
"Semua sudah siap di tempat bos. Tinggal tunggu waktu yang tepat. Ganti." lapor pria misterius itu dan mematikan HT miliknya.
"Ahmad.. Sini bantu Bunda jaga Arumi" teriak Bunda yang sedang menggandeng Arumi.
Ahmad kemudian berjalan menuju Bunda, dan menggantikannya untuk menjaga Arumi.
Abi dan Kak Izam sedang sibuk mengeluarkan beberapa makanan dan minuman untuk kami buat piknik. Sedangkan Bunda memastikan semua barang yang akan ditinggal di dalam mobil aman.
"Arumi suka jalan-jalan kesini?" tanya Ahmad lembut kepada Arumi.
"Iya suka kak" jawab Arumi tersenyum.
"Arumi udah kelas 5 SD masih harus dijagain sih" canda Ahmad mencubit pipi adiknya itu.
"Gak apa-apa lah, kan itu masih kecil. Ya harus dijagain" ucap Arumi cemberut yang membuat Ahmad semakin gemas dan mencubit pipi Arumi lagi.
Dengan cepat, Arumi memukul Ahmad dan mengejarnya mengelilingi mobil. Ahmad tertawa melihat adik kecilnya mengejar-ngejar dia dengan marah.
Di tempat yang sama namun agak jauh.
"Mar, Sisca tolong bawakan tas yang itu. Mama lagi gendong Tania" perintah Mama terhadap Sisca dan Maria.
"Woahh.. Tempatnya ramai banget" Sisca terpukau dengan keramaian tempat dan keindahannya.
Mereka semua segera memasuki tempat wisata dengan hati yang gembira dan terus menoleh kanan-kiri melihat pemandangan alam yang asri dan indah.
Sebelum memasuki gerbang masuk Taman, area parkiran luas dan pepohonan yang terlihat asri berada di ketinggian dengan cahaya matahari yang setengah malu menunjukan keagungannya.
Terlihat jelas pemandangan itu dari bawah. Area parkir dipenuhi dengan berbagai macam kendaraan dari mobil, bus, bahkan motor yang datang dari penjuru Bandung.
__ADS_1
Maria dan keluarga masuk ke gerbang, dan membayar tiket masuk sebesar Rp.15.000/orang. Ayah yang berada di depan, menunjukan ke pegawai loket, berapa orang yang datang bersamanya.
Setelah membayar, kami semua masuk dan berjalan di jalan setapak berbelok. Di awal perjalanan, para pengunjung disuguhkan beberapa informasi mengenai sejarah dan apa saja yang ada di dalam taman.
Kemudian, mereka berjalan lurus dan menemukan plakat penunjuk jalan untuk ke setiap destinasi tempat yang ingin dituju.
Ada Goa Belanda, Goa Jepang, Curug, Kolam Pemandian, Penangkaran Rusa, dan banyak yang lain.
Papa memutuskan untuk mengajak semua ke tempat yang lebih dekat yaitu pergi ke Goa Belanda. Mereka berjalan menuju jalan yang sudah ditunjukan petunjuk arah sebelumnya.
Mereka melewati pohon-pohon yang menjulang tinggi di pinggir jalan dan mereka terkejut karena di tengah perjalanan, banyak sekumpulan Kera berkerumun dan siap mengambil makanan yang pengunjung bawa.
Maria dan Sisca sangat ketakutan saat melihat sekumpulan Kera mendekat kepada mereka. Mama, Papa, dan Nek Aisyah bahkan Tania menertawakan mereka berdua.
Dengan sigap, Papa mengusir pelan para Kera dan melanjutkan perjalanan. Saat sudah mendekati Goa belanda, mereka semua terkejut dengan tebing tinggi di depan mata mereka.
Terlihat banyak pengunjung yang sedang santai di sekitar Goa belanda dan memakan cemilan mereka. Karena Nek Aisyah,Mama dan Tania tidak berani masuk Goa, mereka menunggu di depan dan menjaga barang bawaan.
Terlihat sekali gerombolan wisatawan baik lokal atau manca yang datang ke tempat penangkaran. Semua saling dorong dan susah untuk bergerak.
Ahmad dan rombongan terpaksa tercerai berai dan terpisah. Mereka semua terdorong maju dan tidak bisa berhenti.
Naas, Ahmad kehilangan Arumi saat kerumunan sudah longgar. Ahmad kemudian bingung mencari adiknya itu. Abi, Bunda dan Kak Izam yang melihat Ahmad, segera menghampirinya.
Mereka terkejut saat mengetahui Arumi terpisah dari rombongan. Saat Arumi berada di tengah-tengah kerumunan, ada sekelompok orang yang sengaja mendorong Arumi menjauh dan mendorongnya mendekati hutan.
Saat sudah terpisah, Arumi terkejut saat dirinya yang berusaha mencari Ahmad malah tersesat masuk kedalam hutan. Arumi takut dan tidak berani berteriak memanggil keluarganya.
Arumi menyadari jika ada sekelompok orang dewasa yang menyusul dan seperti mengejar dia. Ia lalu segera mempercepat langkahnya dan lari masuk lebih jauh ke dalam hutan.
__ADS_1
Kejadian sama terjadi di Goa Belanda. Saat Maria dan yang lain keluar Goa, terdengar tangisan Mama dan Nek Aisyah.
Papa berlari menghampiri dan bertanya apa yang terjadi.
"Tania hilang pa" teriak Mama menangis histeris.
"Kok bisa?" tanya Papa panik
"Saat itu, Mama ajak Tania jalan-jalan keliling sebentar dan minta tolong Nek Aisyah untuk menjaga barang." ucap Mama menangis
"Lalu Mama mau belikan Tania balon tapi gak bawa uang. Mama suruh nunggu bentar, lalu waktu Mama balik, tukang balon sama Tania udah gak ada di sana" imbuh Mama yang semakin histeris.
Para pengunjung yang lain tidak memperhatikan Tania karena sibuk dengan kegiatan masing-masing dan juga tidak kenal.
Semua menangis panik karena hilangnya Tania. Papa berusaha tenang dan meminta semuanya untuk turun ke Pusat Pengaduan.
Maria dengan inisiatif sendiri, memaksa mencari Tania dan terlepas dari rombongan. Papa tidak bisa menghentikannya dan hanya bisa membawa yang lain ke Pusat Pengaduan.
Maria lalu berkeliling dan menyusuri semua tempat.
Ketika Papa dan yang lain sampai di Pusat Pengaduan, mereka terkejut melihat ada satu keluarga lain yang juga melaporkan hilangnya anak mereka.
Mereka mengatakan kronologi kejadian dan kedua putra mereka sedang mencari anak perempuannya yang bernama Arumi.
Maria merasa putus asa mencari Tania di jalan biasa. Ia lalu tanpa pikir panjang, masuk menyusuri hutan, dan berharap tidak ada kejadian buruk yang terjadi kepada Tania.
"Arumi.. Arumi... " teriak Ahmad dan Kak Izam disekitaran hutan.
Maria yang semakin masuk kedalam hutan, terkejut saat mendengar suara tangisan anak kecil dibalik batu besar. Maria berjalan mendekat dan terkejut melihat anak kecil sedang menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Nama kamu siapa dek?" tanya Maria khawatir.
"A... Arumi kak" jawab Arumi yang sesenggukan karena menangis dan ketakutan.