ke teras" perintah Maria yang berdiri menuju teras depan rumah.
Ahmad mengikutinya dari belakang.
Maria kemudian menyuruh Ahmad untuk duduk di kursi sebelahnya sambil memandangi dan menikmati hujan.
"Kamu kesini naik apa?" tanya Maria sambil menyeruput tehnya.
"Motor" jawab Ahmad.
"Hmm.. Kamu taruh mana?.kok gak kelihatan?" Tanya Maria menatap Ahmad
"Di warung tacik di gang sebelah. Aman sih" jawab Ahmad sembari meminum teh
"Oh iya. Nih.. " Maria mengambil sapu tangan di sakunya dan menyerahkannya kepada Ahmad.
"Terimakasih, saat itu kamu meminjami sapu tangan ini saat aku menangis di kelas. Dan kelihatannya ini bukan sapu tangan biasa, melihat dari modelnya" imbuh Maria.
"Itu sekarang milik kamu. Pakai saja" kata Ahmad yang menolak dan mendorong tangan Maria.
"Ohh.. Ya udah terimakasih." ucap Maria memasukan sapu tangan itu kembali ke sakunya
"Melihat mu seperti ini, benar-benar berbeda dari apa yang aku kira" ucap Ahmad menatap tajam ke arah mata Maria.
"Memang sih. Toh ini bisa disebut diriku yang baru" jawab Maria, mengalihkan pandangannya ke arah hujan.
"Maksudmu?" tanya Ahmad yang semakin penasaran dan tidak bisa melepas pandangannya dari Maria.
"Dulu, aku adalah anak yang pendiam dan tidak mudah untuk bergaul dengan siapapun. Dan karena hal itu, banyak orang yang memanfaatkannya dan menyakitiku" ucap Maria yang masih memandang hujan.
"Lalu badai besar datang dan benar-benar menghancurkan hidupku, dan aku merasa jika semuanya sudah berakhir. Namun, Tuhan berkata lain. Ia memberikan orang-orang hebat disekitarku yang ada untuk membantu menghadapi badai itu bersama." imbuh Maria yang semangin terhanyut di dalam ceritanya.
"Namun, dunia memang kejam dan iri melihatku bahagia, sehingga merenggut semua kebahagiaan itu dalam sekejap dan hatiku tak siap. Tapi sekali lagi, aku dipertemukan dengan sosok lain yang datang dan mengajariku untuk tidak jatuh terlalu dalam" tambah Maria.
"Ia mengajariku untuk lebih membuka diri dan mengutarakan apa saja yang terlintas di fikiranku tanpa berfikir terlalu rumit. Menghargai setiap momen yang ada dan mengucapkan hal-hal yang baik setiap saat, supaya tidak membuat orang lain down" tambah Maria yang semakin dalam bercerita.
"Lalu selain dia, ada satu sosok hebat yang entah bagaimana aku bisa bertahan jika bukan karena beliau". Imbuh Maria.
__ADS_1
"Nek Aisyah?" tanya Ahmad yang langsung faham dengan kata-kata itu.
Maria mengangguk dengan bibir yang tersenyum.
"Banyak hal yang harus disyukuri dan dihargai. Kita tidak pernah tau, kapan kebahagiaan itu bisa hilang dan mengubah banyak hal.. Aku hanya tidak ingin menyesali apapun lagi" Ucap Maria yang serius dan memalingkan wajahnya ke arah Ahmad.
Ahmad menatap Maria dengan penuh rasa kagum dan hormat. Dibalik sosok Maria yang terlihat lemah lembut di sekolah, ada hati Wanita hebat di dalamnya.
"See.. Kau terus saja membuatku penasaran dengan dirimu" ucap Ahmad tulus.
"Benarkah... He.. He.. " jawab Maria tidak sadar dengan apa maksud sebenarnya dari perkataan Ahmad barusan.
"Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku pastikan" ucap Maria tiba-tiba
"Memastikan apa?" tanya Ahmad bingung
"Percaya saja padaku" kata Maria.
Ahmad hanya mengangguk.
"Pegang tanganku" perintah Maria menyodorkan telapak tangannya
Ahmad yang mendengar hal itu terkejut dan menyemburkan teh yang ada di mulutnya.
"Apa?" tanya Ahmad sambil membersihkan bibirnya.
Maria tak mengatakan apapun dan hanya melihat ke arah Ahmad.
Ahmad yang ragu-ragu akhirnya menuruti perkataan Maria dan meletakan tangannya di atas telapak tangan Maria. Lalu kedua telapak tangan mereka menggenggam satu sama lain
"Lembut.. " ucap Ahmad dalam hati sambil menatap ke arah tangannya dan Maria yang berpegangan erat.
"Sudah kuduga" gumam Maria
"Sudah kau duga apa?" tanya Ahmad bingung mendengar gumaman dari Maria.
"Ehemmm.. " suara batuk buatan Nenek memecah keadaan dan mereka berdua melepaskan pegangan mereka.
"Nenek.. Ngagetin" kaget Maria.
"Sudah masuk, makan sudah Nenek siapin" ucap Nenek
Mereka berdua segera masuk dan menyantap makanan yang sudah Nenek siapkan.
"Bagaimana masakan Nenek?" tanya Nenek ke Ahmad.
"Enak banget Nek. Aku tidak pernah mengira sayur asem kacang akan seenak ini." jawab Ahmad sambil menyantap makanan dengan lahap.
"Sering-sering main kesini, nanti Nenek masakin makananan yang enak-enak" ucap Nenek tersenyum
"Nenek.. Oh no.. " ucap Maria.
"Siap Nek, Ahmad akan sebisa mungkin sering kesini" jawab Ahmad bahagia.
Hari sudah semakin gelap dan hujan sudah reda. Ahmad bersiap untuk pulang ke rumah.
"Maafin Ahmad ya Nek, baju yang kemarin belum bisa mengembalikan, sekarang dipinjami baju lagi" ucap Ahmad
"Tidak apa-apa, kalau udah ketemu saja" jawab Nenek sembari menyerahkan baju seragam milik Ahmad yang sudah dicuci.
"Ya sudah Nek, Ahmad pulang ya" pamit Ahmad.
"Wait... Wait.. " seru Maria dari belakang rumah dan menyerahkan sebuah kantong plastik hitam.
"Apa ini?" tanya Ahmad.
"Itu sikat gigi sama handuk yang kamu pakai tadi" kata Maria.
Ahmad hanya bisa menyipitkan matanya mengejek Maria.
"Jangan lupa besok beli handuk sama sikat gigi buat ganti" ucap Maria.
"Iya.. Iya.. " jawab Ahmad.
"Makasih ya Mar. Terimakasih karena kamu mau dan berbagi sedikit tentang hidup kamu. Sampai ketemu besok di sekolah. Good night" ucap Ahmad pamit dan berjalan pergi.
"Hati-hati Ahmad" teriak Maria melambaikan tangannya.
Ahmad menoleh ke belakang dan tersenyum melihatnya.
__ADS_1