
[ Di rumah Ahmad ]
Malam itu, Ahmad dan Arumi benar-benar tertawa lepas untuk pertama kalinya. Bulan pun jadi saksi kebahagiaan mereka.
Knock... Knock....
Seseorang mengetuk pintu kamar Arumi. Ahmad dan Arumi langsung teralihkan ke arah suara itu.
"Masuk... " pinta Arumi
Pintu dibuka dan terlihat kakak laki-laki tertua mereka masuk.
"Kak Izam... " ucap Ahmad kaget melihat kakaknya.
Izam adalah kakak tertua dari 3 bersaudara dan sekarang ia sedang menjalankan pendidikannya di salah satu Universitas terbaik dan terbesar yang ada di Jakarta.
Perawakan Izam hampir mirip dengan Ahmad, mereka memiliki kulit putih yang cerah dan halus meniru dari Bunda mereka yang berdarah Kazakhstan dan Indonesia. Sedangkan Abi mereka keturunan asli Indonesia.
Perbedaan ada pada mata dan juga rambut mereka. Izam memiliki rambut yang sedikit keriting dan mata yang biru dengan badan sedikit besar. Sedangkan Ahmad memiliki mata Hazel dan rambut yang halus dan lurus. Ahmad juga memiliki badan yang berisi dan berbentuk karena ia suka berolahraga.
"Arum.. Kau melakukannya lagi?" tanya Izam dengan tatapan serius
"Iya.. " Arumi berdiri dan menjawab dengan tegas sambil menatap mata Izam
Ahmad ikut berdiri di samping Arumi.
"Kau itu kurang sholat.. Bodoh kau mau coba bunuh diri. Dasar gak punya iman dan fikiran ya kamu" bentak kasar Izam sambil menunjuk ke arah Arumi.
Ahmad yang melihat itu langsung berdiri tepat di depan adiknya sambil menatap mata Izam.
"Kurang sholat? , gak punya iman? Apa yang lo tau ha? " bentak Ahmad tidak terima
"Kamu ya, ikut-ikutan gila" bentak Izam sekali lagi.
"Gila katamu.. Dia itu adik kita bang.. Adik kita" teriak Ahmad semakin kencang.
Izam yang semakin emosi mengepal tangannya dan bersiap memukul Ahmad.
"Apa.. Mau mukul.. Ayo.. Gua ladeni lu" ucap Ahmad yang mengepal tangannya juga.
Arumi yang ada dibelakang terdiam kaku dan tidak bisa bergerak.
Saat keadaan sudah semakin menghawatirkan, Abi yang mendengar suara ribut masuk kedalam kamar dan segera menghentikan Izam dan Ahmad. Abi segera mendorong Izam untuk keluar dan menenangkan Ahmad.
__ADS_1
"Izam.. Kamu keluar sekarang..! " perintah sang Abi dengan tegas
Izam lalu menuruti apa kata Abi dan keluar kamar. Lalu Abi menoleh ke arah Ahmad dan mencoba menenangkannya. Ahmad kemudian menoleh kebelakang dan melihat Arumi yang shock dan gemetar.
"Arumi.. Kamu kenapa? " tanya Ahmad sembari memegangi adiknya itu.
Lalu sang Abi keluar dan memanggil Bunda untuk mengambilkan obat yang diberi dokter.
Tiba-tiba saja Arumi mengalami kejang-kejang dan tidak sadarkan diri. Ahmad yang ketakutan, berteriak memanggil Abi.
Abi yang sudah membawa obat, segera lari dan membantu meminumkannya kepada Arumi. Tak butuh waktu lama, Arumi berhenti kejang dan langsung tertidur.
Fikiran Ahmad benar-benar kacau balau, dan ia semakin bingung dengan kondisi adik kesayangannya itu.
Abi yang melihat Ahmad, segera menarik lengan anaknya itu dan membawanya turun ke ruang tamu. Disana sudah ada Kak Izam dan Bunda. Abi kemudian meminta Ahmad untuk duduk, dan Ahmad menurutinya.
Abi meminta para pembantu untuk menjaga kondisi Arumi, dan meminta semua anggota keluarganya untuk tenang.
"Ahmad, kamu tenang ya dan dengarkan apa yang akan Abi katakan. " Ucap Abi menatap Ahmad.
Ahmad hanya mengangguk dan mendengarkan dengan seksama.
"Ahmad dan Izam, sudah saatnya kalian mengetahui apa yang diderita dan dialami adik kalian Arumi"
Ahmad terdiam dan terkejut kalau ternyata selama ini, adik perempuannya mengalami hal ini semua. Dia mulai bertanya, posisi dia sebagai seorang Kakak yang tidak becus. Bunda terlihat menitihkan air mata dan Kak Izam yang hanya terdiam tanpa ekspresi apapun.
"Apa yang menyebabkan ini semua Abi?" tanya Izam memecah suasana
"Kita tidak tau Zam. Arumi tidak mau bilang apapun kepada Abi dan Bunda. Apa dia ada masalah dengan sekolah atau temannya. "
"Bukannya karena Abi dan Bunda juga" cletuk Ahmad menatap Abi
"Bukankah karena Abi dan Bunda membanding-bandingkan Arumi dengan aku atau kak Izam" tambah Ahmad dengan wajah melas dan seakan ingin menangis
"Bunda dan Abi hanya ingin supaya Arumi termotivasi dan berjuang supaya tidak depresi" jawab Abi
Ahmad hanya terdiam pusing memikirkan semua hal yang terjadi. Ia lalu berdiri dan meninggalkan ruang tamu, kemudian pergi ke kamarnya di lantai 3 untuk beristirahat dan membersihkan diri.
Siraman shower yang terus mengalir, membasahi kepala hingga kakinya, memberi sedikit ketenangan di hati Ahmad. Ia menggosok pelan dada, perut hingga ke ujung kakinya.
Ahmad keluar dengan balutan handuk ditubuhnya. Sesaat ia memandangi cermin melihat pantulan dirinya sendiri. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dan melihat baju juga celana pemberian Nek Aisyah.
Segera Ahmad memakai kaos dan celana pendek miliknya, lalu merebahkan badan di atas kasur sambil menutup matanya dengan lengan kiri.
__ADS_1
Tak sadar berapa lama Ahmad tertidur, ia kemudian melihat layar ponsel miliknya. Terlihat banyak pesan WA grup yang belum terbaca. Disitu baik Jerry,Alex, dan juga Roby yang menanyakan kabar Ahmad, karena ia tidak membaca pesan sama sekali.
Ahmad lalu menulis pesan, jika ia besok tidak bisa masuk sekolah karena ada keperluan keluarga. Ia tidak menceritakan masalah tentang Maria.
Sontak Alex membalas pesan bertanya keperluan apa.
* Ahmad : Besok gua libur. Tolong ijinkan ke guru
*Alex : Keperluan apa Mad?
*Roby : Iya nih.. Ada apa mad? Cerita lah
*Jerry : Pada kepo lu ya..
*Ahmad : Adik Gua sakit. Besok gua di rumah dulu
*Jerry : Terjadi lagi?
*Ahmad : Iya Jer...
*Alex : Oke Mad.. Gua besok izinkan
*Roby : Semangat ya Mad. Kita doakan yang terbaik
*Ahmad : Makasih semua.
Ahmad lalu menutup hpnya dan menatap langit-langit kamar tidurnya. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Ahmad berdiri dan keluar kamar untuk pergi ke dapur.
Terlihat beberapa pelayan berdiri di depan kamar Arumi untuk menjaganya. Ahmad turun lagi ke lantai dasar dan menuju dapur. Ia lalu membuka kulkas dan melihat sebotol susu disana. Diambilnya lalu ia minum.
Ahmad terkejut melihat Izam yang datang dari belakang mau mengambil makanan di dapur. Ahmad hanya diam saja dan melangkah pergi.
"Maafin kakak" ucap Izam membuat langkah kaki Ahmad terhenti.
"Kakak minta maaf karena emosi dan tidak bisa berfikir dengan kepala dingin. Kakak hanya khawatir dengan keadaan Arumi" imbuh Izam
"Hmm.. Kak Izam hanya takut jika Arumi merusak reputasi kakak di Universitas" ucap Ahmad tanpa memalingkan badannya.
"Kak Izam takut, kalau teman-teman kakak mengetahui keadaan Arumi. Jadi jangan membohongi diri kakak sendiri" imbuh Ahmad
"Dan juga" Ahmad memalingkan wajahnya ke arah Izam sebentar
"Minta maaflah ke Arumi, bukan aku " tambah Ahmad, lalu berjalan keluar dapur.
__ADS_1
Izam hanya terdiam dan menunduk